Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Fate of A Wallflower

The Fate of A Wallflower

Lady Annabelle Hardy terjepit dalam nasib malang di Inggris abad ke-18. Setelah pertunangannya diputus sepihak demi adik tirinya, Anna kini menghadapi ancaman maut dari ibu tirinya, Sophie, yang haus harta. Di tengah konspirasi pembunuhan yang mengintai, sebuah suara dingin memperingatkan bahwa ia takkan bisa lari. Mampukah Anna bangkit dari pengkhianatan ini dan mengungkap misteri yang mengancam nyawanya sebelum semuanya terlambat?
Bab
Bagikan

Bab 3

Clayton Hall

James Howard, Marquess of Arlington IV, terpekur menatap langit-langit kamarnya yang dilukis dengan gambar-gambar tubuh manusia menyerupai karya Michelangelo yang termasyhur itu. Mengungkapkan dosa masa lalu memang selalu sulit meski pada putramu sendiri. 

Namun begitu, tak banyak pilihan yang tersisa untuknya. Dia bisa merasakan malaikat maut itu sudah sangat dekat, bahkan hembusan napasnya yang dingin serasa meniup tengkuknya, membuat tubuh ringkih itu makin menggigil. 

"Ayah, katakan padaku apa rahasia yang hendak Anda ungkapkan?", tanya George Howard putra satu-satunya yang sebentar lagi akan mewarisi gelarnya. 

"George, Anakku ini menyangkut dosa masa laluku. Kuharap kau bisa memaafkan ayahmu yang sekarat ini. Sebenarnya Nak,..sebenarnya kau punya saudara tiri yang usianya lebih tua tiga tahun darimu" 

"Maksud ayah?"

"Ya, aku punya seorang putra tidak sah. Waktu itu aku tidak sabar lagi, karena ibumu tak kunjung hamil. Di malam yang kelam itu aku mengunjungi rumah hiburan madame Cecil bersama rekan-rekanku. Awalnya hanya ingin minum sedikit karena frustasi atas desakan nenekmu yang memintaku segera punya pewaris, namun siapa sangka aku malah tergoda dengan salah satu penari yang bekerja disana hingga..hingga akhirnya dia hamil anakku", tambahnya terbata-bata. 

George berusaha keras mencerna ucapan ayahnya. Tak sekalipun terbersit di benaknya jika ayah yang amat dikaguminya ini ternyata seorang pezina yang menyedihkan. Tetapi apa lagi yang bisa dia katakan, tak mungkin dimarahinya pria tua yang sekarat.

Dia menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosi yang mulai menguasai pikiran naif-nya, yang selalu menjunjung tinggi kesetiaan.

"Jadi, dimana penari ini tinggal sekarang?", selidik George sambil menatap ayahnya

"Di sebuah rumah sederhana yang kubelikan untuknya, tak begitu jauh dari lahan peternakan kita"

"Apakah ibu selama ini tahu jika Anda memelihara mistress di luar sana?", ada penekanan tersendiri pada kata 'memelihara'. Dari dulu dia selalu membenci wanita yang mengincar pria-pria kaya untuk bertahan hidup. 

"Ya, ibumu sudah tahu sejak awal George", balas sang marquess lemah

James tidak pernah sanggup menyembunyikan apapun dari istrinya, Mary Collins. Kejujurannya ini pula yang membuat terciptanya duri tajam dalam pernikahan mereka yang bahagia. 

Marchioness terdahulu merupakan perempuan yang terkenal pada masa debut-nya. Bukan apa-apa, Mary selain cantik juga cerdas dan baik hati. Namun begitu, dibalik sikap lembutnya, dia juga perempuan keras hati yang tidak sudi berbagi kasih dengan perempuan lain.

Makanya begitu tahu suaminya memiliki anak dari perempuan lain, tak menunggu lama dia langsung bersiap mengajukan gugatan cerai walau itu akan jadi skandal yang memalukan. 

Sayangnya, saat itu pula ketahuan jika dia sedang hamil. Demi masa depan putranya, Mary menahan diri tetap hidup bersama Marquess Howard namun dia tidak pernah sudi lagi menatap wajah suaminya hingga akhir hayatnya sepuluh tahun silam.

"Jadi apa yang hendak Ayah lakukan terhadap perempuan itu dan anaknya?"

"Ayah hanya mau kalian hidup akur. Mungkin tidak bisa seperti saudara kandung pada umumnya tapi kumohon jangan membencinya, bagaimanapun kalian berdua adalah anakku", mata pria tua itu memelas menatap putranya. 

"Lantas kalau aku tidak mau bagaimana? Tak mungkin Ayah mengharapkan aku bermurah hati pada orang yang sudah membuat ibuku patah hati bukan?"

Kemarahan terpancar jelas dari wajah tampan George. Pantas saja selama ini senyum ibunya terlihat dipaksakan, tatapan matanya selalu sendu seolah ada beban berat yang menggelayut di pundaknya. Jangan-jangan beban pikiran ini pula yang membuatnya meninggal di usia muda, hanya empat puluh dua tahun.

"Kalau Kau memang tidak sudi, tak ada yang dapat kukatakan lagi George. Bagaimanapun, sebentar lagi aku pasti akan meninggal, setidaknya kejujuran adalah hal terkecil yang bisa kulakukan menjelang kematianku"

Uhuk..uhuk..uhuk

Batuknya semakin hebat, sampai-sampai George sendiri ikut kesulitan menarik napas hanya dengan mendengarnya. 

Dia segera membantu ayahnya agar berbaring dengan posisi yang lebih nyaman sementara dokter pribadi keluarga mereka juga dengan cekatan memberikan segelas teh hangat dan obat yang sebetulnya tidak lagi berguna bagi James. 

Keadaan ayahnya yang makin kepayahan membuat George berubah pikiran. Walaupun dia masih murka dicobanya untuk berpikir dengan jernih. 

"Dimana putra tidak sah Anda itu sekarang?"

Sang Marquess memberi isyarat pada Edgar, asisten pribadinya agar segera membawa masuk seseorang yang sudah menunggu di luar sejak tadi. Dia memang sudah mempersiapkan kedatangan putranya itu hari ini. 

Tak lama Edgar kembali dengan seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan Marquess of Arlington waktu muda dulu. Meski George enggan, mau tak mau harus diakui kalau pria yang baru masuk ini jauh lebih mirip dengan ayahnya dibanding dirinya. Wajah George lebih mirip keluarga dari pihak ibunya. 

"Baik George, perkenalkan ini saudaramu yang kuceritakan barusan, David Howard"

Dengan susah payah, James Howard menoleh pada David lalu mengulangi monolog-nya. 

"David, ini saudaramu yang lebih muda namanya George Howard"

Kedua pria dewasa itu saling tatap satu sama lain, mencoba menilai lawan mereka masing-masing. Mata George menyipit menatap kakaknya yang pirang dan jangkung, ada rasa akrab yang mencebik di hatinya.

Andai saja David dilahirkan dari rahim ibunya, George pasti sangat menyukainya. Tubuhnya kekar dan bidang, sorot matanya tajam dan berkharisma, persis sang Marquess. Walau bukan dibesarkan dikalangan bangsawan, namun aura yang mulia melingkupi seluruh tubuhnya. 

Sementara dia sendiri sejak kecil selalu lemah dan sakit-sakitan, mungkin karena ibunya dalam keadaan sakit hati waktu mengandung. Dokter pribadi keluarga mereka bahkan sudah mendiagnosis jantung George tidak kuat untuk melakukan aktifitas fisik yang berat. 

"Ehem"

Deheman James menyadarkan keduanya dari aksi saling menilai itu. Segera mereka mengangguk satu sama lain sebagai bentuk sapaan

"Mendekatlah kemari Anak-anak, agar aku bisa berpamitan dengan layak sebelum menemui ibu kalian", cetus James sambil merentangkan kedua tangannya. 

Kedua putra Marquess Howard mendekat, George di sebelah kanan sedangkan David di sebelah kiri. 

"David anakku, mungkin ini sudah terlambat namun aku harus minta maaf padamu. Sejak kecil sampai sekarang aku hampir tak pernah ada dalam kehidupanmu. Kau selalu jadi aib yang harus ditutup-tutupi karena gelar dan status sosialku, padahal lahir ke dunia ini bukanlah inginmu"

James Howard terisak dalam kesedihan. Mendekati ajal yang sudah didepan mata, manusia memang selalu jadi rapuh.

"Namun David dalam hatiku yang terdalam, aku tidak pernah membencimu. Malahan, aku selalu berandai-andai jika sekiranya aku bukan pewaris, mungkin aku tak perlu sungkan untuk mengurus dirimu dengan baik. Kumohon maafkanlah ayahmu yang pengecut ini Nak"

"Ya, Sir" Balas David singkat. 

Tak ada hal yang dapat diucapkan pada manusia yang sudah di ambang kematian. Walau hatinya tak bisa menerima takdir sebagai anak haram seorang bangsawan, apa lagi yang bisa dilakukannya? 

Selesai dengan David, marquess menoleh ke sebelah kanannya, menatap George putra termudanya yang tertunduk lesu. 

"Anakku George ayah juga minta maaf padamu. Meski ayah berusaha memberikan segala yang terbaik bagimu, namun pada akhirnya aku harus mengecewakanmu. Aku tidak bisa menjadi ayah yang sempurna untukmu. George, jadilah penerusku yang lebih baik dan mengabdilah pada negara kita dan her majesty"

Selesai dengan permintaan maafnya, James memegang kedua tangan anaknya dan menarik mereka lebih dekat padanya. 

"Permintaan terakhirku untuk kalian berdua, hiduplah dengan damai, saling dukung sesama saudara dan jangan ada jurang di antara kalian. Mengenai wasiat dan pembagian warisan, pengacara keluarga kita akan membacakannya setelah kematianku"

Setelah mengucapkan kata-kata itu, James meminta mereka untuk merebahkan dirinya. Lalu dia meletakkan tangan di depan dadanya sambil tersenyum. Sebentar lagi penantiannya akan berakhir, dia bisa melihat Mary di ujung sana sedang menunggunya. Binar mata itu masih secantik dulu, waktu pertama kali mereka bertemu. 

"Sekarang, keluarlah kalian dari kamarku. Pasti banyak yang ingin kalian bicarakan, biarkan aku beristirahat sebentar", perintahnya tegas.

***

George berdiri di ruang perpustakaan keluarganya, menatap kejauhan dari jendela model perancis yang besar itu. Sebelah tangannya yang putih pucat di masukkan dalam saku celananya. 

Sementara itu David yang duduk di salah satu kursi disana, takjub menatap deretan buku yang memenuhi ruangan. Buku bukanlah teman terbaik bagi pria berjiwa bebas sepertinya, yang hidup liar di pasaran bersama para begundal lain. Dia merasa kasihan dengan masa muda George yang harus berkutat dengan buku setiap hari. 

Selain buku, ada juga dua buah pedang yang diletakkan secara bersilang di dinding. Jika ditilik dari sarungnya yang masih baru, pastilah pedang itu pajangan semata, hampir tidak pernah digunakan walau sekedar berlatih. Tangan George yang lembut dan pucat sudah cukup menceritakan segalanya. 

"Katakan padaku apa maksud kedatanganmu kemari?", tanya George singkat

"Tidak ada maksud apapun, ayahmu yang tiba-tiba memintaku datang", David menyahut tak acuh

"Ayahmu? Hmmm, menarik sekali. Untung Kau cukup sadar diri untuk tidak menganggap dirimu bagian dari keluargaku. Lantas apa rencanamu selanjutnya?"

"Tentu saja segera angkat kaki dari sini begitu pria tua itu meregang nyawa", sahut David kasar

Tanpa basa-basi dia meregangkan tubuh lalu merebahkan diri di kursi panjang yang ada dalam ruangan itu. George hanya bisa menggerutu dalam hatinya melihat sikap David yang kurang ajar. Lagipula apa yang bisa dia harapkan dari anak tidak sah yang hidup liar di antara jelata. 

"Bagus kalau Kau cukup tahu diri untuk tidak menunjukkan dirimu di hadapan khalayak ramai. Bagaimanapun 'sesuatu' seperti dirimu ini memang bukan hal yang pantas untuk dipamerkan dalam pergaulan manusia beradab"

"Ya, tentu saja. Para bangsawan sepertimu selalu memaksakan diri terlihat sempurna padahal kenyataannya kelakuan kalian tak lebih baik dari rakyat jelata. Setidaknya kaum jelata seperti kami ini mau mengakui kesalahan, tidak seperti kalian yang sibuk menutupinya, sungguh munafik "

Jawaban David membuat kening George mengernyit jijik. Pria di depannya ini selain tidak tahu etika juga bermulut lancang dan kasar. 

"Berani sekali Kau mengatai kami munafik? Ada bukti yang bisa menguatkan argumenmu? Jangan sembarangan bicara", dia menatap David tajam dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Alisnya yang tebal dan gelap saling bertaut. 

"Buktinya? Hah, ada banyak bangsawan yang punya anak tidak sah di luar sana. Sebagian malah rela untuk mengadopsi ulang anak tersebut demi menutupi aib. Lagipula kenapa harus repot-repot mencari bukti? Pria sekarat di ruang sana itu bisa menjadi bukti yang nyata, iya kan?", jawabannya yang kasar dibarengi dengan mimik wajah menyebalkan. 

"Kurang ajar Kau, dasar anak ha-ram bajingan. Akan kutonjok mukamu yang menyebalkan itu"

George bergegas menggulung lengan bajunya, mendadak mengayunkan tinju pada David yang sedang rebahan santai.

Sekali, dua kali, pukulan itu telak mengenai mata dan rahang David, membuatnya jatuh tersungkur di lantai yang dingin. 

David mengusap sudut bibir dan pelipisnya yang berdarah. Matanya memicing menatap George yang dipenuhi amarah. 

"Apa Kau serius ingin mengajakku berduel George? Ketika ayahmu sedang sekarat?"

"Kenapa tidak? Orang barbar sepertimu layak diberi pelajaran. Ayolah, apa kau takut padaku?", dia mendengus kesal, menatap David angkuh. 

"Baik, kalau itu keinginanmu"

David bergegas bangkit lalu melayangkan tinjunya pada George, ternyata berhasil ditangkisnya. Tak menyerah, David langsung memberikan hook andalannya yang tepat mengenai wajah adiknya, disusul dengan jab cepat yang sukses membuat George tersungkur tak berdaya.

Pria terpelajar seperti George, yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan buku dan pulpen tentu bukan lawan seimbang bagi David yang mengkhatamkan  masa mudanya di pasaran. 

"Mari berhenti sebelum penyakit ayahmu makin parah, George", David mengulurkan tangannya untuk membantu George berdiri

"Cuih, jauhkan tangan kotormu dariku. Kau pikir dengan mengulurkan tangan begini, aku bisa menyukaimu? Jangan harap!", serunya murka

"Wow, baiklah Tuan bangsawan yang mulia. Silakan berdiri supaya kita segera melanjutkan pertarungan ini", balasnya dengan senyuman mengejek

Susah payah George berusaha bangkit, namun tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Seluruh tulang dan ototnya terasa sakit, yang paling sakit dari semua tentu saja harga dirinya yang terinjak-injak.

Sebelum mereka sempat melanjutkan duel yang tertunda, Lucas asisten pribadi George masuk tergesa-gesa sampai melupakan etikanya. 

"My lord, My lord, Anda harus bergegas sekarang. Lord Marquess sedang sekarat"

Keterangan:

Clayton Hall = Kediaman bangsawan Howard

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alexa
9.2
Alexandra Delacroix Adams, si tomboy dari klan ternama, dihukum menjadi Jamilah di Desa Pelem selama setahun. Ia harus menukar jaket kulitnya dengan kebaya sambil berjuang mengubah pola pikir kolot wanita desa tentang dominasi pria. Di sana, Alexa terlibat konflik sengit dengan Jenggala Buana Sagara, petani modern yang meremehkan kecerdasan gadis kota. Meski dituduh sebagai provokator, Alexa tetap teguh memperjuangkan kemandirian ekonomi bagi kaum perempuan.
Sampul Novel Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
7.9
Alana nyaris tewas setelah diserang tiga pemuda di Gunung Lawu hingga terperosok ke jurang. Beruntung, ia diselamatkan oleh Arga, mantan anggota Kopassus yang kini menjadi buronan dan bersembunyi di hutan. Di tengah pemulihan luka fisik dan traumanya, Alana terjebak dalam dilema antara keinginan balas dendam atau bangkit kembali. Hubungannya dengan Arga yang keras namun protektif pun kian intens, memicu emosi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sampul Novel Di Balik Topeng Bodyguard
9.1
Alice hamil anak Leo, bodyguard yang dianggap rendah oleh ayahnya. Meski ditentang, mereka menikah hingga Alice menyadari sifat asli Leo yang keji. Di tengah penderitaan, Alice mencurigai ibu tirinya, Deborah, sebagai pembunuh ibunya. Dibantu bodyguard lain bernama Deny, Alice berjuang mengungkap kebenaran kelam ini. Di balik misi tersebut, identitas asli Deny dan rahasia cinta masa lalu mulai terkuak. Akankah Alice berhasil membongkar topeng mereka?
Sampul Novel Hilang Di Bunian
9.2
Lima sahabat terjebak dalam situasi mengerikan saat terdampar di pulau tak berpenghuni. Niat awal untuk berpetualang seketika berubah menjadi mimpi buruk penuh misteri. Berbagai ancaman mematikan mulai mengintai dari kegelapan, memaksa mereka menghadapi serangkaian teror yang datang silih berganti tanpa henti. Di tengah keputusasaan, mampukah mereka bertahan hidup dan menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk ini sebelum bahaya benar-benar melenyapkan mereka?
Sampul Novel Keabadian yang Tertunda Dendam
8.2
Dua saudari kembar, Wulan dan Mulan, akhirnya turun gunung setelah berlatih selama 300 tahun di bawah bimbingan Master Sun. Selain mengejar keabadian, mereka mengemban misi menemukan ayah mereka yang ternyata masih hidup. Namun, pertemuan itu mengungkap rahasia kelam masa lalu. Kini mereka terjebak dilema besar: membalaskan dendam sang ibu demi meraih status abadi, atau justru melepaskan ambisi tersebut demi hidup sebagai manusia biasa di dunia fana.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Seorang pria terjebak dalam kengerian Hutan Gondoriyo setelah tersesat saat menjelajah. Di tengah fenomena ghaib kendaraan yang raib, ia bertemu pasangan lansia misterius di sebuah pondok terpencil yang memberinya peringatan. Meski berhasil pulang, rasa penasaran membawanya kembali, namun hutan itu seolah lenyap. Hubungan gelap antara kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terkuak, memaksanya mempertaruhkan nyawa demi mengungkap kebenaran yang menghantui.