Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Trapped in Love with The Jerk CEO

Trapped in Love with The Jerk CEO

Hubungan Miranda Harper dan Carlos Graves belum usai. Lima tahun berpisah, takdir mempertemukan mereka kembali secara tak terduga. Rasa penasaran mendorong Carlos mencari keberadaan Miranda yang sempat menghilang. Namun, ia justru terlibat dengan Selina Hoorne dan harus menghadapi pengusaha kuat asal Dubai. Di tengah rintangan ini, mampukah Carlos menyelamatkan pernikahan dan membawa Miranda kembali ke pelukannya? Ikuti perjuangan Carlos mendapatkan cinta sejatinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Centre Georges Pompidou

Paris, French

09.00 pm

_________

La ville des lumieres orang-orang Prancis menyebut kota ini sebagai Kota Cahaya. Sebuah julukan yang sudah ada sedari dulu karena Paris adalah kota pertama yang menggunakan listrik. Ada juga yang berkata bahwa Paris adalah kota pertama yang memiliki lampu gas untuk penerangan jalan.

Well, sejarah mengungkap jika pada zaman dahulu, ketika kota lain masih gelap gulita, Paris sudah terang benderang. Di zaman sekarang ini, kebanyakan orang lebih menyebut kota ini sebagai Kota Cinta.

Berbicara soal keindahan kota Paris memang tak akan ada habisnya. Indah, mengagumkan, luar biasa. Paris mampu menarik berbagai manusia dari belahan dunia untuk datang dan menikmati keindahan kota ini.

Mulai dari bahasa, budaya, fashion dan bahkan kota itu sendiri. Selain bentuk kota dan suasananya yang begitu indah, Paris juga lekat dengan bangunan-bangunan arsitektur yang aesthetic.

Tinggalkan Menara Eiffel yang memang sudah sangat indah sejak zaman dahulu. Landmark bangunan megah lainnya juga harus diakui memang sangat pas dan terlalu berkesan romantis. Dipadukan dengan empat musim yang mereka miliki dan semua itu semakin menambah keindahan kota ini. Pada akhirnya, jutaan orang di dunia pun menginginkan untuk bisa berada di Paris.

Bergenggam tangan bersama pasangan menyusuri kota yang menawan ini.

Namun, untuk beberapa orang yang membangun sebuah industri yang bergerak di dunia fashion, Paris dijadikan sebagai kota untuk mempertunjukkan keindahan busana yang mereka miliki.

Chanel adalah salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di dunia fashion. Chanel S. A. Sebagai rumah adibusana berspesialisasi dalam haute couture dan pakaian siap pakai, barang mewah dan aksesoris mode lainnya.

“Are you ready?”

Maka di sinilah para model berada. Di bangunan paling menarik di jantung kota Paris. Dibuka pada tahun 1977 dan merupakan keajaiban arsitektur sejati. Dikenal oleh eskalator eksterior futuristik. Tabung warna-warni besar yang menutupi strukturnya, tampak memukau. Namun, pertunjukan sebenarnya berada di dalam bangunan.

“Wooohhh ....”

Suara lantang secara masal dikumandangkan oleh para tamu yang terdiri dari artis, pesohor dunia, wartawan dan semua orang yang menjadi pilar dunia fashion. Mereka berada di sana. Menanti-nantikan para model berjalan mengelilingi tempat menakjubkan ini.

Chanel sebagai rumah mode terbesar itu hendak mempersembahkan koleksi musim dingin siap pakai pertamanya di Beaubourg Area dengan mengubah tempat tersebut, bagai area selancar dengan manipulasi lantai salju yang tampak nyata. Latar panggung pagelaran busana dibuat abstrak, hal yang tidak biasa untuk Chanel dengan penonton menduduki undak-undakan putih berjenjang menyerupai pulau es.

“Okay everybody stand by, five seconds to show.”

Semua orang yang berbaris di koridor belakang panggung tampak menghela napas dalam-dalam. Ada sekitar 2.600 orang di luar sana, termasuk tamu-tamu eksklusif yang tentunya akan memenuhi kursi depan.

Miranda Harper ada di barisan tengah, berdekatan dengan Taylor Hill dan beberapa model terkenal lainnya. Satu per satu mulai keluar dan Miranda harus berulang kali meyakinkan dirinya jika ia bisa melakukan semua ini sama seperti pertunjukan-pertunjukan sebelumnya.

“Go!”

Miranda pun melangkah. Skinny pants dipadu dengan sepatu bot sebetis berbahan kulit, lalu pada bagian atas terdapat dalaman tipis yang menutup di atas pinggang, sedikit memperlihatkan bagian perut. Kemudian ditumpuk dengan mantel potongan panjang hingga ke bagian pergelangan kaki.

Riasan di wajahnya yang sengaja dibuat berkesan bold, agar senada dengan warna pakaian yang sedang dia peragakan. Maka di sanalah Miranda. Melangkah dengan wajah tegas tak berekspresi.

Di tengah-tengah panggung, ia mendengar teriakan orang-orang. Taylor Hill sempat melambaikan tangan. Entah itu dilakukannya secara sengaja atau tidak, walaupun sebenarnya itu di luar skema tapi dia model terkenal dan sepertinya mereka berhak melakukan hal-hal yang berada di luar aturan.

Dalam perjalanannya mengeksekusi panggung, pikiran Miranda malah melayang. Memikirkan pertengkarannya bersama sang ibu. Miranda sempat berharap ibunya akan berada di barisan depan seperti biasanya. Berdiri, melambaikan tangan sambil meneriakkan namanya seperti yang dilakukan ibunya Taylor.

Namun, wanita yang adalah penyemangat hidupnya itu tak lagi berada di sana. Dia ... benar-benar meninggalkan Miranda.

“Hah ....” Desahan napas meluncur keluar dari mulut Miranda ketika ia kembali ke belakang panggung dan bersiap untuk mengganti pakaian.

“Lima menit,” kata salah satu crew sambil memperlihatkan lima jarinya. Amanda Kerr menganggukkan kepala.

“Ayo, ayo.” Amanda dibantu dua asistennya dengan cepat membuka pakaian Miranda dan menggantinya dengan yang baru.

Amanda mengerutkan dahi saat melihat wajah modelnya yang seperti ditekuk. “You okay?” tanya Amanda. Sekejap membuat modelnya bergeming lantas memutar wajah.

“Hem?” gumam Miranda.

Amanda menarik napas, lalu mengembuskannya dengan cepat. “Are you okay?” tanya wanita itu sekali lagi. Miranda tak sadar jika bibirnya manyun sewaktu ia menganggukkan kepala. Sekali lagi Amanda mendesah.

“Aku baru mendapat kabar dari asisten ibumu bahwa Nona Angie sedang beristirahat di hotelnya.”

Bola mata Miranda terbelalak. “Dia sakit?” tanya Miranda dan seketika ia menjadi panik.

“Tidak,” jawab Amanda. Ia pun ikut panik hingga memandang modelnya dengan alis yang menukik. “aku tidak bilang begitu.” Lanjut Amanda.

Kali ini giliran Miranda yang mendesah. “Aku hanya bertanya, Amanda ...,” ucapnya sambil memutar bola mata.

“Oh ...,” gumam Amanda. Ia pun mengangguk, “iya. I mean, No. Hah!” Amanda mendesah, melayangkan kedua tangan ke udara. “Asistennya hanya berkata bahwa dia butuh istirahat.” Lanjutnya.

Miranda sempat mendesah dan mendengar perkataan Amanda malah semakin membuatnya gelisah. Miranda ingin sekali pergi dan menemui ibunya. Jujur saja, ia semakin tidak enak hati memikirkan betapa kurang ajar ucapannya tadi.

“Selesai.”

Gadis Harper itu mendesah saat mendengar suara Grace, menandakan bahwa ia harus kembali ke dalam panggung.

“Come on, come on!” ucap Amanda. Menuntun modelnya keluar dari ruang ganti.

“Harper?” Salah seorang crew mendatangi mereka.

“Yes?” Amanda yang menjawab mewakili modelnya.

“Kamu akan tampil terakhir sebagai penutupan.”

Seketika Amanda dan Miranda membulatkan mata. “What?!” Secara bersama mereka bergumam protes.

“Ya, kamu akan tampil terakhir. Waktunya sepuluh menit dari sekarang.”

Miranda mendengkus lalu membuang muka dengan kasar. “Oh God!” Gadis itu berdecak bibir kemudian. Bukan apa-apa, Miranda sudah sering dibuat seperti ini. Kalau tidak dilempar pada penyambutan, dia pasti akan diletakkan di akhir acara.

Namun, ia harus segera menemui ibunya. Semakin lama, semakin Miranda merasa gelisah. Tapi apa boleh buat. Keputusan ada pada penyelenggara acara dan dia hanya seorang talent yang dibayar untuk memperagakan busana mereka.

“Tolong ambilkan ponselku,” ucap Miranda.

Grace mendekat dan membawa sebuah kursi bagi Miranda untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sementara Joy membawa ponsel Miranda.

Gadis itu mendesah. Berusaha menghubungi ibunya, tetapi tak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Romanov.

“Miranda?”

Ada desahan yang mengalun keluar dari mulut Miranda ketika ia mendengar suara asisten ibunya.

“Bagaimana ibuku?” tanya Miranda.

“Dia sudah tidur. Kamu mau aku membangunkannya?”

“Tidak, tidak,” sergah Miranda. “biarkan saja. Kirimkan alamat tempat kalian menginap. Aku akan ke sana setelah pekerjaanku selesai.”

“Oke,” jawab Romanov dengan singkat. “semangat.” Lanjutnya.

“Eh, Romanov,” panggil Miranda.

“Ya?”

“Apa ... eum apa ... e ....”

“Dia baik-baik saja, Miranda. Tenanglah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucap Romanov lalu Miranda mendesah dan menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Aku titip ibuku.”

“Aku akan menjaganya,” ucap Romanov.

“Baiklah. Akan kuhubungi nanti.”

“Oke.”

Miranda mengakhiri sambungan telepon dan ia kembali mendesah. Menunggu membuatnya makin gelisah, lantas gadis itu memutuskan untuk menghubungi kekasihnya. Kegelisahan membuat Miranda lupa jika mereka sedang bertengkar.

Bunyi nada dering membuat Miranda berdecak bibir sampai akhirnya tersambung dengan voicemail. Miranda makin kesal. Pikirannya kacau. Memikirkan ibunya. Semua itu membuat Miranda tak sadar jika sepuluh menit telah berlalu.

“Harper, siap di tempat.”

Amanda dan dua orang crewnya ikut berdiri. Mereka menghampiri Miranda dan membantunya. Seorang crew menyambut Miranda di pintu masuk menuju panggung.

‘Selesaikan dengan cepat dan kita temui ibu untuk minta maaf,’ batin Miranda.

“Go!”

Desahan napas panjang menuntun perjalanan Miranda memasuki panggung. Gadis itu mengangkat dagu dan membuang napas panjang kemudian menajamkan pandangannya.

Baru beberapa langkah Miranda berjalan, tetapi orang-orang sudah memandanginya dengan pandangan aneh.

“Hah ....”

Beberapa dari mereka bergumam dengan mulut menganga. Tatapan itu membuat Miranda risi, tetapi dia mencoba untuk mengabaikannya. Namun, saat semakin jauh ia melangkah, mendadak saja tatapan semua orang berubah. Mereka tampak tercengang.

Awalnya Miranda pikir mereka tercengang karena melihat dirinya, tetapi saat Rapper Amerika terkenal bernama Cardi B bangkit dari tempat duduknya dan bertepuk tangan, semua orang secara serentak membuat suara mengerikan. “Woooo ....”

Hanya Miranda satu-satunya orang yang tersentak. “I like your style, Bitches!” teriak Cardi. Miranda semakin bingung.

“Thank you.”

DEG

Jantung Miranda berhenti berdetak selama beberapa detik ketika rungunya secara mendadak dibuat terkejut oleh suara lelaki di sampingnya.

Seketika gadis itu memutar wajah dan benar saja. Kening Miranda mengerucut dan mulutnya menganga. “What the ....”

Lelaki yang berjalan santai di samping Miranda itu tengah tersenyum. Seakan-akan menikmati pertunjukan ia pun melambaikan tangan dan membuat kehebohan yang menimbulkan teriakan semua orang.

“Carlos bitches Graves!” teriak para kaum hawa yang langsung membuat Noah terkekeh.

Lelaki itu pun memutar tubuh menghadap mereka. “I love you all,” sambutnya dengan lambaian tangan.

Sementara Miranda masih tercengang di sampingnya hingga sang kekasih memutar wajah menghadapnya. “Hello, My Dear. Do you miss me?”

Sejenak Miranda merasa jantungnya seperti tak berfungsi dan membuat napasnya terhenti di dada. Tanpa sadar, gadis itu telah melupakan apa yang seharusnya ia lakukan di atas panggung.

Seluruh atensi dan bahkan jiwa raganya, alam bawah sadarnya, semua yang menyangkutpautkan dirinya dan hidupnya dibuat tercengang oleh keberadaan Carlos Noah Graves di atas panggung.

Hingga, sentuhan pada ujung jari yang kemudian membungkus tangannya menghantar kehangatan di tubuh Miranda yang terbeku.

Carlos Graves menarik sudut bibirnya ke atas dan senyum yang menawan itu menghidupkan kembali kesadaran Miranda yang sempat pergi beberapa detik.

Mulut Miranda terbuka. Ia terkekeh lalu memutar wajah. Ditatapnya, bagaimana semua orang sedang menggelengkan kepala dan sebagian lagi sibuk mengambil jejak digital.

Miranda mengentak napasnya dari dada. Ia tertawa dan meneruskan langkah sambil membiarkan kekasihnya membungkus tangannya dan menggenggamnya begitu erat.

Noah menemani langkah Miranda hingga tiba di ujung panggung. Semua wartawan yang tadinya duduk di barisan depan lalu berpindah. Berkerumun di ujung bawah panggung untuk mengabadikan momen tak terduga ini.

Ekspresi di wajah Miranda berkecamuk. Antara ingin terkejut, tertawa, menangis. Semua perasaan itu membuat Miranda ingin berteriak. Bisa-bisanya Noah membuat lelucon seperti ini. Dan mengapa para crew tidak menarik turun lelakinya yang jahil ini.

Namun, ketika Miranda menatap outfit yang dikenakan Noah, ia pun membawa satu tangannya menutup mulutnya yang sedari tadi menganga.

“Noah ...?!” gumam gadis itu.

Lelaki yang berdiri sambil menggenggam tangan Miranda itu tidak menyahut. Tangan kanannya bergerak meraih sesuatu pada saku celana bagian belakang. Sambil menatap wajah sang pujaan hati, Noah pun merendahkan tubuhnya dan berlutut di depan kedua kaki Miranda.

“Oh my God!” Orang-orang yang berada di sekeling panggung semakin histeris. Mata mereka terbelalak. Menutup mulut dengan kedua tangan lalu saling melempar tatapan antusias.

“Noah, apa yang kamu lakukan!” Miranda memandang kekasihnya dengan wajah terkejut. “jangan berulah di sini, cepat berdiri!” perintahnya.

Miranda tahu persis kalau kekasihnya ini sangat jahil. Entah apa yang akan dia lakukan di atas panggung. Lelaki itu tak tahu kalau jantung Miranda sekarang berdetak tak karuan. Serasa akan melompat dan keluar dari tempatnya.

“Miranda Harper, putri Frankly Harper,” panggil Noah berlagak seperti seorang raja dari kerajaan. Memanggil Miranda dengan lengkap.

Perempuan muda itu mengerutkan dahi. “Apa sih! Ayo berdiri!” perintahnya terus menerus. Miranda tidak berhenti menatap sekelilingnya.

“Aku tahu aku bukan pria yang sempurna,” Mendengar ucapan itu membuat Miranda kembali memusatkan atensi penuhnya kepada lelaki yang sedang berlutut di depan kakinya.

“Noah! Ck!”

“Oh my God, let me talk!" entak Noah. Lelaki itu mendengkus.

Tidak tahu saja kalau dia juga sedang menahan perasaan gugup setengah mati. Bukan apa-apa, Noah memang sudah sering berdiri di muka umum, tetapi untuk saat ini, hah ... andai saja ada tachometer yang ditempelkan di dada Noah, maka Miranda dapat melihat bagaimana jantung Noah yang kini bertalu dengan kencang.

Lelaki itu menunduk sejenak. Mendesah untuk mengumpulkan kembali keberaniannya. Maka satu tarikan napas membuat Noah kembali tegar dan ia pun mendongakkan wajah.

“Sepertinya tidak perlu basa-basi lagi,” ucapnya. Miranda semakin dibuat kebingungan hingga akhirnya Carlos Graves mengayunkan tangannya dari belakang.

“Hah ...!”

Semua orang dibuat takjub ketika mata mereka diterpa kilauan yang muncul dari kotak bludru berwarna merah yang terbuka di atas telapak tangan Noah.

“Miranda Harper, jadilah istriku. Jadilah kekasihku selamanya agar aku bisa menghabiskan waktu dengan memelukmu. Mencurahkan semua isi hatiku padamu. Jadilah satu-satunya orang yang menerima serbuan cintaku. Jadilah satu-satunya orang yang tak gentar memarahi aku, meneriaki aku, memaki diriku, membentak aku dan melotot padaku.”

Ada yang tergelak saat mendengar ucapan itu, tapi kebanyakan dari mereka masih menaruh atensi penuhnya di panggung. Mereka mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen ini.

“Jadilah satu-satunya orang yang akan menemani aku dalam suka dan duka. Dalam sedihku dan dalam kebahagiaanku. Karena aku hanya ingin kamu menjadi teman sehidup semati dan ibu dari anak-anakku –kelak. Kamu adalah cahaya yang dikirimkan Tuhan untuk hidupku yang kelam, maka aku telah bersumpah pada-Nya untuk mengikat kamu dalam sebuah ritual suci. Miranda Harper, aku tidak bertanya, tetapi memohon. Dengan segala kekurangan yang aku miliki, Miranda Harper, kumohon,” Sekali lagi Miranda menjeda ucapannya lalu meneruskannya dengan lantang. “jadilah istriku.”

“Oh my God ....” Seantero manusia yang memenuhi Georges Pompidou Center ini dibuat tersentuh hingga mereka pun saling berpaling untuk mencari pasangan masing-masing.

“So sweet ...,” gumam mereka.

Sementara Miranda terperanjat di tempatnya. Manik hazelnya melebar bersama mulut yang menganga. Dirasakan Miranda ada sesuatu yang meluruh di dalam hatinya lantas membuat kepalanya membesar.

Miranda tak bisa berucap. Tenggorokannya tersekat parah, lalu selapis cairan bening pun jatuh membasahi pipinya. Gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tak sanggup. Ini seperti mimpi. Miranda tidak siap. Tidak siap dengan pernyataan mendadak ini. Tidak siap dengan hatinya yang dibuat mencair. Tidak siap dengan kesungguhan yang detik ini dibuktikan oleh kekasihnya.

“Noah ....”

Sehingga Miranda hanya mampu melirih. Orang-orang yang melihatnya ikut menitikkan air mata. Miranda menggeleng. Mengulurkan tangan dan meminta kekasihnya itu untuk bangkit. Bibir Miranda bergetar dan ia sangat tidak sanggup. Gadis itu menarik tubuh lelaki di depannya kemudian mencurahkan air mata di atas pundak Noah. Sementara Noah terdiam. Ia menggerakkan tangan memeluk erat tubuh kekasihnya dan merasakan entakkan jantung yang memukul hingga ke dadanya.

“Miranda aku mencintaimu.”

Gadis Harper itu mengangguk. Masih menyembunyikan wajahnya di dalam ceruk leher Noah. Air mata ini adalah luapan perasaan Miranda yang menandakan betapa bahagia sekaligus tersentuh hatinya.

Menjadi kekasih dari Carlos Graves saja sudah merupakan anugerah terbesar untuknya. Dan kali ini, lelaki itu menyatakan tekadnya di depan semua orang. Miranda tak sanggup. Kalau bisa, dia ingin menyeret kekasihnya dari sini.

Sambil menahan air matanya, Miranda mencoba menarik wajahnya. Memberanikan diri menatap wajah lelaki di depannya.

“Please answer me,” bisik Noah.

Bibir Miranda manyun sementara keningnya mengerut. Ia pun tertawa dalam derai air mata lalu menganggukkan kepalanya. Kelopak mata Noah perlahan membesar.

“Apakah itu ya?”

Miranda terkekeh lagi. Ia menampar pundak Noah sebelum kembali mengangguk. “Yeah,” gumam Miranda dalam lirihan.

Sepasang bola mata di depan Miranda semakin terbuka lebar. Disusul dengan mulutnya lalu Noah berteriak. “Woooh hooo hooo!” Lelaki itu mengangkat tubuh kekasihnya lalu melemparnya ke atas pundak.

“NOAH!” teriak Miranda.

Semua orang yang tadinya menangis kini dibuat tertawa. Ada saja ide untuk menjahili Miranda. Lelaki itu mengangkat satu tangannya yang memegang kotak bludru lalu ia memutar tubuhnya.

“SHE SAID YES!” teriak Noah. Semua orang pun bertepuk tangan. Lelaki itu bersorak gembira. Ia tertawa dengan wajah antusias.

“THIS WOMAN SOLD OUT!” teriak Noah sekali lagi.

Miranda yang berada di atas pundaknya lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Ia tertawa walau masih berderai air mata. Suara tepuk tangan masal membuat hati Miranda berdebar, tetapi ia pura-pura menggelengkan kepalanya.

Setelah puas memamerkan cincin dan wanita yang akan mengenakan cincin tersebut di jari manisnya, Noah pun menurunkan tubuh Miranda. Menarik tengkuknya lalu menyerang mulut Miranda. Tentu saja gadis itu terkejut. Ia melotot pada kekasihnya.

Berniat untuk mendorong wajah Noah, lelaki itu malah mendahuluinya. Ia tertawa dengan nada menggeram.

“Mrs. Graves,” Noah mengedikkan kepalanya ke samping. “is coming very soon.” Lanjut lelaki itu.

Miranda hanya bisa tertawa melihat tingkah romantis dan konyol dari pujaan hatinya.

________

To be continue~

Tab Love pojok kanan atas dan jangan lupa tulis Review kalian di halaman komentar. Follow iiinstagram @inezhseflina & @gravestheseries untuk melihat pemeran TRAPPED in LOVE with THE JERK CEO

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Derita Seorang Gadis Desa
9.4
Alya, gadis yatim piatu lulusan SMP, nekat merantau ke kota demi membiayai neneknya yang sakit. Nasib membawanya bekerja di kediaman Ibu Ratna yang baik hati. Namun, hidupnya hancur saat Arka, putra majikannya, pulang dan merenggut kehormatannya secara paksa. Bukannya bertanggung jawab, Arka justru menghina dan mengusir Alya dengan kejam. Di tengah luka batin yang mendalam, Alya harus berjuang bangkit menghadapi kenyataan pahit demi kelangsungan hidupnya.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel Gadis Pemuas Tuan Grey
8.9
Demi membiayai pengobatan sang ayah yang sakit keras, Laura berusaha mencari pekerjaan tambahan sebagai pengasuh. Namun, niat tulus itu justru berujung petaka saat ia bertemu Greyson. Pria itu merampas kesuciannya dan memaksanya masuk ke dalam ikatan gelap sebagai pemuas hasrat. Kini, Laura terjebak dalam dilema moral yang menyiksa: apakah ia sanggup bertahan menjadi budak nafsu Grey demi mendapatkan uang yang sangat ia butuhkan untuk ayahnya?
Sampul Novel Gelora Asmara Ratu Berlian
8.6
Intan Malika, yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan, harus menelan pahitnya dikhianati oleh Zayn Alarik. Saat Intan hamil, Zayn menolak bertanggung jawab dan justru pergi ke luar negeri. Bertahun-tahun berlalu, Intan bangkit menjadi sosok sukses berjuluk Ratu Berlian. Kini ia kembali untuk membalas dendam pada keluarga Pradipta. Namun, kehadiran putra mereka yang merindukan sosok ayah membuat Intan bimbang antara dendam atau memaafkan masa lalu.
Sampul Novel Hidupku yang Kaya Mendadak
8.5
Terlahir miskin, aku banting tulang demi membiayai kuliah dan membelikan iPhone untuk kekasih impianku. Namun, pengorbananku dibalas pengkhianatan saat aku memergokinya bermesraan dengan pria lain. Tak hanya dihina karena kemiskinanku, aku pun dipukuli hingga terpuruk dalam keputusasaan. Di titik terendah itu, sebuah telepon dari ayah mengubah segalanya. Rahasia besar terungkap bahwa aku sebenarnya adalah putra seorang miliarder yang sangat kaya raya.
Sampul Novel Istri Kontrak Sang CEO Dingin
9.4
Demi melunasi utang keluarga yang menghimpit, Hana terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Ray, CEO berhati dingin yang butuh menjaga citra publiknya. Meski awalnya sepakat untuk tidak saling melibatkan perasaan, benih cinta perlahan muncul di tengah kepura-puraan mereka. Namun, saat masa lalu kelam Ray terungkap dan ancaman rival bisnis mulai menyerang, hubungan mereka pun diuji. Sanggupkah cinta sejati tumbuh dari sebuah kebohongan yang rumit?