Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Unexpected Feeling

Unexpected Feeling

Indira tak menyangka hukuman dari Fajar, senior yang dikenal sering berganti pasangan, adalah menjadi pacarnya. Meski bingung dan takut menolak, Indira terjebak dalam hubungan ini. Bagi Fajar, Indira adalah harapan baru untuk sembuh dari trauma masa lalu yang gagal diatasi kekasih sebelumnya. Seiring waktu, hubungan mereka tumbuh dewasa tanpa saling tahu rahasia masing-masing. Namun, apakah Fajar benar-benar mencintai Indira atau hanya menjadikannya obat semata?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Game hari ini,” ucap Mita yang duduk disamping Indira “Kemarin kamu dijemput?”

“Ya, haduh game aja ini? Moga aku kuat.”

Mita menggenggam tangan Indira “Kalau capek istirahat aja, bilang sama senior-senior pasti dikasih.”

Melangkah ke halaman belakang perpustakaan, tempat yang digunakan untuk permainan. Indira tidak tahu permainan apa yang akan mereka lakukan, berbicara dengan Mita dan teman-teman yang lain sambil menunggu para senior datang.

“Kemarin aku lihat kamu sama Mas Fajar.” Lia membuka suaranya yang diangguki Indira “Kalian dekat?”

“Nggak juga, cuman temani aku sampai dijemput.” Indira memberikan jawaban sebenarnya.

“Dewasa dia, kriteria aku banget.” Lia mengatakan dengan ekspresi bahagia.

Indira saling menatap dengan Mita yang hanya bisa mengangkat bahu, mereka baru mengenal Lia jadi tidak tahu seperti apa dia sebenarnya. Indira sendiri tidak terlalu mengenal Fajar dengan baik, mereka baru bertemu kemarin dan tidak berbeda jauh dengan senior yang lain.

“Katanya dia MA,” ucap Lia yang membuat Indira dan Mita menatap bingung “Mas Fajar.”

Senior datang tidak lama kemudian, memberikan beberapa instruksi membuat pembicaraan mereka terhenti. Mendengarkan instruksi yang diberikan membuat mereka berjalan ke kelompoknya kemarin, Indira bersama dengan Sinta menjadi satu kelompok dan mereka duduk bersebelahan. Instruksi sudah diberikan membuat mereka langsung melakukan apa yang diminta, melakukan permainan.

Perminan yang dilakukan dengan kelompok lain, dimana satu orang berada didalam dan satu lagi diluar, bagaimana caranya mereka tidak ketangkap satu sama lain. Permainan yang mereka lakukan memang seru dan menyenangkan, Indira melupakan satu hal yaitu penyakitnya yang membutuhkan istirahat. Permainan berlangsung lama, setelah permainan mereka diberikan penjelasan tentang permainan yang baru saja mereka lakukan.

“Capek banget,” ucap Shinta yang diangguki Indira.

“Kamu pucet,” bisik Mita yang sejak kapan berada disamping Indira.

“Nggak papa, bentar lagi juga udah tenang.” Indira menenangkan Mita.

“Minum kamu mana?” tanya Mita membuat Indira hanya menggelengkan kepalanya “Kamu nggak ambil?”

Indira menggelengkan kepalanya “Nggak kuat kesananya.”

“Aku ambilin kalau gitu.” Mita berdiri untuk mengambil air.

“Ini buat kamu,” ucap salah satu senior cewek paling cantik, Suci.

Indira menatap minuman yang ada dihadapannya, mengalihkan pandangan kearah Mita yang hanya mengangkat bahu. Indira memilih tidak peduli dengan langsung membuka dan meminumnya.

Indira mendengar senior memberikan tugas dengan mencari kata yang berhubungan dengan psikologi, membagi tugas dengan yang lain dan Indira mendapatkan bagian menunggu untuk mencatat kata yang mereka temukan. Mereka langsung jalan setelah mendapatkan instruksi untuk memulai sekarang juga, suasana sepi membuat Indira menatap sekitar dimana hanya beberapa anak saja.

“Kita berdua yang ada disini,” ucap Lia yang langsung duduk disamping Indira.

“Ya, kamu juga bagiannya sama kaya aku?” menatap Lia yang ada disampingnya.

Lia menganggukkan kepalanya “Mereka ngasih tugas yang kita nggak tahu apa-apa tentang psikologi, kasih sedikit clue gitu apa aja bukan langsung begini.”

“Ya, namanya orientasi. Kita bukan lagi sekolah jenjangnya lebih tinggi jadi nggak harus dicekoki sama materi tapi kita yang harus mencari sendiri.” Indira memberikan alasan masuk akal.

“Kita baru dua hari sudah dikasih yang beginian,” ucap Lia yang mempertahankan pendapatnya.

“Terus maunya gimana?” tanya senior pria yang sudah dihadapan mereka berdua.

“Mas Wahyu,” ucap Lia yang menatap kearahnya.

“Kalau bicara dipikir jangan asal njeplak,” omel Wahyu langsung.

Indira meringis mendengarnya, memilih menundukkan kepalanya tidak berani menatap senior yang dari kemarin mengisi di tempat mereka. Wahyu kalau tidak salah ketua dari acara ini, beberapa wanita angkatannya mencoba mencari cara untuk mendekatinya, tapi tidak dengan dirinya yang sadar diri tidak mungkin dilihat oleh senior.

“Kalian sudah paham apa yang aku bilang tadi?” tanya Wahyu yang menyadarkan Indira jika masih berada dihadapan mereka.

“Sudah, mas.” Kami berdua menjawab bersama.

“Komting kalian siapa?” tanya Wahyu.

“Dito, mas.” Lia yang menjawab.

“Suruh nanti ke ruangan saya sama kamu.” Wahyu menatap Indira yang membuatnya terkejut “Datang sama Dito diatas nanti waktu istirahat.”

“Ya, mas.” Indira menjawab langsung.

Wahyu meninggalkan mereka yang masih tidak tahu harus berbuat apa, menatap satu sama lain dan hembusan nafas lega mereka keluarkan.

“Mending kalau ngomong harus hati-hati.” Indira mengingatkan Lia.

“Untung nggak dikasih hukuman.”

Indira terdiam mendengar kata-kata Lia, hukuman yang belum dikatakan sama Fajar membuatnya bertanya-tanya jenis hukuman apa yang nanti akan diberikan. Menggelengkan kepalanya pelan agar tidak memikirkan terlalu lebih tentang hukuman yang akan diberikan, terlalu sibuk melamun membuat Indira tidak menyadari jika Lia sudah tidak berada disampingnya.

“Kenapa menggelengkan kepalanya? Ada yang sakit?”

Indira menatap terkejut dengan suara pria disampingnya “Kak Fajar?” mencari keberadaan Lia yang ternyata sedang menuliskan sesuatu.

“Kemarin tugasnya tentang tokoh siapa?” tanya Fajar dengan duduk disamping Indira.

“Kenapa memang?” tanya Indira balik tanpa menjawab pertanyaan Fajar.

“Masih ingat tentang teorinya? Kamu bisa menggunakan kata-kata yang diucapkan tokoh itu.” Fajar menjelaskan detail “Jadi tokohnya?” menatap Indira lembut.

“Sigmund Freud.” Indira menjawab langsung.

“Kamu tulis aja sambil menunggu teman-teman yang lain,” ucap Fajar memberikan usul.

“Memang boleh?” tanya Indira langsung “Nanti kakak laporin kalau aku curang terus dapat hukuman.”

“Boleh, kamu ingetin hukuman nanti ke ruangan kemarin.”

“Nggak bisa, aku dipanggil sama Mas Wahyu.” Indira langsung menolak.

“Kamu kerjain yang aku bilang, nanti ketemu di ruanganku.” Fajar meletakkan botol air mineral disamping Indira “Jangan terlalu lelah, kamu bisa bilang kalau capek dan kita nggak akan kasih hukuman. Diminum biar nggak pucat wajahmu, jangan lupa ketemu di ruangan kemarin buat bicara tentang hukuman. Satu lagi nanti pulang sama aku, tidak ada penolakan.”

Indira menatap tidak percaya dengan kata-kata yang Fajar berikan, belum sempat membantah atau mengatakan sesuatu sudah pergi begitu saja. Menatap botol air mineral dengan tatapan tanda tanya, botol pertama didapat dari senior wanita padahal tidak ada yang tahu tentang wajah pucatnya kecuali Mita, sekarang ada botol lain yang diberikan Fajar dengan kata-katanya yang membuat Indira bertanya-tanya. Menggelengkan kepalanya karena sekarang bukan waktunya berpikir tidak-tidak, lebih baik Indira mengerjakan apa yang menjadi tugasnya sesuai dengan usulan Fajar.

Menulis beberapa kata yang diingatnya sambil menunggu pesan dari kelompoknya tentang temuan mereka, tidak lama satu per satu mengirim pesan dan kembali. Kelompok yang lain sudah penuh dan mengerjakan tugas mereka, tidak berbeda jauh dengan kelompok Indira yang mulai mendebatkan beberapa hal.

“Indira ketemu Mas Wahyu?” Indira menatap Dito yang berada dihadapannya dengan menganggukkan kepalanya “Ayo, buruan.”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GQJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GQJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Force Skadron7
7.9
Yudi Juliansyah, pemuda asal Bandung anak seorang dokter dan model Prancis, nekat mengejar mimpi menjadi tentara meski ditentang orang tuanya. Setelah terusir dari rumah, ia berjuang mandiri berjualan gorengan demi membiayai sekolah di AAU Yogyakarta. Kerja kerasnya membuahkan gelar Adi Makayasa sebagai lulusan terbaik Angkatan Udara. Kini, Yudi pulang berseragam untuk membuktikan baktinya. Akankah orang tuanya luluh dan mengakui pilihannya sebagai prajurit?
Sampul Novel Diabaikan Berujung Penyesalan
7.8
Saat kehamilannya berbarengan dengan Rosa, sang suami yang merupakan bos mafia justru memilih mengakui anak Rosa demi melindunginya. Tokoh utama dikhianati setelah sepuluh tahun mencintai pria itu. Di tengah keputusasaan, keluarganya sendiri mengutuknya dan memaksa menggugurkan kandungan karena dianggap hamil tanpa suami. Ketika suaminya sibuk menemani Rosa di kota lain, ia memutuskan pergi selamanya. Kisah novel modern ini penuh konflik emosional yang mendalam.
Sampul Novel Gairah yang Tertahan
8.9
Tiga tahun menikah, tekanan ibu mertua soal anak kian menyiksa. Meski rahimku sehat, suamiku yang pasif tak pernah memuaskan hasratku. Masalah ekonomi dan kebosanan mendorongku kembali bekerja sebagai sekretaris. Aku tak menduga keputusan ini menjadi pintu pembuka skandal besar. Di balik rutinitas kantor, aku mulai mencari pelarian yang tak didapatkan di rumah. Inilah awal mula pengkhianatanku, bermain api di belakang suami demi gairah yang lama terpendam.
Sampul Novel Mendadak Jadi Ibu Susu Anak Atasanku
8.1
Hidup Mariana hancur setelah dikhianati suami dan kehilangan bayinya. Di tengah duka, atasannya yang baru saja kehilangan istri meminta Mariana menjadi ibu susu bagi anaknya. Meski awalnya ragu, tugas ini membawa Mariana terjebak dalam dilema emosional. Kehangatan tak terduga mulai tumbuh di antara mereka, menciptakan benih cinta yang muncul di waktu yang salah. Bisakah perasaan tersebut bertahan di atas luka masa lalu dan situasi yang tidak semestinya?
Sampul Novel Neraka Di Rumah Mertua
8.2
Nia, gadis dari keluarga kurang mampu, mendambakan kasih sayang mertua setelah menikah dengan Riko. Namun, kenyataan pahit justru menghampirinya saat ia diperlakukan layaknya pembantu. Riko yang terlilit hutang besar akibat gaya hidupnya, tega menjual Nia kepada pria hidung belang demi melunasi tagihan penagih hutang. Kini, Nia terjebak dalam lembah maksiat yang dipaksakan suaminya sendiri. Sanggupkah ia meloloskan diri dari dunia kelam yang menghancurkan hidupnya?
Sampul Novel Pernikahanku, Bukan Denganmu
9.5
Demi nyawa tunanganku, aku rela kehilangan penglihatan di Puncak lima tahun silam. Namun, pengorbananku justru dianggap drama murahan. Ia lebih mementingkan sahabatnya, Amara, hingga tega mengubah lokasi pernikahan dan membelikannya gaun mewah. Di hari sakral kami, ia malah pergi menemani Amara dan membiarkanku menunggu di altar. Ia pikir aku akan selalu patuh, tapi dia salah besar. Saat ia mencariku di Bali yang kosong, aku sudah berada di gunung untuk menikah dengan pria lain.