Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tumbal Rumah Bersalin

Tumbal Rumah Bersalin

Warni dikenal sebagai bidan ramah di Desa Tlogo Ungu, namun ia menyimpan rahasia kelam. Dahulu dihina karena miskin dan dikucilkan warga, ia nekat melakukan pesugihan siluman ular putih, Nyai Sukma, demi kekayaan dan kelancaran bisnisnya. Melalui bantuan Romlah, perjanjian mistis pun dibuat. Namun, Nyai Sukma meminta syarat berat: wanita yang bersalin di malam Jumat Kliwon serta nyawa bayi kandung Warni sendiri sebagai tumbal perdana. Akankah Warni tega mengorbankan anaknya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Warni yang baru saja sampai dirumah langsung berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia juga meminta kepada ketiga karyawannya yang lain untuk segera membersihkan diri dan langsung istirahat di kamar masing-masing. Malam ini Warni merasa tidak nyaman, seperti ada yang mengintainya dari kejauhan.

“Dasar laki-laki kebo, baru kena bantal saja sudah pulas banget,” gerutu Warni sambil bangun dari tempat tidurnya.

Malam ini Warni seakan terpanggil untuk masuk ke area rumah bersalin. Namun, saat kakinya baru saja memasuki area itu, tiba-tiba matanya tertuju pada sosok wanita yang duduk di meja resepsionis dengan menggunakan seragam perawat. Warni yang penasaran mulai mendekati wanita tersebut.

“Sari apa yang kamu lakukan disini? Bukannya aku sudah menyuruh kalian untuk beristirahat di kamar masing-masing!” bentak Warni.

Namun, tidak ada jawaban dari wanita tersebut, dia tetap duduk dengan tenang sambil membelakangi Warni. Udara malam yang dingin dan suasana yang sepi membuat kondisi di area itu terasa begitu menyeramkan. Perlahan Warni mulai memberanikan diri menyentuh tubuh wanita itu.

“Bu Bidan, sedang apa Ibu kesini?” tanya Nur yang tiba-tiba datang.

"Ya ampun, Nur. Kamu membuat saya terkejut saja? Ini Sari malam-malam begini bukannya istirahat malah duduk di sini," jawab Warni sambil melihat ke arah Nur.

"Sari.  Bukannya Sari ada di kamarnya, saya baru saja dari sana untuk mengambil obat semprot nyamuk ini," jawab Nur yang langsung membuat Warni terkejut.

"Jika Sari ada di dalam kamarnya, lalu siapa wanita yang ada di belakangku saat ini." Warni langsung mengalihkan pandangan kepada kursi yang ada di belakangnya.

Kursi yang tadi dia melihat ada seseorang duduk tiba-tiba kosong begitu saja. Wajah yang biasa terlihat kasar dan judes mendadak pucat dan ketakutan. Kaki Warni yang sejak tadi berdiri kokoh langsung terduduk lemas di kursi.

“Apa jangan-jangan itu? Tidak, mereka sudah meninggal, jadi tidak mungkin mereka ada disini,” batin Warni sambil duduk termenung.

“Bu Bidan, apa Ibu baik-baik saja?” tanya Nur saat melihat wajah Warni pucat.

“Aku baik-baik saja, mungkin aku hanya kecapean,” jawab Warni sambil mulai berdiri dan berjalan ke arah rumahnya.

Sejak kematian beberapa korban pesugihan, rumah bersalin itu menjadi lokasi yang menakutkan bagi sebagian orang. Tidak hanya rumah bersalin, rumah Warni yang biasanya tenang sekarang sering terjadi hal-hal di luar nalar. Bahkan Surya yang saat itu akan bersiap-siap ke pasar tiba-tiba dikejutkan sosok wanita yang mirip dengan sang istri.

“Kamu mau kemana, Dek?” tanya Surya saat melihat Warni berjalan ke arah belakang rumahnya.

Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Surya, dia terus berjalan ke arah belakang rumah tanpa mempedulikan Surya. Surya yang penasaran dengan sang istri terus mengikuti langkah kaki Warni. Hingga tiba-tiba dia berhenti di bibir sumur tua yang ada di depan sebuah kamar yang biasa di sebut gudang oleh Warni.

“Apa yang kamu lakukan di sini, Dek? anginnya sangat kencang, lebih baik kita masuk ke dalam kamar.” Surya tiba-tiba menggandeng tangan Warni.

Surya yang melihat wajah wanita itu langsung berteriak histeris. Wanita yang dia pikir sang istri ternyata memiliki wajah hancur yang di penuhi dengan ribuan belatung yang menempel. Wanita yang sejak tadi diam itu tiba-tiba tertawa kencang, hingga membuat Surya tidak dapat menggerakkan kakinya.

“Tolong saya, Mas. Saya mau pulang,” ucap wanita itu sambil menatap ke arah Surya yang terduduk di tanah.

“Pergi, cepat kamu pergi dari sini! Dek, tolong aku,” teriak Surya sambil berusaha menjauh.

Teriakan Surya terlihat sia-sia, wanita berwajah rusak itu terus mendekatinya sambil terus tertawa. Surya yang merasa jijik berusaha untuk menutup matanya rapat-rapat. Namun, lengkingan suaranya justru membuat Surya semakin ketakutan.

“Mas, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Warni yang tiba-tiba ada di hadapannya.

“Aku … dimana wanita itu? Wajah wanita itu sangat mengerikan, ada banyak belatung yang menempel di wajahnya yang buruk,” jawab Surya dengan ketakutan.

“Wanita, wanita apa! Disini tidak ada wanita lain selain aku, kamu pasti hanya bermimpi,” bentak Warni sambil menggoncang-goncangkan tubuh Surya agar tersadar dari ketakutannya.

“Tidak, aku tidak bermimpi, Dek. aku benar-benar melihat wanita itu, wajahnya penuh luka dan belatung. Bahkan aromanya membuat perutku mual.” Surya terus meyakinkan Warni.

“Sudah, sudah … lebih baik kamu mandi setelah itu berangkat ke pasar, jual semua bumbu-bumbu yang sudah ada di depan rumah itu, karena aku tidak mau rumahku kotor karena bumbu dapur yang sudah kamu beli itu,” perintah Warni sambil menarik tangan Surya dengan kasar.

“Tapi, Dek ….”

“Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu, Mas. kamu harus segera berangkat dan bawa bumbu dapur yang bau itu pergi dari sini!” bentak Warni.

Malam itu hujan turun dengan deras, kilat dan petir yang saling menyambar bersamaan. Jarum jam menunjukkan pukul 2 malam, Bidan Warni masih terlihat sibuk di ruangannya. Siti yang saat itu baru saja mengunci dan memeriksa rumah bersalin langsung masuk ke ruangan Warni.

"maaf, saya tidak tahu jika Bu Bidan masih ada di ruangan, " ucap Siti sambil sedikit menunduk.

"Tidak apa-apa, saya hanya membuat beberapa surat rujukan untuk pasien yang akan menjalani operasi di rumah sakit." Bidan Warni menghentikan pekerjaannya lalu menoleh ke arah Siti.

"Tapi, Bu Bidan. Sekarang sudah pukul 2 malam, apa tidak sebaiknya Ibu istirahat dulu?" tanya Sti yang merasa khawatir dengan Warni.

Kamu istirahat saja dulu, setelah surat ini selesai saya akan segera masuk ke dalam kamar saya, " perintah Warni sambil terus menatap layar laptopnya.

Siti yang mendengar jawaban Warni langsung pamit untuk kembali ke kamarnya. Hari ini Siti memang mendapat tugas jaga malam, jadi tidak heran jika dia baru bisa beristirahat pukul 2 malam. Warni yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya langsung keluar dari ruangannya untuk masuk ke dalam rumahnya.

"Aduh, kenapa tiba-tiba perutku sakit sekali, lebih baik aku ke kamar mandi dulu sebelum masuk ke dalam rumah," ucap Warni sambil melangkah ke arah kamar mandi.

Kamar mandi di rumah bersalin itu tidak begitu besar, hanya memiliki 2 bilik kecil dalam satu ruangan. terdapat juga satu kaca besar dengan 3 buah wastafel di dalam ruangan itu. Ruangan berukuran 4X2 meter itu terlihat sangat bersih.

“Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba lampunya berkedip seperti ini,” ucap Warni yang saat itu sedang mencuci tangannya.

Lampu yang awalnya menyala dengan terang tiba-tiba berkedip seolah rusak. Tidak berapa lama terdengar suara tangisan seorang wanita dari salah satu bilik kamar mandi yang sedang tertutup. Suara tangisan itu terdengar begitu menyayat hati, hingga membuat bulu kuduk Warni berdiri.

"Siapa yang menangis malam-malam begini," batin Warni sambil mendekati bilik yang ada di paling ujung.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HZB" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HZB
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ace Tribes
9.5
Chryssant Elettra alias Ysee terlempar ke benua Earthalic setelah terkena kutukan akibat perundungan kawanannya. Ia nyaris tewas di tangan Putra Mahkota Remus Valez karena dituduh sebagai dalang agresi suku Ace. Setelah kejujurannya terbukti, Ysee dipaksa menjadi pelayan pribadi di manor Remus. Namun, kehadirannya justru mengungkap berbagai rahasia gelap yang selama ini tersembunyi. Tanpa sadar, mereka berdua hanyalah pion dalam skema besar yang mengancam kehancuran.
Sampul Novel Another Maze
9.6
Keberhasilan mesin waktu memicu kemunculan bola misterius yang meledak saat disentuh Robert Hans. Laboratorium hancur total, menyisakan Zora sebagai satu-satunya ilmuwan yang selamat. Demi menyelamatkan Hans yang pingsan, Zora nekat masuk ke mesin waktu tanpa koordinat pasti. Di sana, Dewi Penjaga Waktu mengungkap rahasia pulang: mereka harus mengumpulkan kepingan Air Mata Aldebran yang tersebar di berbagai dimensi asing guna menciptakan kunci kembali.
Sampul Novel Ashes of Midgard
9.4
Terbangun di tengah kegelapan tanpa ingatan selain nama sendiri, Rio terlempar ke dunia fantasi abad pertengahan yang asing. Tanpa jawaban atas asal-usulnya, ia terpaksa bertahan hidup bersama orang-orang yang bernasib sama. Rio membentuk kelompok tentara bayaran dan mulai mengasah kemampuan tempur demi menghadapi bahaya di tanah Midgard. Inilah awal perjalanan penuh ketidakpastian bagi mereka yang lahir dari abu untuk mengukir takdir baru di dunia yang keras.
Sampul Novel Bertahan Hidup di Dunia Komik
7.8
Pasca kecelakaan tragis, Delisha terbangun sebagai putri bangsawan yang baru saja menikah. Sialnya, ia menyadari dirinya terjebak dalam raga tokoh sampingan yang ditakdirkan tewas di tangan suaminya sendiri. Sang suami ternyata adalah antagonis utama yang licik di sebuah komik kerajaan. Kini, Delisha harus berjuang bertahan hidup di era abad pertengahan sembari menyusun taktik perceraian demi menghindari maut yang mengintai di balik sosok villain tersebut.
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren
9.4
Jelita terbangun dalam kondisi mengenaskan setelah tubuhnya dipinjamkan kepada Elizabeth, hantu istri dosennya sendiri, Daniel Danuarja. Tanpa diduga, Elizabeth justru memanfaatkan raga Jelita untuk berhubungan intim dengan sang suami hingga Jelita kehilangan kesuciannya. Saat kesadarannya kembali, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir lenyap. Di tengah kemarahan akibat dikhianati, Jelita kini terjebak dalam skandal rumit bersama Daniel.
Sampul Novel SUAMI GHAIB
8.3
Kebiasaan buruk Sinta setiap malam memicu ketertarikan sesosok genderuwo. Saat Aldo bekerja di luar kota, makhluk tersebut menyamar menjadi sang suami untuk menjebak Sinta dalam hubungan terlarang. Teror mulai menghantui kediaman mereka dengan berbagai kejadian ganjil yang mengancam keselamatan keluarga. Sinta kini terjebak dalam dilema antara kenyataan dan tipu daya mistis. Mampukah mereka lepas dari jerat gaib ini, ataukah Sinta akan kian tenggelam dalam kegelapan?