Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Arrogant Boss

The Arrogant Boss

Austin O'pry, CEO angkuh yang memandang rendah wanita, terobsesi menaklukkan Aurora Wihelmina. Meski awalnya berniat menjadikan karyawan polos itu sekadar pemuas nafsu, penolakan Aurora justru memicu rasa penasaran Austin. Di tengah konflik batin, Aurora terjebak rahasia besar bahwa ia tunangan pengawal setia Austin. Saat cinta mulai tumbuh dan masa lalu lewat sosok Grace kembali mengusik, mampukah kejujuran menyelamatkan hubungan mereka yang penuh bara?
Bab
Bagikan

Bab 3

Aurora memilih mengejar sang atasan, memasukkan ponsel blackberry ke dalam tas totebag.

"Pak Austin," Aurora memanggil sopan tepat dari belakang.

Austin berhasil berhenti, berusaha tidak akan menghentikan aksi nekat ini lalu ia berjalan menuju Austin dan berhadapan dengannya begitu intens. Aroma maskulin tubuh mulai tercium, seakan menjalar di tubuh. Wajah keras yang tampak arogan menbuat mulai kikuk.

Memberanikan menatap mata biru yang kini ikut membalas tatapan tampak mengintimidasi. Aurora menatap kedua pengawal setia melindungi.

"Ada apa?" tanya Austin akhirnya dengan angkuh.

"Pak— saya Aurora, saya Assisten Pak Anton ingin berbicara." Aurora terbata.

"Mengenai apa?"

"Mmhh ... masalah tadi pagi Pak, saya minta maaf."

"Menyingkirlah! Aku tidak punya waktu denganmu."

"Pak saya benar-benar minta maaf, saya membutuhkan pekerjaan ini. Saya mohon pak," Aurora memohon.

Austin tidak menjawab sepatah kata pun. Dia memilih pergi meninggalkan Aurora termangu syok atas kepergiannya. Betapa tidak menyangka dengan sifat Arogan dan angkuh pria itu.

Apa dia baru saja meremehkan kinerja Aurora yang banyak dipuji orang.

Tidak pantang menyerah, ia sedikit berlari. Kali ini nekat menarik paksa tangannya, genggaman erat membuat pria itu berhenti. Auirora sentuh kulit mulus, dengan warna kulit perunggu sensual juga tampak sexy.

Aurora terhanyut sesaat. Dengan sigap, Austin menarik paksa tangan yang tampak kokoh bagi bangunan gedung. Ia tampak marah, lalu menatap kasar.

"Jangan menyentuhku sembarangan!" Ancamnya dengan suara bariton yang khas.

"Pak, saya mohon maafkan saya." Aurora masih berjuang.

"Kamu!" Austin membalas seakan ingin menerkam bulat-bulat.

Aurora menatap para pengawal yang mulai bersiaga seakan ingin menggeret ia keluar dari sini.

"Pak, saya mohon."

Austin menyentuh leher, mengatur embusan napas sebaik mungkin lalu memberi perintah untuk meninggalkan mereka berdua. Terlihat dari tatapan tidak suka para pengawal, tapi mau tak mau terpaksa membiarkan mereka berdua.

"Waktuku hanya satu menit. Katakan kamu mau apa."

"Saya mohon Pak, jangan pecat saya. Saya sangat menginginkan pekerjaan ini. A-aku sudah lama mendambakannya," ucap Aurora parau.

"Lalu kalau saya tidak memecatmu, apa kamu bisa menjamini tidak melakukan kesalahan itu lagi?"

"Yaa saya—"

"Atau kamu kembali melakukan itu lagi, lagi dan seterusnya. Wanita sepertimu memang cantik tapi di perusahaanku tidak butuh itu saya membutuhkan cara kerjamu yang profesional bukan mengandalkan kecantikanmu." Austin berkata ketus, tentu menusuk hati dengan katanya.

Pria jahat yang pernah ia temui, 'pria Arrogant' teriak Aurora membara dalam hati.

"Saya bisa menjamini kalau hal itu tidak akan terulang Pak."

"Alasan basi."

Aurora ingin mencekik leher pria di depannya saat ini, rasanya hampir mengangkat bendera putih.

"Baiklah, aku akan melihatmu. Kita lihat saja nanti bagaimana." Austin berucap dang langsung pergi berlalu.

"Itu artinya saya masih bisa bekerja disini Pak?" tanya Aurora sedikit berteriak.

Austin tidak memberikan jawaban, malah pergi melenggang. Aurora terdiam mematung memikirkan sifat sombongnya itu tapi cukup tenang karena tidak jadi diberhentikan.

Akhirnya ia beranjak keluar kantor, berjalan seperti orang kebingungan. Mulut tak henti komat kamit memikirkan sifat CEO angkuh itu.

"Benar-benar hari yang sangat buruk, punya pimpinan yang super duper kejam, arogant bahkan begitu buruk dari apa pun." Kesalnya sambil menuju halte bus.

***

Aurora menunggu tunangannya di cafe favorite mereka sejak lama. Ya, semalam Aurora menelphone balik. Betapa bahagia dia kembali lagi ke tanah air. Kesempatan terbaik bisa ia lakukan hari ini, hari sabtu bukan hanya libur kantor juga hari yang sangat pas menikmati jalan bersama sang tunangan.

Sembari menunggu tunangan, ia memesan kopi. Aurora adalah wanita pecinta kopi hitam, selain enak baginya kopi itu mampu menenangkan pikiran juga jiwa raga kala merasa merindu juga sedih.

Aurora mencium aroma kopi yang masih terasa panas sambil menyeruput perlahan. Betapa nikmat tiada tiara.

Seseorang menyentuh pundak Aurora, "Lama menungguku?" tanyanya sambil duduk di samping.

Ia menatap, "Frank?" Aurora memeluk spontan sambil berlinangan air mata rindu.

Frank Dave, sang tunangan akhirnya menemuinnya. Aurora dan Frank terpaut usia cukup jauh, bahkan semua orang mengira ia adalah anaknya, bagaimana tidak usia Aurora saat ini 21 tahun sementara Frank sudah 40 tahun.

Mereka sudah bertunangan, saling mencintai sejak lama namun dia belum juga melamar. Aurora mencintai pria itu karena hanya dia yang punya, dia yang merawat dari kecil akibat dari kegagalan orangtuaku. Mereka meninggalkan Aurora entah ke mana.

Aurora wanita sebatang kara.

Frank seorang pria pekerja keras, pria yang sangat dewasa. Karena itulah ia menyukai karakter pria itu, tidak perduli setua apa pun dia.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Aurora setelah saling melepas pelukan.

"Baik. Sibuk dan aku akan libur selama enam bulan ... tapi bukan berarti aku bebas sayang," ucap Frank berusaha tersenyum.

Frank bekerja menjadi pengawal pribadi seorang CEO, Aurora sudah lama berpisah dengan Frank. Saat ini dia memang kembali, walau pun waktu hanya enam bulan tapi akan ia pergunakan sebaik mungkin waktu kebersamaan mereka.

"Frank," uccap Aurora saat Frank menciumi buku-buku jari Aurora.

"Yes, ada apa Rora sayang. Apa kamu ingin mengatakan sangat merindukanku?" tanya Frank menahan bahagia bangga.

"Tentu saja, aku sangat merindukanmu." Aurora mulai serius.

Frank menatap Aurora sedalam mungkin, mengembuskan napas teratur.

"Kamu tau apa yang aku rasakan saat ini?"

Aurora menggeleng.

"Aku sangat ingin menikahimu," ucap Frank menyentuh pipi kekasihnya yang mulus.

Aurora tertegun, masih menatap sendu. Ada celah secuil kata sulit terlontar.

"Lalu, apa yang kamu khawatirkaan?"

Frank memudarkan senyuman. "Rora, maafin aku ya." Frank berkata sambil tertunduk.

"Untuk apa?"

"Untuk belum bisa menikahimu dalam waktu dekat ini," ujar Frank.

Apa yang terjadi dengan Frank sebenarnya. Kenapa mendengar kata pernikahan saja dia selalu menghindar bahkan untuk ciuman bibir saja belum pernah Aurora rasakan. Hingga akhirnya mengangguk lemah, ia sedih kalau Frank belum punya keinginan menikahi. Ia tahu usia juga belum terlalu tua tapi mengingat umurnya juga pengorbanannya pada Aurora?

"Sudahlah— sekarang lebih baik kita membahas tentang pekerjaan kita saja bagaimana?" Rara tersenyum mengalihkan pembicaraan menyesakkan.

Frank mendongakkan wajahnya, lalu dia tersenyum alami setelah Aurora menghentikan pembahasan itu.

"Bagaimana dengan atasanmu?" tanya Aurora sembari menyeruput kopi.

"Dia pria sibuk selama enam bulan. Akan lebih sibuk di banding aku."

"Akan menjadi hari melelahkan."

"Aku sudah menjaga sejak usianya enam tahun. Dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri walau dia memiliki sikap dingin karena sifat Arogant aku tidak punya keberanian mengatakan ingin menghabiskan waktu liburan denganmu."

"Benarkah. Kedatanganmu saat ini tidak akan membuatnya mencarimu?"

"Aku sudah meminta izin. Tuan-ku seorang CEO juga pemilik perusahaan. Sudah sangat lama perusahaan itu tidak ada yang mengurus so, dia merasa harus bertanggung jawab."

Arrogant. Kenapa mendengar kata Arogant ingatan tertuju dengan pria buruk itu.

Astaga!

Semoga ia bisa bekerja sebaik mungkin tanpa kesalahan lagi, ia muak kalau berhadapan dengan pria buruk itu lagi.

"CEO atau lebih tepatnya pemilik perusahaan tempatku bekerja juga Arrogant. Menyebalkan!" Aurora berkata sambil memasang wajah masam.

"Benarkah?"

"Kemarin aku telat karena berkas kantor ku bawa pulang, busku lama datang alhasil aku telat. Kamu suda bisa menebak itu adalah hari yang sangat buruk bagiku."

Frank tertawa lucu, "Kamu semakin cantik kalau lagi marah begini."

"Cantik apaan. Orang marah mana ada yang cantik, yang ada jelek." Aurora bernada manja.

"Iya iyaa— memangnya kamu bekerja di mana sekarang?" tanya Frank santai.

Auora menatap Frank, kenapa ia lupa memberitahukan tempat bekerjanya. Memang sih baru beberapa minggu, tapi bukan maksud ia menutupi pekerjaan. Mungkin karena kesibukan mereka masing-masing jadi lupa saling memberikan kabar.

Akhirnya Aurora tertawa sembari menepuk jidat tanda lupa. Frank masih setia menatap menunggu jawaban, wajah teduh yang begitu melekat.

"Aku diterima di perusahaan ternama itu berkat kampusku, aku adalah orang satu-satunya yang diterima." Aurora mengenang.

"Hebat. Kamu memang gadisku yang hebat Rora. Aku beruntung memilikimu. Katakan memangnya di mana?" tanya Frank lagi.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Terhalang Ukuran
9.4
Dhipta Wisnu Pratama tampak memiliki segalanya sebagai pewaris kaya raya dengan wajah tampan. Namun, di balik kemewahannya, ia menyimpan kekurangan fisik yang membuatnya ragu akan ketulusan cinta. Tantangan terbesarnya muncul saat ia jatuh hati pada Anandhila Prameswary, seorang aktris dan model papan atas yang mempesona. Mampukah Dhipta memenangkan hati Dhila dan meyakinkannya untuk menikah meski ia tidak sempurna? Inilah perjuangan Dhipta mengejar cinta sejati.
Sampul Novel Dulu Istri Bodoh, Sekarang Obsesi Abadi
8.0
Tiga tahun Cathryn bersabar dalam pernikahan dingin, mengira Liam sibuk bekerja. Namun di hari duka ibunya, pengkhianatan Liam dengan adik tirinya terungkap. Cathryn pun memilih cerai meski dicemooh. Tak disangka, Liam justru berlutut memohon di bawah hujan. Saat isu rujuk beredar, Cathryn tak peduli karena kini ada taipan berkuasa yang melindunginya. Pria itu siap menghadapi siapa pun yang berani mengusik Cathryn, istri tercintanya.
Sampul Novel Fallin Love With Jerk Billionaire
7.8
Thania Moran, gadis kaya yang naif dan ceria, mendapati hidup sempurnanya berubah saat bertemu Zachary Devon. Zach adalah pengusaha muda sukses di Amerika yang berhati dingin dan memandang rendah wanita. Meski awalnya saling benci, Thania jatuh hati pada sosok berbahaya itu. Ketegangan memuncak ketika Thania dijodohkan oleh orang tuanya dengan cinta pertamanya sendiri. Di sisi lain, pesona tulus Thania berhasil menaklukkan Zach yang selama ini dikenal sebagai playboy angkuh.
Sampul Novel His Darling Debtor
9.2
Dunia Clara runtuh saat ayahnya kabur membawa uang milik Tuan Blackwell. Tanpa pilihan lain untuk menebus utang tersebut, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya dan menjadi wanita simpanan sang miliarder. Di balik perjanjian dingin ini, Clara terjebak dalam pusaran emosi terlarang dan rahasia masa lalu yang perlahan terkuak. Hubungan penuh konflik ini pun menjadi ujian berat yang akan mengungkap seberapa kuat ikatan sejati di antara mereka berdua.
Sampul Novel Istri Manis Tuan Jicko
9.8
Demi menuruti ambisi ibunda yang mendambakan cucu tanpa harus terikat pernikahan, Jicko menolak perjodohan dan memilih jalan pintas. Ia menawarkan sebuah kesepakatan khusus kepada Ameera untuk mengandung buah hatinya. Jicko yakin kontrak ini akan menguntungkan kedua belah pihak tanpa ada komitmen emosional. Namun, rencana yang semula tampak sederhana ini berubah menjadi pelik saat realitas hubungan mereka ternyata jauh lebih rumit dari dugaan.
Sampul Novel Kau Rebut Ayahku, Aku Rebut Suamimu
9.5
Kehancuran keluarga Arlena bermula saat wanita lain merebut ayahnya, hingga sang ibu wafat karena duka mendalam. Dendam membara mendorong Arlena untuk membalas rasa sakit itu dengan cara yang tak terduga. Ia menemukan celah saat mengetahui bahwa perusak rumah tangganya adalah istri dari Rafael Vallenzo, bosnya yang sangat berkuasa. Kini, Arlena bertekad merebut Rafael demi pembalasan, namun ia justru terjebak dalam risiko yang mengancam hatinya.