
Tumbal lukisan
Bab 3
"Jam berapa sekarang?" Zara membuka percakapan
Hani melihat jam dilengan kirinya. Jam 05.15 pagi. tidak mungkin pikirnya, ia sudah disini sejak tadi dan waktu seakan tidak bergerak
"Apa kamu pernah kehilangan orang yang kamu sayangi?"
" ehh "
"Rasanya seperti tidak akan bertemu lagi selamanya, apa kamu pernah?"
hani belum menjawab pertanyaan-pertanyaan Zara , langkah kakinya berhenti sejenak. ia membuang jauh pandangannya jauh ke atas langit seolah mencari jawaban. langit-langit berwarna kelabu tampak lebih rendah dari yang biasanya ia lihat, sekilas ia beradu pandang mata dengan seekor burung gagak hitam yang bertengger di atas pohon
seekor burung gagak berkaok,mengepakkan sebelah sayapnya dengan liar. ia mengalihkan pandangan dari burung itu lalu mulai berjalan lagi. ia tak menemukan jawabannya . meski hatinya pedih mengingat kepergian adiknya beberapa bulan yang lalu
Zara nampak cantik dan misterius dengan gaun hitam transparan yang dikenakannya. Hani sekali-kali mencuri pandang ke arahnya. seutas kalung emas putih berayun-ayun di atas dadanya. Hani menjelajahi tubuh Zara dengan seksama sampai ke bawah
ujung-ujung jari kakinya yang tampak pucat berkerut membiru, ya Hani baru sadar ternyata Zara bertelanjang kaki rupanya
" Dimana sepatumu?"
"Mereka membuangnya saat aku tak bisa bergerak"
"Maksudnya?" Hani bertanya tak mengerti. ia tak bisa mencerna ucapan Zara barusan
Zara berjalan ke arah Hani menatap dalam pada wajah Hani, ada hening sejenak diantara mereka
"Kita sudah sampai, kamu tinggal menyebrang jalan saja di sana. Ada 3 gedung berjejeran dengan ukuran sama. carilah gedung dengan kaca-kaca berwarna biru"
"baiklah,terima kas...."
belum sempat Hani menyelesaikan kalimatnya,Zara sudah berbalik arah lenyap dari pandangannya membuat Hani sedikit kesal
"Perduli setan, aku juga harus pergi sekarang"
timpal Hani
hanya dalam beberapa detik saat ia baru setengah menyebrangi jalan, langit kelabu yang dilihatnya memudar di ganti sinar matahari yang menerobos setajam pisau asah.
keadaan berbalik aneh dengan sangat cepat.
la berada di tengah garis zebracross dengan lampu yang berganti hijau. suara-suara klakson mobil dan motor hampir meremukan gendang telinganya. seorang pria berkepala plontos menyembul keluar dari jendela yang terbuka, memberinya peringatan keras
" Minggir gadis jelek atau kutabrak sekalian"
hani ingin protes karena memang ia tak habis pikir, seingatnya jalanan masih nampak lenggang
bagaimana bisa berubah ramai dalam sekejap??
Hani membungkukkan kepalanya sedikit kepada mereka, membuat tanda permintaan maaf lalu berjalan pergi secepatnya
Hani merasa lemas,lututnya gemetaran ia hampir terjatuh karena bersenggolan dengan anak anak kecil berseragam sekolah yang lari-lari sambil tertawa
seseorang menolongnya. seorang gadis yang usianya hampir sama dengannya
"kamu baik-baik saja.? ah dasar anak sekolah zaman sekarang enggak punya sopan santun sama yang lebih tua"
"Biarin,.mereka masih anak-anak. aku juga yang salah "
"Serius kamu enggak apa-apa? wajahmu pucat loh! atau kamu lemas karena belum sarapan"
gadis itu benar nyatanya Hani belum Sarapan tapi ia lemas karena pengalaman mencengangkannya beberapa saat yang lalu
"Aku mau melamar kerja,kamu tahu alamat kantor ini?"
"Ahh nanti kita jalan sama-sama kesana ya. ini kantor tempatku bekerja"
" benarkah?"
"iya, tapi sebelum itu kita sarapan yuk, aku yang bayar deh. kan ga lucu kalau kamu sampai pingsan saat wawancara nanti"
"Namaku Dera , aku baru satu tahun kerja disana, bagian purchasing, namamu sendiri siapa?" gadis itu memperkenalkan dirinya pada Hani. Senyum yang menyenangkan dan Hani balas tersenyum
"aku Hani"
seorang pria paruh baya menyela percakapan mereka,menaruh dua mangkok berisi bubur ayam
"Dimakan dulu sarapannya neng "
sambil menyantap sarapan mereka, Dera mulai berbicara dengan pandangan menatap ke atas langit yang cerah di atas mereka
"Aku yakin kamu pasti di terima kerja di kantor tempatku bekerja"
"Kenapa ?"
"Kamu tahu,kantor tempatku bekerja itu lumayan besar, ada lima lantai dan setiap departemen harusnya punya 15 orang staff ditambah 2 asisten manager, dan manager di setiap departemennya , tapi "
"Tapi?"
"Nanti kamu lihat sendiri,bukan kejutan namanya kalau aku beritahu sekarang"
🌕🌕🌕🌕
Zara benar, ketika mereka tiba di kantor yang dimaksud. Ada hal yang yang membuat gedung ini nampak menonjol dari 2 gedung di sebelahnya. Gedung ini nampak cantik dengan kaca-kaca berwarna biru, tidak terlalu tinggi dan besar seperti tembok-tembok pencakar langit di sekelilingnya.
menakjubkan batin Hani terpukau
Dera mendorong pintu Kantor yang transparan lalu mengucapkan selamat pagi teman-teman semua dengan nada yang sedikit keras. Membuat seorang gadis yang duduk di belakang meja berlapis kulit kayu melongokan kepalanya. Rambut gadis itu digelung rapi di belakang kepala, bibirnya berkilau luar biasa karena efek glossy lipstik yang dipakainya, agak mencengangkan sebetulnya dengan bibir tebal yang dimilikinya. bukankah lebih bagus jika memakai lipstik matte sepertiku saja, ucap Hani dalam hati
"Selamat pagi juga Dera. Siapa gadis di sampingmu?
"Oh dia namanya Hani,,calon karyawan baru. hey keluarkan surat lamaran kerjamu"
Hani membuka tasnya,mengeluarkan sebuah amplop coklat kepada Dera
"Ini,tolong sampaikan untuk pak Rian "
kedua gadis itu terdiam. mereka saling menatap pada Hani
"Tidak ada yang namanya pak Rian disini" ucap mereka hampir bersamaan
Hani mengkerutkan keningnya, ia melihat kembali kartu nama yang diberikan Dion kemarin, membaca setiap hurufnya dengan jelas. benar di situ tertulis nama Rian Hariwijaya
tak jauh dari mereka, dinding berwarna cokelat muda dengan corak seperti atmosfer jupiter terbuka, seorang wanita dengan blazer hitam mendatangi mereka. meski rambut wanita itu mulai beruban , wanita itu terlihat cantik dan cerdas dengan kacamata yang dipakainya.
seolah seperti sudah tahu keadaan yang terjadi, wanita itu langsung bertanya pada Hani
"Siapa namamu ?" wanita itu bertanya
"Hani..."
"mari ikut ke ruangan saya ,kamu mau melamar kerja disini kan "
"Ngghh iya bu "
wanita itu berjalan masuk disusul Hani melewati dinding yang sama saat wanita itu keluar tadi.
apa ini sebuah pintu,? Hani bertanya-tanya
sebelum pintu benar-benar tertutup Hani masih dapat mendengar percakapan Dera dan Gadis resepsionis yang dikenalnya beberapa saat lalu
"Hey,bukankah manager hrd kita bernama Bu Sarah ?" .....
🌕🌕🌕🌕
ruangan-ruangan di dalam kantor terlihat jelas karena dinding dan kaca yang transparan. Ruangan pertama yang dilaluinya tidak berukuran besar, beberapa komputer tampak menyala dibiarkan begitu saja tanpa ada penggunanya. tidak ada satu karyawanpun yang ada di ruangan itu
ruangan kedua dan ketiga yang dilaluinya juga tampak sama keadaannya dengan ruangan pertama.
Bukankah ini aneh?
kenapa tidak ada satu karyawanpun yang berada di ruangan-ruangan itu?
apakah ini masih terlalu pagi untuk bekerja....
Anda Mungkin Juga Suka





