
Tumbal lukisan
Bab 2
Sejak dulu Hani selalu menakut-nakuti adik perempuan satu-satunya dengan cerita seram menjelang tidur, Hani akan menyelinap masuk ke kamar adiknya saat tengah malam. hani menggulung dirinya dengan selimut putih dengan kedua tangan ditangkupkan di atas kepalanya lalu membuat suaranya memberat sedikit,
aku hantu ... aku hantu yang suka anak gadis yang cantik,ikutlah ke duniaku ...Hi Hi Hi Hi
dan sang adik akan menangis jerit-jerit ketakutan
" Aku benci kakak. kakak jahat"
"Mega,kakak cuma bercanda,lihat ini selimut yang biasanya kakak pakai kan?"
Mega menatap tajam Kakaknya diujung pintu. ini sudah kesekian kalinya kakaknya menakuti dirinya seperti ini. Meski ia sudah mendapatkan haid pertamanya seminggu yang lalu bukan berarti ia menjadi seorang yang pemberani
"Aku sumpahin suatu hari nanti, kakak akan didatangin hantu beneran sampai kakak mati ketakutan" Mega tidak bercanda, ia mengucapkannya keras-keras seperti doa sambil membanting pintu kamarnya. lalu berlari ke arah kamar ibunya, mengadukan perbuatan kakaknya
🌕🌕🌕🌕
dan karma dari adiknya itu mungkin telah datang menghampirinya sekarang
selama beberapa detik Dion menatap Hani dengan tatapan mata seperti ingin menerkam mangsanya. Mulut Hani sedikit terbuka, sekujur otot dan tulangnya menegang, jantungnya berdetak cepat seakan mau copot ia berkeringat ketakutan.
mungkinkah sosok Dion adalah hantu? pikir Hani takut
"Kamu takut?" Dion bertanya, laki-laki itu menyentuh kening Hani
"............" tak ada kata-kata yang sanggup Hani ucapkan saat ini
"Aku bercanda, ini baksonya sudah selesai aku siapkan" tiba-tiba semangkuk bakso sudah ada di atas meja . Hani masih membeku , ia sekilas melihat uap-uap udara yang keluar dari bakso di hadapannya lalu beralih ke wajah Dion yang kini memasang senyuman lebar
aku harus apa .. aku harus apa sekarang... aku bahkan tak punya tenaga untuk segera pergi dari sini ... .
"hei,kamu menganggap tadi itu serius ya? ya ampun coba lihat kedua kakiku kalau tidak percaya. mana ada hantu yang bisa menapak tanah kan?"
Hani ingin percaya tapi sungguh ia merasa masih ada yang janggal
Dion membuka tutup tempat sendok dan garpu,mengambil sebuah sendok dan sebuah garpu , ia mengelapnya dengan tisu kering lalu menaruhnya masing masing di telapak tangan Hani
" Ayo cepat dimakan, nanti baksonya keburu dingin"
dion duduk di depannya , menunggu Hani yang sejak tadi tidak bereaksi
"......nggghhh serius kan cuman bercanda?"
"Apa aku kelihatan tidak seperti manusia hmmmhh???? lagipula mana ada hantu jualan bakso ? "
hani mengambil nafas dan membuangnya panjang
" Syukurlah....." ucap Hani
kini ia sudah tak mau pusing entah manusia entah hantu, ia sudah sangat lelah dan mengantuk setelah seharian ini
Hani mulai memakan baksonya. pertama ia mencicipi kuah beningnya,
rasanya gurih... seperti....
"Gimana? enak kan?"
"Lumayanlah"
"Ayo dicoba baksonya, aku jamin kamu pasti jadi pelanggan setelah malam ini"
hani sedikit tertawa
"Kamu ini pede banget, gimana kalau rasa baksonya biasa aja, atau malah gak enak "
hani menggigit bakso kecil lalu mengunyahnya. ia berhenti sebentar. kedua matanya ia pejamkan untuk lebih menikmati rasa dari bakso buatan Dion.
ini...luar biasa... belum pernah aku makajn bakso seenak ini. serat dagingnya terasa kasar , tidak lembut tapi membuat gigiku ingin menguyah,menguyah dan tak mau berhenti
hani membuka matanya,
"Ini enak banget, bakso paling enak yang pernah aku makan, kamu yang buat ini sendiri? atau beli dari penggilingan daging?"
"iya aku buat sendiri, aku punya alatnya di rumah"
tapi bakso seenak ini kenapa sepi pembeli?" hani mengajukan pertanyaan sambil melanjutkan makannya
"Kamu orangnya jujur sekali. yah entahlah kenapa tak mau ada yang makan disini"
hani terbatuk-batuk mendengar penuturan dion. apa pertanyaanku tadi kelewatan ya?
"Bukan gitu, maksud aku, sayang bakso seenak ini harusnya bisa laku keras"
"Gitu ya! mungkin karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita mau"
ahh benar sekali, kenapa aku harus mengajukan pertanyaan bodoh seperti tadi? lihat aku saja lulusan terbaik dari universitas di kotaku tapi sampai hari ini melamar kerja kemanapun, tak pernah ada yang mau menerima... Dion dengan bakso yang sangat enak mustahil kedai baksonya sepi pembeli. tapi lihatlah,,,, kenyataan tak seperti yang kita harapkan
"Nasib kita sama, terima kasih baksonya enak. berapa harganya?" hani sudah menghabiskan baksonya sampai kuah terakhir, ia membuka tasnya, tangannya mencari-cari sesuatu yang hilang
"Kenapa? kamu ga bawa uang?"
"Enak aja kalau ngomong. nih dompetku, aku kehilangan surat lamaran kerja, kenapa bisa hilang sih? apa jatuh pas lari-lari tadi ya? "
"Oh, kamu lagi cari kerja?"
"Iya tapi semua pada menolak, entah apa kurangnya, nilaiku bagus, aku juga tidak menego gaji, apa mungkin aku kurang cantik?"
"Kamu cantik ko" Dion menatapnya, ia melihat lebih dalam jauh ke dalam bola mata Hani
membuat Hani jadi kikuk sendiri
Hani berusaha mengalihkan pandanganya ke seluruh ruangan di kedai. di pojokan ada sebuah lemari pendingin dengan pintu kaca
yang nampak berembun. ada bekas coretan lingkarang lingkaran kecil. seperti kegiatan rutin yang dibuat seseorang yang bosan menunggu waktu.
Hani melihat ke atas dinding sebelahnya dimana ia duduk, ada sebuah lukisan yang tak bergambar, lukisan itu hanya nampak berwarna putih
"itu, kenapa lukisannya kosong?" Hani bertanya
"itu ya... aku juga bingung mau melukis apa"
Hani tertawa ,, ia berpikir Dion tak semisterius yang ia kira.
"Bagaimana kalau aku melukis kamu, kamu mau kan?"
".....ngghhh aku??"
"iya kamu, kamu cantik seperti temanku"
pipi Hani memerah. ia sudah sering dibilang cantik oleh banyak laki-laki lain sebelum Dion, anehnya kali ini Hani merasa tersanjung. ia merasa kata-kata Dion tulus meski kecantikannya mengingatkannya akan teman Dion.
seperti apakah teman perempuannya Dion? kenapa aku justru penasaran ...?
"Apa kamu punya harapan
? " hani bertanya
" apa itu hal yang penting?" jawab dion
"yah penting dong. aku meskipun ditolak kerja berkali-kali tapi aku masih menaruh harapan kalau suatu hari nanti aku bisa jadi manager di sebuah perusahaan besar he he he"
"Anggap saja itu sebagai penyemangat hidup, kamu punya kan Dion?"
"Harapanku ya..? hmmhhh harapanku mungkin...."
hani sedikit mencondongkan tubuhnya, menunggu jawaban yang keluar dari mulut Dion. lama sekali keduanya terdiam
laki-laki itu melihat ke dalam wajah Hani, ada jawaban yang tak bisa ia ungkapkan saat ini , belum saatnya, keraguan itu nampak membentuk di sudut-sudut wajahnya sendiri
"Aku ga punya harapan" Dion mengatakannya dengan tertawa lemah
Hani mengangkat kedua alisnya,,
"Kenapa?"
"Bukan apa-apa. oh tadi kamu bilang kamu lagi butuh kerja kan? aku punya kenalan, kamu coba saja melamar kerja disini?" dion bangkit berdiri lalu mengambil sebuah kartu nama dari laci penyimpanannya
hani jadi merasa menyesal dengan pertanyaan tadi,
aku punya kenalan yang berkerja disana, bilang pada mereka bahwa kamu adalah temanku"
Hani tersenyum senang. ia mencermati nama seseorang dan alamat yang tertera pada kartu yang diberikan Dion.
"dari sini hanya setengah jam perjalanan menggunakan bus, nanti kamu turun di alun-alun kota ambil jalan memutar nanti sudah kelihatan ko gedung perkantorannya" Dion menjelaskan
"Dengan apa aku harus berterima kasih Dion?"
"jadilah temanku"
"Diterima dengan senang hati" jawab Hani tersenyum
🌕🌕🌕🌕
pov Dion
sudah waktunya berhenti berduka,,,
kami tidak boleh merasa bersalah
gadis-gadis itu memang dirancang untuk ditumbalkan...
darah-darah mereka aku butuhkan untuk mengisi hidup dalam duniaku
seperti gadis yang baru saja aku temui
ibuku sudah menandainya dalam mimpi buruknya di kereta
dan aku menghampirinya memakai topeng pahlawan
tiket sudah dilampirkan
gema kematian akan menghantuinya secepatnya
ia memiliki rambut bergelombang di atas bahu
sepasang bola mata yang hitam dan bibir yang merona
kecantikannya seperti muncul dari rimba fantasiku yang terdalam
ia gadis cantik yang membuat adrenalinku bergejolak
mengingatkanku akan gadis yang pernah aku sukai dulu
aku bertanya-tanya dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada
apakah ia gadis yang sama?
apakah ia gadisku yang pergi saat aku hampir meregang nyawa....
lalu bertanya padaku apa harapanku?
tidakkah ia tahu bahwa harapan hanyalah emosi terpendam yang menyedihkan
meskipun begitu bertahun-tahun yang lalu mungkin aku sempat meyakininya dan aku ingin mengatakannya kencang-kencang saat ini di depan wajahnya bahwa aku ingin hidup sampai usia seratus tahun
🌕🌕🌕🌕
Hani berangkat pagi-pagi sekali menggunakan bus , ia tak mau melewatkan kesempatan yang sudah diberikan Dion semalam. Rasa letihnya menguap begitu saja.
Setengah jam perjalanan ia turun di depan alun-alun. Fajar masih menahan setengah cahaya malamnya. Hani berusaha mengingat percakapannya semalam dengan Dion
"Harusnya semalam aku minta nomer ponselnya" ia menggerutui dirinya. Tangan kananya mengeluarkan kartu nama dari saku kemejanya. Ujung jemarinya mengelus huruf-huruf yang timbul berwarna perak
Rian Hariwijaya, manager HRD
hebat juga si Dion bisa punya kenalan manager Hrd lagi, kenapa bukan dia saja yang melamar ke sana ya? pikir Hani
ah sudahlah kenapa juga dipikirkan*
" Semangat, ini pasti jadi rezeki aku " Hani menyemangati dirinya sendiri , ia melihat sekitar. Alun-alun masih nampak sepi.
Ia memutuskan berjalan melihat keadaan di sekitarnya, mungkin akan ada orang yang bisa ditanyainya. Sejauh matanya memandang ia hanya merasakan kengerian. Pagar-pagar runcing berkarat mengelilingi bangunan ruko-ruko tua yang berwarna kusam termakan usia, sebagian dinding luarnya berlumut basah. Angin pagi menerbangkan aroma samar-samar , membuat penciumannya menghirup sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.
Tiga meter di depannya terdapat sebuah kolam ikan yang terbuat dari pecahan batu-batu alam dengan patung gadis kecil bermata bolong di tengahnya. Hani mendekat ke arahnya. Sedikit melongokkan kepalanya . Tak ada apa-apa disana. Tak ada air dan tak ada ikan disana .
Seseorang dengan kedua kaki telanjang tanpa alas sedang mengamati Hani sejak tadi
Lalu bahunya dicengkram bukan dari depan melainkan dari samping. Ia menoleh.
Seorang gadis muda dengan gaun hitam transparan menatapnya dengan pandangan penuh dendam. Meski terlihat pucat wajah gadis muda itu penuh riasan.
"Cari siapa di sini?" Gadis itu bertanya,menghakimi Hani
" Ah,maaf bisa lepaskan tanganmu, ini terasa sakit"
" Cari siapa di sini?" Gadis itu mengulangi pertanyaannya tanpa melepaskan cengkramannya di bahu Hani
" Aku cari alamat, aku mau melamar kerja "
Gadis muda itu menurunkan tangannya. Lalu berjalan menghadapi Hani dari depan.
Dengan satu tangan saja sudah membuat bahuku sakit,siapa gadis ini sebenarnya, kenapa berkeliaran dengan gaun transparan yang memperlihatkan pakaian dalamnya sendiri, Hani gemetar bertanya pada dirinya sendiri
Semakin gadis itu mendekat ke arahnya, ia semakin jelas menghirup sesuatu. Seperti sesuatu yang terbakar ,aroma daging yang hangus.
Hani bergidik. Ia ingin lari tapi kedua kakinya membeku tak bisa digerakkan. Gadis muda itu menatap lurus padanya, seakan ingin beradu pandang dengannya. Mau tak mau Hani melihat lebih jauh ke dalam mata gadis itu. Menyeramkan dan penuh dendam
Nafas Hani terhenti . Hening
Hani melangkah mundur dan meremas ujung kemejanya dengan tangan yang gemetaran lalu mengucapkan permohonan
"Kumohon,bisakah aku pergi sekarang "? Suara Hani berubah serak menahan ketakutan
Dan untuk pertama kalinya gadis misterius itu hampir terlihat tersenyum
" Namaku Zara , aku akan mengantarmu , tunjukkan alamatnya padaku"
Dengan nafas yang tercekat Hani menyodorkan kartu nama yang dipegangnya sejak tadi
"Ikuti aku, aku tahu tempat ini" Zara membalik badannya dan mulai berjalan beberapa langkah di depan Hani yang tak berkutik
Anda Mungkin Juga Suka





