Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tuan Muda Sean

Tuan Muda Sean

Sean Devon, ahli waris sah keluarga Devon, terdepak dari posisinya akibat konspirasi kejam ibu tirinya. Sang nyonya besar berselingkuh dengan sekretaris suaminya hingga melahirkan Delano, yang kemudian diakui sebagai putra tunggal demi menguasai harta. Berbagai intrik jahat dirancang untuk melenyapkan Sean dari silsilah keluarga. Kini, Sean harus berjuang demi merebut kembali haknya. Akankah ia berhasil, atau justru Delano yang akan menguasai takhta Devon?
Bab
Bagikan

Bab 2

Seiring berjalannya waktu, Fulton semakin menunjukkan ketertarikannya pada Erlena. Dari perhatian kecil yang pria itu berikan, mampu mengoyak perasaan gadis tersebut. Hingga mereka mencoba mengenal satu sama lain, tentang kehidupan mereka berdua

"Erlena." panggil pria itu.

"Iya Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" Erlena mendekat.

"Aku hanya ingin bicara denganmu. Dan satu lagi, jangan bersikap formal padaku."

Erlena bimbang, apa bisa ia melakukan hal ini?.

"Tapi ...."

"Erlena, kamu bisa, tidak membantah permintaanku?"

Gadis itu mengangguk dan mendudukkan tubuhnya di samping sang pria. Sudah biasa melakukan hal itu.

"Baik, Tuan."

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu."

"Lalu?" Erlena gugub, setiap kali berdekatan dengan pria ini degup jantungnya berdetak kencang, ia takut jika rasa di dalam hatinya semakin dalam. Ia sadar jika hatinya mengalami ketertarikan pada pria ini.

"Panggil aku dengan sebutan Fulton."

Erlena ingin menolak, tapi mengingat jika pria itu tak suka mendengar bantahan, ia memilih menurut.

Fulton beralih menghadap ke arah Erlena. Gadis itu terkejut dengan apa yang pria di sampingnya itu lakukan.

"Erlena."

Gadis itu mendongak menatap wajah tampan pria di hadapannya.

Fulton meraih tangan Erlena. "Salahkah jika aku menyukaimu."

Erlena menganga, benarkah apa yang pria ini katakan?.

"Tapi ... kamu sudah mempunyai istri."

"Aku tidak mencintainya, kamu tahu jika pernikahan kami terjadi hanya karena perjodohan. Yang aku inginkan hanya kamu."

Erlena menepis tangan pria itu, ia gelisah. Di sisi lain ia bahagia karena perasaan yang ia pendam akhirnya terbalaskan. Namun di sisi lain ia tak ingin menjadi orang ketiga di antara kehidupan Fulton.

"Aku tidak bisa."

Fulton memeluk tubuh Erlena cepat. Ia tak ingin menerima penolakan, karena ia yakin jika gadis itu juga mencintai dirinya. Hanya karena ia sudah menikah, Erlena tak ingin menerima cintanya. Tidak, itu tidak akan terjadi.

"Aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilangan dirimu."

Erlena menitikkan air mata, ia tak ingin menjadi yang kedua. Ia ingin cinta Fulton hanya menjadi miliknya.

"Aku tidak ingin berbagi cinta."

Fulton membalik tubuh Erlena. Menangkup kedua pipi gadis di hadapannya. Mengusap air mata gadis itu lembut, menggunakan kedua ibu jarinya.

"Tidak akan, aku hanya mencintaimu. Pernikahanku dengan Delania hanyalah sebuah formalitas. Aku tak pernah menyentuhnya, aku tidak memiliki perasaan cinta sedikitpun dengannya."

Erlena menatap dalam kedua iris hezel pria si hadapannya. Menyelami bola mata itu, mencari kebohongan di dalamnya. Yang sayangnya tak ia temukan.

Bolehkah jika ia mempercayai pria ini?.

"Aku juga mencintaimu." balas Erlena.

Senyuman merekah tergambar di bibir pria itu. Dengan cepat ia membawa tubuh Erlena kedalam pelukannya. "Terimakasih, aku sangat bahagia. Akhirnya aku benar-benar menemukan cintaku."

Entah mengapa setelah menerima perasaan pria ini rasanya ada yang aneh. Hati Erlena mendadak nyeri, ia membayangkan jika dirinya hanya akan menjadi seorang kekasih simpanan. Sosok yang tak akan pernah terungkap keberadaannya. Sejujurnya ia tak terima, namun bagaimana lagi? Hatinya menginginkan berada di dekat pemuda ini.

Semakin hari hubungan Erlena dengan Fulton semakin mesra. Bahkan Fulton berniat untuk menjadikan Erlena sebagai istri siri nya.

"Menikahlah denganku."

Erlena senang? Tentu saja, namun untuk status pernikahan itu ... Erlena sedikit tak yakin.

"Apa kamu akan mengenalkan aku dengan keluarga besar mu?" Entah mendapat keberanian dari mana, Erlena berani bertanya demikian. Ia penasaran dengan apa yang akan keluar dari ucapan Fulton.

Fulton terdiam, pertanyaan kekasihnya sangat sulit untuk ia jawab. Keluarganya adalah kelurga paling menentang keinginan, jika mereka tau bahwa Fulton memiliki istri lain. Maka semua akan kacau, ia tak ingin kelurga besar Devon tercoreng hanya karena dirinya mengungkap kebenaran akan adanya Erlena. Meski ia sangat mencintai gadis itu.

"Maafkan aku." lirihnya.

Erlena tersenyum miris, sesak tiba-tiba mendera hatinya. Kedua matanya memanas siap menumpahkan lahar beningnya.

Fulton memeluk erat tubuh kekasihnya begitu erat, ia tahu betul apa yang wanita itu rasakan. Namun ia tak bisa berbuat banyak.

"Maafkan aku, maafkan aku." hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir pria tersebut. Ia ikut merasakan kesakitan yang sama, tanpa sadar air mata mengalir dari kedua mata pria tersebut. Mungkin ini kali pertama pria itu menangis selama iya tumbuh menjadi pria dewasa.

"Kenapa kamu menangis, aku mengerti apa yang kamu rasakan." Erlena tersenyum dibalik air mata yang terus mengalir membanjiri kedua pipinya.

"Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu, Sayang." Fulton kembali memeluk tubuh gadis di hadapannya.

"Aku juga sangat mencintaimu. Aku takut jika kamu pergi meninggalkan diriku sendirian."

Mereka saling mendalami cinta masing-masing. Hingga pada akhirnya Erlena menyetujui permintaan sang kekasih, untuk menikah dengannya.

***

Sudah genap tiga bulan lamanya Fulton pergi dari kediaman Devon. Membuat sang ayah penasaran dengan apa yang putranya lakukan. Perasaan tidak ada perusahaan yang mengalami krisis di sana, tapi kenapa putranya sangat lama berada di sana. Meninggalkan menantu nya seorang diri.

"Apa kamu sudah menghubungi Fulton?" tanya pria itu pada sang menantu.

"Sudah, Pa. Fulton akan pulang besok lusa."

"Suruh dia pulang sekarang juga. Katakan padanya, jika aku menunggu." Perintah mutlak dari sang tuan besar.

Buru-buru Delania menghubungi sang suami. Ck, ini sangat menyebalkan. Padahal ia ingin jika sang suami berada di sana lebih lama.

Fulton yang masih bergelung di dalam selimutnya, selepas menikmati malam pertama sehabis pernikahan mereka. Dengan kekayaan yang Fulton miliki, tak butuh waktu lama untuknya mendatangkan seorang penghulu untuk mengesahkan mereka berdua.

"Siapa?" tanya Erlena dengan suara paraunya, memeluk erat tubuh tanpa penutup kain, sosok lelaki yang kini sah menjadi suaminya itu.

"Delania."

Hemh, Erlena hanya bisa menghela napas. Rasa sedikit kecewa selalu datang ketika sang istri pertama menghubungi suaminya.

"Aku akan mengangkat panggilnya sebentar." ucap sang suami, mengecup pucuk kepala sang istri.

Erlena hanya mengangguk dan memilih memejamkan kedua matanya kembali. Tak ingin mendengar percakapan suaminya.

---

"Apa?! Ini sudah malam Dela! Apa papa tidak bisa menunggu besok saja?!" Sedikit emosi karena tiba-tiba sang istri menyuruhnya untuk pulang.

"Kamu tahu sendiri bagaimana sifat papa, sekarang dia ada di rumah kita. Dan menyuruhku untuk menghubungi mu. Katanya ada hal penting yang ingin dia katakan."

"Ck." Decakan sebal menjadi penutup panggilan telpon Delania.

Dengan berat hati, Fulton berpamitan pada istri barunya.

"Sayang," elusnya pada rambut sang istri, berniat untuk membangunkan wanita itu.

Erlena membuka kedua matanya berlahan.

"Iya."

"Aku harus pulang, maafkan aku." Dengan penuh sesal sang suami berucap.

"Malam-malam begini?" Erlena tak percaya, hari ini nyaris menjelang lewat tengah malam.

"Iya, aku tidak tahu. Papa menungguku di rumah, mungkin ada hal genting yang terjadi."

Erlena mencoba mengerti, meski sebenarnya ia tak ingin ditinggalkan sang suami.

"Baiklah, pulanglah. Aku akan selalu menunggu kedatangan mu di sini."

Fulton tersenyum dan mengecup seluruh wajah sang istri. "Iya, karena itu yang harus kamu lakukan."

"Jangan lama-lama, aku akan sangat merindukanmu." Memeluk sekilas tubuh sang suami.

"Pasti. Baiklah, aku pulang dulu."

Akhirnya Erlena dengan Fulton berpisah pada malam itu.

Hampir menjelang pagi, Fulton baru sampai di mansionnya. Benar saja, sang ayah ada di sana. Beliau tengah terlelap, Fulton memutuskan untuk menemui beliau nanti jika sudah terbangun. Lagipula, Fulton juga sangat mengantuk.

Beberapa jam kemudian.

"Fulton, bangunlah. Papa memanggilmu." Delania membangunkan sang suami.

Fulton membuka kedua matanya, nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya. "Baiklah." Beralih dia bangun dan menuju ke kamar mandi, guna membersihkan dirinya terlebih dahulu.

Selesai dengan membersihkan diri, Fulton menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah. Menemui sang ayah si ruang makan.

"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya sang ayah.

"Baik Pa. Ngomong-ngomong, apa yang membuat Papa menyuruhku pulang secara mendadak?"

Sang ayah menopang dagu dengan kedua punggung telapak tangannya.

"Ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan pada kalian berdua."

Sontak Delania beserta Fulton mengentikan aktifitasnya.

"Tentang?" Fulton bertanya.

"Kapan kalian akan memberikan penerus keluarga Devon?"

Fulton menelan ludahnya, kenapa tiba-tiba saja sang ayah bertanya demikian? Bagaimana mereka mempunyai penerus, jika saling menyentuh saja tidak pernah.

"Kami belum siap Pa." sahut Fulton.

"Usiamu sudah tak lagi muda, ingat itu. Lagipula, Papa juga ingin segera menimang cucu."

Hah! Tak ada cara lain selain menjawab iya. Masalah tentang anak, biar ia pikirkan nanti saja.

"Baiklah, kami akan berusaha."

Delania memicingkan matanya. Bagaimana bisa Fulton menjawab seperti itu? Apa artinya setelah ini dia akan menyentuhku? Gumam Delania.

Sang ayah tersenyum lembut. Karena ia yakin jika putranya tak akan bisa membantah perintahnya.

"Papa tunggu kabar baiknya, lanjutkan sarapan kalian berdua. Papa masih ada urusan kantor."

Fulton hanya mengaduk makanan di hadapannya. Tak berselera tiba-tiba, saat mendengar permintaan sang ayah.

Selepas kepergian sang ayah pergi.

"Fulton, kenapa kamu mengatakan hal itu pada papa?" lirih Delania.

"Aku bisa apa?"

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"

"Aku sendiri juga tidak tahu." Fulton memilih melenggang pergi meninggalkan sang istri. Menuju ke ruang kerja pribadinya.

Delania menggerutu kesal. "Sial! Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus mempunyai penerus kejayaan Devon. Yah, aku harus memiliki seorang putra." gumamnya. Delania memilih pergi menemui ibunya, ia harus membicarakan hal ini pada orang tuanya.

Sesampainya di kediaman Delania.

"Mama!" serunya, memeluk sang ibu. Oh, jangan lupakan jika Delania pulang diantar oleh sang kekasih-Daniel.

"Sayang ..." sambut sang ibu, memeluk putrinya, namun senyuman di bibir wanita itu lenyap seketika, saat melihat sosok pria di belakang putrinya.

"Untuk apa dia datang ke sini?!" sinisnya.

"Mama, jangan bahas hal ini. Ada hal yang lebih penting, yang ingin aku bicarakan denganmu."

Daniel memilih untuk undur diri, karena ia tahu jika keluarga kekasihnya tak menyukai dirinya.

"Ada hal apa, hm? Cerita pada Mama."

Delania menceritakan semua hal yang terjadi di rumah tangganya, tak ada yang terlupakan sedikitpun. Membuat sang ibu geram dengan ulah menantunya. Bisa-bisanya pria itu menolak putrinya, memangnya siapa dia?.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Code Name Amaryllis
8.6
Indonesia tahun 2050 hancur akibat korupsi yang melumpuhkan hukum. Demi memulihkan keadilan, Presiden membentuk lembaga rahasia berisi pemuda berbakat dengan peralatan mutakhir. Mereka bergerak di balik bayang-bayang untuk menghancurkan konspirasi para pejabat korup. Cerita ini berfokus pada agen muda berkode Amaryllis yang mempertaruhkan nyawa dalam misi penuh intrik dan aksi berbahaya. Sebagai harapan terakhir bangsa, mampukah Amaryllis menumpas akar kejahatan di tanah air?
Sampul Novel Hasrat terlarang
7.8
Satria adalah mantan tentara yang kini sukses mengelola bisnis konstruksi. Meski dikenal sebagai sosok religius dengan keluarga harmonis, ia justru terjebak dalam gejolak nafsu di masa puber keduanya. Kisah ini mengeksplorasi pengkhianatan dan gairah dewasa yang mengancam kebahagiaan rumah tangganya. Perjalanan tak terduga ini akan mengubah hidup Satria serta orang-orang terdekatnya selamanya. Sebuah narasi romansa penuh aksi dan konflik batin yang sangat mendalam.
Sampul Novel Jebakan Utang Mafia
8.8
Evelyn Rossi terjebak utang warisan kakeknya pada Riccardo Valentini, pemimpin Kartel La Sanguina yang kejam. Bekerja di kedai pizza yang menjadi kedok transaksi ilegal, Evelyn menjadi target obsesi sang mafia. Meski sempat kabur dan dilindungi bos mafia Rusia, Nikolai Volkov, selama empat tahun, Riccardo akhirnya menculik Evelyn kembali. Kini, Evelyn terperangkap dalam persaingan berdarah antara Riccardo yang posesif dan Nikolai yang mencintainya secara mendalam.
Sampul Novel Kaisar Muda, Jangan Menggodaku!
8.5
Yun Xiaowen, calon ratu iblis, terjebak dalam nestapa usai bertemu Liuu Qiang Wen. Kaisar manusia berjuluk The Cyanide King itu membantai orang tua Xiaowen demi ambisi menguasai tujuh dunia. Tanpa cinta, ia menikahi Xiaowen hanya untuk memanfaatkan kelemahannya sebagai pion politik. Di tengah mimpi buruk yang seakan tak berakhir, Xiaowen meratapi nasibnya yang hancur sambil mempertanyakan apakah masih ada sisa kasih sayang di hati sang kaisar yang kejam.
Sampul Novel Mengambil Alih Identitas Kakakku
9.1
Kematian tragis sang kakak kembar di usia delapan belas tahun meninggalkan luka mendalam sekaligus dendam membara. Setelah dinodai di hotel tersembunyi hingga tewas, reputasinya dihancurkan oleh Ginny, sahabat yang berkhianat dengan menyebarkan foto-foto kejadian tersebut. Tidak tinggal diam, sang adik mengambil alih identitasnya dan melakukan aksi pembalasan sadis dengan merusak wajah Ginny. Di tengah genangan darah, ia bersumpah bahwa siapa pun yang menyakiti kakaknya tidak akan pernah lolos dari hukuman.
Sampul Novel My Korean Girl
8.5
Dalam sekuel kelima Ellite Bad Boys, Alex terjebak dalam masa lalu kelam setelah mengkhianati sahabatnya sendiri. Namun, pertemuannya dengan gadis Korea bernama Park Jin Hye mulai mengubah arah hidupnya secara drastis. Meski ada harapan untuk berubah, sisi gelap Alex tetap dominan. Ia justru menyeret Jin Hye masuk ke dalam dunianya yang berbahaya dan penuh kekacauan. Akankah cinta mereka bertahan di tengah bayang-bayang kriminalitas yang menyelimuti Alex?