Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Fate of A Wallflower

The Fate of A Wallflower

Lady Annabelle Hardy terjepit dalam nasib malang di Inggris abad ke-18. Setelah pertunangannya diputus sepihak demi adik tirinya, Anna kini menghadapi ancaman maut dari ibu tirinya, Sophie, yang haus harta. Di tengah konspirasi pembunuhan yang mengintai, sebuah suara dingin memperingatkan bahwa ia takkan bisa lari. Mampukah Anna bangkit dari pengkhianatan ini dan mengungkap misteri yang mengancam nyawanya sebelum semuanya terlambat?
Bab
Bagikan

Bab 2

"My Lord, seseorang ingin bertemu dengan Anda"

Jhon Hardy bergegas ke aula utama tempat dimana dia biasa menyambut tamu-tamu penting. Disana berdiri gagah seorang pria tua dengan tangan kanan diletakkan di bagian belakang tubuhnya. 

"Selamat pagi, Sir. Apa gerangan yang membuat Anda sudi berkunjung ke tempatku yang sederhana ini?", sapanya begitu tiba di belakang pria yang tak lain adalah mertuanya sendiri, Baron Kingsley. 

"Apa Anda tidak akan memintaku duduk lebih dulu?", baron tua itu membalikkan tubuh dan menatap tajam menantu yang tak pernah diakuinya ini.

"Ya, tentu saja. Silakan duduk Sir"

Hardy turut menghenyakkan dirinya pada salah satu kursi dalam ruangan itu. Secara gelar posisinya lebih tinggi daripada Kingsley, namun mengingat beliau ini mertuanya, maka dia menggunakan sapaan formal yang standar.

"Baiklah Lord Hardy, mengingat kita berdua punya sejarah yang tidak menyenangkan, Aku tidak akan bertele-tele. Seperti yang kita tahu putriku sudah meninggal dengan tragis dalam kecelakaan kemarin, maka aku berniat untuk mengambil satu-satunya peninggalan Rose, cucuku Anna" 

"Maaf? Anda tidak sedang bercanda bukan?"

"Tentu saja tidak. Terus terang saja, aku ragu pria bermental lemah seperti Anda akan sanggup membesarkan anak itu dengan baik", kali ini kalimatnya diucapkan lebih lugas

Jhon sekuat tenaga menahan amarah yang menyeruak di dadanya. Bagaimana mungkin pria tua di depannya ini sanggup memisahkan dia dengan putrinya sendiri? Yang lebih penting lagi, pria ini bahkan sudah menegaskan tidak mau ikut campur dengan urusan mereka dulu. 

"Dengan segala hormat Sir, seingatku Anda tidak pernah peduli dengan keluarga saya, bahkan Anda sendiri yang mengatakan, apapun yang terjadi pada Rose, bukan menjadi urusan Anda lagi. Lalu kenapa sekarang repot-repot untuk peduli?"

"Lord Hardy, Kuharap Anda tidak egois. Dulu Anda sudah memisahkan seorang ayah dari putrinya, lantas mengapa sekarang harus keberatan kalau Anna dipisahkan dari Anda?",  sahutnya sambil menyandarkan tubuhnya yang jangkung

"Itu jelas logika yang keliru. Anda sendiri yang memisahkan diri dari kami. Bahkan ketika Rose sakit dan melahirkan, apa Anda pernah mengunjunginya?", hilang sabar, Jhon menyahuti Kingsley dengan intonasi yang meninggi

Baron Kingsley tercenung mendengar pertanyaan Hardy. Selama ini dia memang begitu marah pada putrinya, namun begitu hubungan darah tak bisa putus begitu saja. Selamanya akan ada ikatan antara dia dan putrinya, bahkan dalam kematian sekalipun. 

"Benar aku marah pada putriku, juga menyesal selama ini tidak menunjukkan perhatian padanya", Lord tua terdiam sejenak, menyampaikan isi hatinya yang terdalam, " Namun perlu Anda ketahui dengan jelas kalau aku sama sekali tidak pernah membenci putriku"

"Apa gunanya Anda mengatakan itu sekarang Sir? Dan kepadaku pula? Sampaikan saja sendiri pada putri Anda kelak di surga"

"Cukup basa-basinya Lord Hardy, sekarang ijinkan aku membawa cucuku, Annabelle. Hanya dia satu-satunya peninggalan Rose di dunia ini", desak Kingsley tak sabar

"Hahaha, Anda lucu sekali Sir. Dalam dunia yang beradab ini seorang anak akan tetap tinggal dengan keluarganya sampai kapanpun itu. Sebagai seorang Hardy tentu saja Anna harus tinggal bersamaku di rumah ini, bukan begitu?"

John menatap geli wajah mertuanya yang semakin kecut itu lalu melanjutkan monolognya. 

"Lagipula apa Anda tahu betapa menderitanya istriku selama ini? Karena ulah Anda, setiap hari Rose merasa bersalah. Lalu dengan gampang Anda ingin mengambil Anna sekarang? Huh, jangan-jangan namanya saja baru Anda dengar pagi ini"

Ada nada menantang yang kentara dalam suara Jhon. Kalau saja dia tidak mengingat pria ini kakek dari putrinya, tentu sudah sejak tadi beliau diusir. Pada saat ini sadarlah Baron Kingsley bahwa dia sudah kalah. Dibawa ke pengadilan pun Jhon tetap akan menang melawan klaimnya yang tak berdasar. 

"Kalau begitu tolong ijinkan aku bertemu dengan cucuku. Sejak lahir aku belum pernah melihatnya sekalipun", gagal dengan ancaman, kali ini Kingsley menawar dengan cara halus, suaranya merendah dan memohon.

Namun sayang, Jhon sudah terlanjur kesal dengan sikap angkuh mertuanya barusan. 

"Kurasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan Sir. Semuanya sudah jelas kusampaikan pada Anda, pungkasnya tegas, "Thomas tolong antarkan tamu kita keluar", dia memberi perintah mutlak tanpa memandang wajah asistennya.

Thomas yang sejak tadi berdiam diri, dengan sigap melangkah mendekati Kingsley. 

"Mari saya antarkan, My Lord", tukasnya sopan

Tetapi Baron Kingsley tidak mengacuhkan ajakan Thomas. Pria tua yang keras hati itu tetap pada pendiriannya, ingin bertemu dengan Anna. Ditatapnya wajah Jhon lekat-lekat lalu dia bertanya lagi dengan nada yang lebih menekan. 

"Apa Anda akan bertindak sekejam ini Lord Hardy? Hanya untuk menemui cucu sendiri pun, Anda tidak akan mengijinkan aku? Apa Anda yakin ini yang diinginkan Rose? "

"Tidak usah membawa-bawa nama istriku dalam masalah ini. Ayah yang kejam seperti Anda, tidak berhak melakukan hal itu"

"Jawab saja pertanyaanku. Apa Anda yakin ini yang diinginkan Rose? "

Pertanyaan Kingsley yang lebih lugas sukses membuat Jhon terdiam. Walaupun Baron Kingsley bukan ayah mertua yang baik, namun tak bisa dipungkiri dia ayah yang baik bagi Rose, setidaknya sebelum istrinya itu memberontak dan menentang perjodohan yang dibuat beliau. 

Lagipula, sebagai seorang ayah tidak mungkin dia memisahkan Annabelle dari satu-satunya kakek yang tersisa, mengingat ayahnya sendiri, Viscount Hardy I sudah lama wafat.Dari sudut matanya dia memberi isyarat pada asistennya yang masih berdiri di sisi Baron Kingsley.

Thomas bergegas meninggalkan pasangan mertua dan menantu itu untuk menjemput Annabelle Hardy.

Sepeninggalnya, suasana benar-benar canggung, menit demi menit berjalan sangat panjang. Untuk mengusir kecanggungan itu, Jhon menuangkan dua gelas brandy, untuknya dan Kingsley. Pengaruh alkohol dari minuman membuat saraf yang sempat tegang mengendur kembali. 

"Lady Annabelle Hardy sudah tiba, My Lord", ucap penjaga pintu

Kedua pria dewasa itu segera menandaskan brandy yang tersisa dalam gelas mereka. Setelahnya seorang gadis belia berusia sekitar sepuluh tahun memasuki ruangan itu. Walau sedikit canggung, namun langkahnya tetap anggun dan terjaga.

Dalam hatinya Kingsley memuji sikap dan gesture tubuh cucunya yang sesuai dengan etika gadis bangsawan. 

"Selamat pagi Ayah", sapa gadis itu setelah melakukan curtsy pada Lord Hardy. 

"Sapalah kakekmu Anna, perkenalkan ini ayah dari ibumu, Baron Kingsley", Jhon menyahut singkat. 

Anna melakukan curtsy sekali lagi dan menyapa pria tua yang baru kali ini dilihatnya. 

"Grandpa"

Namun bangsawan Kingsley hanya terpaku. Matanya tampak berkaca-kaca sedangkan mulutnya bergetar seolah hendak mengucapkan sesuatu.

"Putriku..putriku Rose sudah kembali. Sini Nak, peluk ayah. Aku..aku sangat merindukanmu"

Wajah Annabelle sangat mirip ibunya, terutama mata hazel dan rambut ikalnya yang coklat gelap. Satu-satunya yang mirip dengan Hardy dari fitur wajah itu hanya dagunya yang tajam dan indah. 

Reaksi Baron tua di depannya membuat Anna bingung, hanya bisa terpaku di tempatnya. Melihat cucunya tidak merespon ucapannya, Kingsley jadi melupakan etika-nya dan menghambur memeluk cucunya. 

"Anakku Rose, maafkan ayahmu yang jahat. Anakku, maafkan aku", berulang-ulang kalimat ini menggema di aula yang hening itu, bagai mantra yang dibacakan para shaman. 

"Sir, tolong kendalikan diri Anda. Itu bukan Rose", tegur Jhon pada mertuanya. 

Namun baron terlalu larut dalam emosinya untuk mendengar peringatan itu. Dia terus menangis sambil meracau menyatakan permohonan maaf yang mengibakan hati. 

Setelah sekian lama, akhirnya beliau tenang lalu pelan-pelan menatap gadis muda di depannya. 

"Maafkan kakek cucuku" 

"Ya grandpa, tidak apa-apa"

Anna merasa heran dengan dirinya. Selama ini dia tahu jika dirinya bukan orang yang mudah akrab dengan orang asing, malahan Marie selalu menyebutnya gadis kaku dan tidak bisa berbasa-basi. Entah kenapa pelukan lelaki tua yang mengaku sebagai kakeknya ini membuat dia tenang, tidak merasa risih sama sekali, seolah-olah dia sudah kenal lama dengan beliau. 

"Terimakasih Lord Hardy sudah mengijinkan aku bertemu dengan cucuku. Kuharap Anda merawat dia dengan baik, kalau tidak aku pasti akan menjemputnya," Sifatnya yang dominan sudah terpatri, dalam situasi terdesak pun masih mengintimidasi pihak lawan, "Walaupun dia seorang Hardy, dalam tubuhnya juga mengalir darah Kingsley, aku bisa merasakannya" Ucapnya serius.

Lalu Baron Kingsley menunduk sampai tingginya sejajar dengan cucunya. Ditatapnya wajah Anna penuh cinta sembari berucap. 

"Hiduplah dengan baik cucuku, buat ibumu bangga padamu. Kakek akan datang lagi mengunjungimu"

Lalu Baron mengusap pelan air mata Anna yang entah sejak kapan sudah tumpah tanpa disadarinya. Setelah itu dia segera berdiri dan mengambil tongkatnya, meninggalkan kediaman Hardy tanpa menoleh lagi. 

Anna masih terpekur di posisinya semula, rasa aman yang didapatnya sekejap tadi mendadak sirna, digantikan oleh perasaan sungkan terhadap keberadaan Hardy. 

"Kembalilah belajar pada Ms. Emily" 

Teguran datar ayahnya menyentakkan dia kembali ke dunia nyata.

Anna menatap mata ayahnya, ingin mengatakan betapa dia merindukan sosok laki-laki hangat yang dulu. Namun Lord Hardy segera membuang pandang, tak mau lagi berlama-lama ada di ruangan yang sama dengan putrinya. 

Akhirnya Annabelle hanya bisa menunduk pasrah, meninggalkan ayahnya dalam dunianya sendiri. 

***

Malam itu Jhon minum-minum di sebuah bar eksklusif untuk kaum bangsawan dan orang-orang berpengaruh di county. Ucapan mertuanya yang mengatakan dia seorang pengecut serta tatapan terluka di mata Annabelle, mengejarnya bagai jerit kematian. 

Ditenggaknya lagi whisky yang sudah hampir habis digelasnya. Ini entah sudah gelas keberapa yang diisi Thomas untuknya. 

"Aku rasa sebaiknya kita pulang, My Lord. Terlalu banyak alkohol akan membuat asam lambung Anda semakin parah" 

"Oh, diamlah Thomas si perusak pesta. Kau ini seperti orangtua dari abad pertengahan, kaku dan membosankan"

"Hahaha, Anda benar My Lord. Sejak tadi wajah Thomas terlihat pucat seperti melihat hantu hanya karena minuman whisky ini", Mr. Edward pejabat sheriff lokal disini turut menambahkan

Ocehan Edward disambut gelak tawa riuh di meja panjang yang terdiri dari lima pria dewasa itu. Mereka merupakan kelompok tetap pengunjung bar yang juga dikelola oleh putra bangsawan ini. 

"Kudengar tadi pagi Kingsley tua mengunjungimu, benarkah itu My Lord?", tanya Philip Graham, keponakan Earl of Pembroke. 

"Ya Phil, dia memang datang berkunjung tadi pagi. Lucunya lagi, dia berniat mengambil Annabelle dariku padahal selama ini dia tak pernah peduli dengan putriku?", Jhon menenggak whisky-nya untuk kesekian kali

"Kenapa tidak kau berikan saja Jhon, daripada kau harus repot-repot membesarkan seorang anak kecil. Kuperingatkan kau kawan, membesarkan seorang anak kecil itu tidak mudah", Earl of Pembroke, bangsawan paling tua dalam kelompok ini memberi saran berdasarkan pengalamannya. 

"Saya tahu, My Lord tapi tak mungkin saya akan menyerahkan Anna pada kakeknya, dia satu-satunya yang kumiliki saat ini", lalu Jhon menandaskan isi gelasnya dan menambahkan, " Kalau dia pergi juga, apa lagi yang tersisa? Aku sudah kehilangan segalanya"

"Ya, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan, seperti dagingmu tercabik dari tulangmu. Sakitnya tidak tertahankan", balas Earl of Pembroke, Alex Graham. 

Setiap berbicara tentang kehilangan, mau tak mau ingatannya akan melayang pada putra satu-satunya, Collin Graham yang gugur dalam perang Krimea. Sejak kehilangan putranya, sang Earl lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berjudi dan mabuk-mabukan, tak peduli lagi dengan tugas utamanya di parlemen. 

Collin, sebagaimana para leluhurnya, adalah pemuda yang aktif dalam militer. Di antara rekan seusianya, karirnya yang paling menonjol. Jhon Hardy sendiri  salah satu rekan anaknya yang terjun dalam perang Krimea itu. Bedanya, Jhon kembali dalam keadaan hidup sedangkan putranya sudah menjadi mayat. Mau tak mau dia harus menyiapkan keponakannya, Philip untuk menjadi pewaris gelarnya kelak. 

"Mari bersulang untuk hari esok yang lebih baik", tukas Viscount Sybil untuk meredakan suasana muram di meja mereka. Dia merupakan salah satu bangsawan yang seumuran dengan Jhon. 

"Untuk hari esok yang lebih baik", sahut mereka serempak. 

Kelima pria itu melanjutkan perbincangan mereka tentang banyak hal, termasuk kebijakan sosial dan politik yang diterapkan penguasa baru mereka, Ratu Victoria. 

Hari sudah larut ketika Viscount Hardy kembali ke manor-nya. Hanya lampu di aula utama yang masih menyala terang, sementara itu para pelayan yang bertugas jaga malam hilir mudik di sekitar kastil sambil membawa lilin dan obor untuk penerangan.

Jhon Hardy segera menaiki tangga untuk menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Namun begitu dia mencapai anak tangga pertama, suara Anna terdengar menyapa dari belakang. 

"Papa, Anda sudah pulang? "

"Ya, mengapa masih belum tidur?",  matanya menyipit menatap putrinya yang keluar bertelanjang kaki dalam piama tidurnya.

Menyadari kesalahannya dalam berpakaian, Anna segera mendekap tubuh dengan kedua tangannya. 

"Maaf Papa, aku buru-buru ingin menemui Anda, sehingga tidak berpakaian dengan pantas" 

"Hmmm, lain kali jangan diulang. Boleh aku tidur sekarang?", tanyanya tak sabar

"Papa, Saya harap Anda bahagia selalu. Maafkan saya sudah menjadi penyebab kesedihan Anda. Kalau bisa memilih.. Aku..lebih baik mati menggantikan Mama", tukasnya tercekat

Ada rasa bersalah yang terbit di hati Jhon mendengar ucapan putrinya, namun cepat-cepat ditepisnya rasa itu. 

"Jangan konyol Annabelle Hardy, sekarang kembali ke kamarmu dan tidurlah"

"Tolong dengarkan saya Papa. Kalau sekiranya ini bisa membuat perasaan Anda lebih baik, kumohon temukan cinta yang baru. Menikahlah lagi Papa... "

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alexa
9.2
Alexandra Delacroix Adams, si tomboy dari klan ternama, dihukum menjadi Jamilah di Desa Pelem selama setahun. Ia harus menukar jaket kulitnya dengan kebaya sambil berjuang mengubah pola pikir kolot wanita desa tentang dominasi pria. Di sana, Alexa terlibat konflik sengit dengan Jenggala Buana Sagara, petani modern yang meremehkan kecerdasan gadis kota. Meski dituduh sebagai provokator, Alexa tetap teguh memperjuangkan kemandirian ekonomi bagi kaum perempuan.
Sampul Novel Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
7.9
Alana nyaris tewas setelah diserang tiga pemuda di Gunung Lawu hingga terperosok ke jurang. Beruntung, ia diselamatkan oleh Arga, mantan anggota Kopassus yang kini menjadi buronan dan bersembunyi di hutan. Di tengah pemulihan luka fisik dan traumanya, Alana terjebak dalam dilema antara keinginan balas dendam atau bangkit kembali. Hubungannya dengan Arga yang keras namun protektif pun kian intens, memicu emosi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sampul Novel Di Balik Topeng Bodyguard
9.1
Alice hamil anak Leo, bodyguard yang dianggap rendah oleh ayahnya. Meski ditentang, mereka menikah hingga Alice menyadari sifat asli Leo yang keji. Di tengah penderitaan, Alice mencurigai ibu tirinya, Deborah, sebagai pembunuh ibunya. Dibantu bodyguard lain bernama Deny, Alice berjuang mengungkap kebenaran kelam ini. Di balik misi tersebut, identitas asli Deny dan rahasia cinta masa lalu mulai terkuak. Akankah Alice berhasil membongkar topeng mereka?
Sampul Novel Hilang Di Bunian
9.2
Lima sahabat terjebak dalam situasi mengerikan saat terdampar di pulau tak berpenghuni. Niat awal untuk berpetualang seketika berubah menjadi mimpi buruk penuh misteri. Berbagai ancaman mematikan mulai mengintai dari kegelapan, memaksa mereka menghadapi serangkaian teror yang datang silih berganti tanpa henti. Di tengah keputusasaan, mampukah mereka bertahan hidup dan menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk ini sebelum bahaya benar-benar melenyapkan mereka?
Sampul Novel Keabadian yang Tertunda Dendam
8.2
Dua saudari kembar, Wulan dan Mulan, akhirnya turun gunung setelah berlatih selama 300 tahun di bawah bimbingan Master Sun. Selain mengejar keabadian, mereka mengemban misi menemukan ayah mereka yang ternyata masih hidup. Namun, pertemuan itu mengungkap rahasia kelam masa lalu. Kini mereka terjebak dilema besar: membalaskan dendam sang ibu demi meraih status abadi, atau justru melepaskan ambisi tersebut demi hidup sebagai manusia biasa di dunia fana.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Seorang pria terjebak dalam kengerian Hutan Gondoriyo setelah tersesat saat menjelajah. Di tengah fenomena ghaib kendaraan yang raib, ia bertemu pasangan lansia misterius di sebuah pondok terpencil yang memberinya peringatan. Meski berhasil pulang, rasa penasaran membawanya kembali, namun hutan itu seolah lenyap. Hubungan gelap antara kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terkuak, memaksanya mempertaruhkan nyawa demi mengungkap kebenaran yang menghantui.