Sampul Novel Tiga Hari Terakhirku sebagai Wanita Sempurna

Tiga Hari Terakhirku sebagai Wanita Sempurna

8.2 / 10.0
Dalam novel romantis modern Tiga Hari Terakhirku sebagai Wanita Sempurna, Sofie hanya punya sisa hidup 72 jam setelah suaminya memberikan pengobatannya ke wanita lain. Ia pun menyerahkan seluruh hartanya sebagai bentuk balas dendam terakhir. Baca novel online menarik ini di platform Novel Web.
Ringkasan Tiga Hari Terakhirku sebagai Wanita Sempurna
Divonis hanya memiliki sisa hidup 72 jam, Sofie Barnes harus menerima kenyataan pahit saat suaminya, Tommy Harper, memberikan kuota pengobatan satu-satunya kepada Anna Wilson. Alih-alih memohon, Sofie justru mempercepat ajalnya dan mulai melepaskan segalanya. Ia menyerahkan saham triliunan rupiah, galeri seni pribadinya, hingga hak asuh putrinya kepada Anna. Di mata Tommy, Sofie akhirnya menjadi sosok istri sempurna yang penurut. Namun, kepatuhan ini adalah awal dari rencana balas dendam terakhirnya.
Baca Selengkapnya

Tiga Hari Terakhirku sebagai Wanita Sempurna Bab 1

Dokter mengatakan, tanpa terapi sel terbaru, aku hanya bisa hidup selama 72 jam.

Namun, Tommy Harper memberikan satu-satunya kuota pengobatan itu kepada Anna Wilson.

"Gagal ginjalnya lebih parah," ujar Tommy.

Aku mengangguk, lalu menelan pil putih yang akan mempercepat kematianku.

Dalam sisa waktu itu, aku melakukan banyak hal.

Saat penandatanganan, tangan pengacara gemetar. "Saham senilai empat triliun ini, Anda benar-benar akan mengalihkan semuanya?"

Aku menjawab, "Ya, berikan pada Anna."

Putriku, Clarisa, tertawa bahagia dalam pelukan Anna. "Ibu Anna membelikanku gaun baru!"

"Bagus sekali, nanti dengarkan perkataan Ibu Anna, ya," ujarku.

Galeri seni yang kudirikan dengan tanganku sendiri, berganti nama menjadi milik Anna.

"Kakak, kamu terlalu baik," ujarnya sambil menangis.

Aku menjawab, "Kamu akan mengelolanya lebih baik dariku."

Bahkan aku telah menyerahkan hak atas dana perwalian orang tuaku.

Tommy akhirnya menampilkan senyuman tulus pertamanya selama bertahun-tahun. "Sofie, kamu sudah berubah. Kamu nggak lagi galak. Kamu yang seperti ini, sungguh cantik."

Benar, aku yang sekarat ini akhirnya menjadi Sofie Barnes yang sempurna di mata mereka. Sofie yang patuh, dermawan, dan tidak pernah membantah.

Hitungan mundur 72 jam telah dimulai.

Aku sangat penasaran, ketika detak jantungku berhenti, apa yang akan mereka ingat tentangku?

Apakah aku akan diingat sebagai istri baik yang akhirnya belajar melepaskan, atau sebagai seorang wanita yang menyelesaikan balas dendamnya dengan kematian?

Suamiku mengatakan aku tidak cukup lembut, orang tuaku menyebutku terlalu egois, putriku mengatakan bahwa dia lebih menyayangi Ibu Anna. Jadi, aku memutuskan untuk menggunakan 72 jam terakhirku, untuk memberikan nyawaku dan segalanya yang kumiliki kepada wanita sempurna itu.

Suara dokter masih terngiang di telingaku. "Ini kanker stadium akhir. Kalau nggak segera menjalani pengobatan khusus, Anda hanya punya waktu tiga hari."

Aku bersandar di tempat tidur rumah sakit sambil memandangi jendela. Sebagai istri Tommy Harper, aku telah berusaha mempertahankan pernikahan ini selama tujuh tahun, sampai Anna Wilson muncul.

"Kamu baik-baik saja?" Pintu terbuka, suamiku, Tommy, masuk dengan wajah tidak sabar.

"Aku baik-baik saja," jawabku pelan.

Dia mengerutkan kening. "Dokter bilang kamu membutuhkan kuota terapi sel itu, tapi..."

"Tapi Anna lebih membutuhkannya, 'kan?" Aku menyelesaikan kalimatnya sambil tersenyum pahit.

Anna Wilson, gadis yatim piatu dari panti asuhan yang kukenal saat aku berusia 12 tahun. Aku yang membujuk orang tuaku untuk mengadopsinya. Aku menyayanginya seperti adik kandungku sendiri. Tidak kusangka, dialah yang akhirnya merebut segalanya dariku.

"Sofie, kamu harus mengerti." Suara Tommy melunak. "Keadaan Anna lebih parah. Dia bilang ginjalnya hampir nggak berfungsi. Sementara kamu... kamu terlihat baik-baik saja."

Benar, aku memang terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang tahu, demi membuat mereka tidak khawatir, aku terus-menerus mengonsumsi obat penghilang rasa sakit dalam dosis mematikan, hanya untuk menutupi rasa sakit hebat akibat kanker.

"Aku mengerti," ujarku tenang, "berikan saja kesempatan pengobatan itu padanya."

Tommy jelas terlihat lega. "Aku tahu kamu bakal mengerti. Beberapa tahun ini kamu memang sudah banyak berubah, nggak lagi sekeras kepala dulu."

Keras kepala? Aku tertawa getir dalam hati. Sejak kemunculan Anna, apa pun yang aku perjuangkan selalu dipandang sebagai kecemburuan dan sifat picik.

Malamnya, aku memaksakan diri untuk pulang ke rumah.

"Ibu!" Begitu melihatku, Clarisa langsung bersembunyi di belakang Anna.

"Clarisa." Aku mencoba tersenyum.

"Kak Sofie, kamu sudah pulang." Anna mengenakan setelan Shanel pemberianku dan duduk di kursi yang seharusnya menjadi tempatku.

"Anna, aku punya sesuatu untukmu."

Aku berjalan ke ruang kerja dan mengambil sebuah map. "Ini adalah surat pengalihan kepemilikan galeri seni atas namaku. Aku ingin memberikannya padamu."

"Apa?" Anna terkejut dan langsung berdiri. "Kakak! Itu galeri seni yang paling kamu cintai!"

Benar. Galeri seni itu kudirikan dari nol, hasil jerih payah dan dedikasiku bertahun-tahun. Namun, sekarang, semua itu sudah tidak penting lagi.

"Kamu lebih cocok untuk mengelolanya." Aku tersenyum. "Anggap saja sebagai hadiah pernikahan lebih awal dariku."

Raut wajah Anna sempat berubah, tapi dia kembali menampilkan ekspresi polosnya dengan cepat. "Kak, apa yang sedang kamu bicarakan?"

Aku mendekatinya dan berkata pelan, "Aku sudah tahu semuanya. Nggak apa. Aku mendoakan kalian."

Saat itu, Tommy masuk ke ruangan. Melihat kami bersama, ekspresinya tampak sedikit tegang. "Kalian sedang membicarakan apa?"

"Kak Sofie mau memberikan galeri seni padaku," ujar Anna dengan mata berkaca-kaca, "dia sangat baik."

Tommy memandangku, matanya menunjukkan emosi yang rumit. "Sofie, kamu..."

"Aku lelah," potongku, "aku mau naik dan beristirahat. Clarisa, dengarkan nasihat bibi, ya."

"Ya," jawab Clarisa singkat. Kemudian, dia menoleh ke Anna dan berkata, "Ibu Anna, ayo kita lanjutkan mainnya."

Ibu Anna. Seketika dada ini terasa sesak.

Setibanya di kamar tidur, aku bersandar di balik pintu. Akhirnya, aku tidak sanggup lagi menahan tubuhku. Sel kanker sedang menggerogoti hidupku dengan ganas, sementara obat-obatan itu mempercepat prosesnya.

Aku mulai merapikan lemari pakaian. Gaun-gaun mahal, perhiasan, dan tas-tas mewah, semuanya akan segera menjadi milik Anna.

"Tinggal 72 jam lagi." Aku menatap wajah pucatku di cermin. "Sofie, tiga hari terakhir ini, biarlah mereka mengingatmu sebagai sosok yang sempurna."

Aku tahu, kebenaran suatu hari akan terungkap. Segala urusan setelah kematianku sudah kuatur dengan baik. Semua bukti yang kukumpulkan akan mengekspos wajah asli Anna yang sebenarnya. Aku tahu, pada akhirnya, mereka semua akan menyesalinya.

Namun, saat itu, aku sudah tidak ada lagi.

Selain itu, inilah balas dendamku.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Tiga Hari Terakhirku sebagai Wanita Sempurna

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3 Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel A.M.O.R.E.G.A
8.3
Waktu membawa kita pada pertemuan yang tak terduga, namun perpisahan sering kali menjadi misteri yang sulit dipahami. Melalui kehilangan, kita dipaksa menyadari betapa berartinya kehadiran seseorang bagi hati kita. Meski rasa sakit bisa disembuhkan, luka yang tertinggal akan tetap membekas selamanya. Apa yang telah patah tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala, meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan emosional yang penuh makna ini.
Sampul Novel ENIGMA: When We Are
8.1
Elang Albimanyu adalah pemuda dari keluarga broken home yang mendambakan kehangatan sebuah rumah. Baginya, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan kasih sayang tulus. Di tengah pencariannya, ia jatuh hati pada Sabiru Anantasya, sang wakil ketua OSIS yang masih terjebak bayang masa lalu. Meski sering dibuat kesal oleh sikap judes Sabiru, Elang tetap berjuang. Di antara rumitnya perasaan dan tanggung jawab organisasi, mampukah cinta Elang mengubah segalanya bagi Sabiru?
Sampul Novel Janji Kita Hanyalah Debu
8.2
Rania telah mencapai batas kesabaran menghadapi sikap dingin Farel. Memegang teguh janji masa lalu untuk pergi saat dikhianati, ia diam-diam menyiapkan perceraian dalam waktu tiga puluh hari. Namun, kehancuran sesungguhnya terjadi saat Rania ingin memberi kejutan ulang tahun di kantor suaminya. Ia justru menyaksikan Farel bermesraan dengan Alena, sang mantan kekasih. Momen pahit itu menjadi titik akhir yang memantapkan langkah Rania untuk benar-benar pergi.
Sampul Novel PLAYMATE
9.1
Sally Beatrice selalu dimanja oleh orang tuanya, namun permintaan untuk memiliki pulau pribadi di Yunani kali ini tidaklah gratis. Peter dan Liza menantang putri tunggal mereka bekerja sebagai pelayan selama sebulan di lokasi rahasia. Sally awalnya menganggap remeh misi ini, hingga ia bertemu Roland Filemon. Kehadiran pria tampan yang aneh tersebut mulai mengacaukan fokus Sally. Akankah ia mampu bertahan demi pulau impiannya, atau justru menyerah di tengah jalan?
Sampul Novel Suamiku Menjadi Ayah Untuk Anak Cinta Pertamanya
8.1
Setelah membatalkan janji studi wisata dengan alasan pekerjaan, Brian tidak menyangka istrinya tetap pergi demi sang putri. Di sekolah, kebohongan Brian runtuh seketika saat sang istri melihatnya duduk mesra bersama cinta pertamanya, Enny, dan putranya. Brian bahkan berpidato tentang keharmonisan keluarga sambil melempar senyum hangat pada Enny. Tak tinggal diam melihat kepalsuan itu, sang istri merebut mikrofon saat sesi tanya jawab untuk membongkar rahasia suaminya di depan semua orang.
Sampul Novel Takdir Cinta Siluman Rubah
9.1
Air mata Dean tumpah saat melihat Lee Dari menjauh. Sejak terdampar di pulau terpencil, cinta beda dunia mereka tumbuh meski penuh resiko. Dean sadar kepergiannya mengancam nyawa Dari, karena gadis itu hanya bisa bertahan hidup di dekat jantung hatinya. Namun, Dean memilih pulang ke dunianya dan meninggalkan Dari sendirian. Dari menyaksikan pengkhianatan itu dengan pedih; kepergian diam-diam Dean perlahan membunuhnya dalam kesedihan yang mendalam.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan