
The School Devil
Bab 2
Mayang memijit tengkuknya yang terasa pegal. Di depannya Mega, rekan gurunya tersenyum-senyum melihat perempuan itu. Ia menunggu apa yang akan Mayang ungkapkan mengenai pengalaman pertama mengajar kelas seni dan bahasa.
"Wah, luar biasa banget, ya, Miss Mega," ucap Mayang sambil nyengir.
Mega terkekeh. Ia sudah menduganya. "Gimana kira-kira, Miss Mayang? Kuat, nggak?"
Mayang menghela napasnya. Ia menunggu pelayan kantin sekolah selesai menyajikan dua gelas es teh dan dua mangkuk bakso, pesanannya dan Mega. "Harus kuat, dong ... walaupun pegel," sahutnya seraya mengaduk es tehnya lalu menyeruputnya untuk menginginkan kepalanya. Suasana kantin cukup ramai. Beberapa guru dan juga murid tengah menikmati makan siang mereka. Di sekolah ini, guru dan murid bercampur menjadi satu saat jam makan siang di kantin yang didesain seperti cafe.
"Pasti kelas seni dan bahasa II yang bikin Miss Mayang pegel, ya?" tebak Mega seraya mengunyah potongan bakso.
"Bukan lagi, Miss Mega. Kelas yang lain masih wajarlah. Tapi kelas seni dan bahasa II, bener-bener, deh," keluh Mayang. Ia menyuapi dirinya dengan kuah segar bakso. Rasanya mantap sekali mengisi perutnya yang kosong. "Hmm ... apa lagi ada dua anak tadi main nyelonong aja keluar. Waktu saya tegur malah nyolot, bilang lo-gue ke saya, Miss Mega." Mayang menggeleng pelan.
"Owh, anak yang itu, bukan?" tanya Mega seraya mengarahkan dagu ke arah beberapa siswa yang baru saja masuk ke dalam kantin. Mau tidak mau, pandangan mata Mayang bergerak mengikuti dagu Mega diarahkan. Benar-anak lelaki yang sedang berjalan di depan teman-temannya yang ia maksudkan.
Sosok jangkung dengan rambut yang sedikit panjang dan berantakan. Anak lelaki itu sangat tampan dengan kulit putih dan hidung yang mancung. Mayang menduga ia ada keturunan ras kaukasia entah dari ibu atau ayahnya. Sayang sekali fisik yang rupawan tidak sejalan dengan attitudenya. Jelek sekali.
"Raka Jackson." Suara Mega membuat Mayang buru-buru mengalihkan perhatiannya dari anak itu. Ya-Raka Samuel Jackson. Mayang ingat membaca nama itu di buku absensi kelas seni dan bahasa II tadi pagi. "Bapaknya presdir coca cola Indonesia. Ibunya salah satu founder sekolah ini," sambung Mega.
Mayang manggut-manggut. Anak konglomerat yang tidak tanggung-tanggung. Pantas saja sikapnya seenaknya sendiri begitu.
"Nakalnya nggak ketulungan." Mega mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Nggak ada guru yang berani negur dia, kan. Pengin dipecat apa?" kekehnya.
Mayang mendecak. "Duit emang segalanya, ya," ungkapnya sambil tersenyum miris. "Tapi, masa, sih, orang tuanya nggak ngedidik sopan santun sama dia."
"Terlalu sibuk."
Mayang mencebik. Alasan klise. Seorang anak tidak cukup hanya diberi kelimpahan materi. Pendidikan dasar seperti bagaimana menjaga sikap dan sopan santun terhadap orang lain seharusnya sudah ditanamkan sejak dini. Tapi, Mayang tidak bisa asal menuduh. Situasi masing-masing orang pastilah berbeda.
***
Mayang yang sedang melintasi toilet siswa di ujung koridor menghentikan langkahnya ketika mendengar suara ribut-ribut dari dalam toilet pria. Rasa penasaran membuatnya melangkah mendekati pintu toilet yang sedikit terbuka. Perempuan itu mengintip dari sela-sela pintu dan melihat seorang anak lelaki bertubuh tambun sedang berjongkok di dekat wastafel sambil melipat lengan di atas kepala, seperti sedang berlindung dari sesuatu. Mayang juga melihat beberapa anak lelaki berdiri di hadapan si anak tambun sambil tertawa-tawa. Salah satu anak menuang air dari botol mineral ke kepalanya.
Wah-rupanya sedang terjadi bullying. Naluri Mayang sebagai guru seketika meronta untuk menghentikan aksi itu. Ia mendorong pintu dengan kasar, membuat satu, dua, tiga anak lelaki yang sedang mengerumuni si anak tambun terkejut. Raka Jackson, ada di antara ketiga pembully itu.
"Kalian lagi ngapain?!" ujar Mayang seraya mendekat kepada tiga anak itu dan mendorong mereka menjauhi si anak tambun yang masih berjongkok dengan pakaian basah kuyub. "Kalian berhenti, ya, membully teman kalian seperti ini!" Ia memberi peringatan seraya menunjuk wajah anak-anak bengal itu.
"Wah, si guru baru belagu!" Salah satu dari ketiga anak itu berujar. "Kasih tahu, Ka." Ia menyikut Raka yang berdiri di sampingnya sambil melipat kedua lengan. Wajah tampannya terlihat dingin.
"Lu nggak usah sok pahlawan di sini," ucap Raka seraya memandang sinis pada si ibu guru. "Lu berulah, lu dipecat!" ancamnya.
Mayang mengesampingkan rasa takutnya untuk menghadapi anak bengal itu. Rasa geramnya jauh lebih besar. Ia tidak bisa membiarkan bullying terjadi di depan matanya. Karena akan sangat berbahaya dampaknya pada mental korbannya. "Dengar, ya, Raka ... namamu Raka, kan? Saya tahu orang tuamu punya kuasa di sini. Tapi, bukan berarti kamu bebas berbuat seenaknya. Saya tidak bisa membiarkan ada bullying terjadi di depan mata saya. Saya rasa orang tua kalian juga tidak setuju dengan perbuatan tercela kalian ini," ujarnya dengan lugas. Mayang bahkan mengangkat dagunya, untuk menimbulkan kesan bahwa perempuan itu tidak gentar, meskipun yang dihadapinya ini adalah anak pemilik sekolah.
"Berani lu rupanya," ucap Raka sinis. "Liat aja lu pasti bakal nyesel!" ancamnya. Pemuda itu mengibaskan tangan memberi isyarat pada dua temannya untuk meninggalkan tempat itu.
Setelah Raka dan dua temannya meninggalkan toilet, Mayang menghampiri si anak tambun yang masih duduk di pojokan. "Kamu nggak papa?" tanyanya sambil membantu anak itu berdiri.
"Nggak papa, Miss," ucap anak itu kikuk. Ia pun berpamitan pada Mayang.
Mayang menghela napas dalam-dalam sambil menggeleng pelan. Perempuan itu yakin, Raka akan membuat perhitungan dengannya. Ia pasrah jika harus dipecat karena melawan pemuda itu. Yang penting, ia bisa mencegah bullying yang terjadi di depan matanya, meskipun ia yakin Raka dan teman-temannya tidak akan berhenti sampai di sini saja untuk membully siswa lain.
***
"Anjir! Berani banget tuh guru baru ama gue!" maki Raka sambil membanting rokoknya ke lantai dan menginjaknya. Sejujurnya, baru kali ini ada guru yang berani mengusiknya. Tidak ada yang berani mengganggunya selama ini karena mereka masih sayang dengan pekerjaan masing-masing. Entah karena guru baru itu tidak tahu siapa dirinya, atau memang ia terlalu nekat, yang jelas, guru baru bernama Mayang itu rupanya tidak takut kehilangan pekerjaannya. Raka bisa dengan mudah meminta ibunya untuk memecat Mayang tanpa alasan apa pun. Namun, sepertinya ia tertantang untuk mengerjai guru itu terlebih dahulu.
"Kayaknya harus dikasih pelajaran, deh." Anak lelaki berambut cepak dan bermata bulat menyahut. Namanya Abigail. Ia biasa dipanggil Abi.
"Gue emang pingin kasih pelajaran ama dia. Biar tahu rasa. Kita bikin hidupnya kayak neraka di sekolah ini." Raka menyeringai. Ia merasa senang memiliki mainan baru. Membully sesama siswa sudah biasa. Tapi, membully guru, akan lebih menyenangkan. Apalagi, umur Mayang sepertinya tidak jauh di atasnya. Raka ingin tahu, sekuat apa mental perempuan itu.
"Tapi, tuh guru baru cakep juga, sih," kelakar Christian, satu lagi teman Raka yang bertampang oriental. "Gue, sih, lebih pengin ngerjain dia dengan cara lain," ujarnya sambil membentuk tanda kutip saat mengucapkan kata "ngerjain".
"Mesum lu!" Abi memukul puncak kepala Chris keras.
Pemuda itu hanya meringis. "Ya, gue kan pengin nyobain cewek yang lebih tua," ucapnya sambil mengelus kepalanya.
Raka tergelak mendengar celotehan sahabatnya itu. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus rokok lalu mengambilnya sebatang, untuk mengganti rokok yang ia banting beberapa saat lalu.
***
Anda Mungkin Juga Suka





