Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel TOXIC

TOXIC

Selama ini aku memaklumi sifat posesifnya yang ekstrem karena mengira itu adalah bentuk cinta yang mendalam. Namun, kenyataan pahit akhirnya terungkap bahwa aku hanyalah alat yang dia manfaatkan demi kepentingannya sendiri. Dia sosok yang sangat egois, hanya memikirkan kepuasan pribadinya tanpa memedulikan perasaanku sedikit pun. Hubungan ini terasa menyesakkan karena ketidaktulusannya, dan kini aku sadar bahwa aku tidak bisa lagi menoleransi sikap buruknya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Diani menghentikan langkah, lalu menatapku tajam. "Aku hanya kasihan sama kamu, kalian baru pacaran, tapi dia sudah ngatur-ngatur gitu. Gimana kalau kalian menikah? Bisa tersiksa hidup kamu. Kalau aku punya pacar kek gitu, sudah kuputusin dari dulu-dulu."

Ucapan Diani ada benernya juga, Reynald memang berlebihan. Aku sendiri kadang merasa tidak nyaman, dengan sikap posesifnya itu. Tapi tak pernah terlintas dalam fikiranku untuk berpisah. Gimana lagi? Aku sudah terlanjur sayang.

"Putus? Masa putus sih, Di? Dia kayak gitu karena sayang banget sama aku. Dia itu baik banget," sanggahku.

"Bela teruuus! Susah emang, menasehati bucin kayak kamu. Bener kata orang bijak, orang paling susah dinasehi itu ada dua, orang bodoh dan gila, kayak kamu!"

"Tapi aku cinta sama dia, Di."

"Aku nggak ngerti sama jalan fikiran kamu, kalian itu baru pacaran lho? Masa sudah segitunya, apa-apa harus laporan, emang dia siapa? Bapakmu? Bahkan bapakmu sekalipun nggak se-posesif itu, kan?

Apa sih, yang kamu dapat dari hubungan toxic kayak gitu? Dia sudah memberi nafkah? Hingga dia berhak ngatur-ngatur kamu?" Aku menggeleng.

"Ditraktir makan, atau dapat tumpangan gratisan? Kemana-mana ada yang nganterin, gitu? Ojol juga bisa, Luk. Atau kamu jenis cewek matre?" lanjut Diani.

"Ditraktir gimana? Orang kalau makan bareng, seringnya aku yang bayarin, bensin pun aku yang beliin." ucapku tak Terima, dikatain matre, sama Diani.

Diani mlongo mendengar jawabanku, dia menatapku tajam. "Hah?! Jadi selama ini kamu yang modal? Ck... ck... ck, Luluk.... Aku nggak nyangka kamu se-guoblok itu!" sinis Diani, lalu melanjutkan langkahnya.

Masa sih aku goublok? Yang namanya hubungan itu kan saling bantu, bahu membahu. Saling memberi dan menerima, begitu menurut fikiranku selama ini.

"Di, kamu sadis banget sih? Ngatain aku guoblok," protesku.

"Nggak cuma guoblok, tapi pake maksimal. Guoblok nggak ketulungan, otak encer, wajah cantik, bodi ok. Mau-maunya dimanfaatin cowok. Kalau aku mending jadi jomblo," ucap Diani jengkel.

Seburuk itukah aku? Ucapan Diani berhasil membuat moodku berantakan, hingga kerjaku nggak fokus. Padahal Pak Maher itu orangnya teliti banget, kalau salah sedikit saja, bisa panjang urusannya.

*****

Akhirnya pekerjaanku selesai juga, meski molor dari jadwal, waktunya. Mandi lalu tidur adalah hal paling kuinginkan saat ini. Untung Diani mau memberi tumpangan, hingga aku tak perlu naik angkot. Biar kalau ngomong suka babar tanpa saringan, Diani itu baik.

Di depan kamar kosku Reynald sudah menunggu dengan wajah tak bersahabat.

"Dari mana kamu?" tanya Reynald dingin.

"Kerja."

"Aku tadi ke kantormu, satpam bilang kamu sudah pulang dari siang. Mampir kemana dulu?"

"Kan aku sudah bilang, aku lagi di lokasi proyek," jawabku tak suka. Bukankah tadi siang aku memberi tahu dia, kenapa tanya lagi? Orang kok curiga terus.

"Kenapa telfonmu nggak aktif?"

Aku meraba tasku, mengambil benda pipih yang kusimpan di sana.

"Ups, sorry. Aku lupa nyalain, setelah meeting tadi," jawabku merasa bersalah.

"Ya udah, yang penting kamu baik-baik saja. Aku hanya khawatir terjadi apa-apa sama kamu. Ini kota besar, banyak orang jahat," ucap Reynald, dengan suara melunak. Perhatian Reynald seperti ini lah, yang membuatku meleleh, dan sulit berpaling.

"Oh ya, itu apa?" Aku menunjuk bungkusan plastik kresek besar.

"Oh, ini baju aku. Yang di lemari sudah habis semua, tolong kamu cuciin ya? Sekalian setrika."

Dengan entengnya Reynald memintaku mencucikan pakaiannya. Memang aku beberapa kali mencucikan pakaian dia yang tertinggal di kamar mandi. Aku paling nggak suka, ada pakaian kotor tergantung di kamar mandi. Sebel aja lihatnya.

Jangan berfikir ngeres dulu, Reynald pernah numpang mandi. Waktu itu dia mau keluar kota, katanya nggak keburu kalau pulang ke rumah dulu. Dan pakaiannya dia tinggalkan begitu saja.

Tapi itu hanya sepotong dua potong, sekalian aku cuci pas mandi. Tapi kalau sekantong gede gitu, jelas aku mikir seribu kali. Aku sudah capek kerja, masak masih harus nyuciin baju dia? Bajuku sendiri kadang aku bawa ke loundry, kalau lagi nggak sempat nyuci.

"Kenapa nggak dibawa ke loundry aja? Di depan gank situ kan ada loundry," usulku.

"Kamu yang bawa, ya?"

"Kok aku? Yang punya motor kan kamu? Masa iya, aku jalan kaki bawa bungkusan segede itu?"

"Iya, iya. Aku yang bawa, tapi nanti kamu yang bayarin, ya?"

Aku mengernyitkan dahi, menatap Reynald dengan pandangan tak mengerti. Maksud dia apa? Jangan-jangan ucapan Diani benar, Reynald hanya memanfaatkan aku saja.

Kan aneh, dia itu kerja. Masih tinggal sama orang tua, otomatis pengeluaran dia nggak banyak dong? Nggak perlu bayar kos. Makan tinggal makan, kalaupun di luar, seringnya aku yang traktir. Bensin aku yang beliin, kok loundry aku juga yang bayarin, emang duit dia dikemanain?.

Aku jadi teringat ucapan dia Diani siang tadi.

"Kamu harus berani ambil sikap, jangan nggak enakan gitu. Kalau kamu terus ngalah, nurutin semua kemauannya, dia makin semena-mena."

"Kalau dia mutusin aku gimana?"

"Ya bagus, dong! Stock cowok di muka ini masih banyak, nggak usah takut nggak laku."

"Aku cinta banget sama dia."

"Nah itu, goublok maksimal emang. Kalau dia bener cinta dan sayang sama kamu, dia akan berusaha untuk berubah. Kalau dia kekeh dengan sikapnya, fixs! Dia cuma manfatin kamu."

"Rey, kayaknya kita break dulu aja, deh! Kamu nggak usah menemui aku, nggak usah telfon. Kita masing-masing instropeksi diri, kayaknya hubungan kita sudah nggak sehat lagi," ucapku setenang mungkin, meski dadaku bergemuruh hebat. Takut Rey marah dan justru memutuskan aku.

"Break? Maksud kamu?"

"Kita rehat sebentar, sambil mikir apa hubungan kita layak dipertahankan."

"Kenapa kamu tiba-tiba berubah gini? Pasti ada laki-laki yang mempengaruhi kamu, katakan siapa?" bentak Reynald, tangannya mencengkeram lenganku kuat, hingga aku meringis kesakitan.

"Ng---nggak ada," ucapku ketakutan. Ngeri aku lihat sorot tajam, mata Reynald.

"Sakit, lepas Rey," melasku.

Reynald menepis tanganku begitu saja, masih dengan tatapan tajam dia berkata, "Ok, kita break dulu, tapi beri aku alasan."

"Kamu terlalu posesif, aku merasa tidak nyaman," ucapku pelan.

"Aku melakukannya karena sayang sama kamu," ucap Reynald sendu, membuat pendirianku mulai goyah.

"Ingat! Jangan mudah terbujuk rayuan gombalnya! Laki-laki memang begitu kalau ada maunya. Pokoknya kamu harus tegas! Te-gas!" ucapan Diani kembali terngiang-ngiang di telingaku.

"Kalau kamu sayang aku, rubah sikapmu Rey. Tadi siang aku ditegur Bosku, karena telfonmu saat meeting."

"Ngapain Bosmu ikut campur urusan pribadi karyawannya? Nggak profesional banget jadi orang."

"Kan, memang aku dibayar untuk bekerja, bukan untuk telfonan."

"Kok, kamu malah membela Bosmu itu? Jangan-jangan---"

"Sudah lah Rey, aku capek. Aku mau istirahat." Aku segera masuk kamar, dan mengunci pintunya rapat, tak mau Rey menerobos masuk.

"Yang, buka Yang!" Rey mengetuk kasar pintu.

"Yang! Ok, aku akan berubah, tapi kamu jangan marah dong?" melas Rey dari balik pintu, tapi aku tetap tak peduli.

"Yang, aku minta maaf. Kita break, tapi jangan minta putus, ya?" Suara Rey membuatku terenyuh, tapi lagi aku teringat ucapan Diani. "Kamu harus tegas, TE-GAS!"

Rey terus mengetuk pintu, lelah aku diabaikan, akhirnya dia pergi.

Hhhh, ternyata punya pacar posesif itu melelahkan. Lelah jiwa raga, apa sebaiknya aku putus saja sama dia? Dia mulai ngawur, masa iya cemburu sama Pak Tema, orang galak gitu.

Bersambung....

Gimana nih enaknya, putus apa lanjut hubungan mereka? Ditunggu krisannya, ya?

Yuk dukung penulis dengan memberi subscribe dan rate bintang lima. Suport kalian, mood booster bagi Mak'e. Terima kasih.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A-PD160
8.1
Pasca penculikan tragis, Nina kehilangan suaranya dan hanya Julian yang setia melindunginya. Meski Julian tampak memuja Nina hingga berjanji menikahinya, dia justru menunda hari bahagia mereka sembilan kali. Kebenaran pahit terungkap saat Nina mendengar rencana pernikahan Julian dengan wanita lain. Merasa dikhianati, Nina membakar habis perkebunan mereka dan menghilang. Kini, Julian yang hancur memohon pengampunan seperti anjing yang mengharap belas kasihan.
Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
8.6
Raina, pembalap liar legendaris Jakarta berjaket kulit hitam, baru saja membuktikan ketangguhannya dengan mengalahkan Melia di lintasan balap. Namun, kejayaan di jalanan seketika sirna saat ayahnya memberi ultimatum keras melalui telepon. Ia dipaksa pulang untuk menjalani perjodohan dengan putra sahabat keluarganya. Di tengah kemelut batin dan air mata, Raina menolak menjadi boneka kendali orang tuanya demi mempertahankan kebebasan hidup yang ia cintai.
Sampul Novel Dijebak Dipelaminan
8.2
Adeline Vyantara tak menyangka kehadirannya sebagai tamu justru berakhir di pelaminan. Ia terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi Alaric Mahendra, pewaris yang merasa dijebak oleh intrik keluarganya sendiri. Meski awalnya ingin membatalkan pernikahan, Alaric tertahan oleh aksi berani Adeline demi menjaga martabat keluarga. Kini mereka terjebak dalam pernikahan dingin penuh aturan ketat. Di tengah kebencian dan rahasia masa lalu, benih cinta mulai tumbuh tanpa kendali.
Sampul Novel Gadis Kecil Milik Tuan Nicholas
9.6
Nicholas Lauther terkejut saat baru menjabat CEO Nexon Games, karena Billi dan Emma menjodohkannya dengan Amora Georgina. Amora, gadis 19 tahun dari keluarga sederhana, baru saja pindah ke kota untuk mengelola restoran steak milik Mark dan Anna. Meski kepribadian mereka bertolak belakang, Nicholas dan Amora terpaksa bersandiwara demi orang tua mereka. Sambil berpura-pura patuh, keduanya diam-diam menyusun rencana matang untuk membatalkan ikatan perjodohan tersebut.
Sampul Novel Jodoh Pilihan Oma
8.5
Hidup Dion berubah drastis usai menyelamatkan Kayla dari bahaya bersama Nenek Melati. Terpikat oleh ketangguhan Kayla, sang nenek ingin mereka bersatu. Namun, Bu Ratna menentang karena ia telah menjodohkan Dion dengan Amara yang ambisius. Amara yang haus status pun mulai menyusun taktik licik untuk menyingkirkan Kayla dengan mengorek rahasia kelam masa lalunya. Di tengah tekanan keluarga dan intrik jahat, Dion harus berjuang melindungi cintanya dari kehancuran.
Sampul Novel Kabar Buruk Kehamilanku
9.7
Kebahagiaan Rike saat menunjukkan hasil tes kehamilan kepada sang suami seketika sirna. Sebuah berita mengejutkan muncul, mengklaim bahwa kehamilan tersebut terjadi sebelum mereka resmi menikah. Hal ini memicu kekecewaan mendalam bagi ibunda Rike yang kemudian menuduhnya telah berzina. Kini, Rike harus berjuang memulihkan kepercayaan ibunya. Namun, apakah tuduhan memilukan itu memang sebuah fakta yang tersembunyi? Simak perjuangan Rike mengungkap kebenaran.