Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel TOXIC

TOXIC

Selama ini aku memaklumi sifat posesifnya yang ekstrem karena mengira itu adalah bentuk cinta yang mendalam. Namun, kenyataan pahit akhirnya terungkap bahwa aku hanyalah alat yang dia manfaatkan demi kepentingannya sendiri. Dia sosok yang sangat egois, hanya memikirkan kepuasan pribadinya tanpa memedulikan perasaanku sedikit pun. Hubungan ini terasa menyesakkan karena ketidaktulusannya, dan kini aku sadar bahwa aku tidak bisa lagi menoleransi sikap buruknya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kepalaku terasa pening, semalaman mata ini sulit dipejamkan, gara-gara mikirin Reynald. Dini hari aku baru bisa tidur. Kuraba ponselku yang tergelat diatas meja samping tempat tidur.

Hah? Hampir jam enam pagi? Aku kesiangan, bisa telat masuk kerja ini. Mana aku belum sholat shubuh, laporan kemarin belum selesai, padahal hari ini harus ditandatangani Pak Bos, biar dananya bisa cair, dan bisa membayar DP pengrajin.

"Huh! Semua gara-gara Reynald!" dengkusku kesal.

Aku segera bangkit dari tempat tidur, biar pun telat, solat tetap kutunaikan. Ambil wudlu sekalian mandi, usai sholat segera bersiap berangkat kerja.

Gegas aku menuju jalan raya, nyegat angkot menuju kantor.

"Tumben telat kamu, Luk?" Sapa Diani, aku melihat jam yang melingkar di tanganku, jarum menunjuk angka 08:40. Padahal aku berangkat jam 06:30 tadi, kok masih telat. Biasanya diantar Rey berangkat dengan jam yang sama, masih mampir sarapan pula, tapi nggak telat.

"Iya nih, tadi angkotnya sebentar-sebentar berhenti," sahutku malas.

"Kami naik angkot? Ojol kamu kemana?" tanya Diani penuh selidik.

"Maksud kamu Reynald?"

"Hem-hem."

"Kami break," lirihku.

"Good job." Diani mengacungkan kedua ibu jarinya, diiringi senyum merekah. Sementara aku hanya memutar bola mata malas, lalu duduk di kursiku.

"Hei, nggak usah manyun gitu. Kita ada meeting jam sembilan, sebaiknya kamu siap-siap sekarang," ujar Diani.

"Lain kali kamu kalau naik angkot, kamu harus berangkat lebih pagi. Atau pakai ojol saja, mereka bisa nyari jalan tikus kalau lagi macet. Kamu tinggal pilih ojol oren apa ijo," lanjut Diani, setelah melihatku hanya diam.

"Aku belum download aplikasinya."

"Down load, dong! Yuk ah, kita ke ruang meeting sekarang," ajak Diani.

"Sebentar Di, aku print dulu laporan kemarin." Aku berkutat dengan laptop sebentar, kemudian. "Dah selesai, yuk." Aku dan Diani meninggalkan ruangan kami.

Di ruang meeting beberapa staf sudah menunggu, aku dan Diani mengambil tempat duduk yang masih kosong, tak lama kemudian Pak Bos datang, dan meeting pun dimulai.

Beberapa yang hadir memberikan laporan mereka, kemudian Pak Bos berdiri memaparkan sesuatu, entah apa itu. Sekilas kudengar tentang orang Jepang yang ingin membuat resort di pulau Karimun Jawa. Selebihnya aku tidak mengerti, efek belum sarapan, dan kurang tidur, membuat konsentrasiku ambyar.

"Luluk!" Diani menyenggol bahuku pelan.

"Hhh?" Aku gelapan, karena dari tadi tidak fokus.

"Katanya kamu mau ngasih laporan, Buruan! Sebelum Pak Bos meninggalkan ruangan," bisik Diani.

"Eh iya, ya." Pak Bos menatapku tidak suka.

"Ini laporan hasil meeting dengan Pak Maher kemarin, Pak--"

"Bawa ke ruangan saya," potong Pak Bos. Lalu pergi begitu saja.

"Kamu kenapa sih? Pagi-pagi sudah bengong aja," tanya Diani.

"Nggak tahu, kepalaku pusing. Aku ke ruangan Pak Bos dulu, ya?" pamitan pada Diani.

Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba kepalaku terasa kliyengan, pandanganku berkunang-kunang, lalu, "Ya Allah, Luluk!" Entah suara siapa itu, aku tidak tahu, karena semua menjadi gelap seketika.

Bau obat menyergap indra penciuman, aku mengerjapkan mata, ruangan serba putih yang pertama kali tertangkap penglihatanku.

"Alhamdulillah...Akhirnya kamu sadar, Luk." Diani menatapku dengan senyum khasnya.

"Di mana ini, Di?"

"Klinik dekat kantor."

"Klinik bersalin "Bunda"? Memangnya aku lagi hamil?" ucapku jengkel.

"Halah lebay, ini klinik terdekat. Kamu tiba-tiba pingsan, kami panik. Lalu membawamu ke sini untuk mendapat pertolongan pertama. Untung aja kamu nggak pa-pa katanya hanya butuh istirahat dan makan. Kamu sih, terlalu mikirin cowok somplak, sampai lupa makan!" ketus Diani.

"He... he... aku bukan mikirin Reynald. Dari kemarin aku belum sempat makan, tadi mau sarapan tapi bangun kesiangan," jawabku cengengesan.

"Orang pada panik, kamu cengengesan. Nih! Bubur ayam, dimakan! Aku beli di depan tadi."

Begitulah Diani, di balik mulut pedasnya, tersimpan hati penuh cinta.

"Makasih ya, Di. Kamu baik deh," rayuku.

"Basi! Buruan makan, terus vitaminnya diminum." Aku pun menyendok bubur yang ada di hadapanku, rasa hangat menjalar kalau makanan lembek itu masuk ke usus besarku. Rupanya aku memang lapar.

*****

"Luluk! Kamu sudah baikan? Kok kerja lagi?" ucap Pak Bos berdiri di ambang pintu.

"Su-dah, Pak," jawabku takut, mengingat bagaimana tatapan sengitnya, saat meeting tadi.

"Oh, laporanmu tadi sudah saya tanda tangani, bisa folow up sekarang."

"Ya Pak, makasih!"

"Hhh...." aku menarik nafas lega, Pak Bos tidak marah-marah seperti yang kubayangkan.

*****

Seminggu berlalu, sejak aku memutuskan break dulu dengan Reyald. Laki-laki itu beberapa kali mengirim pesan padaku, menanyakan kabar, atau sekedar menggombal. Tapi ku abaikan, aku memilih fokus menyelesaikan proyek Pak Maher.

Tak kupungkiri ada yang hilang dalam hatiku. Tanpa kehadiran Reynald, aku merasa hampa.

"Luk, kamu ikut saya meeting di Mahkota Resto, ya?" Pak Bos tiba-tiba datang membuyarkan lamunanku.

"Jam berapa, Pak?"

"Meetingnya jam 11:00, kita berangkat sekarang."

"Sekarang? Diani ikut juga?" Aku dan Diani itu satu paket, tiap ada meeting biasanya selalu berdua, tapi kali ini kok?

"Diani menangani proyek gedung perkantoran. Perusahaan kita lumayan banyak tender ini, kita harus bagi-bagi tugas," ucap Pak Bos, seolah bisa membaca fikiranku.

"Dah, berangkat sana!" ucap Diani, dengan menaikan sebelah alisnya. Entah apa maksudnya.

Sampai Resto, kami menuju meja yang sudah kami reservasi. Masih kosong, kliennya belum datang, alhasil aku berdua saja dengan Pak Bos.

"Kita terlalu awal, sepertinya Pak," ucapku basa-basi.

"Ya nggak pa-pa, kita tunggu saja, sebentar lagi mereka juga sampai," jawab Pak Bos, lalu sibuk dengan gawainya.

Aku melihat sekeliling, orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Dari arah pintu masuk, aku lihat seorang kurir masuk membawa paket, dia berjalan melewatiku menuju kasir, tapi anehnya dia menatapku.

Kalau dilihat sekilas, perawakannya mirip Reynald. Tapi tidak mungkin, Reynald bekerja sebagai sales di show room mobil terkenal, aku pernah diajak ke kantornya.

Sedang asik berselancar ke dunia maya, tiba-tiba ada yang menarik kasar tanganku.

"Oh.... jadi ini alasanmu minta break dulu?" ketus laki-laki bermasker yang memakai seragam J&*.

"Rey---Reynald?"

"Kenapa? Kamu kaget, terciduk sedang selingkuh?" sinisnya.

Reynald mendorongku hingga punggungku membentur dinding.

"Aku lagi ada meeting, Rey," sergahku.

"Meeting berdua aja?"

"Rey, lepas! Malu dilihat orang." Reynald terlihat marah, tangannya mencengkeram daguku, membuatku ketakutan.

"Lepaskan dia!" Rupanya Pak Bos mengikuti kami dari belakang.

"Jangan ikut campur orang lain!" balas Reynald sengit.

"Hanya laki-laki pengecut, yang kasar pada perempuan!"

"Nggak usah banyak bacot!"

"Rey, dia bosku. Jangan buat aku dipecat," lirihku, berharap bisa meredakan emosi Rey.

"Diam kamu!" bentak Rey, "laki-laki ini harus dikasih pelajaran!" Rey melayangkan satu pukulan pada Pak Bos, spontan aku menjerit minta tolong. Perkelahian tak terelakkan, Pak Bos dan Rey beradu kekuatan.

"Tolong! Tolong!" teriakku histeris. Tak lama karyawan dan sekuriti resto datang, melerai perkelahian.

Pak Bos dan Rey, berhasil dilerai. Sekeruti berhasil menyeret Rey keluar, sementara aku mendekati Pak Bos, yang mukanya lebam-lebam.

"Bapak nggak pa-pa? Saya minta maaf," ucapku merasa bersalah.

"Kita kembali ke meja, lihat! Klien sudah datang," ucap Pak Bos dingin, tanpa menoleh padaku.

Hatiku seketika menciut, takut Pak Bos marah dan aku dipecat.

"Ya Allah... aku rela putus dari Rey sekarang juga, asal jangan dipecat." Doaku dalam hati.

Bersambung....

Yang mau memberi krisan monggo, dipersilahken.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LGW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LGW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A-PD160
8.1
Pasca penculikan tragis, Nina kehilangan suaranya dan hanya Julian yang setia melindunginya. Meski Julian tampak memuja Nina hingga berjanji menikahinya, dia justru menunda hari bahagia mereka sembilan kali. Kebenaran pahit terungkap saat Nina mendengar rencana pernikahan Julian dengan wanita lain. Merasa dikhianati, Nina membakar habis perkebunan mereka dan menghilang. Kini, Julian yang hancur memohon pengampunan seperti anjing yang mengharap belas kasihan.
Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
8.6
Raina, pembalap liar legendaris Jakarta berjaket kulit hitam, baru saja membuktikan ketangguhannya dengan mengalahkan Melia di lintasan balap. Namun, kejayaan di jalanan seketika sirna saat ayahnya memberi ultimatum keras melalui telepon. Ia dipaksa pulang untuk menjalani perjodohan dengan putra sahabat keluarganya. Di tengah kemelut batin dan air mata, Raina menolak menjadi boneka kendali orang tuanya demi mempertahankan kebebasan hidup yang ia cintai.
Sampul Novel Dijebak Dipelaminan
8.2
Adeline Vyantara tak menyangka kehadirannya sebagai tamu justru berakhir di pelaminan. Ia terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi Alaric Mahendra, pewaris yang merasa dijebak oleh intrik keluarganya sendiri. Meski awalnya ingin membatalkan pernikahan, Alaric tertahan oleh aksi berani Adeline demi menjaga martabat keluarga. Kini mereka terjebak dalam pernikahan dingin penuh aturan ketat. Di tengah kebencian dan rahasia masa lalu, benih cinta mulai tumbuh tanpa kendali.
Sampul Novel Gadis Kecil Milik Tuan Nicholas
9.6
Nicholas Lauther terkejut saat baru menjabat CEO Nexon Games, karena Billi dan Emma menjodohkannya dengan Amora Georgina. Amora, gadis 19 tahun dari keluarga sederhana, baru saja pindah ke kota untuk mengelola restoran steak milik Mark dan Anna. Meski kepribadian mereka bertolak belakang, Nicholas dan Amora terpaksa bersandiwara demi orang tua mereka. Sambil berpura-pura patuh, keduanya diam-diam menyusun rencana matang untuk membatalkan ikatan perjodohan tersebut.
Sampul Novel Jodoh Pilihan Oma
8.5
Hidup Dion berubah drastis usai menyelamatkan Kayla dari bahaya bersama Nenek Melati. Terpikat oleh ketangguhan Kayla, sang nenek ingin mereka bersatu. Namun, Bu Ratna menentang karena ia telah menjodohkan Dion dengan Amara yang ambisius. Amara yang haus status pun mulai menyusun taktik licik untuk menyingkirkan Kayla dengan mengorek rahasia kelam masa lalunya. Di tengah tekanan keluarga dan intrik jahat, Dion harus berjuang melindungi cintanya dari kehancuran.
Sampul Novel Kabar Buruk Kehamilanku
9.7
Kebahagiaan Rike saat menunjukkan hasil tes kehamilan kepada sang suami seketika sirna. Sebuah berita mengejutkan muncul, mengklaim bahwa kehamilan tersebut terjadi sebelum mereka resmi menikah. Hal ini memicu kekecewaan mendalam bagi ibunda Rike yang kemudian menuduhnya telah berzina. Kini, Rike harus berjuang memulihkan kepercayaan ibunya. Namun, apakah tuduhan memilukan itu memang sebuah fakta yang tersembunyi? Simak perjuangan Rike mengungkap kebenaran.