Sampul Novel Istri Kedua

Istri Kedua

7.9 / 10.0
Dalam romance novel Istri Kedua, Indira menghadapi dilema besar saat Merry memintanya menikahi Edbert, sang CEO. Sebagai sekretaris di perusahaan billionaire ini, ia terjebak dalam tawaran menjadi istri kedua. Baca kisah seru ini di platform web novel kami sekarang.
Ringkasan Istri Kedua
Indira sangat antusias memulai karier sebagai sekretaris pengganti di perusahaan raksasa ibu kota. Namun, sebuah momen canggung terjadi saat ia memergoki bosnya, Edbert, bermesraan dengan sang istri, Merry. Alih-alih marah, Merry justru meminta Indira duduk dan mengajukan permohonan gila agar suaminya menikahi sekretaris itu. Edbert sangat terkejut mendengar ide poligami tersebut. Akankah Indira bersedia menjadi istri kedua demi memenuhi permintaan Merry?
Baca Selengkapnya

Istri Kedua Bab 1

"Jalan perniagaan nomer 52, dateng dan elu harus langsung masuk ke kantor. Tanya di mana ruangan tuan Edbert, elu udah ditunggu sama dia."

Indira membaca pesan chat yang dikirimkan oleh Melly, sahabatnya. Setelah satu minggu berkeliling di ibu kota untuk mencari pekerjaan, akhirnya dia bisa mendapatkan kabar bahagia.

"Alhamdulillah, ini beneran ada kerjaan buat gue?"

Indira membalas pesan dari sahabat terbaiknya, tidak lama kemudian Indira mendapatkan pesan balasan dari Melly.

"Iya, buruan datang. Harus sampai dalam waktu tiga puluh menit, kalau nggak cepet datang tuh kerjaan langsung angus."

Indira tersenyum senang, walaupun memang ada rasa takut tidak bisa sampai tepat waktu karena dia harus mencegat taksi atau ojek terlebih dahulu.

"Di mana ojeknya? Oh ya ampun, taksi juga ngga ada!" keluh Indira setelah 5 menit berdiri di pinggir jalan.

Tidak lama kemudian, dia melihat sebuah mobil berhenti tidak jauh dari dirinya. Seorang pria tampan keluar dari dalam mobil itu, dia membuang sebuket bunga ke tong sampah, lalu kembali masuk ke dalam mobil itu.

Sebelum pria itu menutup pintu mobilnya, Indira dengan cepat menahannya. Dia tersenyum canggung lalu berkata.

"Ehm! Maaf, Tuan. Saya boleh numpang, ngga?" tanya Indira.

Pria tampan itu nampak mengernyitkan dahinya, dia merasa heran karena bisa-bisanya wanita itu meminta tumpangan kepada dirinya.

Apakah wanita itu tidak tahu jika dirinya adalah pria terkaya di tanah air, pemilik sebuah perusahaan ternama yang menjadi incaran banyak orang agar bisa bekerja di sana.

Bahkan, tanpa bertanya terlebih dahulu pun seharusnya wanita itu tahu jika dirinya adalah keturunan keluarga kaya. Karena dia dan seluruh keluarganya menggunakan plat khusus untuk mobil yang mereka gunakan.

"Ayolah, Tuan. Saya mau interview di perusahaan Law, kalau telat nanti saya hilang pekerjaan. Tidak tahukah anda jika mencari--"

"Masuklah! Jangan bicara apa pun lagi!" ucap pria itu.

"Terima kasih, Tuan!" pekik Indira.

Gadis berhijab itu langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku penumpang, pria tampan itu langsung mendengkus sebal.

''Pindah!" perintah pria itu.

"Eh? Pindah ke mana?" tanya Indira kebingungan.

"Saya bukan sopir, silakan anda pindah ke depan!" seru pria itu dengan kekesalan di dalam hatinya.

Indira merasa tidak enak hati mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu, tetapi sungguh dia tidak menganggap pria itu sebagai sopir. Dia hanya takut jika pria itu tidak mau duduk dekat dirinya.

"Maaf, Tuan. Iya, saya akan pindah." Indira langsung pindah ke depan dan duduk dengan canggung.

Pria tampan itu langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan Law, sesekali dia memperhatikan penampilan Indira dengan ekor matanya. Dia juga memperhatikan wajah cantik wanita itu.

'Cantik! Tapi sayang tertutup,' ucapnya dalam hati.

Tidak lama kemudian, mobil yang Indira tumpangi berhenti tepat di perusahaan Law. Dengan cepat dia berterima kasih dan turun dari mobil mewah itu. Dia bahkan berlari dengan cepat agar bisa segera masuk ke dalam ruangan tuan Edbert.

"Wanita aneh,'' ucap pria itu.

Indira yang merasa waktunya hampir habis langsung masuk ke dalam ruangan Edbert, tentunya setelah dia bertanya terlebih dahulu kepada resepsionis yang ada di sana.

"Maaf karena saya telat satu menit," ucap Indira dengan napas terengah-engah saat tiba di dalam ruangan tersebut.

Seorang wanita cantik dengan perut yang sudah membuncit menghampiri Indira, dia tersenyum hangat lalu mempersilakan Indira untuk duduk.

"Duduklah terlebih dulu, Indira. Tuan Edbert belum datang, kamu beruntung," ucap Shanty sekretaris dari Edbert.

Melly tentunya sudah memberikan keterangan terlebih dahulu kepada Shanty tentang siapa nama temannya, dia juga memberitahukan kepada Shanty jika sahabatnya pernah bekerja di perusahaan ternama di daerah asal mereka.

"Alhamdulillah, iya, Kak." Indira langsung duduk sesuai dengan titah dari Shanty.

Baru saja dia duduk di samping Shanty, pintu ruangan tersebut nampak terbuka. Jantung Indira seakan berpacu dengan cepat ketika dia melihat siapa yang datang.

'Apakah itu tuan Edbert? Kalau iya, mampus gue. Mana tadi gue minta tumpangan lagi sama dia,' gerutu Indira dalam hati.

Indira langsung bangun, lalu dia membungkuk hormat ke arah Edbert. Dia terus saja menunduk karena malu dan juga takut, belum juga bekerja dia sudah merasa kurang ajar meminta tumpangan kepada calon atasannya sendiri.

Edbert tersenyum tipis saat melihat kelakuan Indira, lalu dia duduk di kursi kebesarannya. Lalu memperhatikan penampilan Indira dari ujung kepala sampai ujung kaki. Wajah yang cantik, tubuh yang indah tetapi tertutup dengan baju panjang dan juga hijab.

"Siapa nama kamu?"

"Indira, Tuan." Indira menjawab pertanyaan dari Edbert dengan begitu gugup, dia bahkan terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian.

"Mau apa kamu ke sini? Mau ngaji?" tanya Edbert lagi. Menurut Edbert penampilan Indira yang tertutup seperti itu lebih pantas untuk masuk ke dalam masjid daripada pergi bekerja.

"Eh? Mau kerja, Tuan. Ini surat lamarannya," ucap Indira.

Indira memberanikan diri untuk menatap wajah Edbert, lalu dia memberikan surat lamarannya kepada pria tampan itu. Setelah itu, dia kembali menunduk karena tidak berani menatap lama-lama wajah dari calon atasannya itu.

"Hem! Bagus, sesuai dengan kriteria saya. Tapi, bisakah kamu melepas hijab kamu dan berpakaian menarik agar bisa bekerja dengan saya?" tanya Edbert setelah dia membaca surat lamaran kerja dari Indira.

Edbert merasa jika Indira memiliki tubuh yang indah, dia merasa kesal ketika Indira memakai baju tertutup seperti itu. Karena itu artinya dia tidak bisa melihat keindahan lekuk tubuh wanita yang selalu membuatnya otaknya ber-travelling kemana-mana.

Indira dan Shanty terlihat begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Edbert, terlebih lagi dengan Indira. Dia bahkan langsung memberanikan diri untuk menatap wajah Edbert.

"Saya tidak bisa melepas hijab saya, Tuan." Indira menatap Edbert dengan begitu sedih, dia takut jika Edbert tidak akan menerima dirinya untuk bekerja di sana.

"Oke! Tidak masalah, yang penting kamu harus memakai baju yang modis dan tidak membosankan. Jangan pake kain menjuntai panjang kaya gini, sakit mata saya liatnya," ucap Edbert.

"Iya, Tuan," jawab Indira gugup.

"Hem! Sekarang pergilah dengan Shanty, belajar yang benar sebelum dia cuti. Saya tidak mau ada kesalahan sedikit pun," perintah Edbert.

"Baik, Tuan. Saya akan berusaha untuk belajar dengan baik, saya akan berusaha untuk tersenyum bekerja dengan baik." Gadis berhijab itu berkata dengan penuh semangat.

Edbert menolehkan wajahnya ke arah Shanty, dia meminta Shanty agar bisa segera keluar dari ruangan kerja miliknya. Shanty yang paham langsung mengajak Indira untuk pergi dari sana.

"Ya ampun, Kak. Dia itu judes banget, aku sampai takut dibuatnya." Indira mengutarakan isi hatinya setelah dia sampai di ruangan Shanty.

"Dia itu tidak judes, tetapi pencinta wanita. Elu harus hati-hati sama dia, karena dia itu casanova kelas kakap." Shanty mengingatkan Indira seraya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.

Dia sudah sangat lelah, pinggangnya bahkan sering terasa panas. Perut bagian bawahnya juga sering terasa sakit, beruntung Melly mengatakan jika dia punya teman yang butuh pekerjaan.

"Ya ampun, pantas saja dia meminta aku untuk memakai baju yang menarik dan melepas hijab," ucap Indira lirih.

"Gue harap elu bisa lebih hati-hati saat bekerja dengan si bos, jangan sampai elu bunting. Karena dia ngga bakal nikahin elu," ingat Shanty.

''Ya ampun, sepertinya aku harus waspada."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Istri Kedua

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Bayangan Diri Orang yang Kucintai
9.1
Tepat sehari setelah Mulan Angeta dan Narto Gunawan mengajukan gugatan cerai, publik dihebohkan oleh dua video viral. Video pertama merekam perjuangan Mulan saat berusia 22 tahun, menemani Narto bernyanyi di lorong bawah tanah demi masa depan mereka. Namun, video kedua justru menampilkan Narto di podium Penghargaan Melodi Emas bersama Shinta Claudia. Di sana, Narto menyatakan cinta pada Shinta dalam bahasa Italia, menyiratkan bahwa pernikahan indahnya dengan Mulan kini tinggal sejarah pahit.
Sampul Novel Boneka Suami, Kebenaran Pahit Terkuak
8.4
Pasca membela diri dari pelecehan ayah mertuanya hingga koma, istri malang ini mendapati suaminya, Rangga, berpura-pura menjadi pelindung. Namun, sebuah pesan rahasia mengungkap fakta keji bahwa ia hanyalah umpan dalam rencana warisan asuransi. Rangga sengaja membiarkan ayahnya menyerang sang istri demi menyingkirkan orang tuanya tanpa mengotori tangan sendiri. Kini, api dendam membara; sang istri bersumpah akan merebut segalanya dan menjebloskan Rangga ke penjara.
Sampul Novel Cinta Sangkarku, Bukan Keselamatan
8.6
Kirana Adiwijaya mengira hidupnya sempurna sebagai pewaris agribisnis dengan suami idaman, Bima. Namun, sebuah rahasia kelam terungkap: Bima memiliki keluarga tersembunyi bersama Rania yang selama ini dianggap tewas. Orang tua Kirana ternyata mendanai kebohongan ini dan berencana menyingkirkannya dengan obat penenang dosis tinggi. Menyadari cinta mereka hanyalah sangkar mematikan, Kirana berhenti menjadi korban. Ia kini siap membalas dendam lewat permainan yang jauh lebih berbahaya.
Sampul Novel Hari Pernikahannya, Pembalasan Dendam Sempurnanya
9.2
Dahulu aku menyelamatkan Arya Wicaksana, membangunnya menjadi raja bisnis, dan menikahinya secara rahasia. Namun, ia mengkhianatiku dengan menyebutku beban dan menghancurkan klinik kenangan putri kami demi kekasih barunya. Arya menyalahkan ambisiku atas kematian anak kami, berusaha menghapus jejak masa lalu kami sepenuhnya. Ia pikir ia telah menang, namun undangan pernikahannya justru menjadi awal kehancurannya yang akan aku eksekusi tepat di hari bahagianya.
Sampul Novel Melepas Masa Lalu
8.9
Hubungan Lisa Garta hancur setelah ia menagih utang dari Kelly, keponakan tunangannya. Sang tunangan justru menyodorkan buku catatan pengeluaran selama lima tahun mereka menjalin kasih. Mulai dari es krim murah, tas mewah, hingga biaya hotel dan pengaman, semuanya tertulis rinci. Lisa dituntut membayar setengah biaya hotel, dan setelah dipotong piutang Kelly sebesar 200 juta, ia diwajibkan melunasi sisa utang fantastis senilai 4,16 miliar rupiah dalam waktu satu bulan saja.
Sampul Novel Melodi Abadi
7.9
Dalam sebuah fase kehidupan yang begitu menyesakkan, sang protagonis merasa seolah setiap tarikan napas adalah beban yang sangat berat. Hari-harinya dipenuhi rasa tercekik dan keputusasaan yang mendalam tanpa henti. Namun, segalanya mulai berubah saat sosokmu hadir membawa harapan baru. Pertemuan tak terduga itu menjadi titik balik krusial yang akhirnya memutar roda gigi takdir, mengubah alur hidup yang suram menjadi melodi abadi yang penuh makna.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan