
Wanita Bisu Milik Polisi Kejam
Bab 3
Langit malam menggantung muram di atas mansion megah yang berdiri tenang seperti penjaga yang tak pernah tidur. Lampu luar masih menyala, dan angin malam menyapu pelan halaman depan saat mobil Grey berhenti mendadak di depan pintu utama.
Pintu mobil dibuka kasar. Derap langkah Grey terdengar tergesa, hampir panik. Nafasnya terengah, tidak karena lelah, melainkan dihantui oleh rasa takut yang menyesakkan dada. Jantungnya berpacu dengan kecemasan yang tak bisa ia kendalikan.
Tanpa membuang waktu, ia menjejalkan anak kunci ke lubang pintu dan membukanya dengan cepat.
Ctak.
Pintu terbuka lebar. Hangatnya udara dalam ruangan menyambutnya, namun tak cukup menenangkan badai dalam dadanya. Matanya menyapu cepat setiap sudut ruang utama dengan cemas.
Kemudian...
Ia melihatnya.
Launa.
Dengan piyama berwarna lembut dan rambut yang terurai lepas, gadis itu berdiri membelakangi Grey sambil membuka pintu kulkas. Ia tampak tenang, bahkan sibuk memilih makanan ringan di dalam lemari pendingin itu. Seketika, napas Grey terhenti-bukan karena panik, tapi karena lega.
Launa baik-baik saja.
Tak ada luka. Tak ada darah. Tak ada jejak teror.
Dunia Grey yang sempat berguncang kini perlahan kembali ke porosnya.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengatur ulang emosi yang bergejolak dalam dirinya. Dengan cepat, ia menegakkan posturnya dan mencoba memasang ekspresi setenang mungkin. Tapi dalam dadanya, jantungnya masih berdetak kencang, seolah belum bisa percaya bahwa semua ini nyata.
Launa menoleh saat mendengar suara langkah kakinya. Alisnya bertaut bingung melihat Grey yang tiba-tiba pulang di tengah malam dengan wajah tegang dan napas memburu.
"Kau belum tidur?" tanya Grey, suaranya datar namun terdengar sedikit gemetar.
Launa menggeleng pelan, matanya masih menatap Grey penuh tanya. Ia tahu, pria itu jarang pulang mendadak seperti ini-terlebih dengan ekspresi yang tampak seolah habis dikejar maut.
Grey menghela napas dalam. Ia tahu Launa tidak bisa menjawab dengan suara, dan ia juga tahu-ia tidak pernah belajar bahasa isyarat. Komunikasi mereka selama ini bergantung pada buku kecil yang selalu dibawa Launa untuk menulis.
Saat Launa hendak berbalik mengambil bukunya, Grey menahan pergelangan tangannya.
"Tidak perlu," katanya cepat. Tatapannya tajam, suaranya dingin. "Cepat tidur."
Launa terdiam, bingung. Tapi ia mengangguk pelan dan menutup kembali pintu kulkas, membiarkan Grey berlalu begitu saja melewatinya dan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Grey tak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya berjalan menaiki tangga dengan langkah cepat, namun pikirannya masih kacau. Meski ekspresinya dingin dan sarkastik, tapi ketakutan itu belum sepenuhnya sirna. Ia masih dihantui oleh suara dalam telepon tadi-ancaman yang membisikkan kematian, seolah bayangan kelam telah mengetuk pintu rumahnya.
Namun setelah melihat Launa... ia mulai yakin, mungkin itu hanya ancaman kosong. Mungkin hanya tipuan seorang bajingan yang ingin bermain dengan pikirannya.
Sampai di lantai atas, Grey berhenti sejenak. Matanya melirik ke arah kamar Launa yang tertutup rapat. Hening. Tak ada suara.
Tangannya sempat terangkat, ingin menyentuh gagang pintu itu. Tapi ia urungkan.
Ia menarik napas pelan, lalu berjalan masuk ke kamarnya sendiri. Menutup pintu.
Namun dalam gelap kamar itu, untuk pertama kalinya malam ini...
Grey merasakan keheningan yang tidak menenangkan.
Dan meski Launa masih hidup...
Ketakutan itu belum benar-benar pergi.
•••
Pagi harinya, di ruang makan mansion.
Hangat aroma roti panggang dan kopi menyambut pagi yang masih menggigil oleh embun. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar di ruang makan, menari-nari di atas meja yang telah tertata rapi. Pagi ini lebih hening dari biasanya, dan meski tak ada percakapan, ada kehadiran yang terasa... penuh makna.
Grey duduk di ujung meja, mengenakan kemeja gelap yang kontras dengan wajahnya yang terlihat lebih tenang dibanding semalam. Di seberangnya, Launa dengan rambut dikuncir sederhana sedang mengoleskan mentega ke atas roti panggangnya. Ia tampak biasa saja, seolah malam kemarin tidak ada kejadian besar yang sempat membuat Grey nyaris kehilangan kendali.
Suasana sarapan berlangsung dalam diam. Hanya dentingan sendok dan garpu yang sesekali terdengar. Namun diam itu akhirnya dipatahkan oleh suara berat milik Grey.
"Kenapa ponselmu mati kemarin malam?" tanyanya sambil menyesap kopi hitamnya. Tatapannya lurus, tenang, tapi mengandung sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata-kekhawatiran yang tersembunyi.
Launa terdiam sejenak, lalu meraih buku kecil dan pulpen dari sisi kursinya. Ia mulai menulis dengan cepat dan menyerahkan buku itu kepada Grey.
"Ponselku kehabisan baterai. Maaf, aku lupa mengisi dayanya."
Grey membaca tulisan itu sekilas dan mengangguk pelan. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia menelan sepotong roti, lalu kembali fokus ke kopinya. Dalam hati, ia mencoba percaya bahwa jawaban itu cukup... tapi bagian lain dari dirinya belum sepenuhnya yakin.
Setelah sarapan selesai, Grey melangkah menuju garasi.
Garasi yang luas dan bersih itu menyimpan beberapa mobil mewah di dalamnya. Tapi matanya langsung tertuju pada satu mobil-mobil Launa. Matanya menyipit.
Bagian depan mobil itu penyok.
Keningnya mengerut. Langkahnya refleks mendekat, dan ia berjongkok untuk memeriksa kerusakan. Bemper depan terlihat sedikit retak, seperti baru menabrak sesuatu. Tapi tidak ada lecet berlebihan, tak ada darah, tak ada serpihan asing. Hanya kerusakan ringan... tapi cukup membuat Grey waspada.
Ia membuka pintu pengemudi dan memeriksa bagian dalam. Interiornya masih bersih, rapi, dan tak ada tanda-tanda pergumulan atau kekacauan.
Namun satu hal yang membuat jantung Grey berdegup lebih cepat adalah kamera dashboard.
Ia segera melepas kartu memorinya dan memasangnya ke layar kecil yang sudah tersedia di sisi dinding garasi. Matanya fokus. Jari-jarinya cekatan memutar rekaman mundur hingga menemukan waktu yang ia cari.
Dashcam dalam mobil Launa termasuk canggih karena dapat merekam jalanan dan juga memiliki lensa atau fitur untuk merekam bagian dalam mobil, seperti percakapan atau aktivitas di dalam kabin.
Lalu, rekaman itu berhenti pada satu momen yang membuat darahnya membeku.
Launa. Sendirian di dalam mobil.
Wajahnya terlihat lelah, ia hendak menyalakan mesin mobil. Tapi sebelum sempat menggerakkan kemudi, seorang pria bertudung tiba-tiba muncul di depan mobil.
Topi hitam menutupi sebagian wajahnya. Masker hitam mengaburkan sisanya. Tapi yang paling menonjol... adalah pisau di tangannya yang terangkat.
Launa tampak panik dalam video itu, tubuhnya sedikit bergetar. Namun pria itu hanya berdiri di sana selama beberapa detik, sebelum berlari menghilang ke arah jalan samping.
Grey mematung.
Matanya membelalak, nafasnya tercekat.
Itu bukan penipuan.
Telepon semalam...
Ancaman itu...
Nyata.
Tangan Grey mengepal. Rahangnya mengeras. Ia langsung mematikan layar dan berdiri dengan tegas. Matanya menatap kosong ke arah pintu garasi, tapi pikirannya sudah melayang jauh.
Mereka sudah menyentuh batas.
Dan itu berarti-pertarungan baru saja dimulai.
Suara langkah kaki yang ringan dan tergesa terdengar dari arah pintu masuk garasi. Launa muncul dengan penampilan rapi dan tas kerja tergantung di bahunya. Ia terlihat terburu-buru, jelas bersiap menuju kantornya pagi ini. Namun langkahnya terhenti saat melihat Grey berdiri di samping mobilnya dengan wajah tegang dan sorot mata yang nyaris membakar.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Grey mendekat dan mencengkeram kedua bahu Launa dengan kuat.
"Apa kau pikir aku tak akan tahu?!" desis Grey dengan suara rendah namun penuh amarah. Tatapannya tajam, menusuk, seperti sedang menahan badai dalam dadanya. "Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa sesuatu terjadi semalam? Kenapa diam saja, Launa?!"
Launa tampak terkejut. Matanya membesar. Ketakutan jelas tergambar dari sorot matanya yang bening. Ia ingin menghindar, namun cengkeraman Grey terlalu kuat. Tubuh mungilnya sedikit berguncang.
Melihat ketakutan itu, Grey akhirnya sadar. Ia mengembuskan napas panjang, lalu perlahan melepaskan cengkeramannya. Tangannya turun, namun kemarahan di dalam dadanya belum benar-benar reda. Ia memalingkan wajah, mencoba menenangkan napasnya yang memburu.
Launa menunduk sejenak, lalu buru-buru mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik. Setelah beberapa detik, ia memperlihatkan layarnya pada Grey.
"Seseorang menghadangku semalam dengan membawa pisau. Aku... aku rasa dia adalah pelaku pembunuhan itu."
Jantung Grey berdentum keras. Ia menatap lekat ke mata Launa. Ada ketakutan yang belum benar-benar padam di sana. Dan fakta bahwa Launa memilih diam selama ini hanya membuat kemarahan dan kekhawatirannya bertambah besar.
"Mulai sekarang..." ucap Grey pelan, tapi tegas, "berhenti bekerja. Tetaplah di rumah."
Launa memandangnya, tampak terkejut. Ia buru-buru mengetik kembali di ponselnya, lalu menunjukkan tulisannya.
"Tidak bisa. Aku harus bekerja. Aku bosan di rumah. Lagipula, hari ini ada pekerjaan di persidangan."
Grey memejamkan mata sejenak. Rahangnya mengeras. Ia tidak bisa memaksa, namun membiarkan Launa berkeliaran sendirian setelah kejadian semalam adalah tindakan bodoh. Ia menghela napas panjang dan mengangguk kecil, lalu menoleh ke arah pengawal yang sejak tadi berdiri di kejauhan.
"Awasi dia dari jauh. Jangan sampai terlihat mencolok. Jika ada gerakan mencurigakan, segera laporkan padaku." Suaranya dingin, tak bisa dibantah.
Pengawalnya langsung mengangguk dan bergerak cepat.
Launa melirik jam tangannya dan buru-buru menunduk, memberi isyarat bahwa ia harus segera berangkat agar tidak terlambat. Grey hanya menatapnya dengan dalam. Ia tak mengatakan apa-apa, hanya merebut kunci mobil Launa dan menggantinya dengan kunci mobilnya.
"Aku akan membawa mobilmu ke bengkel!" katanya dingin.
Launa hanya mengangguk dan langsung bergegas pergi.
Grey langsung membawa mobil Launa untuk dibawa ke bengkel nanti. Namun sebelum itu, ia menyusul diam-diam dari belakang. Jaraknya dijaga tetap aman, cukup jauh agar tak mencurigakan namun cukup dekat untuk bisa melihat segalanya. Matanya waspada, mencermati setiap kendaraan di sekitar Launa, setiap sudut jalan yang mereka lewati.
Hingga akhirnya, Launa tiba di depan gedung kantornya.
Grey baru bisa menghela napas lega saat melihat Launa turun dengan aman dan masuk ke dalam kantor medianya.
Namun satu hal pasti mengendap di pikirannya:
Ancaman itu nyata. Dan dia tak akan membiarkan siapa pun menyentuh Launa. Bukan kali ini. Tidak akan pernah.
Anda Mungkin Juga Suka





