
Usai Dimadu
Bab 2
Apakah aku terlalu naif jika kubilang bahwa aku cemburu dan merasa tak berharga ketika entah di kali yang ke berapa selalu namanya yang suamiku sebut-sebut?
***
"Lho, lho, Nay, kenapa? Dateng-dateng mukanya dilipat gitu. Padahal Umi dah masak yang spesial hari ini."
Aku menegur Kanaya, putri sulungku yang usianya sebentar lagi genap sebelas tahun. Gadis berperawakan tinggi semampai itu menoleh sekilas lalu membuang napasnya kasar.
"Nay mau pindah sekolah, Umi. Pindah ke tempat yang jauh. Boleh, ya, Mi. Please," ucapnya dengan nada sengau. Bisa kutebak kalau gadisku itu tengah menahan tangis.
"Nay baru pulang, kan? Pasti capek, pasti laper. Sekarang Umi bantu rapikan tasnya. Jadi Nay bisa masuk kamar buat ganti baju. Abis itu kita makan bareng, deh. Ayo cepet, Sayang."
Aku mendorong pelan tubuh yang tingginya kini hampir menyamaiku itu. Entahlah. Nyaris seratus persen fisik Kanaya adalah fotokopian abinya. Sampai-sampai saat mereka berdua tidur jejeran pun aku akan sedikit kesulitan membedakan perawakannya.
Usai berganti pakaian, Kanaya berlari langsung menuju meja makan.
"Wow, cumi hitam." Ia berdecak kagum.
"Iya. Suka, kan? Sengaja lho, Umi bikinin untuk anak Umi yang paling cantik itu."
"Ya gimana gak paling cantik. Wong anak Umi cuma satu," balasnya dengan pura-pura merengut. "Tapi, kenapa Umi masaknya banyak banget?"
"Hussh. Jangan teriak-teriak dong, nanti Abi bangun."
"Bodo."
"Eh, Nay?"
"Maaf, Mi."
"Inget sayang. Kesal dan marah itu manusiawi. Umi nggak mau larang. Tapi tetep, mulut ini harus terus dijaga. Nay tau kan kalau udah haid, maka semua perbuatan Nay sudah ada pertanggungjawabannya sendiri. Nanti nyesel kalau hanya gara-gara kesel sama Abi, malah jadi Nay sendiri yang menumpuk-numpuk dosa," ucapku hati-hati.
"Iya, Mi."
"Ya udah, kita stop dulu ngobrolnya, ya. Biar bisa makan dengan baik," ucapku sambil menarik kursi lalu duduk di depan gadis itu.
Kami pun akhirnya makan dalam hening. Hanya denting sendok yang sesekali beradu cukup nyaring dengan piring yang ada di depan kami. Aku tak bisa menebak dengan apa yang telah dilalui Kanaya hari ini di sekolahnya. Namun yang jelas, apa pun itu semoga saja makanan yang susah payah kuhidangkan ini menjadi sebaik-baiknya mood booster untuknya.
Sejujurnya, mungkin bukan hanya Kanaya yang akhir-akhir ini merasa tertekan. Aku apalagi. Rasanya sudah lama tak bisa tertawa selepas biasanya. Entah kapan kebahagiaan yang dulu kumiliki bisa kembali. Entah kapan terangnya cahaya gemintang itu kembali menghiasai hari-hariku lagi.
"Mi, Nay ke kamar dulu, ya." Pamit Kanaya setelah menyelesaikan makannya.
"Iya. Umi juga mau siap-siap ini. Nay hati-hati di rumah, ya."
Langkah gadis itu terhenti sejenak lalu berbalik. "Kalau Umi pergi, Nay berdua dong sama Abi?"
"Iya. Memang kenapa?"
"Malas. Nay juga mau pergi kalau gitu!"
"Ikut Umi ngaji?"
"Nggak, lah. Nay main aja ke rumah Vivi."
"Ini tengah hari, Sayang. Nggak enak main ke rumah orang. Lagian rumahnya Vivi kan ada warungnya. Pasti berisik. Nay kan capek mau istirahat."
"Nggak apa-apa. Daripada di sini." Dengan menghentakkan kakinya, Kanaya pun berlalu.
***
"Nay, kalau udah siap cerita, Umi juga dah siap dengerinnya." Malam hari, aku sengaja menemui Kanaya di kamarnya.
Kamar yang didekorasi sesuai keinginan dan seleranya. Sebagai anak yang menjelang gadis, kanaya memang suka sekali dengan aktivitas mengumpulkan dan menyimpan berbagai pernak-pernik serta perintilan khas remaja. Alhasil, meski awalnya cukup luas, kamar ini sekarang sudah lumayan penuh. Terlebih, abinya yang berjiwa pengasih itu tak segan-segan menuruti semua keinginan putrinya. Hanya saja, satu dari keinginan Kanaya kali ini benar-benar tak sanggup dikabulkan pria itu. Entah karena apa.
"Apa Abi udah suka sama Ibu, ya?" Mata bulatnya menatapku telak.
"A-apa Nay?"
"Umi kenapa melamun? Pasti nggak dengerin Nay, kan?"
"Denger, kok. Umi denger."
"Coba jawab."
"Duh, anak Umi jangan galak-galak, dong. Kan, kasian Uminya yang udah tua," balasku berusaha menggodanya.
"Tuaan Ibulah daripada Umi!"
"Tuh, kan. Malah ketus sekarang. Ayo, Umi maunya ngobrol sama Nay yang kalem, Nay yang baik hati dan murah senyum."
"Nay yang cantik juga dong, Miii." Kanaya kini turun dari kasurnya dan tidur di pahaku.
"Pasti, itu. Kanaya gadis tercantik di hati Umi. Cantik luar dalam."
"Amiin."
"Tadi ada yang bikin kesel di sekolah?" Sambil kuusap lembut helai demi helai dari rambutnya yang tebal, kepalaku jadi teringat awal aku membuka hijab di depan abinya Kanaya.
Setelah selesai magrib saat itu, abinya Kanaya pulang dari masjid lalu menemuiku di kamar. Ia cukup kaget saat dilihatnya aku masih mengenakan pakaian rapi dengan kerudung langsungan sedada.
"Neng, kenapa masih dipake kerudungnya? Kamu nggak gerah?" Tanyanya saat itu. "Sini, duduknya lebih deket."
"Iya, A."
"Jangan bilang mau tidur pakai kerudung." Suaranya yang teramat lirih, malah membuyarkan segenap keberanian yang sejak tadi kukumpulkan.
"Nggak. Neng hanya ingin dibuka sama tangan Aa sendiri."
"Yakin?" Kini senyum tipis tercetak di wajahnya yang tampan.
"Iya. Itu sebenernya mimpiku sejak dulu. Bahwa orang yang akan membuka hijabku untuk pertama kalinya adalah suamiku." Usai mengucapkannya dengan lirih, hatiku menjadi deg-degan tak menentu. Maklum, sebelum menikah kami hanya bertemu tiga kali. Sehingga duduk seperti ini saja sudah membuat pori-poriku mengalirkan keringat dingin dan sedikit hilang konsentrasi.
"Terima kasih, Neng. Terima kasih sekali sudah hadir dan menjadikan Aa seorang pria yang beruntung mempersuntingmu," tuturnya lembut.
***
"Mi, Mi." Dengan keras, kanaya mengungcang lenganku.
"Eh, ya, Nay."
"Umi ngelamun lagi, ah. Nggak seru!"
"I-iya. Maaf. Umi nggak sengaja."
"Jadi kenapa, Nak? Hal apa yang mengganggumu?"
"Temenku ngejekin aku gara-gara Ibu."
"Kok, Ibu? Memangnya kenapa?"
"Iya. Katanya masa punya dua ibu. Masa Abiku punya istri dua. Abiku centil katanya Miii. Kayak di tv-tv. Istrinya banyak."
"Astaghfirullah. Nggak, Nay. Abi Nay nggak kaya gitu."
"Terus kenapa Abi nikah sama Ibu? Kenapa aku harus punya adik dari Ibu, nggak dari Umi aja?"
"Sayang, i-itu, ...."
"Umi juga nggak bisa jawab kan? Nggak bisa jelasin kan? Apalagi Nay!" Dengan berurai air mata, Kanaya berlari ke luar kamar.
Saat kuikuti, langkah gadis kecil itu berhenti di kamarku dan membuka pintunya.
"Mana Abi?"
"Abi ke rumah Ibu, Nay."
"Tuh, kan. Sampai untuk pergi aja Abi dah nggak butuh lagi pamit sama Nay."
"Bukan gitu. Kemarin saat Abi dapet telepon, Nay kan lagi di rumah Vivi. Abi bilang kok, ke Umi. Dan minta tolong sampaikan maaf Abi sama Kanaya."
"Bohong!"
"Nggak, Nay. Umi kapan sengaja bohong sama Nay?"
Anda Mungkin Juga Suka





