Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Arrogant Boss

The Arrogant Boss

Austin O'pry, CEO angkuh yang memandang rendah wanita, terobsesi menaklukkan Aurora Wihelmina. Meski awalnya berniat menjadikan karyawan polos itu sekadar pemuas nafsu, penolakan Aurora justru memicu rasa penasaran Austin. Di tengah konflik batin, Aurora terjebak rahasia besar bahwa ia tunangan pengawal setia Austin. Saat cinta mulai tumbuh dan masa lalu lewat sosok Grace kembali mengusik, mampukah kejujuran menyelamatkan hubungan mereka yang penuh bara?
Bab
Bagikan

Bab 2

Alarm ponsel blackberry terus berteriak tidak lelah membangunkan sosok wanita bertubuh mungil tengah tersingkap piyama ia kenakkan. Perut rata, kulit putih tersibak dengan mulut mangap terbuka dan beberapa berkas kantor berserak di lantai kamar.

Astaga!

Aurora sudah telat ke kantor, sial sekali hari ini. Ini semua karena di karenakan akhir bulan mau tutup buku mau tidak mau sebagian pekerjaan kantor ia bawa pulang. Dengan gerakkan seribu bayang, bagai ninja hatori akhirnya berhasil ia rapikan kembali.

Berlari tidak peduli pejalan kaki, menunggu bus datang. Bus oh Bus ke manakah engkau? Aurora terus mengedarkan pandangan menatap kedatangan bus roda banyak tersebut. Peluh bercucuran, aroma badan mulai tidak sedap, rambut membasah kini acak hingga napas terembus tidak teratur.

Aurora meringis sedih menunggu bus, kenapa disaat kritis begini semua malah semakin runyam? Baru beberapa minggu diterima di perusahaan ternama, O'pry Enterprises Holdings.

Perusahaan itu adalah perusahaan yang diidamkan semua orang, Aurora begitu beruntung dan bersyukur bisa bekerja di perusahaan besar. Semua juga berkat kampusnya dulu memberikan kesempatan berkecimpung. Tidak hanya ternama bahkan karyawan semua sangat baik, ramah dan intelektual yang sangat bagus.

Menatap jam ponsel, sudah setengah jam lamanya telat ke kantor. Aurora mulai gelisah tidak tenang. Sampai akhirnya Bus yang ditunggu menunjukkan fisik.

Dengan sigap menerobos masuk ke bus padahal belum berhenti, menyamankan tubuh senyaman mungkin. Menghela napas panjang, akhirnya ia bisa melewati masa sulit meski ia tidak tahu akan bagaimana nanti di kantor.

Memakan waktu beberapa jam, bus berhenti tepat di depan perusahaan. Aurora berjalan cepat setengah berlari. Sampai ia tidak sempat mengucapkan terimakasih pada pak sopir setelah memberikan ongkos tadi sanking kalang kabut.

Aurora terus mempercepat langkah menuju ruangan kantor, langkah terburu menuju ruang kerja. Ia menatap para team satu ruangan sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Tumben semua serius, terkena siraman rohani dari siapa?

Aurora duduk santai, menghidupkan komputer lalu memberikan senyum cantik untuk Chika.

"Duh, hampir aja. Selamat pagi Chika-teman seperjanganku," ucap Auora lega sembari menatap Chika yang berwajah kaku.

"Kau nggak lihat ini udah jam berapa?" tanya Chika pelan.

"Iya aku tahu, aku telat. Dan, aku juga ngelihat kok temen kita pada sibuk nggak seperti biasanya." Aurora berkata sekenanya.

"Ehemm —" deheman suara bass seksi sangat jelas terdengar.

Seketika Chika diam dan tertunduk, Aurora memendarkan pandangan menatapi karyawan di ruangan ini malah menatap Aurora balik-bergantian. Ada apa sih sebenarnya? Tatapan aneh mereka sangat membagongkan. Benar-benar tidak mengerti sikap mereka.

"Kenapa semua mata menatapiku Chika?" tanyanya pelan.

"Mendadak sekali, aku juga bingung tapi yang pasti saat ini direktur utama atau lebih tepatnya pemilik perusahaan kita ini datang. Dan, saat ini sedang menatapmu." Chika berkata pelan hampir tidak terdengar.

Spontan mata Aurora mencari pemilik perusahaan ini. Mata Auora terhenti setelah ia mendapati pria bertubuh sempurna itu. Yang sangat terpusat adalah pupil mata berwarna biru mencolok. Mulut menganga lebar.

Jadi, dia pemilik perusahaan ini? Aurora diam termangu sesaat. Mata mereka saling beradu penuh tuntutan jawaban. Betapa tampan, sempurna dan Auora tidak mampu memalingkan wajah beberapa saat.

Hingga Chika menyenggol pelan, Aurora pun tertunduk tidak berdaya. Tubuhnya tidak mampu bergerak atau berkata sesuatu. Meyakinkan diri, akan minta maaf kalau memang itu diharuskan. Ia dongakkan kembali wajah frustasi dan pacuan jantung hampir saja copot menatap tubuh sensual yang sudah di depan meja. Aurora menelan susah payah salivanya.

"Kau ... sudah berapa lama bekerja?" tanyanya dengan tatapan mematikan.

"A—anu Pak, ba—baru dua minggu," ucap Aurora gugup.

"Lalu apa bagianmu?"

"S-saya sebagai Assisten Staff Bapak Anton Suhendra," ujar Auora seadanya.

"Siapa yang menerimamu bekerja di sini?"

"Saya diterima dari kampus Pak. Berkat kampus terbaikku," ucap Auora sambil tersenyum bangga.

Lalu pandangan menuju Thom, ia menatap mereka. Thom tampak takut dan gugup tapi siap menuruti perintah pria beraroma woody soft dan khas.

"Kemarilah," ucapnya elegan.

"Ya Pak," Thom dengan sigap menujunya.

"Saya ingin kamu memanggilkan Pak Anton keruangan ini. Segera!" Perintahnya tanpa menatap Thom tapi menatap Aurora setajam silet.

Auora tidak tahu apa maksud tujuan ia mengatakan seperti itu. Aurora mulai gusar, cemas dan tidak tenang. Tapi, berharap semoga ini tidak terkait dengan masa depan di perusahaan ini.

Tak lama menunggu, Thom hadir bersama Pak Anton Suhendra.

"Selamat pagi menjelang siang Pak Austin. Mohon maaf Pak ... Bapak memanggil saya?"

"Ya," jawabnya singkat.

"Apakah ada yang bisa saya bantu Pak?"

"Hmm —" hanya gumaman terdengar.

Pria itu mendongakkan wajah, "Dia Assistenmu?" Kali ini suaranya terdengar Arogant.

"Aurora Wihelmina Pak? Ya, dia Assiten saya Pak."

"Mulai besok saya tidak mau dia ada di perusahaan ini lagi. Pecat dia, carikan penggantinya salah satu karyawan dari sini. Katakan pada pihak kampus, dia orang terakhir di terima. Saya memblacklist daftar pilihan dari kampusnya," ucapnya dengan nada penuh penekanan.

"Apa pak?" tanya Auora spontan, nada sedikit meninggi.

Pria itu memasukkan tangan di saku celana stelan jas dan dia pergi begitu saja, tidak perduli bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan Aurora dahulu. Aurora yang syok tidak tahu harus apa. Mulut terbuka, terkatup dan ingin menghantam kepalanya dengan balok.

Auora berdiri dan menatapi kepergiannya yang membuat ingin menggila.

"Pak, apa aku baru saja di pecat?" tanya Auora tidak percaya.

"Apa kesalahan yang kamu lakukan?" Thom tampak sedih.

Thom dan Chika berwajah memelas.

"Hari ini, hari yang sial bagiku Pak. Aku terlambat bahkan Bus langgananku telat datang Pak."

"Maafkan aku Rora."

"Bapak akan memecat saya?" tanya Aurora memasang wajah sedih.

"Bapak juga tidak tahu harus apa, kamu adalah lulusan terbaik dari kampusmu tapi kamu tahukan. Baginya kamu sudah melanggar aturan perusahaan ini."

"Tapi Pak— saya nggak bisa keluar, impian saya masuk di perusahaan ini sangatlah besar Pak. Masa iya, hanya karena kesalahan kecil aku dipecat?" Aurora meringis kesal.

"Bapak juga tidak tahu kalau CEO kita akan datang mendadak tanpa pemberitahuan dahulu."

"Lalu, aku harus apa dong Pak?"

"Kamu sih, kok tumben amat telat?" tanya Chika mengembuskan napas sesak.

"Ya aku juga mana tahu kalau keadaannya seperti ini kan."

"Bapak juga bingung sekarang, tapi apa boleh buat. Itu adalah keputusannya." Pak Anton berkata lemah.

"Tap—tapi Pak. Nggak mungkin dong." Aurora masih bersikeras.

"Mmhh —" Chika tampak berpikir dengan gumaman.

Aurora menatap Pak Anton, Thom dan Chika bergantian. Mereka juga sepertinya ikut memikirkan nasib Aurora sudah di ujung tanduk.

"Bagaimana kalau minta maaf langsung?" Chika menyarankan dengan senyum lebarnya.

"A—aapa?" Aurora memang memikirkan itu tadi, minta maaf.

"Sepertinya ide Chika ada benarnya, cobalah minta maaf sepulang bekerja. Kami mendoakan semoga berhasil," timpal Pak Anton dengan wajah sumringah.

"Lagian kenapa coba harus ngomong kasar seperti tadi? Nggak nanya dulu gitu aku tuh telat karena tugas menumpuk di perusahaannya ini. Sudah sombong, arogant, dan suka memerintah sesukanya." Aurora mengoceh sembari memasang mimik wajah menahan amarah.

"Yaudah gih, demi pekerjaan yang sangat kamu dambakan." Chika memberi semangat.

Aurora mengembuskan napas sesak. Lalu, mengangguk lemah dengan keputusan itu, Semoga saja tanda minta maaf diterima.

Setelah bekerja, ia menatap jam dinding ruangan terus menerus hingga menunjukkan sudah pukul enam sore. Chika bergegas pulang lebih dahulu, perlahan teman kantor lain juga berpamitan pulang.

"Aurora, perbanyak berdoa dan tolong katakan jika kamu di dekatnya. Dia sudah memikatku," Chika berkata setengah berkhayal.

Auora hanya memutar bola mata tidak tertarik, ia mendengus tidak tertarik. Dan, Chika berlalu. Ia memutuskan menunggunya di ruang tunggu karena ruangan ini mengarah pintu utama direktur untuk keluar ruangan.

Bip. Suara pesan ponsel berbunyi, lalu ia menatap pesan singkat itu.

"Selamat malam gadis yang selalu kurindukan. Mau ketemu nggak?"

Pengirimnya tunangan Aurora. Apa dia sudah kembali dari Belanda? Ia membentuk bibir ke atas. Betapa bahagia, belum sempat membalas hentakan sepatu itu membuat Aurora mau tak mau menatapnya.

Pria itu menjadi pencarian favoritenya detik ini.

Ia mengatur penampilan setelah menatapnya keluar dari lift khusus dan dia berjalan elegan menuju pintu keluar. Menarik napas panjang, semua akan baik saja, harap Aurora terus berdoa.

Aurora mempercepat langkah, di saat bersamaan sang tunangan juga menelphone. Aurora terhenti sejenak, ingin mengangkat tapi menemui atasan jauh lebih penting demi masa depan.

Syit!

Ia mengembuskan napas berat yang terasa sulit keluar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta yang Membara: Tidak Bisa Melupakanmu
8.1
Diana, seorang yatim piatu, berhasil menikahi pria paling berkuasa di kota meski tanpa landasan cinta. Setelah tiga tahun, kehamilannya justru disambut dengan surat perceraian karena kesalahpahaman tentang kesetiaan masing-masing. Saat Diana bersiap pergi, sang suami justru berubah pikiran dan menyatakan perasaan aslinya. Kini Diana terjebak dalam dilema antara benci dan kasih sayang. Haruskah ia bertahan demi masa depan anaknya atau pergi selamanya?
Sampul Novel Dijodohkan dengan CEO tanpa Hati
8.5
Satu bulan membina rumah tangga, Ana Puspita Ningsih belum pernah disentuh oleh Louis Kusnadi. Pernikahan paksa ini mempertemukan dua kepribadian yang bertolak belakang. Ana dikenal sebagai wanita penyantun yang tulus membantu kaum papa, sementara Louis adalah CEO arogan yang gemar menindas orang lain. Di balik kekayaannya, Louis sangat pelit dan kerap menyakiti hati istrinya. Ana kini harus bertahan menghadapi sikap suaminya yang sedingin es dan penuh amarah.
Sampul Novel Kejutan Untuk Pengkhianat Cinta
9.4
Adele mengambil keputusan nekat untuk tetap melangsungkan pernikahan yang dijadwalkan setengah bulan lagi, tetapi dengan satu perubahan besar: mengganti calon suaminya. Tanpa ragu, ia meminta staf pernikahan merahasiakan rencana ini dari Darren, pasangannya yang sibuk. Bagi Adele, pergantian pengantin di menit-menit terakhir ini adalah sebuah kejutan sekaligus hadiah pemungkas yang ia siapkan khusus untuk membalas pengkhianatan sang kekasih.
Sampul Novel Ketika Cinta Telah Mati dan Harapan Pupus
9.4
Saat mendaki gunung, Chloe Winata mengalami hipotermia hingga penyakit jantungnya kambuh. Namun, dua sahabat masa kecilnya justru mengabaikan kondisinya demi melindungi Lucia, putri sopir mereka. Alih-alih menolong, mereka malah menuduh Chloe cemburu. Setelah diselamatkan oleh tim SAR dan dirawat di rumah sakit selama seminggu tanpa dijenguk, Chloe mengetahui bahwa mereka justru sibuk merayakan ulang tahun Lucia. Sadar persahabatan belasan tahunnya sia-sia, Chloe memutuskan menyerah dan menyetujui perjodohan dengan putra Keluarga Januar.
Sampul Novel Menjadi Istri Dadakan CEO Posesif
9.1
Amber kerap dipandang sebelah mata sebagai anak haram yang tidak diakui keluarganya. Nasibnya kian rumit saat dipaksa menjadi istri dadakan bagi Reyvan, CEO angkuh nan dingin. Reyvan memberi peringatan keras agar Amber tidak jatuh cinta padanya dan menetapkan batasan waktu sebelum mereka bercerai. Namun, kehidupan pernikahan kontrak ini berubah di luar kendali. Sang CEO yang awalnya menolak kehadiran Amber justru berbalik sangat bergantung dan tidak bisa hidup tanpa wanita itu di sisinya.
Sampul Novel Om Bule Menjadi Kekasihku
8.4
Ela, karyawan swasta, menikmati liburan 12 hari di Luzern dan bertemu Ali, pengusaha properti asal Libanon. Kedekatan mereka memicu skandal saat paparazzi menuduh Ela sebagai orang ketiga dalam hubungan Ali dengan artis Nihan. Di luar dugaan, Ali justru mengakui Ela sebagai kekasihnya saat konferensi pers. Meski Ela ragu karena perbedaan negara, Ali membuktikan keseriusannya dengan menyusul ke Jakarta demi memperjuangkan cinta mereka berdua.