Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Those Smiling Eyes

Those Smiling Eyes

Fara adalah mahasiswi manja yang tak pernah membayangkan pernikahan, apalagi ayahnya sangat protektif. Namun, hidupnya berubah saat Dominic melamarnya. Sayangnya, kesalahan fatal membuat Dominic pergi sebulan sebelum hari besar. Di tengah duka, seorang pria misterius datang melamar dengan syarat unik: mereka dilarang bertemu hingga akad nikah. Demi kesempatan terakhir, Fara setuju. Mampukah ia menjadi istri yang baik sambil tetap kuliah?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Fara! Bangun, gak?! Gak bangun, Mama siram pakai air es!" Mama mengomel di pintu kamarku.

Kutendang selimut dari tempat tidur, lalu duduk dan meregangkan tubuhku sambil menguap. Sungguh, aku masih ngantuk banget, aku baru tidur jam tiga pagi setelah membaca novel 'Destined Ones' sampai tamat. Itu adalah sebuah novel fantasi tentang werewolf yang saat ini sedang naik daun, karya artis idolaku.

Kulihat Mama geleng-geleng kepala, dan aku pun nyengir. "Selamat pagi, Mamaku sayang."

"Pagi apanya, udah siang! Ini udah jam 9, lho. Katanya mau kornet goreng telur, cepetan beliin. Gosok gigi dulu." Mama lanjut mengomel, lalu meninggalkan kamarku untuk kembali ke dapur, masih sambil ngomel. "Anak gadis bangun jam segini, pasti gak sholat subuh."

"Aku lagi mens, Maaa." Teriakku sambil memasuki kamar mandi.

Setelah cuci muka dan gosok gigi, kuambil sweater yang menggantung di gantungan baju sekenanya. Aku tidur dengan legging hijau milik Mama dan tank-top, dan sweater yang kuambil ternyata warna merah, sweater kakakku yang kapan waktu kuambil dari kamarnya.

Duh, aku kayak pohon natal kalau pakai ini. Tapi males mau cari yang lain. Lagian udah terlanjur diambil.

Gakpapa deh, cuma ke samping rumah bentar aja.

Kupakai sweater tadi dan kurapikan rambut kriwilku sebisanya dengan tangan, lalu turun ke lantai bawah untuk minta uang ke Mama.

"Fara pakai baju yang bener gitu lho, Far. Dikira orang gak dibeliin baju sama orang tuanya," omel mama begitu melihatku.

Aku menngedikkan bahuku. "Cuma ke samping aja loh, Ma. Sapa juga yang bakal peduli."

"Ya kali aja ketemu jodoh, hayo." Papa yang sedang makan keripik singkong, ikut-ikutan.

Aku memutar bola mataku, dan keluar dari rumah.

Surabaya panas banget, belum juga jam 9.30 pagi, rasanya matahari udah kayak di ubun-ubun.

Aku mendorong pintu kaca Alfamart, dan berteriak mendahului para karyawan yang sudah bersiap-siap memberi salam pada pengunjung. "Gak usah kasih salam, ini Fara!"

Karena toko waralaba ini letaknya persis di samping rumah, semua karyawannya sudah kenal sama kami sekeluarga.

Aku mendengar mereka tertawa.

Segera kuambil kaleng kornet sapi, tapi karena letaknya ada di rak paling atas, saat kusenggol, kalengnya jatuh dan menggelinding ke kolong rak.

Waduh!

Aku telungkup di lantai dan merogoh ke kolong untuk meraih kaleng tersebut. Saat itu, kudengar karyawan-karyawan toko memberi salam pada pengunjung yang baru saja masuk.

Tak lama kemudian, dari sudut mataku, kulihat seseorang telungkup di sampingku. Dia meraih kalengku yang jatuh dengan mudah karena ... jelas dia lebih tinggi dari aku dan tangannya lebih panjang.

Aku duduk dan dia menyodorkan kaleng kornet kepadaku. Aku menerimanya, lalu bilang, "Makasih."

Saat aku melihat wajah orang yang barusan menolongku, rasanya kayak mimpi. Bule, guanteng banget, dan matanya, dia punya mata warna abu-abu. Kayak pernah lihat, tapi di mana ya?

"Um ... thanks," kuulang ucapan terima kasihku, khawatir dia nggak ngerti bahasa.

Dia lihatin aku kayak aneh gitu, pasti karena rambutku yang kayak singa, atau paduan bajuku yang udah kayak kostum natal.

"Sama-sama," jawabnya pelan, masih sambil lihatin aku kayak tadi.

Aduh, bener kata Mama. Harusnya aku pakai baju yang bener. Kalau tau bakal ketemu 'Hottie', aku rela pakai dress dan catokan dulu biar pun cuma keluar ke samping rumah. Malu-maluin banget aku ini.

Buru-buru aku berdiri dan lari ke kasir. Lalu saat selesai bayar, cepat-cepat aku berlari pulang.

Kuserahkan kaleng kornet pada Mama yang sedang duduk di kursi pantry.

"Kok pilih yang penyok sih, Far?" protes si mama.

"Ya tadinya gak penyok, Ma. Terus jatoh, kan Fara gak nyampek karena raknya ketinggian."

Mama memutar bola matanya.

"Pucet banget kamu, kayak habis liat hantu," komentar mama.

Aku mengangguk antusias. "Hantunya, ya yang bantuin Fara ambil kaleng ini dari kolong rak."

"Ngomong opo toh, Fara iki? Siang-siang kok ngomongin hantu," sungut Papa setelah menjitak kepalaku.

"Habisnya, kayaknya mustahil ada cowok seganteng itu," gumamku.

"Lebih ganteng dari Papa?" tanyanya heran, berusaha terlihat serius.

Papaku blasteran. Oma, almarhumah nenekku adalah wanita asal Perancis yang menikah dengan Opa, pria keturunan Cina-Jawa asli Surabaya. Papa selalu bilang kalau aku dan kakakku, Fabian, mirip banget sama Oma, apalagi Fabian yang matanya biru. Tapi menurutku aku mirip Papa, kecuali rambut kriwil yang aku dapat dari Mama meskipun warnanya cokelat seperti rambut papa dan Fabian.

Adrian Armand namanya. Di usianya yang ke-53 dan tak lagi muda, Papaku masih punya badan tinggi besar dan berotot, yang sering dia salah gunakan untuk menakuti setiap cowok yang mendekatiku. Usiaku 17 tahun dan sama sekali belum pernah pacaran.

"Iya," jawabku. Papa memelas.

"Masa ada yang lebih ganteng dari Papa?" tanyanya sedih.

"Gak ada ... kalau kata Mama," jawabku, Mama tertawa.

Sambil makan siang, Mama cerita, kalau sahabatnya dari SMP, Tante Nadia, sudah balik ke Indonesia dan kali ini sepertinya akan menetap. Papa menanggapi dengan antusias, karena mereka juga teman dekat. Dulu, Tante Nadia lah yang mengenalkan Mama pada Papa.

"Wah, bikin barbeque party yok, kita undang Nadia sekeluarga," saran Papa.

"Yuk, sekalian kenalin Fara sama anaknya Nadia. Dia seumuran Fara, ganteng, baik,sopan lagi," sahut Mama.

"Paling, anaknya Tante Nadia juga takut sama Papa," sungutku skeptis.

Mereka tertawa, kelihatan kalau sama sekali nggak khawatir sama nasip anaknya yang entah sampai kapan akan jomblo ini.

Beberapa hari kemudian, baru saja aku kunci pintu toko setelah mengantar papa ke luar. Papa pamitan mau nge-band sama teman-temannya, dan saat aku baru masuk rumah, bell sudah berbunyi lagi.

Keluargaku mempunyai sebuah toko binatang peliharaan, kebanyakan pengunjung memang datang di sore dan malam hari, kecuali di hari libur, dan toko akan ramai dari pagi sampai malam.

Dulu, papa bayar tiga orang karyawan. Satu orang groomer, satu kasir, dan satu lagi untuk jaga toko. Namun, saat Fabian dan aku sudah besar, cuma ada groomer dan kasir, karena kami bisa gantian jaga toko. Karyawan datang pada pagi hari, dan pulang saat sore hari, jadi saat malam kami yang melayani konsumen. Selain itu, papa punya tiga rumah di sekitar sini yang dijadikan kos-kosan, juga bisnis jual-beli tanah.

Sebelum membuka pintu kaca toko kami, perhatianku tercuri oleh kucing jenis Bengal yang berdiri melompat-lompat dan kaki depannya menggaruk-garuk pintu kaca. Sudah jadi kebiasaan burukku, jika ada pengunjung yang membawa hewan peliharaannya, yang kusapa duluan pasti hewannya.

Aku membuka kunci lalu pintunya, dan langsung jongkok untuk menyapa si meong, tak kuduga dia langsung nemplok ke pelukanku, astaga, lucuuu sekali.

"Siapa yang ngebell, Far?" Mama berteriak sambil masuk ke toko melalui pintu dalam.

"Assalamualaikum, Tante. Saya mau beli snack buat Tofu, gak taunya Tante yang punya toko," kata yang punya meong, aku merasa seperti pernah denger suaranya.

"Wa'alaikum salam. Eh Dominic, ayo masuk. Fara ngapain jongkok di situ?! Ini lho disamperin anak perjaka ganteng!"omel Mama.

Ya ampun, Mama malu-maluin banget.

Aku pun berdiri, lalu beralasan, "Ini lho Ma, pusnya lucu."

Sungguh, kucingnya emang lucu banget!

"Ini Fara, anak Tante. Dom ini anaknya Tante Nadia, temen Mama yang baru pindah dari Amerika." Aku melihat ke arahnya.

Astaga, itu Hottie kemarin.

Duh, gantengnya bikin pusing.

Dia mengulurkan tangan dan aku menjabatnya. Nyetrum sih, ini. Saat aku akan menarik tanganku, dia menahannya sedetik lebih lama. Sudah mau copot hatiku.

"Hi Fara, nice to meet you. Pretty name for a pretty girl." Aduh, gombalannya murahan, tapi aku telan juga bulat-bulat.

Senyumnya ... Ya Allah, nikmat mana yang Kau dustakan?

Mama ajak dia masuk untuk nyicipin kue yang barusan kami buat. Tofu, anjingnya, dibiarkan di toko untuk main sama kucing kami, Lilo. Mama dan Dom ngobrol banyak, asli dia ramah dan asik banget orangnya, Mama yang biasanya cuek aja nyambung. Tapi aku gak nyambung mereka ngomong apa, liat dia aja deg-degan. Aku iya-iya aja kayak orang bloon.

Saat Mama sedang sibuk bungkus kue untuk dia bawa pulang, Dom duduk di sampingku. Tanpa basa-basi, dia senyum manis banget, lalu minta nomor hapeku. Aku kasih dong, masa engga?

Aduh, bakal mimpiin dia ini aku nanti malem. Cewek macem apa yang gak bakal kecantol sama cowok modelan Dom?

Ada mungkin, yang gay.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belang si Janda Kembang
8.5
Lima tahun membina rumah tangga, Amy dan Tesla belum juga dikaruniai buah hati. Amy telah berupaya maksimal melalui medis hingga terapi spiritual demi mewujudkan impiannya. Namun, tekanan besar datang dari ibu mertuanya, Dialin, yang sangat mendambakan cucu. Dialin bahkan nekat menjodohkan Tesla dengan Arem, seorang janda muda di lingkungan mereka. Kini, Amy terjebak dalam dilema besar: merelakan suaminya berpoligami atau memilih jalan perceraian yang menyakitkan.
Sampul Novel Cinta Pertamaku, Suami Orang
8.9
Nisa terjebak dalam skandal asmara dengan Dani, suami Rika. Meski berlatar belakang pendidikan pesantren, Nisa gagal menjaga prinsipnya karena rayuan maut Dani yang meruntuhkan pertahanannya. Rika dengan tegas meminta Nisa menjauh, namun Nisa merasa Dani harus bertanggung jawab atas perasaan yang telah tumbuh. Kini, Nisa bimbang antara mengakhiri hubungan terlarang itu atau justru terus menyakiti sesama wanita demi mengejar cinta pertamanya yang salah.
Sampul Novel Gairah Baby Maker
9.1
Aida sesekali melirik dan memberi kode melalui gerakan alisnya yang menggoda. Dari posisi jongkoknya, pemandangan di balik daster tipisnya terpampang nyata, memperlihatkan lekuk paha mulus dan detail pakaian dalamnya yang tersorot cahaya matahari sore. Pemandangan spektakuler itu membuatku terpaku dan harus menahan hasrat liar yang mulai bergejolak. Aku berulang kali meneguk ludah karena merasa sangat haus akan godaan yang ada di depan mata saat ini.
Sampul Novel Istri Terlahir Kembali: Sekali Digigit, Dua Kali Pemalu
9.0
Rylie mengira pengabdian tulusnya akan meluluhkan Mathias, namun lima tahun pernikahan hanya berbuah pengabaian hingga ia wafat dalam kesedihan. Saat terbangun di masa lalu, Rylie bertekad menggugat cerai sebelum suaminya bertemu wanita lain. Mathias awalnya menganggap ini taktik belaka, tapi keputusasaan Rylie justru membuatnya panik dan memohon kesempatan kedua. Kini, Rylie terjebak di antara trauma masa lalu dan cinta yang masih tersisa untuk Mathias.
Sampul Novel Komodo Hijrah
9.6
Mahesa adalah pengusaha waralaba sukses yang selalu gagal dalam urusan asmara. Ia merasa dikutuk oleh rival bisnisnya karena tak pernah berhasil membawa hubungan ke jenjang pernikahan. Berbagai metode, dari yang logis hingga di luar nalar, ia coba demi menemukan pendamping hidup. Dalam pencarian itu, Gayatri, sahabat masa kecil yang kerap bertindak bak pengawal pribadinya, selalu setia mendampingi. Namun, mampukah persahabatan mereka bertahan saat perasaan baru mulai tumbuh?
Sampul Novel Sebelum Hujan Membasahi
7.9
Fuad adalah pemuda pendiam yang sangat sensitif terhadap omongan orang lain. Demi membuktikan kemampuannya kepada orang tua, ia merantau jauh dari kampung halaman untuk bekerja. Namun, perjalanan mengejar mimpi ini menjadi rumit saat Fuad mulai mengenal beberapa wanita yang memikat hatinya. Kini ia terjebak dalam konflik batin antara tanggung jawab profesi dan kehampaan asmara. Mampukah Fuad menyeimbangkan ambisi karier dengan kerumitan perasaan yang menyiksa?