Sampul Novel Gairah Liar Isteriku

Gairah Liar Isteriku

9.5 / 10.0
Kehidupan rumah tangga Nara dan Rama terlihat harmonis bagi orang lain, namun di balik itu ia menyimpan kesepian mendalam. Nara pun terjebak dalam hubungan gelap dengan Arka demi mencari kebahagiaan. Segalanya berubah saat pesan singkat dari Arka mengancam akan membongkar rahasia tersebut. Kini Nara harus menghadapi badai pengkhianatan dan luka hati yang membara, sambil berjuang menemukan jati dirinya di tengah kekacauan cinta yang penuh dengan misteri.

Gairah Liar Isteriku Bab 1

Nara berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Gaun satin hitam yang membalut tubuhnya mempertegas keanggunan sekaligus aura sensualnya. Dengan tangan terampil, ia menyisir rambut panjangnya, menyiapkan diri untuk menghabiskan malam yang dijanjikan penuh petualangan. Akan tetapi, sorot matanya tak memandang pantulan dirinya di cermin. Ia hanya terpaku pada layar ponsel di atas meja rias yang baru saja menampilkan sebuah pesan singkat dari Arka:

"Sudah siap, sayang? Aku di lobi."

Dehaman kecil keluar dari bibirnya, setengah menikmati getaran-getaran dan bayangan-bayabgan sensasi yang mendebarkan dari situasi ini, Hati Nara serasa dikepung oleh ketegangan tak kasat mata.

"Arka, aku sungguh merindukan semua sentuhanmu. Dan aku tidak sabar malam ini kita akan kembali bertemu," gumam Nara dengan hati berdebar kencang saat membaca pesan yang baru saja Arka kirimkan.

Untuk sesaat, gairah liarnya tak bisa lagi ia padamkan, Nara bahkan bisa membayangkan setiap sentuhan memabukkan yang selalu membuatnya melayang dari pria itu.

Sentuhan dan kelembutan penuh perhatian di atas tempat tidur, yang tak pernah ia dapatkan dari Rama suami super sibuknya itu.

Namun atmosfer hangat itu tiba-tiba hancur seketika saat suara Rama, suaminya, terdengar menggema dari balik pintu.

"Nara! Kamu ngapain?" tanyanya dengan nada datar dan dibalut nada lain. Nada penuh curiga.

Nara menghela napas panjang, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai mengintai. Ia berjalan ke pintu dan membukanya dengan senyum tipis di wajahnya.

"Ada apa, Rama?" tanyanya seolah tak ada apa-apa.

Tatapan Rama segera jatuh ke gaun yang dikenakan Nara. Tatapan mata dan gestur di wajahnya menyiratkan rasa tidak senang. "Kamu mau ke mana, malam-malam begini dengan penampilan seperti itu?" tanyanya, alisnya bertaut, sorot matanya tajam menghujam jantung.

"Aku ada acara," jawab Nara santai, mencoba mengalihkan suasana. "Aku butuh waktu untuk bertemu teman-teman. Lagipula kamu sibuk terus dengan pekerjaan. Aku nggak mungkin duduk-duduk di rumah setiap hari, kan?"

Rama mendekat. Tangannya meremas ujung meja rias, hanya beberapa inci dari ponsel yang tergeletak di sana. Pandangannya yang gelap, siap menelanjangi alasan-alasan Nara.

"Oh, begitu? Teman-teman yang mana? Sejak kapan kamu punya 'teman' yang aku nggak tahu?" tanyanya tajam, seperti pisau yang menusuk.

Detak jantung Nara makin cepat, tetapi ia tidak boleh goyah. Jika ia menunjukkan rasa takut, Rama akan mencium darah seperti serigala yang sedang kelaparan.

"Kamu selalu curiga nggak jelas, Rama," katanya dengan nada mengeluh, "Aku hanya butuh waktu untuk diri sendiri. Aku bukan tawanan di rumah ini."

"Apa? Curiga nggak jelas?" Rama tertawa kecil, tawa yang penuh kebencian. "Kamu pikir aku bodoh, hah? Aku tahu ada yang nggak beres sejak lama!"

Rama tiba-tiba menyambar ponsel Nara dari meja rias. Gerakannya begitu cepat hingga Nara tidak sempat menghentikannya.

Nara panik, ia mencoba merebutnya Kembali, "Rama, jangan! Jangan Rama!" serunya, tapi Rama sudah melangkah mundur, membuka layar ponsel dengan kemarahan yang tak terkendali.

Pesan dari Arka segera memenuhi layar:

"Aku tunggu di kamar 305, ya. Jangan lama-lama, sayang."

Deg ...

Suasana di kamar itu mendadak terasa seperti jurang yang menganga dan siap menelan mereka berdua. Wajah Rama berubah drastis. Matanya yang sebelumnya gelap kini seperti api yang menyala-nyala. Ia mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi dan membantingnya ke lantai. Layar kaca pecah berkeping-keping, memantulkan sisa-sisa kehidupan pernikahan mereka yang mulai retak.

"Siapa dia, Nara? Siapa ARKA?! Kamar 305?! Kamu mau ngapain di sana?!" Bentakan Rama menggelegar di dalam kamar.

"Itu bukan seperti yang kamu pikirkan, Rama! Aku bisa jelaskan!" Nara mencoba bertahan dengan suara yang bergetar.

"Bisa jelaskan apa, hah?!" Rama meraih pundaknya dengan kasar, membuat Nara terdorong ke dinding. "Kau SELINGKUH, kan?! Aku sudah lama mencium bau busuk ini, tapi aku terlalu bodoh untuk percaya kamu! Ternyata aku nggak salah, kau memang perempuan MURAHAN!!"

"Arka hanya teman biasa, Rama! Kamu terlalu berlebihan!" potong Nara, mencoba menyelamatkan dirinya.

"TEMAN?! Teman apa yang mengajakmu ke kamar hotel?! Jangan bodohi aku, Nara!" Rama semakin mendekat, nadanya semakin memekakkan telinga.

Air mata Nara mulai jatuh. Bukan karena merasa bersalah, melainkan karena ketakutan.

"Aku butuh ruang, Rama. Aku butuh seseorang yang bisa mengerti aku. Kamu selalu sibuk dengan pekerjaan, nggak pernah punya waktu buat aku!" teriak Nara, mencoba membalik keadaan.

"Jadi, ini salahku sekarang, hah?!" Rama membalas dengan nada getir. "Aku banting tulang kerja buat apa? Supaya kamu bisa dandan cantik buat pria lain?! Kau manusia macam apa?!"

"Kalau kamu memang peduli, kamu nggak akan biarkan aku merasa sendirian selama ini!" balas Nara dengan emosi. "Aku hanya mencari perhatian yang nggak pernah aku dapatkan dari kamu, Rama!"

Jawaban itu membuat Rama terpaku sejenak, namun emosi segera menguasainya kembali. Ia menggebrak meja rias hingga segala benda di atasnya terjatuh. Botol parfum, sisir, dan cermin kecil berserakan di lantai, mencerminkan kekacauan di antara mereka.

"Nara! Kau benar-benar tidak tahu diri! Aku memberimu segalanya! Jadi ini balasannya?!" teriak Rama lagi, suaranya parau karena marah sekaligus luka yang menganga.

"Kamu hanya memberiku uang, Rama! Kamu nggak pernah hadir untukku. Kamu bahkan nggak peduli aku butuh apa!"

"Aku nggak peduli?!" Rama menunjuk dirinya sendiri dengan marah. "Kamu yang egois, Nara! Aku ada untuk kamu, untuk rumah ini, untuk hidup kita! Dan sekarang aku tahu, semua itu sia-sia! Semua omong kosong! Kau hanya wanita murahan yang menjual harga dirinya untuk sensasi murahan!"

Kata-kata itu menghantam Nara seperti tamparan keras. Tapi ia tidak mau kalah. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, menahan gemetar di tubuhnya.

"Kalau aku seperti itu, salah siapa, Rama? Kamu membuatku seperti ini!"

Suara tawa Rama yang getir memenuhi ruangan.

"Oh, jadi aku yang salah?! Salah karena aku menikahimu? Salah karena aku terlalu percaya sama wanita yang ternyata hanya bisa menghancurkan segalanya?!"

Pintu kamar tiba-tiba terdorong keras hingga hampir terlepas dari engselnya saat Rama keluar, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan ..., "Aku nggak peduli lagi, Nara. Mulai detik ini, kau adalah wanita asing. Kita SELESAI!"

Pintu terbanting menutup dengan keras, suaranya menggema di seluruh rumah.

Nara terhuyung mundur hingga tubuhnya menyentuh dinding. Ia terduduk di lantai, menatap kosong pada layar ponsel yang kini pecah berantakan. Sesaat, ia ingin menjerit sejadi jadinya.

Dengan tangan gemetar, ia memegang gaunnya yang kini kusut karena dirinya sendiri. Dalam hati, ia berkata,

"Bodoh sekali aku..."

Malam itu, Nara tidak pergi ke hotel seperti yang direncanakan. Ia hanya duduk diam di kamar, mencoba memahami apa yang sebenarnya salah dengan dirinya. Bukannya menyesali perbuatannya, ia malah mencari cara untuk membuat suaminya percaya lagi padanya.

"KRING, KRING..." Suara telepon mengejutkannya. Dengan perasaan yang benar-benar kacau, ia pun segera menyambar gagang telepon itu.

"Bagaimana pernikahanmu dengan Rama, hai, Manis? Ha-ha-ha..." Suara yang tak asing baginya terdengar mengejek, penuh dengan rasa kemenangan.

Dengan nada kesal, Nara menutup telepon itu dengan kasar. "Reno sialan! Apakah dia tahu kalau aku sedang ada masalah? Atau... argh!" gumamnya, frustrasi. Kepalanya terasa berat, seolah dipenuhi oleh pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Belum juga ia menemukan jawaban, suara ketukan pelan terdengar dari pintu. Jantungnya kembali berdegup kencang. Apakah itu Rama? Apakah ia kembali? Dengan hati-hati, Nara berjalan menuju pintu dan membukanya.

Nara berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Gaun satin hitam yang membalut tubuhnya mempertegas keanggunan sekaligus aura sensualnya. Dengan tangan terampil, ia menyisir rambut panjangnya, menyiapkan diri untuk menghabiskan malam yang dijanjikan penuh petualangan. Akan tetapi, sorot matanya tak memandang pantulan dirinya di cermin. Ia hanya terpaku pada layar ponsel di atas meja rias yang baru saja menampilkan sebuah pesan singkat dari Arka:

"Sudah siap, sayang? Aku di lobi."

Dehaman kecil keluar dari bibirnya, setengah menikmati getaran-getaran dan bayangan-bayabgan sensasi yang mendebarkan dari situasi ini, Hati Nara serasa dikepung oleh ketegangan tak kasat mata.

"Arka, aku sungguh merindukan semua sentuhanmu. Dan aku tidak sabar malam ini kita akan kembali bertemu," gumam Nara dengan hati berdebar kencang saat membaca pesan yang baru saja Arka kirimkan.

Untuk sesaat, gairah liarnya tak bisa lagi ia padamkan, Nara bahkan bisa membayangkan setiap sentuhan memabukkan yang selalu membuatnya melayang dari pria itu.

Sentuhan dan kelembutan penuh perhatian di atas tempat tidur, yang tak pernah ia dapatkan dari Rama suami super sibuknya itu.

Namun atmosfer hangat itu tiba-tiba hancur seketika saat suara Rama, suaminya, terdengar menggema dari balik pintu.

"Nara! Kamu ngapain?" tanyanya dengan nada datar dan dibalut nada lain. Nada penuh curiga.

Nara menghela napas panjang, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai mengintai. Ia berjalan ke pintu dan membukanya dengan senyum tipis di wajahnya.

"Ada apa, Rama?" tanyanya seolah tak ada apa-apa.

Tatapan Rama segera jatuh ke gaun yang dikenakan Nara. Tatapan mata dan gestur di wajahnya menyiratkan rasa tidak senang. "Kamu mau ke mana, malam-malam begini dengan penampilan seperti itu?" tanyanya, alisnya bertaut, sorot matanya tajam menghujam jantung.

"Aku ada acara," jawab Nara santai, mencoba mengalihkan suasana. "Aku butuh waktu untuk bertemu teman-teman. Lagipula kamu sibuk terus dengan pekerjaan. Aku nggak mungkin duduk-duduk di rumah setiap hari, kan?"

Rama mendekat. Tangannya meremas ujung meja rias, hanya beberapa inci dari ponsel yang tergeletak di sana. Pandangannya yang gelap, siap menelanjangi alasan-alasan Nara.

"Oh, begitu? Teman-teman yang mana? Sejak kapan kamu punya 'teman' yang aku nggak tahu?" tanyanya tajam, seperti pisau yang menusuk.

Detak jantung Nara makin cepat, tetapi ia tidak boleh goyah. Jika ia menunjukkan rasa takut, Rama akan mencium darah seperti serigala yang sedang kelaparan.

"Kamu selalu curiga nggak jelas, Rama," katanya dengan nada mengeluh, "Aku hanya butuh waktu untuk diri sendiri. Aku bukan tawanan di rumah ini."

"Apa? Curiga nggak jelas?" Rama tertawa kecil, tawa yang penuh kebencian. "Kamu pikir aku bodoh, hah? Aku tahu ada yang nggak beres sejak lama!"

Rama tiba-tiba menyambar ponsel Nara dari meja rias. Gerakannya begitu cepat hingga Nara tidak sempat menghentikannya.

Nara panik, ia mencoba merebutnya Kembali, "Rama, jangan! Jangan Rama!" serunya, tapi Rama sudah melangkah mundur, membuka layar ponsel dengan kemarahan yang tak terkendali.

Pesan dari Arka segera memenuhi layar:

"Aku tunggu di kamar 305, ya. Jangan lama-lama, sayang."

Deg ...

Suasana di kamar itu mendadak terasa seperti jurang yang menganga dan siap menelan mereka berdua. Wajah Rama berubah drastis. Matanya yang sebelumnya gelap kini seperti api yang menyala-nyala. Ia mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi dan membantingnya ke lantai. Layar kaca pecah berkeping-keping, memantulkan sisa-sisa kehidupan pernikahan mereka yang mulai retak.

"Siapa dia, Nara? Siapa ARKA?! Kamar 305?! Kamu mau ngapain di sana?!" Bentakan Rama menggelegar di dalam kamar.

"Itu bukan seperti yang kamu pikirkan, Rama! Aku bisa jelaskan!" Nara mencoba bertahan dengan suara yang bergetar.

"Bisa jelaskan apa, hah?!" Rama meraih pundaknya dengan kasar, membuat Nara terdorong ke dinding. "Kau SELINGKUH, kan?! Aku sudah lama mencium bau busuk ini, tapi aku terlalu bodoh untuk percaya kamu! Ternyata aku nggak salah, kau memang perempuan MURAHAN!!"

"Arka hanya teman biasa, Rama! Kamu terlalu berlebihan!" potong Nara, mencoba menyelamatkan dirinya.

"TEMAN?! Teman apa yang mengajakmu ke kamar hotel?! Jangan bodohi aku, Nara!" Rama semakin mendekat, nadanya semakin memekakkan telinga.

Air mata Nara mulai jatuh. Bukan karena merasa bersalah, melainkan karena ketakutan.

"Aku butuh ruang, Rama. Aku butuh seseorang yang bisa mengerti aku. Kamu selalu sibuk dengan pekerjaan, nggak pernah punya waktu buat aku!" teriak Nara, mencoba membalik keadaan.

"Jadi, ini salahku sekarang, hah?!" Rama membalas dengan nada getir. "Aku banting tulang kerja buat apa? Supaya kamu bisa dandan cantik buat pria lain?! Kau manusia macam apa?!"

"Kalau kamu memang peduli, kamu nggak akan biarkan aku merasa sendirian selama ini!" balas Nara dengan emosi. "Aku hanya mencari perhatian yang nggak pernah aku dapatkan dari kamu, Rama!"

Jawaban itu membuat Rama terpaku sejenak, namun emosi segera menguasainya kembali. Ia menggebrak meja rias hingga segala benda di atasnya terjatuh. Botol parfum, sisir, dan cermin kecil berserakan di lantai, mencerminkan kekacauan di antara mereka.

"Nara! Kau benar-benar tidak tahu diri! Aku memberimu segalanya! Jadi ini balasannya?!" teriak Rama lagi, suaranya parau karena marah sekaligus luka yang menganga.

"Kamu hanya memberiku uang, Rama! Kamu nggak pernah hadir untukku. Kamu bahkan nggak peduli aku butuh apa!"

"Aku nggak peduli?!" Rama menunjuk dirinya sendiri dengan marah. "Kamu yang egois, Nara! Aku ada untuk kamu, untuk rumah ini, untuk hidup kita! Dan sekarang aku tahu, semua itu sia-sia! Semua omong kosong! Kau hanya wanita murahan yang menjual harga dirinya untuk sensasi murahan!"

Kata-kata itu menghantam Nara seperti tamparan keras. Tapi ia tidak mau kalah. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, menahan gemetar di tubuhnya.

"Kalau aku seperti itu, salah siapa, Rama? Kamu membuatku seperti ini!"

Suara tawa Rama yang getir memenuhi ruangan.

"Oh, jadi aku yang salah?! Salah karena aku menikahimu? Salah karena aku terlalu percaya sama wanita yang ternyata hanya bisa menghancurkan segalanya?!"

Pintu kamar tiba-tiba terdorong keras hingga hampir terlepas dari engselnya saat Rama keluar, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan ..., "Aku nggak peduli lagi, Nara. Mulai detik ini, kau adalah wanita asing. Kita SELESAI!"

Pintu terbanting menutup dengan keras, suaranya menggema di seluruh rumah.

Nara terhuyung mundur hingga tubuhnya menyentuh dinding. Ia terduduk di lantai, menatap kosong pada layar ponsel yang kini pecah berantakan. Sesaat, ia ingin menjerit sejadi jadinya.

Dengan tangan gemetar, ia memegang gaunnya yang kini kusut karena dirinya sendiri. Dalam hati, ia berkata,

"Bodoh sekali aku..."

Malam itu, Nara tidak pergi ke hotel seperti yang direncanakan. Ia hanya duduk diam di kamar, mencoba memahami apa yang sebenarnya salah dengan dirinya. Bukannya menyesali perbuatannya, ia malah mencari cara untuk membuat suaminya percaya lagi padanya.

"KRING, KRING..." Suara telepon mengejutkannya. Dengan perasaan yang benar-benar kacau, ia pun segera menyambar gagang telepon itu.

"Bagaimana pernikahanmu dengan Rama, hai, Manis? Ha-ha-ha..." Suara yang tak asing baginya terdengar mengejek, penuh dengan rasa kemenangan.

Dengan nada kesal, Nara menutup telepon itu dengan kasar. "Reno sialan! Apakah dia tahu kalau aku sedang ada masalah? Atau... argh!" gumamnya, frustrasi. Kepalanya terasa berat, seolah dipenuhi oleh pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Belum juga ia menemukan jawaban, suara ketukan pelan terdengar dari pintu. Jantungnya kembali berdegup kencang. Apakah itu Rama? Apakah ia kembali? Dengan hati-hati, Nara berjalan menuju pintu dan membukanya.

Nara berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Gaun satin hitam yang membalut tubuhnya mempertegas keanggunan sekaligus aura sensualnya. Dengan tangan terampil, ia menyisir rambut panjangnya, menyiapkan diri untuk menghabiskan malam yang dijanjikan penuh petualangan. Akan tetapi, sorot matanya tak memandang pantulan dirinya di cermin. Ia hanya terpaku pada layar ponsel di atas meja rias yang baru saja menampilkan sebuah pesan singkat dari Arka:

"Sudah siap, sayang? Aku di lobi."

Dehaman kecil keluar dari bibirnya, setengah menikmati getaran-getaran dan bayangan-bayabgan sensasi yang mendebarkan dari situasi ini, Hati Nara serasa dikepung oleh ketegangan tak kasat mata.

"Arka, aku sungguh merindukan semua sentuhanmu. Dan aku tidak sabar malam ini kita akan kembali bertemu," gumam Nara dengan hati berdebar kencang saat membaca pesan yang baru saja Arka kirimkan.

Untuk sesaat, gairah liarnya tak bisa lagi ia padamkan, Nara bahkan bisa membayangkan setiap sentuhan memabukkan yang selalu membuatnya melayang dari pria itu.

Sentuhan dan kelembutan penuh perhatian di atas tempat tidur, yang tak pernah ia dapatkan dari Rama suami super sibuknya itu.

Namun atmosfer hangat itu tiba-tiba hancur seketika saat suara Rama, suaminya, terdengar menggema dari balik pintu.

"Nara! Kamu ngapain?" tanyanya dengan nada datar dan dibalut nada lain. Nada penuh curiga.

Nara menghela napas panjang, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai mengintai. Ia berjalan ke pintu dan membukanya dengan senyum tipis di wajahnya.

"Ada apa, Rama?" tanyanya seolah tak ada apa-apa.

Tatapan Rama segera jatuh ke gaun yang dikenakan Nara. Tatapan mata dan gestur di wajahnya menyiratkan rasa tidak senang. "Kamu mau ke mana, malam-malam begini dengan penampilan seperti itu?" tanyanya, alisnya bertaut, sorot matanya tajam menghujam jantung.

"Aku ada acara," jawab Nara santai, mencoba mengalihkan suasana. "Aku butuh waktu untuk bertemu teman-teman. Lagipula kamu sibuk terus dengan pekerjaan. Aku nggak mungkin duduk-duduk di rumah setiap hari, kan?"

Rama mendekat. Tangannya meremas ujung meja rias, hanya beberapa inci dari ponsel yang tergeletak di sana. Pandangannya yang gelap, siap menelanjangi alasan-alasan Nara.

"Oh, begitu? Teman-teman yang mana? Sejak kapan kamu punya 'teman' yang aku nggak tahu?" tanyanya tajam, seperti pisau yang menusuk.

Detak jantung Nara makin cepat, tetapi ia tidak boleh goyah. Jika ia menunjukkan rasa takut, Rama akan mencium darah seperti serigala yang sedang kelaparan.

"Kamu selalu curiga nggak jelas, Rama," katanya dengan nada mengeluh, "Aku hanya butuh waktu untuk diri sendiri. Aku bukan tawanan di rumah ini."

"Apa? Curiga nggak jelas?" Rama tertawa kecil, tawa yang penuh kebencian. "Kamu pikir aku bodoh, hah? Aku tahu ada yang nggak beres sejak lama!"

Rama tiba-tiba menyambar ponsel Nara dari meja rias. Gerakannya begitu cepat hingga Nara tidak sempat menghentikannya.

Nara panik, ia mencoba merebutnya Kembali, "Rama, jangan! Jangan Rama!" serunya, tapi Rama sudah melangkah mundur, membuka layar ponsel dengan kemarahan yang tak terkendali.

Pesan dari Arka segera memenuhi layar:

"Aku tunggu di kamar 305, ya. Jangan lama-lama, sayang."

Deg ...

Suasana di kamar itu mendadak terasa seperti jurang yang menganga dan siap menelan mereka berdua. Wajah Rama berubah drastis. Matanya yang sebelumnya gelap kini seperti api yang menyala-nyala. Ia mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi dan membantingnya ke lantai. Layar kaca pecah berkeping-keping, memantulkan sisa-sisa kehidupan pernikahan mereka yang mulai retak.

"Siapa dia, Nara? Siapa ARKA?! Kamar 305?! Kamu mau ngapain di sana?!" Bentakan Rama menggelegar di dalam kamar.

"Itu bukan seperti yang kamu pikirkan, Rama! Aku bisa jelaskan!" Nara mencoba bertahan dengan suara yang bergetar.

"Bisa jelaskan apa, hah?!" Rama meraih pundaknya dengan kasar, membuat Nara terdorong ke dinding. "Kau SELINGKUH, kan?! Aku sudah lama mencium bau busuk ini, tapi aku terlalu bodoh untuk percaya kamu! Ternyata aku nggak salah, kau memang perempuan MURAHAN!!"

"Arka hanya teman biasa, Rama! Kamu terlalu berlebihan!" potong Nara, mencoba menyelamatkan dirinya.

"TEMAN?! Teman apa yang mengajakmu ke kamar hotel?! Jangan bodohi aku, Nara!" Rama semakin mendekat, nadanya semakin memekakkan telinga.

Air mata Nara mulai jatuh. Bukan karena merasa bersalah, melainkan karena ketakutan.

"Aku butuh ruang, Rama. Aku butuh seseorang yang bisa mengerti aku. Kamu selalu sibuk dengan pekerjaan, nggak pernah punya waktu buat aku!" teriak Nara, mencoba membalik keadaan.

"Jadi, ini salahku sekarang, hah?!" Rama membalas dengan nada getir. "Aku banting tulang kerja buat apa? Supaya kamu bisa dandan cantik buat pria lain?! Kau manusia macam apa?!"

"Kalau kamu memang peduli, kamu nggak akan biarkan aku merasa sendirian selama ini!" balas Nara dengan emosi. "Aku hanya mencari perhatian yang nggak pernah aku dapatkan dari kamu, Rama!"

Jawaban itu membuat Rama terpaku sejenak, namun emosi segera menguasainya kembali. Ia menggebrak meja rias hingga segala benda di atasnya terjatuh. Botol parfum, sisir, dan cermin kecil berserakan di lantai, mencerminkan kekacauan di antara mereka.

"Nara! Kau benar-benar tidak tahu diri! Aku memberimu segalanya! Jadi ini balasannya?!" teriak Rama lagi, suaranya parau karena marah sekaligus luka yang menganga.

"Kamu hanya memberiku uang, Rama! Kamu nggak pernah hadir untukku. Kamu bahkan nggak peduli aku butuh apa!"

"Aku nggak peduli?!" Rama menunjuk dirinya sendiri dengan marah. "Kamu yang egois, Nara! Aku ada untuk kamu, untuk rumah ini, untuk hidup kita! Dan sekarang aku tahu, semua itu sia-sia! Semua omong kosong! Kau hanya wanita murahan yang menjual harga dirinya untuk sensasi murahan!"

Kata-kata itu menghantam Nara seperti tamparan keras. Tapi ia tidak mau kalah. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, menahan gemetar di tubuhnya.

"Kalau aku seperti itu, salah siapa, Rama? Kamu membuatku seperti ini!"

Suara tawa Rama yang getir memenuhi ruangan.

"Oh, jadi aku yang salah?! Salah karena aku menikahimu? Salah karena aku terlalu percaya sama wanita yang ternyata hanya bisa menghancurkan segalanya?!"

Pintu kamar tiba-tiba terdorong keras hingga hampir terlepas dari engselnya saat Rama keluar, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan ..., "Aku nggak peduli lagi, Nara. Mulai detik ini, kau adalah wanita asing. Kita SELESAI!"

Pintu terbanting menutup dengan keras, suaranya menggema di seluruh rumah.

Nara terhuyung mundur hingga tubuhnya menyentuh dinding. Ia terduduk di lantai, menatap kosong pada layar ponsel yang kini pecah berantakan. Sesaat, ia ingin menjerit sejadi jadinya.

Dengan tangan gemetar, ia memegang gaunnya yang kini kusut karena dirinya sendiri. Dalam hati, ia berkata,

"Bodoh sekali aku..."

Malam itu, Nara tidak pergi ke hotel seperti yang direncanakan. Ia hanya duduk diam di kamar, mencoba memahami apa yang sebenarnya salah dengan dirinya. Bukannya menyesali perbuatannya, ia malah mencari cara untuk membuat suaminya percaya lagi padanya.

"KRING, KRING..." Suara telepon mengejutkannya. Dengan perasaan yang benar-benar kacau, ia pun segera menyambar gagang telepon itu.

"Bagaimana pernikahanmu dengan Rama, hai, Manis? Ha-ha-ha..." Suara yang tak asing baginya terdengar mengejek, penuh dengan rasa kemenangan.

Dengan nada kesal, Nara menutup telepon itu dengan kasar. "Reno sialan! Apakah dia tahu kalau aku sedang ada masalah? Atau... argh!" gumamnya, frustrasi. Kepalanya terasa berat, seolah dipenuhi oleh pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Belum juga ia menemukan jawaban, suara ketukan pelan terdengar dari pintu. Jantungnya kembali berdegup kencang. Apakah itu Rama? Apakah ia kembali? Dengan hati-hati, Nara berjalan menuju pintu dan membukanya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Gairah Liar Isteriku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini menyoroti perjalanan emosional antara David dan Arina saat mereka menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah mekarnya bunga musim semi yang sangat berharga, keduanya belajar untuk saling memahami dan mengisi kekosongan hati satu sama lain. Hubungan mereka berkembang dengan indah seiring berjalannya waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam ikatan cinta yang tulus dan sangat mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Tiga tahun menikah, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai dari istrinya demi menyelamatkan putra kandungnya bersama Lin Yanran yang menderita leukemia. Ia memohon izin untuk memiliki anak lagi dengan sang mantan agar sel bayi baru lahir itu bisa menjadi obat, sambil berjanji akan kembali setelah misi medis itu selesai. Namun, di tengah tangis kepedihan suaminya, sang istri menemukan pesan provokatif dari Yanran yang sudah menanti Yu'an untuk segera menghamilinya malam ini juga.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sebagai imbalan, ia memaksa Anthony menikahinya. Anthony setuju, namun dengan syarat identitas Alicia sebagai istrinya harus dirahasiakan dari publik. Menjalani peran sebagai istri yang disembunyikan layaknya simpanan, akankah ikatan kontrak ini bersemi menjadi cinta sejati atau justru berakhir dengan luka mendalam bagi keduanya?
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Fatma menghadapi cobaan berat saat divonis menderita kanker rahim stadium lanjut yang memupus harapannya memiliki anak. Demi kebahagiaan Satria, ia rela meminta suaminya menikah lagi. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Satria selama ini tidak pernah mencintainya. Meski Satria sempat menolak karena enggan menyakiti hatinya, Fatma tetap memohon dengan penuh air mata agar permintaan terakhirnya dipenuhi sebagai bentuk pengorbanan cinta yang tulus.
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Mira Aditya terjebak dalam perjodohan orang tuanya dengan Rafiq Jaya. Alih-alih bahagia, ia justru menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya telah menikahi kekasih lamanya, Elena Faris, secara rahasia. Menjadi sosok yang terpinggirkan dalam rumah tangganya sendiri, Mira harus menanggung luka batin yang mendalam. Di tengah kehampaan dan rasa kecewa yang kian menggunung, Mira kini dihadapkan pada pilihan sulit antara terus bertahan atau pergi mencari kebebasan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan