
Trapped in Love with The Jerk CEO
Bab 3
Seorang lelaki dalam balutan kemeja putih tengah mondar-mandir di dalam sebuah kamar megah dan mewah.
“Oh, come on, Carlos, bisakah kamu diam sebentar? Persetan! Kamu membuat kepalaku pusing,” gerutu seorang lelaki bersetelan tuxedo putih yang duduk di atas sofa tunggal.
Carlos Graves mendesah berat. Rahangnya pun mengencang. Ia melempar tubuh ke tepi ranjang, menaruh kedua siku tangannya ke atas lutut lalu mengubur wajahnya di dalam telapak tangan.
“God, I’m freaking nervous!” desis Noah. Lelaki itu menggeram, mencoba meredam sekelebat perasaan gugup yang seperti ingin membunuhnya.
Carter Graves lantas mendengkus lalu memalingkan wajahnya. “Astaga!” desis Carter sambil melayangkan satu tangannya ke udara.
“Diamlah, Carter, kamu juga pernah berada di posisiku, kan?”
Mendengar ucapan itu membuat Carter Riven tergelak mencemooh. “Aku? Gugup?!” tanya Carter dengan nada sarkas. Carlos Graves lalu mengangkat pandang, menatap Carter dengan pandangan sinis.
“Hah!” Lelaki itu lalu memalingkan wajahnya. “ayolah, Carlos, jangan buat drama. Ini hanya pernikahan bukan medan perang,” ucap Carter dengan gampang.
Carlos Graves memilih untuk tidak menggubrisnya. Lagi pula percuma saja. Lelaki itu akan semakin mengejeknya.
Sungguh, tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana perasaan Carlos Graves saat ini. Ada sesuatu yang menggelenyar dari dada ke seluruh tubuh.
Benar jika ini hari bahagia untuk Carlos Graves bersama kekasihnya Miranda Harper.
Ini hari terbahagia dalam hidupnya. Semua rencananya berjalan sesuai rencana. Setelah menemukan tanggal yang pas, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba.
Noah dan Miranda sengaja memilih tempat yang jauh dari keramaian dan hingar bingar New York dan sepakat menggelar pernikahan mereka di Prancis.
La Cheteau de Tourreau. Lokasi yang sudah tidak asing lagi bagi pesohor dunia. Sebuah tempat yang dikenal karena kemewahan sekaligus suasana yang intim dan romantis, menjadi salah satu alasan bagi Noah dan Miranda untuk memilih tempat mewah tersebut.
Bukan hanya itu, Carlos Graves menyewa satu hotel terkenal di Paris untuk menjadi tempat bagi keluarga, rekan kerja, pejabat perusahaan bahkan teman-teman dari Miranda menginap.
Mereka sudah tiba di Paris sejak tiga hari yang lalu. Segala persiapan pun sudah rampung dan hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu.
“Noah!”
Lelaki Graves yang tengah menundukkan wajahnya itu lalu mendongak saat mendengar namanya dipanggil.
“Damn it ....” Belum apa-apa pria itu sudah memaki. “apa yang kamu lakukan?!” Pertanyaan itu datang bersama tatapan mata yang terbelalak, menantang.
Tampak Carlos Graves menarik napas lalu mengembuskannya dengan cepat. “Orang-orang sudah menunggu di altar. Penghulu juga sudah datang, untuk apa kamu masih di sini. Kau ingin menikah dengan Carter?!”
“Fuck you, Kent!” Lelaki yang terduduk di sofa tunggal itu langsung memaki, membuat Kenedict Archer tergelak.
“Jika tidak mengapa kalian berdua masih di sini, hah? What the hell were you thinking?!” Lelaki itu mengangkat kedua bahu sambil membuka kedua tangan di depan dada.
“Come on ... get up!” bentaknya.
Carlos Graves butuh satu tarikan napas panjang. Ia pun melakukannya sambil menutup mata.
“Oh ... I know that feel,” kata Kent.
Noah pun membuka matanya. “Really?”
Kenedict memerengut bibir sambil mengedikkan kepala ke samping. “Of course. Aku pernah berada di posisi itu dan aku ke toilet sebanyak sepuluh kali.”
Noah mendesah lega. Berdiri menghampiri Kenedict lalu menepuk sebelah bahunya. “Oh, man ... akhirnya ada yang mengerti perasaanku,” ucapnya.
“Yeah, man! Si sialan Christian sampai menyuruhku memakai popok.”
Carter Riven lalu tergelak dengan pandangan mencemooh. Begitu pun dengan kakaknya yang juga terkekeh kuat mendengar ucapan Kenedict.
“Yeah, I’m telling the truth. Dan sekarang aku akan menyarankannya untukmu,” ujar Kent. Ia pun tersenyum iblis. “mau kupakaikan popok?” Lelaki itu bertanya sambil mengedikkan alis. Ia pun membawa sesuatu dari balik punggungnya.
Melihat hal tersebut semakin membuat Carter tertawa terbahak-bahak. Ia bergelayut di atas tempat duduk sambil melilitkan kedua tangan di depan perut.
Noah yang melihatnya lalu mendengkus sebelum melayangkan tatapan membunuh pada temannya.
“Screw you!” desis Noah.
Kenedict terkekeh sambil memandang Noah dengan pandangan geli. “Oh, man ... kamu harus lihat wajahmu,” ucapnya sambil menunjuk wajah Noah.
Sungguh, dua orang lelaki ini malah mengacaukan suasana hatinya. Hari ini Noah sadar bahwa dia benar-benar tak memiliki teman.
Sekalipun dia punya adik, tetapi adiknya yang sialan itu malah lebih senang melihat Noah menderita. Buktinya dia malah semakin menertawakan Noah. Menikmati lelucon Kenedict yang sesungguhnya tidak lucu sama sekali.
“Dasar orang-orang gila!” desisnya.
Merasa jengkel, Noah pun segera mengambil jasnya. Ia berkali-kali melakukan tarikan napas dan menahannya di dada sambil menutup matanya.
‘Ayo, Noah, kamu bisa. Kamu pasti bisa. Jangan gugup,’ gumamnya dalam hati.
“Oh, come Noah, don’t take it personal,” ucap Kenedict. Ia pun mendekat, menghampiri sahabatnya.
Kent yang postur tubuhnya lebih tinggi dari Noah bisa membuat Noah harus menaikkan tatapan, memandang lelaki itu dari bali kaca di depannya.
“Kegugupan hanya akan datang dalam persiapan. Saat kamu di altar, semuanya akan mengalir begitu saja. Apalagi saat kamu hanya fokus memandang mata kekasihmu. Wanita bagai akan memberikan kekuatan untukmu. Come on, man, you got this!”
Akhirnya ada juga kata-kata yang benar-benar menyemangati dirinya. Namun, walau begitu, Noah tetap saja masih merasa gugup hingga ia perlu menarik napas dalam-dalam lalu mengentaknya dengan kuat.
“Oke,” ucap lelaki itu.
Kenedict yang berdiri di belakangnya lalu menganggukkan kepala. “Oke, I’ll see out there,” ucapnya. Noah balas mengangguk dan membiarkan temannya itu pergi.
“Come on Carter, biarkan kakakmu menenangkan diri. Kamu juga sebaiknya cari istrimu sebelum dia kucuri!” goda lelaki itu.
Carter membalasnya dengan terkekeh. “Curi saja jika kamu bisa,” ucapnya. Maka lelaki itu ikut bangkit dari tempat duduknya. Ia pun mengentak kedua sisi jas sebelum memutar pandangan, menatap kakaknya.
“Well, take your time, I’ll see you out there,” ucapnya.
Noah mengangguk dengan tenang. Carter pun meninggalkan ruangan itu. Sekarang dia benar-benar sendirian. Noah menggunakannya untuk menenangkan diri.
Menoleh ke samping, lelaki itu mengambil jam tangan mahal kesayangannya. Waktu menunjukkan pukul 2 sore.
‘Sebentar lagi,’ gumamnya.
Lelaki itu menarik sudut bibirnya, membentuk senyum lalu mendongakkan wajah. Ia kembali menenangkan diri dengan mengatur napasnya.
Sungguh pun, Noah sama sekali tidak menyangka bahwa hari bahagia ini akan tiba. Tinggal beberapa menit lagi dan dia akan secara paten memberikan namanya untuk menjadi nama belakang Miranda.
Memikirkannya saja sudah membuat Noah tersenyum. “Ya Tuhan, kumohon, berikan aku kekuatan,” gumam lelaki itu.
Sekali lagi ia menarik napas, kali ini Noah mengembuskannya dengan tenang sambil menutup mata. Setelah mengembuskannya, lelaki itu memutar tubuh.
Mengambil langkah sambil membayangkan wajah kekasihnya. Oh sungguh. Andai saja ia bisa melihat Miranda sebelum pergi ke altar. Lelaki itu benar-benar penasaran dengan bagaimana Miranda saat ini.
Senyum pun menghiasi wajah tampan itu. Noah menggeleng singkat, menunduk dan merasakan detak jantungnya yang kembali menggempur dada.
“Huh ....”
_________
TBC~
Tulis ulasan please~
Anda Mungkin Juga Suka





