Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The hot chef and me

The hot chef and me

Drew, koki ternama sekaligus model seksi, mulai menjalin hubungan unik dengan Jena, pemilik kafe di New York, berawal dari kritik tajam Jena soal estetika makanannya. Meski benih cinta tumbuh, campur tangan pihak luar justru memicu konflik besar. Setelah Jena memberikan segalanya, rencana pernikahan mereka hancur hingga Drew memilih pergi. Kini, Drew yang mulai menyadari kesalahannya harus berjuang memperbaiki keadaan demi bersatu kembali dengan Jena.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Good morning," ucap Reese saat ia sampai di rumah Jena yang sudah disewa selama tiga bulan kebelakang. Jena menoleh ke arah pintu dengan muka jengah serta tangan sibuk mengoleskan selai coklat dan menuangkan susu kedelai ke dalam dua gelas. 

Ia berjalan ke lemari es lagi untuk mengambil beberapa potong buah strawberry juga kiwi yang semalam ia sudah potong-potong dan dimasukan ke dalam mika kedap udara untuk menjaga kesegarannya supaya tidak teroksidasi udara. Ia meletakan ke atas dua piring berbeda, karena ia membuat sarapan untuk Reese juga. 

"Sepertinya kau sedang kesal, Jen?" Reese duduk di meja makan sambil menatap Jena yang terlihat mendengkus. 

"Café ku harus tutup sepertinya Reese, aku bangkrut." Jawab Jena sambil membenamkan wajahnya diantara dua lutut kakinya yang ia tekuk saat duduk di kursi meja makan. 

"Benar tidak bisa diselamatkan, Jen?" Reese menggeser tempat duduknya supaya dekat dengan Jena, ia lalu mengusap-ngusap pundak Jena. 

"Mereka menyitanya, siang ini, aku merasa begitu buruk, Reese." Jena sesenggukan. Reese tau bagaimana Jena membangun café yang sebelumnya tak disetujui keluarganya, namun, Jena bersikeras jika ia mampu.

"Apa kau sudah memberitahu kedua orang tuamu, Jen?" 

"Belum, dan tidak akan. Ini semua salahku yang tidak becus mengelolanya. Aku begitu bodoh, mudah percaya dengan manajer keuanganku itu." 

"Dia bukan seorang manajer, terasa kurang pas menyebutnya, bagusnya, mmm.. oh, si tikus." Reese menepuk-nepuk pundak jena. 

"Kau bisa lalui ini, Jen, bukankah  kita akan mereview restaurant baru itu 'kan?" Reese mengalihkan pembicaraan, supaya Jena tidak terlalu bersedih. Setidaknya pundi-pundi uang Jena masih ada yang bersumber dari konten food vlogger yang ia kelola sendiri.

"Ya..." Jena menatap roti di hadapannya yang baru ia makan sedikit. "Jadi... kita memang harus ke sana. Makan sarapanmu Reese." 

"Tapi, kau duluan sampai di sana tidak masalah, kan? Aku harus pergi ke tempat adik angkatku dulu.

"Ya, tidak masalah," jawab Jena lalu kembali memakan sarapannya. Ia juga tidak suka membuang makanan. Terlalu sayang dan tidak mensyukuri. 

*** 

Jena stress, ia uring-uringan setelah menandatangani surat penyegelan dan menyakatan kalau dirinya bangkrut.

Ia melipat kedua tangannya di atas meja restoran yang akan ia review, lalu memendamkan wajahnya juga. Sesekali ia mendengkus kesal. 

"Permisi, ini pesanan anda, Potatoe baked with mozarela cheese and springkle with grill smoke beef. Lalu ini salad resep otentik restaurant kami," pelayan meletakan pesanan diatas meja. Jena mendongakan kepalanya menatap ke pelayan lalu mencoba tersenyum seraya mengucapkan terima kasih. 

"Selamat menikmati." ucap pelayan itu lalu pergi berlalu. Jena menatap makanan yang ada dihadapannya, ia mengernyitkan kening lalu berdecih. Ia mengeluarkan ponsel dan mengabadikan makanan yang ada dihadapannya. 

"Mengapa penataannya harus seperti ini. Kalau saja smoke beef-nya dipotong lebih kecil seperti ini lalu sprinkle di atasnya, jauh lebih bagus." Jena berbicara sendiri sambil menyobek-nyobek smoke beef dengan jemarinya. Ia lalu memegang pisau dan garpu lalu mulai membuka kentang yang diatasnya terdapat lelehan keju mozarela dan cedar cheese. Ia mendengkus kesal lagi. Lalu melirik ke arah dapur. Ia menggelengkan kepala seraya membelah kentang lalu dengan pisau di tangannya membuat potongan lembaran-lembaran kentang seperti ia mengerok isi daging kepala lalu mencampurnya dengan lelehan keju. Setelah kegiatan menata ulang makanan di hadapannya, ia mengabadikan lagi baru memakannya. 

Setelah makan, Jena mengeluarkan laptop dan mulai membuat ulasannya. Ia menatap sekeliling interior ruangan restaurant, makanan, minuman, service dan banyak hal. Restaurant bergaya eropa modern dengan interior di dominasi warna abu-abu tua, hitam dan silver membuat kesan misterius tapi nyaman. 

Jena memiringkan kepalanya sesekali saat mengetik ulasannya. Wajahnya menoleh ke kiri saat melihat seorang berdiri di sudut ruangan sambil berbicara dengan seorang karyawan. Mengenakan jaket Chef berwarna hitam, rambut berwarna kecoklatan dengan kulit putih membuat Jena tersenyum sedikit saat menatapnya. 

"Eh..!" Jena kembali menatap layar laptopnya, ia terkejut karena sosok yang sedang ia amati justru balik menatapnya dengan kedua bola matanya yang tajam dan aura sedingin es. 

Jena tak menampik, sosok itu begitu mendominasi aura restoran. Ia mencoba fokus membuat ulasan dan akan di masukan ke akun media sosial khusus miliknya. Selain penulis artikel lepas tentang makanan, ia juga seorang food vlogger yang sudah banyak membuat konten makanan. 

Followernya sudah banyak, dan juga namanya sudah cukup terkenal, namun sayang, uang yang dihasilkannya masih tak mencukupi kebutuhannya untuk tinggal di kota sebesar NewYork. 

Jena beranjak setelah selesai dengan kegiatan makan dan mereview makanan dari restoran itu. Ia berjalan ke meja kasir, lalu melakukan pembayaran. 

"Bisa aku meminta tolong padamu nona," ucap Jena masih berdiri di depan meja kasir. Wanita berambut pirang itu mengangguk. 

"Sampaikan ke koki kalian, belajarlah untuk menghias sajian makanan di atas piring. Hanya untuk menu yang tadiku pesan, hah ... sudahlah, suruh dia belajar. Permisi." Wanita berambut pirang itu terkejut dan menganga. 

Selama ini, tak ada yang berani berkomentar seperti itu kepada koki dan pemilik restoran itu. Drew Sebastian. Terkenal sempurna dan pemikir keras dalam menciptakan masakan yang menjadi ciri khasnya. 

Piring yang masih terisi setengah sisa makanan, di bawa pelayan ke dapur. Drew menoleh, ia terkejut karena konsumennya tak menghabiskan makanan yang di pesan, padahal, menu itu merupakan salah satu menu andalan di restoran tersebut. 

"Apa ini! Kenapa dia bisa tidak menghabiskannya!" teriak Drew marah. Semua berhenti bekerja. Menoleh serempak ke Drew yang melotot bak raja iblis yang marah. 

Pelayan menunduk, namun ia memberi tau jika petugas di kasir sempat berbicara dengan konsumen yang memesan makanan tersebut. Drew berjalan keluar dari dapur, menghampiri karyawan di bagian kasir dan menanyakan hal tersebut. 

Drew diam seribu bahasa. Ia kembali berjalan ke dalam dapur dan terus memikirkan ucapan wanita itu dengan sangat serius. 

*** 

Jena berjalan santai, tujuannya kali ini, ia harus mencari apartemen dengan biaya murah untuk tempat tinggalnya, tak mungkin ia berlama-lama tinggal di tempat sebelumnya. 

Helaan napas terdengar begitu gusar, Jena duduk di bangku taman kawasan central park, ia mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. "Aku jatuh miskin," gumamnya putus asa. Ia lalu menggeleng cepat. 

"Tidak. Aku pasti bisa membuktikan kalau aku bisa bertahan hidup di sini tanpa cafè dan mengembalikan uang kedua orang tuaku yang ku pinjam sebagai modal membangun usaha cafè itu. Jena, kau pasti bisa!" Ia berteriak menyemangati dirinya sendiri. 

Ia kembali beranjak, melihat seorang penjual minuman dingin yang tampak begitu bersemangat, usianya tak lagi muda, mereka sepasang suami istri. 

"Hai, aku pesan satu," tunjuk Jena ke gambar yang menunjukan minuman soda di campur es krim. 

"Tentu. Tunggulah, 'Nak, kami buatkan," ucap sang suami. Wanita di sebelahnya duduk dan tersenyum menatap Jena setelah ia memberikan uang. 

"Kau tampak lelah, apa yang kau kerjakan?" tanya wanita itu. Jena terkekeh. 

"Aku sedang mencari apartemen baru untukku tinggali, yang biayanya ... murah." Jena menunduk. Ia lalu menerima minuman pesanan dan mencicipinya. "Ini enak Tuan, Nyonya, wow .... " Jena kembali meminumnya. 

"Terima kasih. Maksudmu, apartemen seperti apa yang kau butuhkan?" tanya nyonya tua itu.

Jena berpikir sejenak. Ia lalu menggeleng, "Entahlah, aku harus melihat lokasinya juga, Tuan ..., Nyonya, baru aku bisa hitung." Kekehan Jena membuat kedua orang tua itu ikut terkekeh. 

"Bukannya, apartemen di depan kamar kita kosong, Sayang?" Pria itu menatap ke istrinya yang dijawab anggukan. 

"Ya, benar. Datanglah 'Nak, siapa tau cocok denganmu, walau tak sebagus lokasi lain, tapi, lingkungan bersih dan nyaman, kami sudah sepuluh tahun ada di sana."

TRING! 

Jena mendapat lampu yang menyala terang di kepalanya. Ia mengangguk cepat seraya menanyakan alamat yang di maksud. Dan, hari Jena saat itu berakhir dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Yang Terjamah
8.7
Marlina kehilangan segalanya demi ambisi pendidikan, termasuk kehormatan dan status sosialnya. Terbuang dari masyarakat, ia terjerumus ke dunia gelap narkoba di kota besar sebagai pengedar cantik yang diperebutkan para bandar. Meski berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival mengirimnya ke penjara. Setelah mendalami agama di balik jeruji, Marlina justru kembali menghadapi penolakan keras saat bebas. Kini ia harus memilih: kembali ke jalan haram atau teguh berhijrah.
Sampul Novel Gairah Liar Isteriku
9.5
Kehidupan rumah tangga Nara dan Rama terlihat harmonis bagi orang lain, namun di balik itu ia menyimpan kesepian mendalam. Nara pun terjebak dalam hubungan gelap dengan Arka demi mencari kebahagiaan. Segalanya berubah saat pesan singkat dari Arka mengancam akan membongkar rahasia tersebut. Kini Nara harus menghadapi badai pengkhianatan dan luka hati yang membara, sambil berjuang menemukan jati dirinya di tengah kekacauan cinta yang penuh dengan misteri.
Sampul Novel Guru Bahasa Inggris Baru
8.1
Kisah dewasa ini mengikuti Mihoko, seorang pendidik bahasa Inggris yang memiliki kecerdasan luar biasa serta paras menawan. Sebagai pengajar baru di sebuah sekolah gereja yang religius, ia justru terjerat dalam situasi yang sangat berbahaya. Mihoko harus menghadapi ancaman kekerasan seksual yang direncanakan secara licik terhadap dirinya. Narasi ini menyoroti perjuangan berat sang guru cantik saat terjebak dalam jebakan pemerkosaan yang begitu mengerikan.
Sampul Novel Kakak Kelas Jahat itu Suamiku
8.0
Piona, mahasiswi sastra tingkat akhir berusia 21 tahun, terjerat dalam pernikahan mendadak demi menyelamatkan ekonomi keluarganya. Namun, rahasia besar masih menyelimuti alasan di balik perjodohan ini. Situasi kian pelik saat calon suaminya ternyata adalah kakak kelas masa SMA yang sangat ia benci. Dulu, pria tampan itu selalu memicu pertengkaran hebat dengannya. Kini, takdir memaksa dua musuh bebuyutan ini bersatu dalam ikatan suci yang penuh ketegangan.
Sampul Novel Mendadak Kaya
8.4
Pasca kehilangan pekerjaan, seorang gadis berlesung pipi mendapat tawaran tak terduga yang mengubah nasibnya. Ia diminta berkencan satu malam di rumah seorang pria misterius dengan imbalan fantastis sebesar seratus juta rupiah. Sang pria menjamin bahwa agenda mereka hanyalah makan malam bersama tanpa ada tuntutan lainnya. Bak rezeki nomplok di tengah kesulitan, ia pun menyadari bahwa roda kehidupan memang berputar dengan sangat tidak terduga.
Sampul Novel Pelabuhan Akhir Sang Pewaris
7.8
Sean Axel William merupakan pewaris tunggal Grup William yang disegani karena ketegasannya di dunia bisnis. Meski dikelilingi banyak wanita dari kalangan selebriti yang haus akan kekayaannya, Sean merasa jenuh dengan segala kepalsuan tersebut. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu sosok perempuan unik yang memikat hatinya. Kini sang miliarder justru berbalik mengejar cintanya demi menjadikan wanita itu sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupnya.