Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tumbal Rumah Bersalin

Tumbal Rumah Bersalin

Warni dikenal sebagai bidan ramah di Desa Tlogo Ungu, namun ia menyimpan rahasia kelam. Dahulu dihina karena miskin dan dikucilkan warga, ia nekat melakukan pesugihan siluman ular putih, Nyai Sukma, demi kekayaan dan kelancaran bisnisnya. Melalui bantuan Romlah, perjanjian mistis pun dibuat. Namun, Nyai Sukma meminta syarat berat: wanita yang bersalin di malam Jumat Kliwon serta nyawa bayi kandung Warni sendiri sebagai tumbal perdana. Akankah Warni tega mengorbankan anaknya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi ini Rumah Bersalin milik Warni di penuhi oleh pasien. Tidak hanya Ibu hamil. Tetapi juga para wanita yang ingin melakukan suntik KB dan Imunisasi. 

"Sepertinya 2 orang tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan sebanyak ini," ucap Sari sambil sibuk mencatat nama pasien. 

"Kamu benar. Sebaiknya cepat panggil Nur dan Siti! Biar aku yang mengambil alih tugasmu terlebih dahulu," perintah Yuni yang langsung mendekat ke arah sahabatnya. 

Disaat Sari dan Yuni sedang sibuk melayani pasien yang semakin membludak. Warni yang baru saja keluar dari rumahnya terlihat berdiri di depan pintu. Dia terlihat tersenyum sambil melihat ke arah pasien yang berdatangan. 

"Sudah kuduga, selain emas dan harta pasien akan semakin banyak yang datang," ucap Warni sambil tersenyum.

Dengan penuh rasa bahagia Warni mulai berjalan ke arah ruangannya. Senyum ramah dia tunjukkan pada setiap pasien yang ada di tempat itu. Hingga akhirnya dia tiba-tiba berhenti dan tersenyum ke arah wanita muda yang ada di sudut kursi. 

"Sepertinya wanita itu cocok untuk tumbal selanjutnya, semoga saja dia melahirkan di waktu yang tepat," batin Warni sambil tersenyum ke arah wanita tersebut.  

Sambil menoleh ke arah para perawat. "Jika selesai di data, mereka suruh langsung masuk ke ruang periksa." 

"Baik. Bu Bidan," jawab mereka secara bersamaan. 

*** 

Waktu berlalu dengan begitu cepat. Semua pekerjaan Warni sebagai seorang bidan desa akhirnya berakhir. Setelah membersihkan mejanya dia segera berjalan ke arah rumahnya. Dia sengaja membuka rumah bersalin itu berdekatan dengan rumahnya. Agar memudahkannya  mengawasi rumah bersalinnya.

"Sudah pulang. Dek?" tanya Surya yang melihat sang istri masuk ke dalam kamar.

"Kamu tidak lihat sekarang jam berapa? Ya pasti aku sudah pulang." Warni menjawab dengan ketus.

"Bukan begitu, apa kamu mau aku siapkan makanan atau minuman," ujar Surya sambil memijat tangan sang istri.

"Tidak perlu! Lebih baik kamu pergi saja ke pasar, aku bisa melakukannya sendiri!" bentak Warni sambil menoleh ke arah Surya yang ada di belakangnya.

"Apa kamu yakin?" tanya Surya memastikan.

"Sudah kamu tidak perlu banyak tanya! Lebih baik kamu urusi saja pekerjaanmu yang tidak pernah menghasilkan uang banyak untukku!" bentak Warni sambil mendorong tubuh sang suami ke arah pintu rumah.

Setelah menutup pintu, Warni duduk termenung di lantai sambil mengingat kejadian 2 tahun yang lalu. Warni yang saat itu baru saja mendapat gelar Bidan langsung memutuskan untuk membuka rumah bersalin kecil di rumah peninggalan almarhum orang tuanya. Namun, pasien yang dia harap akan datang dengan jumlah banyak justru tidak ada yang bersedia memeriksakan kandungannya ke Warni. Usia yang masih muda serta gelar Bidan yang baru diterimanya, dan status Warni yang hanya anak seorang petani miskin menjadi alasan utama warga menolak memeriksakan diri ke Warni

Berbagai cara sudah dilakukan Warni mulai memberikan diskon, sampai pemeriksaan gratis dengan harapan agar warga bersedia memeriksakan kandungannya ke rumah bersalin miliknya. Namun, hal itu tidak membuat warga luluh, pemikiran dan anggapan warga tentang anak petani miskin tidak pantas menjadi seorang bidan terus melekat di pikiran mereka.  Warni yang kebingungan akhirnya mendatangi Nia sahabatnya yang tinggal di Desa sebelah untuk menceritakan apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Nia yang saat itu memiliki kekayaan dari hasil pesugihan siluman ular putih, menyarankan kepada Warni untuk mengikuti jejaknya.

Nia juga mengatakan untuk tumbal awal dia harus menyiapkan seorang bayi yang lahir dari rahimnya. Hal itu tentu membuatnya bingung, pasalnya sampai saat ini Warni belum juga mempunyai seorang pendamping. Hingga akhirnya Nia menyarankan Warni untuk menikah dengan seorang pria miskin dan lugu. 

Karena dengan begitu, dia akan mudah menjalankan rencananya. Waktu berlalu dengan begitu cepat. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menikah dengan Surya, seorang penjual bumbu giling di pasar tradisional. 

Saat Warni sedang melamun, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara ponsel yang ada di dalam saku bajunya. Dengan cepat Warni pun mengambil ponselnya, terlihat nama Yuni ada di layar ponselnya. Seketika Warni langsung mematikan ponselnya dan bergegas berjalan ke arah halaman belakang.

"Yuni? Sebaiknya aku biarkan saja, karena ada hal yang lebih penting." Warni segera berdiri dari tempat duduknya.

Perlahan Warni masuk ke dalam kamar kecil yang terletak di pojok halaman, sebuah kamar yang selalu tertutup rapat dengan kunci gembok yang menggantung. Di dalam kamar yang engap dan dengan penerangan yang seadanya terlihat sebuah ubo rampe seperti bunga tujuh rupa, dupa serta tempat untuk membakar kemenyan. Warni yang sudah gelap mata langsung duduk bersilah sambil membaca mantra untuk memanggil Nyi Sukma, tidak berapa lama wanita cantik dengan tubuh menyerupai ular sudah ada di hadapannya.

“Ada apa kamu memanggilku kemari?" tanya Nyi Sukma.

“Maaf, Nyai. Saya hanya ingin memberitahukan jika saya sudah mendapatkan tumbal untuk bulan depan, Nyai bisa melihat wanita itu. Apa dia sesuai dengan pilihan anda.” Warni menjawab sambil bersimpuh di hadapan wanita bertubuh ular tersebut.

Nyai Sukma sendiri adalah seorang wanita cantik yang memiliki tubuh seperti ular. Di Desa Tlogo Ungu Nyai Sukma terkenal sebagai siluman ular putih. Banyak dari warga Tlogo Ungu meminta bantuannya untuk mendapatkan kekayaan secara instan. Bahkan ada sebagian laki-laki yang rela hidup sendiri demi bisa menikah dengan Nyi Sukma. Semua itu mereka lakukan hanya demi mendapatkan kekayaan dunia. 

Tatapan tajam terlihat jelas dari dua mata siluman ular tersebut. Sebenarnya ada rasa takut dalam diri Warni saat berhadapan dengannya. Namun, semua seketika sirna saat dia mengingat kembali penghinaan yang diberikan warga desa.

"Siapa wanita ini?" tanya Nyi Sukma penasaran. 

"Dia adalah salah satu dari warga desa sebelah. Saat saya periksa usia kehamilan sudah masuk bulan ke 7," jawab Warni sambil gemetar. 

"Bulan ke 7 lalu bagaimana mungkin kamu bisa menjadikan dia tumbal. Sementara dia akan melahirkan 2 bulan lagi!" bentak wanita ular hingga membuat Warni terkejut. 

"Ampun. Nyai, maksud saya jika Nyai berkenan saya ingin meminta bantuan agar Nyai melakukan sesuatu untuk membuatnya melahirkan di bulan depan," jawab Warni sambil terus bersujud. 

Nyi Sukma terlihat memandang wanita itu dengan mata yang lebar. Tubuh menyerupai ular terlihat berlenggak-lenggok di hadapan sang bidan desa. Tidak ada jawaban apapun dari wanita cantik itu selain pergi meninggalkan Warni begitu saja. 

"Kenapa Nyi Sukma pergi? Apa jangan-jangan dia menolak tumbal ku kali ini." 

Sambil menarik nafas panjang. "Baiklah, kalau begitu aku akan mencari tumbal lain untuknya." 

Warni yang sejak tadi duduk di kamar itu segera bangkit dan berjalan keluar. Dengan langkah pasti dia mulai berjalan ke arah dapur. Perutnya yang sudah lapar, membuatnya segera mencari makanan. 

"Dasar laki-laki tidak berguna! Bisa-bisanya dia tidak memasak makanan," gerutunya sambil masuk ke dalam rumah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ace Tribes
9.5
Chryssant Elettra alias Ysee terlempar ke benua Earthalic setelah terkena kutukan akibat perundungan kawanannya. Ia nyaris tewas di tangan Putra Mahkota Remus Valez karena dituduh sebagai dalang agresi suku Ace. Setelah kejujurannya terbukti, Ysee dipaksa menjadi pelayan pribadi di manor Remus. Namun, kehadirannya justru mengungkap berbagai rahasia gelap yang selama ini tersembunyi. Tanpa sadar, mereka berdua hanyalah pion dalam skema besar yang mengancam kehancuran.
Sampul Novel Another Maze
9.6
Keberhasilan mesin waktu memicu kemunculan bola misterius yang meledak saat disentuh Robert Hans. Laboratorium hancur total, menyisakan Zora sebagai satu-satunya ilmuwan yang selamat. Demi menyelamatkan Hans yang pingsan, Zora nekat masuk ke mesin waktu tanpa koordinat pasti. Di sana, Dewi Penjaga Waktu mengungkap rahasia pulang: mereka harus mengumpulkan kepingan Air Mata Aldebran yang tersebar di berbagai dimensi asing guna menciptakan kunci kembali.
Sampul Novel Ashes of Midgard
9.4
Terbangun di tengah kegelapan tanpa ingatan selain nama sendiri, Rio terlempar ke dunia fantasi abad pertengahan yang asing. Tanpa jawaban atas asal-usulnya, ia terpaksa bertahan hidup bersama orang-orang yang bernasib sama. Rio membentuk kelompok tentara bayaran dan mulai mengasah kemampuan tempur demi menghadapi bahaya di tanah Midgard. Inilah awal perjalanan penuh ketidakpastian bagi mereka yang lahir dari abu untuk mengukir takdir baru di dunia yang keras.
Sampul Novel Bertahan Hidup di Dunia Komik
7.8
Pasca kecelakaan tragis, Delisha terbangun sebagai putri bangsawan yang baru saja menikah. Sialnya, ia menyadari dirinya terjebak dalam raga tokoh sampingan yang ditakdirkan tewas di tangan suaminya sendiri. Sang suami ternyata adalah antagonis utama yang licik di sebuah komik kerajaan. Kini, Delisha harus berjuang bertahan hidup di era abad pertengahan sembari menyusun taktik perceraian demi menghindari maut yang mengintai di balik sosok villain tersebut.
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren
9.4
Jelita terbangun dalam kondisi mengenaskan setelah tubuhnya dipinjamkan kepada Elizabeth, hantu istri dosennya sendiri, Daniel Danuarja. Tanpa diduga, Elizabeth justru memanfaatkan raga Jelita untuk berhubungan intim dengan sang suami hingga Jelita kehilangan kesuciannya. Saat kesadarannya kembali, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir lenyap. Di tengah kemarahan akibat dikhianati, Jelita kini terjebak dalam skandal rumit bersama Daniel.
Sampul Novel SUAMI GHAIB
8.3
Kebiasaan buruk Sinta setiap malam memicu ketertarikan sesosok genderuwo. Saat Aldo bekerja di luar kota, makhluk tersebut menyamar menjadi sang suami untuk menjebak Sinta dalam hubungan terlarang. Teror mulai menghantui kediaman mereka dengan berbagai kejadian ganjil yang mengancam keselamatan keluarga. Sinta kini terjebak dalam dilema antara kenyataan dan tipu daya mistis. Mampukah mereka lepas dari jerat gaib ini, ataukah Sinta akan kian tenggelam dalam kegelapan?