Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tipu Muslihat Suami Jahat

Tipu Muslihat Suami Jahat

Membangun rumah tangga ibarat mengarungi samudra luas yang penuh rintangan. Dalam perjalanan panjang ini, peran suami sebagai nahkoda sangatlah krusial untuk menjaga keselamatan kapal agar tidak karam. Namun, badai besar justru datang dari dalam hubungan itu sendiri. Nendra, yang seharusnya menjadi pelindung, ternyata memiliki niat tersembunyi. Bukannya menyelamatkan pernikahan mereka, ia justru secara sengaja ingin menenggelamkan bahtera tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Adhisty ingin mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah dan masuk kembali untuk menemui gadis yang baru saja membuatnya terpana, tetapi ia segera tersadar dari lamunannya dan bergegas pulang untuk membicarakan dengan Nendra terlebih dahulu terkait keputusannya.

Setelah sepuluh menit menyetir, Adhisty sudah tiba di rumah. Adhisty mengucap salam dan langsung memasuki rumahnya, tetapi tidak ada satupun manusia terlihat di sana. “Rupanya Kak Mega sudah pulang, ya?” gumam Adhisty seraya menaruh tas kecilnya di sofa ruang tengah.

Adhisty menuju dapur untuk meletakkan barang belanjaan yang tadi ia beli di supermarket, ia juga mengambil segelas air untuk diminum, “Loh, Dek, ko pulang ga ucap salam?” tanya Nendra mengejutkan Adhisty dan membuatnya tersedak.

“Loh, tadi Adek sudah ucap salam loh, tapi rumah sepi banget, Mas juga dari mana saja?” giliran Adhisty yang bertanya kembali.

“Em, em ... anu ... Mas habis mandi tadi. Ya, habis mandi, hehe,” jawab Nendra setengah terbata-bata ketika menjawab pertanyaan dari Adhisty.

Melihat suaminya yang hanya berdiri, Adhisty menyuruhnya untuk duduk, ia mengambil lagi segelas air putih untuk Nendra, “Mas, diminum dulu, ada yang mau aku omongin,” titahnya.

Jantung Nendra berdetak sangat kencang ketika Adhisty mengajaknya untuk bicara. “Jangan terlalu tegang, Mas,” sambungnya lagi.

Nendra memperhatikan raut wajah Adhisty, sepertinya pembicaraan kali ini memang serius. “Ada apa, Dek? Kan setiap hari juga kita ngobrol,” timpalnya.

“Kali ini cukup serius, Mas.” Benar saja dugaan Nendra, firasatnya terhadap Adhisty tidak pernah salah.

“Ya sudah, mau ngomong apa?” Adhisty mencoba menghela napasnya sebelum berbicara kepada Nendra.

“Mas merasa kesepian nggak di rumah ini? Tanpa suara tangisan bayi, tanpa … ”

“Sudah cukup, Dek. Mas tahu arah pembicaraan kita mengarah kemana,” ucap Nendra yang tiba-tiba memotong ucapan istrinya.

Adhisty tidak berhenti begitu saja, ia melanjutkan lagi ucapannya yang terpotong oleh suaminya. “Adek tadi nggak sengaja dengar pembicaraan Mas sama Kak Mega, mungkin Kak Mega juga muak sama Adek yang nggak bisa kasih keturunan,” ucap Adhisty dengan lirih.

Suasana seketika hening, Nendra belum berkata satu kata pun kepada istrinya, “Adek nggak nyuruh Mas untuk menceraikan Adek, tapi Adek berpikir untuk menyuruh Mas nikah lagi. Dengan begitu, di rumah ini jadi ramai dan suasana menjadi hangat,” ucap Adhisty menambah keheningan siang itu.

Tetapi, Nendra masih saja diam membisu. “Mas, kok diam saja?” Nendra baru tersadar dari lamunannya ketika mendengar namanya dipanggil.

“Iya, maaf, Dek.” Setelah selesai berpikir, barulah Nendra mau membuka mulutnya dan bersuara, “kita bicarakan lain kali saja ya, Dek. Mas lagi banyak pikiran, lagian Mas juga tidak mempermasalahkan kan selama ini kita punya anak atau tidak?” tuturnya.

Lagi-lagi, ucapan Nendra terdengar begitu manis di telinga Adhisty. Adhisty menuruti perkataan Nendra untuk tidak membahasnya, ia lalu membuka tas belanjaan dan mengeluarkan puding kesukaan Nendra yang tadi dibelinya di supermarket.

Ketika sedang asik menikmati pudingnya, dering telpon Nendra berbunyi, nama Anton tertulis di layar ponsel Nendra, lama ponsel itu berdering, tetapi Nendra tidak mengangkat telponnya membuat Adhisty bertanya-tanya. “Kok tidak diangkat Mas telponnya? Siapa tau penting?”

“Emm ii ... iya ... si Anton, biasa dia, ya, biasa dia, si Anton ini paling mau minjem duit, sudah biarin aja, Dek,” ucapnya tampak gugup dan secepat kilat mengubah topik pembicaraan dengan istrinya.

Siang itu berlalu begitu saja, waktu sudah berganti menjadi malam, Adhisty yang setiap harinya bekerja sebagai writer freelance tengah asik dengan pekerjaannya, sementara Nendra terlihat sedang berada di ruang tengah dan bercakap lewat ponselnya dengan seseorang.

Di kamar, dering telpon Adhisty berbunyi, rupanya sebuah pesan dari Mega masuk melalui ponselnya, “Dhis, kamu di dalam kan? Aku dari tadi ketuk pintu kok nggak ada yang buka?” Adhisty menaikan sebelah alisnya. Ia heran, padahal Nendra sedang di lantai bawah tetapi mengapa tidak mendengar suara ketukan pintu dari luar, sedang apa dia sebenarnya? Batinnya.

Tidak ingin memicu kemarahan Mega, Adhisty mengalah dan menuruni anak tangga untuk membukakan pintu, di ruang tengah, Adhisty melihat dan mendengar Nendra tengah asik berbicara di telepon, “Mas, lagi telponan sama siapa sih sampai kak Mega ketuk pintu kok ga kedengeran?” tanyanya.

“Oh ini sayang, lagi ngobrol sama Anton,” jawabnya singkat dan melanjutkan lagi pembicaraannya. Adhisty tidak peduli dan langsung membukakan pintu untuk kakak iparnya. Namun, seraya berjalan, Adhisty sempat dibuat heran oleh Nendra, tidak biasanya laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan sayang, dan lagi, Anton? Bukankah siang tadi suaminya tidak mau mengangkat panggilan dari Anton? “Ah sudahlah, mungkin Aku sedang capek aja,” monolog Adhis.

Krekk, begitu pintu terbuka, wajah masam Mega terpampang dengan sangat jelas, “Lama banget sih Dhis bukain pintunya, Aku digigitin nyamuk nih di luar,” cetus Mega.

“Iya maaf, Kak,” ucap Adhisty tidak ingin ribut.

“Kakak mau ambil jaket Kakak yang ketinggalan di sini, di mana jaketnya?” tanya Mega dengan sangat arogan.

Adhisty berpura-pura tidak tahu dengan kedatangan Mega siang tadi, lalu menanyainya, “Memangnya kapan Kakak ke sini?”

Mega terlihat panik merasa keceplosan, “Ah banyak tanya ya, Kakak tadi ada urusan sama suamimu, urusan keluarga,” jawabnya ketus.

“Ya kalau gitu Aku nggak tahu Kak di mana jaket Kakak, Kakak ke sini kan pas Aku tidak di rumah,” kali ini Adhisty mencoba untuk tidak tertindas lagi oleh kakak iparnya.

“Oh sudah berani ya sama kakak ipar sendiri?”

“Ya berani, ini rumahku, kenapa harus tidak berani? Justru Kakak yang harusnya punya sopan santun di rumah orang lain.” Mega merasa dirinya terpojok, dia lantas menerobos dan mencari sendiri jaketnya, begitu jaketnya sudah ditemukan.

Mega bergegas pergi dari rumah itu dengan sebuah kalimat menohok yang dilontarkan kepada adik iparnya, “Lihat suamimu, uruslah adikku, kasihan sekali sampai kurus begitu, malam-malam masih bekerja dengan kliennya hanya mencari nafkah buat kamu saja, ngurus suami aja ga bisa, apalagi ngurus anak, pantesan nggak dikasih anak sampai sekarang.”

Adhisty naik pitam, kesabarannya sudah habis, selama enam tahun hidup dengan Nendra, kali ini ia sama sekali tidak bisa menahan lagi amarahnya, ia lantas menjambak rambut Mega dan berteriak di depan wajahnya, “Ngaca! Urus saja rumah tangga Kakak, lihat suami Kakak, lihat rumah tangga Kakak, kasihan sekali, hidup menumpang sama Ayah, biaya sekolah Arga Aku yang bayarin, gatau diri.”

Aksi jambak-menjambak rambut terjadi cukup lama, teriakan demi teriakan saling bersahut membuat Nendra yang semula cuek karena sedang menelpon dengan seseorang itu langsung berlari menuju area pertarungan dan meninggalkan ponselnya begitu saja.

Nendra dengan tenaganya yang kuat akhirnya mampu memisahkan kakak dan istrinya dari pertikaian sengit yang berakhir seri itu.

Mega dengan rambut yang semraut pergi tanpa berpamitan dari rumah Adhisty, sementara Adhisty dituntun Nendra menuju ruang tengah untuk menenangkannya. Nendra kemudian pergi ke dapur mengambil segelas air untuk istrinya.

Di ruang tengah itu, Adhisty melihat layar ponsel Nendra yang masih menyala, Adhisty meraih ponsel itu dan melihat apa yang ada di layarnya, “Anton?” tanyanya. Rupanya, panggilan suara Nendra dan Anton di aplikasi hijau masih tersambung, ketika nama Anton disebut oleh Adhisty, panggilan suara itu pun tertutup.

Nendra sudah kembali dari dapur dan membawakan air putih juga coklat untuk Adhisty, “Terima kasih, Mas. Oh ya, kamu lagi telponan sama Anton, ya?” tanyanya.

“Oh iya, tadi Mas lagi telponan sama Anton, Dek.”

“Tapi kok fotonya perempuan, Mas?”

Degh! Jantung Nendra berdegup dengan sangat cepat, keringat turut bercucuran membasahi dahinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Babu Kumal VS CEO Kutub Utara
8.4
Terryn dikirim ibunya untuk tinggal bersama sahabat lamanya, Ibu Imelda. Meski dididik menjadi wanita berpendidikan, Terryn justru diperlakukan bak pembantu oleh Deva, putra bungsu Imelda yang dingin dan angkuh. Konflik memuncak hingga sebuah peristiwa besar memaksa mereka menikah atas keinginan Imelda. Terryn yang mencintai Deva harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya tetap tak acuh. Namun, saat Deva mulai luluh, Terryn justru pergi menjauh darinya.
Sampul Novel Bantu  Mertuaku Ngerjai Pelakor
8.7
Terkenal sebagai wanita blak-blakan yang pantang mengalah saat berdebat, sang protagonis selalu diperingatkan ibunya bahwa tabiat kerasnya akan membawa petaka setelah menikah. Kenyataannya, ia justru mendapatkan suami yang penurut dan ibu mertua yang sangat lembut. Kehidupan rumah tangganya yang damai malah terasa menjemukan karena ia kehilangan panggung untuk beraksi. Namun, segalanya berubah saat masa lalu ayah mertuanya kembali datang mengusik, membuat ibu mertuanya menderita. Kini, menantu yang siap tempur ini tidak akan tinggal diam dan bersiap menghadapi sang pelakor.
Sampul Novel Dosa di Balik Kacamata Sang Dewi
9.1
Menjadi dosen wanita menawan tidak membuat hidup karakter utama berjalan sempurna. Ia mengidap gangguan kecanduan hasrat yang kerap kambuh tiba-tiba, hingga mengancam masa depan hubungannya bersama sang tunangan. Demi kesembuhan, sang tunangan merekomendasikan sebuah klinik kecil di luar area kampus. Siapa sangka, sosok yang bertugas memeriksanya di sana justru merupakan mahasiswa laki-lakinya sendiri. Dengan metode terapi medis yang sangat tidak biasa dan provokatif, rahasia sang dosen kini berada di tangan muridnya.
Sampul Novel Dua Tahun, Tapi Dia Pilih yang Polos
9.1
Demi janji nikah Aidan Jace, sang protagonis berjuang lulus cepat dan belajar memuaskan kekasihnya. Namun, semua hancur saat ia mendengar Aidan meremehkannya di depan teman-temannya dan memuji kepolosan gadis lain bernama Lira. Merasa dikhianati, ia memutuskan hubungan dan memilih bergabung dalam proyek akademis rahasia negara yang ditawarkan profesornya. Sejak hari itu, ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengabdi pada bangsa, meninggalkan masa lalu pahitnya.
Sampul Novel Pembalasan Saudara Kembar
7.9
Terpisah sejak kecil karena kecelakaan maut yang merenggut nyawa orang tua mereka, Angel dan Tiara akhirnya terhubung kembali melalui media sosial. Namun, reuni ini berakhir tragis saat Tiara tewas secara mengenaskan. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Tiara meminta Angel menuntut balas atas kekejaman para pelaku. Kini, Angel harus memulai aksi berbahaya demi membongkar konspirasi di balik kematian kembarannya dan menuntaskan dendam yang tersisa.
Sampul Novel Petaka Dua Garis
9.1
Masa depan cerah Arimbi hancur seketika saat ia mendapati dirinya hamil tanpa mengetahui siapa ayah dari bayinya. Trauma mendalam membuatnya memandang semua pria sebagai ancaman berbahaya. Di tengah keputusasaan setelah berhenti kuliah, Mahesa yang merupakan dosennya justru datang mendekat. Meski Mahesa terasa tidak asing, Arimbi tetap diliputi ketakutan hebat. Ia bertekad menutup hati agar tidak terjerumus dalam penderitaan yang sama untuk kedua kalinya.