Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Bisu Milik Polisi Kejam

Wanita Bisu Milik Polisi Kejam

Grey Massimo, polisi bengis berjuluk Hiu Daratan, merahasiakan identitas istrinya dari publik Turin. Belum jelas apakah ia malu karena istrinya tunawicara atau demi melindunginya dari ancaman musuh. Namun, ketenangan itu terusik saat seorang penelepon misterius mengancam akan membunuh sang istri jika Grey tidak membebaskan buronan yang sulit ditangkapnya. Kini Grey terjebak dilema antara tugas kepolisian atau keselamatan nyawa wanita yang ia sembunyikan.
Bab
Bagikan

Bab 2

TKP – Komplek Tronto, 02:17 Dini Hari

Gang sempit itu tenggelam dalam kegelapan. Lampu jalan yang biasa menerangi jalur setapak sudah lama mati tanpa perbaikan, menyisakan hanya cahaya pucat dari bulan yang sesekali tertutup awan. Udara terasa lembap dan berat, seperti menyimpan bisikan kematian yang baru saja terjadi.

Asap rokok dari sisa puntung yang belum lama padam masih menggantung tipis di udara, menyatu dengan aroma anyir darah yang meresap dalam pori-pori aspal. Genangan merah kecokelatan di bawah garis polisi yang kini mulai memudar menjadi saksi bisu tragedi malam kemarin. Di atasnya, kapur putih melingkari bentuk tubuh korban yang ditemukan membeku dalam posisi terjerembab, dengan mata terbuka menatap langit seolah ingin bicara sebelum ajal datang menjemput.

Tak ada siapa pun di sana.

Tidak wartawan. Tidak polisi. Tidak pula rasa kemanusiaan.

TKP itu benar-benar sunyi. Sepi.

Dan entah mengapa, lebih menyeramkan dalam keheningan seperti itu.

Langkah kaki berat milik Grey Massimo memecah keheningan. Sepatu boots-nya menginjak pecahan beling dari botol yang entah sejak kapan berserakan. Mata tajamnya mengedarkan pandangan. Dinding-dinding gang dipenuhi coretan vandal yang tak terbaca, namun satu hal menarik perhatiannya-lambang aneh terukir di pintu besi tua yang sepertinya baru digoreskan. Sebuah simbol seperti jam pasir dengan garis diagonal yang melintasi tengahnya.

Grey mendekat, tangannya menyentuh dinding yang dingin dan lembap.

"Grey, apa yang terjadi? Kenapa kau kembali lagi ke sini seperti orang kesetanan? Siapa orang yang menelponmu tadi?" tanya Naco yang muncul tiba-tiba dari belakang, menyusul dengan napas terengah.

Grey tidak langsung menjawab. Ia mengatur napas, berusaha menelpon Launa.

Tidak aktif.

Ada sesuatu yang salah.

"Apa dia pembunuhnya?" Suara Mores terdengar dari kejauhan-tepat sasaran, langsung menghantam dada Grey.

Dengan gusar, Grey mengusap wajahnya. Ia tak sanggup berkata jujur. Tak sanggup membocorkan rahasia besarnya pada mereka. Rahasia yang selama ini ia jaga mati-matian.

"Ia akan membunuh lagi di tempat yang sama," jawab Grey akhirnya, suaranya datar namun menggigit.

"Apa? Dia berani mengatakan itu? Padamu? Apa dia tidak tahu kalau kau polisi?" seru Naco dengan nada marah.

Mereka berdua langsung menyebar, memeriksa ulang setiap sudut TKP. Senter mereka menyorot dinding, tong sampah, bahkan celah sempit di balik tumpukan kardus. Tapi Grey hanya diam. Otaknya terus memutar ucapan pria itu.

Kring.

Ponsel Grey berdering lagi. Nomor tak dikenal. Lagi.

Ia melangkah menjauh dari teman-temannya, mencari sedikit privasi di bawah bayang-bayang pohon mangga tua yang merunduk menutupi gang.

"Apa yang kau inginkan?" tanyanya tajam.

Terdengar tawa lepas dari seberang sana. Tawa yang sama-menghina, puas, menginjak harga dirinya.

"Benar, kan? Dia istrimu... Kau bahkan datang ke TKP hanya karena ingin memastikan dia baik-baik saja. Kau mudah ditebak, Grey Massimo."

Jantung Grey mencelos. Ia menyesal. Kata-katanya sebelumnya... sudah cukup menjual rahasia yang selama ini ia lindungi mati-matian.

"Tutup kasus tentang pembunuhan kepala pemerintahan distrik Alba... dan bersihkan semua jejak yang kau temukan di TKP. Aku akan berhenti mengincar istrimu," ucap pria itu, kini dengan nada yang gelap, penuh kekuasaan.

Grey terkekeh, perlahan. Bukan karena geli-tapi karena amarah yang mulai membakar ujung nadinya.

"Yaaa... kau senang bermain-main denganku?" ujarnya pelan. "Apa kau tahu siapa yang kau hadapi? Setelah aku menangkap pembunuh distrik Alba... aku akan mengejarmu. Akan kuhabisi semua permainanmu."

Hening.

Lalu suara itu kembali terdengar, dingin dan mengancam. "Baiklah, sepertinya kau memang keras kepala. Tapi jangan salahkan aku kalau kau takkan pernah bertemu istrimu lagi."

Grey memejamkan matanya sejenak. Ia harus tenang. Ia harus tetap satu langkah di depan.

Dengan nada meremehkan, ia menjawab, "Aku tidak pernah menikah dengan siapa pun. Dan aku sangat benci perempuan-terlalu rumit dan menyusahkan. Entah perempuan mana yang kau incar, aku tidak peduli."

Di ujung sana, suara tawa kecil terdengar lagi. "Baiklah. Akan kubuktikan kalau aku bisa membunuh wanitamu... dan akan kubuktikan bahwa dia sungguh istrimu."

Grey berdecih.

"Telpon aku kalau kau berhasil membunuhnya," ucapnya, sebelum menutup telepon dan membanting ponselnya ke dinding bata, membuat retakan kecil di salah satu ujung layar.

Satu hal yang pasti, malam ini bukan hanya pembunuh yang berburu.

Tapi Grey Massimo juga sudah memutuskan: dia akan menjadi pemburu bayangan itu-dan tak akan berhenti sebelum satu peluru menembus jantung iblis yang mencoba menyentuh wanitanya.

Meski nada suara Grey terdengar datar, dingin, bahkan mencemooh, namun detik setelah panggilan itu terputus, ada sesuatu yang tak bisa ia abaikan.

Sebuah gelombang tak kasatmata menyelinap melalui tengkuknya-dingin, merambat, lalu bersarang tepat di dadanya. Ia diam, menatap kosong ke arah TKP yang sunyi. Angin malam menyapu rambutnya pelan, membawa aroma darah yang masih mengendap di sekitar.

Namun pikirannya sudah bukan di sana lagi.

Sudah tidak lagi memikirkan simbol aneh di dinding.

Bahkan suara langkah Naco dan Mores yang masih sibuk memeriksa sudut gang pun tak lagi terdengar di telinganya.

Satu nama terus berputar dalam pikirannya: Launa.

Wanitanya.

Istrinya.

Perempuan yang selama ini ia sembunyikan dari dunia karena ingin melindunginya... tapi kini justru menjadi target nyata permainan gila si pembunuh bayangan.

"Akan kubuktikan bahwa dia istrimu."

Ucapan itu... terus menggaung. Seperti gema neraka yang menertawakannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam kariernya sebagai penyelidik pembunuhan, Grey merasakan sesuatu yang amat langka menyelinap di benaknya.

Takut.

Takut kehilangan.

Takut datang terlambat.

Tanpa sadar, jari-jarinya mulai gemetar saat ia mengembuskan napas. Tangan yang biasanya stabil saat memegang pistol kini seolah tak bisa diam, seperti sedang memberontak.

Ia melirik ponselnya, mencoba menelpon Launa sekali lagi.

Masih tidak aktif.

Sumpah pelan lolos dari bibirnya. Ia menatap ke arah Naco yang sedang menyorot bagian belakang tempat sampah dengan senter, lalu Mores yang masih mengutak-atik sisa jejak sepatu di tanah.

Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Tidak sempat menjelaskan. Tidak ada waktu untuk memberi alasan.

Dengan langkah cepat dan penuh urgensi, Grey membalikkan badan, berjalan dengan napas memburu ke arah mobilnya. Suara pintu mobil yang dibanting tertutup memecah keheningan malam. Mesin meraung, lampu depan menyala tajam menusuk kabut tipis yang mulai turun.

Tanpa memberi aba-aba, tanpa berpamitan, ia tancap gas meninggalkan TKP-meninggalkan semua keraguan, semua protokol, semua yang seharusnya ia laporkan.

Sekarang, bukan lagi soal kasus.

Ini soal hidup dan mati.

Dan Grey Massimo takkan membiarkan satu helai rambut Launa jatuh... jika ia masih bisa menghalangi pelurunya.

Mobil melaju membelah malam, dan dalam dadanya, gelisah itu tak kunjung reda. Setiap detik yang terbuang terasa seperti jarum jam yang mencabik-cabik nuraninya. Ia memandangi jalan dengan rahang mengeras, mata menajam, dan satu harapan menjerit dalam hati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alisha: Wanita yang Kau Sia-siakan
9.1
Alisha hancur saat Rama, suami yang ia cintai, berselingkuh dengan seorang aktris. Tanpa kata maaf dari Rama, ia pergi membawa luka dan mulai mencari kerja bermodal ijazah SMA. Alisha akhirnya menjadi pengasuh anak Damar, seorang CEO muda. Ketulusan Alisha memikat hati bosnya, namun tiba-tiba Rama muncul kembali untuk meminta rujuk. Kini, Alisha bimbang memilih antara Damar yang tulus atau mantan suaminya yang datang membawa penyesalan mendalam.
Sampul Novel Hurt Wife
9.4
Farida harus menelan kenyataan pahit saat suaminya mengkhianati pernikahan mereka demi adik kandungnya sendiri. Luka batin yang begitu dalam akibat perselingkuhan itu membawa Farida ke dalam situasi tak terduga. Terjebak dalam pusaran emosi yang kalut, ia justru terhanyut dalam godaan nafsu dan hasrat yang membara. Sebuah kisah fiksi dewasa tentang rasa sakit dan pelarian emosional yang mengubah hidupnya secara drastis dalam sekejap mata.
Sampul Novel Penuh Luka Penderitaan
7.8
Valeria terpaksa bekerja lembur demi menghindari perundungan rekan kerjanya. Saat sedang membersihkan meja di ruang CEO baru, seorang pria asing yang perkasa tiba-tiba menariknya ke sebuah kamar rahasia yang mewah. Valeria terhempas ke atas tempat tidur besar di bawah kungkungan tubuh kekar pria tersebut. Tanpa daya, ia kini terjebak dalam cengkeraman sosok misterius dari dunia yang berbeda, yang secara paksa menuntutnya untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Sampul Novel Pernikahan Terpaksa Mafia
9.5
Laluna Cattline, pewaris teknologi yang bebas, terjerat pernikahan paksa dengan bos mafia New York, Leonidas Draven. Aliansi ini lahir dari utang ayahnya demi perlindungan. Bagi Leonidas, ini sekadar bisnis, tapi bagi Laluna, ini adalah penjara. Di tengah intrik keluarga dan rahasia gelap masa lalu, keberanian Laluna mulai mengusik hati Leonidas yang dingin. Akankah ia mampu bertahan di dunia penuh darah atau justru hancur dalam jeratan sang mafia?
Sampul Novel SALAH KIRIM KADO
9.5
Salah kirim kado mengungkap rahasia besar: Indra ternyata menikah siri dengan Siska, mantan primadona SMA. Sarah yang murka menyusun rencana untuk mempermalukan mereka sebelum menggugat cerai. Di tengah kehancuran itu, Dareen hadir menyatakan cintanya yang lama terpendam. Siska yang hanya mengincar harta Indra mulai menebar fitnah demi merusak hubungan Sarah dan Dareen setelah Indra jatuh miskin. Akankah Sarah menemukan kebahagiaan atau justru terjebak dalam dendam Siska?
Sampul Novel Sang Pemuas Hasrat Wanita Kesepian
9.8
Pasca patah hati, Angga terjebak dalam rencana gila Doni yang memintanya menemani Riri. Pengalaman tak terduga dengan sepupu temannya itu seketika mengubah hidup Angga dan merenggut keperjakaannya. Doni yang melihat bakat terpendam Angga lantas menawarkan pekerjaan sebagai penghibur wanita kesepian. Meski sempat merasa keberatan karena dianggap seperti gigolo, tawaran uang besar dan potensi dirinya sebagai pemuas sempurna membuatnya sulit berpaling dari dunia baru ini.