Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Arrogant Boss

The Arrogant Boss

Austin O'pry, CEO angkuh yang memandang rendah wanita, terobsesi menaklukkan Aurora Wihelmina. Meski awalnya berniat menjadikan karyawan polos itu sekadar pemuas nafsu, penolakan Aurora justru memicu rasa penasaran Austin. Di tengah konflik batin, Aurora terjebak rahasia besar bahwa ia tunangan pengawal setia Austin. Saat cinta mulai tumbuh dan masa lalu lewat sosok Grace kembali mengusik, mampukah kejujuran menyelamatkan hubungan mereka yang penuh bara?
Bab
Bagikan

Bab 1

Hari ini adalah jadwal kepulangan pria bertubuh sempurna tak bercela kalau kata kaum hawa sebut. Atletikus merupakan bentuk tubuh yang ideal. Ya, pria itu sudah meraih predikat untuk kesempurnaan banyak diimpikan semua kaum wanita apalagi warna mata begitu mencolok ketika orang menatap, berwarna biru.

Bentuk tubuhnya memiliki perawakan bak olahragawan, kepala dan dagu yang terangkat ke atas, dada penuh, perut rata-berkotak, dan lengkung tulang belakang dalam batas normal.

Ia sudah memutuskan kembali dalam beberapa bulan ke Indonesia. Negara itu banyak kenangan untuknya. Kenangan pahit tentu ada, kenangan indah? Entahlah. Austin O'pry masih mengingat kenangan yang membuat menjadi pribadi pemarah, hingga sikap pria melekat dengan kata 'arogan'.

Tiket khusus kelas bisnis itu masih ia tatap, tatapan sendunya menatap tiket itu. Di ruangan apartemen luas bak sebuah gedung besar mewah, Austin tersenyum arogan. Dan diruangan ini ia banyak menghabiskan waktu hanya bekerja.

Austin menatap hiruk pikuk di negara yang terkenal dengan kincir angin. Menatap dari gedung yang menjulang tinggi, mata biru semakin mencolok. Seakan memikirkan sesuatu tapi entahlah, ia masih sibuk berpikir.

Austin meraih ponsel keluaran terbarunya. Setelah menekan nomor yang di tuju, ia memasukkan tangan kanan ke saku celana jas slim ia kenakan sembari berdiri lugas.

"Aku ingin semuanya tertutup. Jangan sampai ada seorang pun yang melihat kepulanganku," ucapnya di selular dan masih memasang wajah angkuh.

"Saya sudah prepare kepulangan Tuan Muda, keamanan sudah cukup ketat setiba Tuan nanti dan untuk mobil dua jam sebelum sampai sudah menunggu."

"Kamu tidak melupakan sesuatu 'kan?!" Austin menekankan setiap kalimat tercetus dari bibir seksinya.

"Semuanya aman Tuan Muda. Sudah saya persiapkan jauh sebelum keputusan Tuan kembali." Seseorang di selular berkata.

Austin bernapas lega, "Bagus kalau begitu. Jadwal keberangkatan beberapa jam lagi. Kamu sudah selesai dengan urusanmu?"

"Sudah Tuan muda, semua yang Tuan butuhkan di Indonesia nanti semuanya sudah saya aman."

"Oke, mobil sudah menunggu di bawah?"

"Sudah Tuan, saya sudah menyiapkan mobil. Saya sedang menunggu Tuan di bandara, mengantisipasi ada orang melihat."

"Aku tidak sia-sia memperkerjakanmu Frank."

"Terimakasih Tuan Muda atas kepercayaannya."

Austin menatap jam tangan pattek phillipe dari balik jas blue navy slim fitnya. "Baiklah, aku akan bersiap." Mematikan ponsel tanpa mendengarkan jawaban lagi.

Dengan langkah elegan, akhirnya ia keluar dari Apartemen pribadi mewah itu.

Sebelum dia pergi, Austin pergi menuju kantor mengambil beberapa berkas perusahaan di Indonesia. Setiap pegawai yang menoleh langsung tertunduk menghormati, memberikan salam disiplin. Tidak pernah seumur hidup mengeluarkan senyum natural. Hanya senyum sekadar menghargai terpancar, itu juga hanya terjadi di rapat kantor.

Austin terus berjalan keluar kantor setelah mendapatkan berkas yang dicari, dengan langkah teratur dan tenang tanpa membalas sapaan pegawai.

Mobil Audi khusus telah menunggu, ia keluar. Sekilas ia menatap kantornya itu, ia akan pergi ke Indonesia selama enam bulan. Sudah sangat lama kantor di sana tidak ada yang mengurus, jadi Austin akan pergi sembari menikmati liburan.

Belajar dari masa lalu yang kelam menjadikan hidup lebih baik dan pastinya membuat siapa pun tidak ingin ke lubang yang sama lagi. Hidup harus tetap dilanjutkan seburuk apa pun masa lalu.

Austin sudah menjadi pria sukses, memiliki semuanya kecuali pendamping. Di umur yang sudah sangat matang belum juga menikah. Jangan tanya berapa wanita yang sudah ditidurinya.

Ajudan itu membuka pintu untuknya, mempersilahkannya duduk, sengaja pulang dengan stelan jasnya, ia ingin dipandang orang dengan sebutan pria kaya.

Mobil pun melaju meninggalkan perusahaan Austin Enterprise Holdings, perusahaan ternama dan terbesar di negara itu.

Sesampainya di Bandar Udara Internasional Schiphol, Austin sudah dinantikan pengawal merangkap sebagai sopir pribadi. Tidak lama menunggu, Frank sudah hadir di depan menundukkan kepala, memberikan hormat untuk atasannya.

"Semua oke?" tanya Austin dengan bibir sensual.

"Semua yang Tuan perlukan sudah beres. Pesawat bisnis juga sangat jauh dari orang bawah."

"Bagus kalau begitu," Austin berjalan angkuh.

Beberapa karyawan di Bandara yang mengenal memberi hormat dan menundukkan kepala. Bagaimana tidak, Austin hampir menanamkan semua saham di setiap perusahaan yang sedang berkembang pesat. Termasuk saham di Bandara ini.

Sesampai di dalam pesawat kelas bisnis, tak henti Austin menatapi sekeliling.

"Tuan semuanya aman," Frank sepertinya mengerti maksud pencarian Austin.

"Aku hanya ingin memastikan saja." Austin merebahkan tubuh sembari memejamkan mata.

"Tuan," Frank memanggil sopan.

"Hmm ...." Austin hanya berdehem, mata masih terpejam.

Frank berdehem, menjelaskan sebaik mungkin. "Nona Grace. Pihak bandara di sana sudah mencoba menghentikan kedatangannya tapi dia terlalu memaksakan keinginan Tuan."

"Apa maunya lagi?" Austin muak.

"Saya juga belum tahu pasti Tuan. Aku pikir nona Grace masih mengharapkan Tuan Muda."

"Apa kamu mengatakan sesuatu dengannya?"

"Ada Tuan, saya mengatakan kalau kedatangan Tuan tidak ingin diganggu siapa pun termasuk dia."

"Lalu?"

"Tapi seperti yang Tuan ketahui, dia tetap bersikeras ingin menjemput kedatangan Tuan."

"Perempuan munafik! Tidak tahu diri." Austin mengungkapkan penuh dengan emosi yang mulai terbakar.

"Kalau Tuan mau, saya bis—"

"Tidak Frank." Austin memotong ucapan Frank lalu menatap serius.

Frank tidak ingin membalas, ia akan tetap mendengarkan setiap perkataan tajam Austin. Pria itu membenci dibantah.

"Biarkan saja. Aku sudah tidak tertarik dengannya, bahkan aku sangat muak melihatnya."

"Kalau Tuan keberatan saya bisa menugaskan petugas keamanan di sana untuk mengusir Nona Grace dari bandara."

"Tidak Frank. Itu tidak perlu. Karena aku sudah tidak perduli tentang kehidupan dia lagi."

"Maaf Tuan, akan saya laksanakan semua perintah Tuan." Frank menunduk patuh.

Austin memilih memejamkan mata kembali. Tak lama kemudian Frank menuju belakang dan ikut merebahkan tubuh. Mereka akan berada di atas awan untuk beberapa jam ke depan.

Setelah penerbangan yang memakan waktu cukup lama akhirnya mereka mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Dengan sigap, Frank menelpon para pengawal yang sudah hadir di Bandara. Langkah Elegan membuat orang terhenyak menatap ketampanan luar biasa. Mata biru mencolok yang pasti membuat para wanita ingin dalam dekapannya.

"Tuan, saya sudah menyiapkan mobil Tuan yang ada di sebelah sana," ucap Frank menunjuk beberapa meter letak mobil hitam kilat terparkir.

"Semua sudah sangat aman," Frank melanjutkan maksud Austin memendarkan pandangan.

Austin memberikan senyum kecil untuk pengawal pribadi itu. Frank sudah bekerja untuknya semenjak ia berumur lima tahun hingga kini usia semakin matang di angka tiga puluh tahun, kesetiaan membuat Frank menjadi kepercayaan keluarga O'pry.

Austin terus berjalan dengan anggun menuju mobil yang sudah di siapkan untuknya.

"Austin!" Seru sosok wanita berambut cukup jreng, merah cerah tersebut.

Austin hapal suara itu, suara pernah mengisi hari, suara yang

Menghancurkan hidupnya. Austin tidak menatap tapi langkah berhenti menunggu.

Merelakan apa saja demi pria ia cintai sudah menunggu sedari malam, menantikan kedatangan yang menurutnya mendadak. Tapi, terkait tentang Austin ia akan siap menunggu selama apa pun itu.

'Mantan tunanganku, apa kabarmu. Apa kamu masih mengingat kisah kita dulu? Kisah yang mungkin sudah kamu lupakan tapi aku ... aku masih mengingatnya.'

Pesawat kelas bisnis mendarat di Bandara, walau menatap dari kejauhan. Tadi malam ia berhasil mengontak Frank, keberangkatan malam dan akan sampai siang ini. Langkah kaki dibalut sepatu hitam mengkilatnya itu melangkah anggun menuju mobil yang sedari subuh menunggu di tempat cukup jauh dari kerumunan orang.

Ia ingin melihat wajah tampan dengan mata binar, apa dia juga—ingin—menemui?

"Austin!" Panggilnya lagi setelah langkah terhenti.

Austin memunggungi, dia tidak menatap. Grace masih mencintai, meski kenangan indah itu ia hancurkan dulu tapi kini yakin ada setetes cinta yang tersisa untuknya.

Grace Novita ingin ke pelukkan Austin, kembali menjadi wanita yang hebat di ranjang bersamanya. Austin belum menikah, bahkan dia masih memegang CEO terkaya di negara Belanda juga di Indonesia.

Mata indah yang tidak akan bisa dilupakan, walau saat itu dia masih merintis kekayaan tapi karena rasa sabar hilang Grace meninggalkannya padahal waktu itu pernikahan mereka tinggal hitungan hari.

"Austin," Grace berjalan sedikit cepat dan berhasil menatap wajah setelah beberapa tahun lamanya.

Dia masih tidak menatap, wajah keras membuat Grace semakin ingin dalam dekapan.

"Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Grace.

"Tidak."

"Tap—tapi aku sudah menunggumu sangat lama. Aku— aku ...."

"Aku apa? Berpikirlah yang jernih dan gunakan pikiranmu itu sebaik mungkin."

"Austin, aku masih mencintaimu." Grace menjelaskan bernada serak.

"Jangan jadi wanita yang bodoh!"

Grace memberanikan menyentuh lengan dipenuhi bulu halus . "Kamu pasti masih mencintaiku 'kan? Kenangan indah kita, tidak akan pernah kamu lupakan sayang."

"Lepaskan!" Austin berseru dengan wajah seringai.

"Austin ...."

Austin menyingkirkan tangan Grace, merasa terpojok dengan kelakuan. Menyesal sudah meninggalkan di saat hidup Austin sedang bangkrut, kemiskinan melarat.

Austin menatap Grace pada akhirnya, "Jangan pernah memanggil namaku lagi. Aku harap ini pertemuan terakhir kita," ucap Austin pergi meninggalkan Grace mematung.

Grace terdiam, air mata jatuh menahan rasa menyesal. Dia bukan Austin yang dulu. Sekarang dia menjadi pria dingin yang angkuh, kasar, arrogant.

Tapi Grace berjanji, akan mengambil hati kembali. Karena saat ini dia sudah menjadi pria kaya, memiliki lebih dari empat perusahaan ternama dengan begitu hidup Grace juga tidak akan kekurangan lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta yang Membara: Tidak Bisa Melupakanmu
8.1
Diana, seorang yatim piatu, berhasil menikahi pria paling berkuasa di kota meski tanpa landasan cinta. Setelah tiga tahun, kehamilannya justru disambut dengan surat perceraian karena kesalahpahaman tentang kesetiaan masing-masing. Saat Diana bersiap pergi, sang suami justru berubah pikiran dan menyatakan perasaan aslinya. Kini Diana terjebak dalam dilema antara benci dan kasih sayang. Haruskah ia bertahan demi masa depan anaknya atau pergi selamanya?
Sampul Novel Dijodohkan dengan CEO tanpa Hati
8.5
Satu bulan membina rumah tangga, Ana Puspita Ningsih belum pernah disentuh oleh Louis Kusnadi. Pernikahan paksa ini mempertemukan dua kepribadian yang bertolak belakang. Ana dikenal sebagai wanita penyantun yang tulus membantu kaum papa, sementara Louis adalah CEO arogan yang gemar menindas orang lain. Di balik kekayaannya, Louis sangat pelit dan kerap menyakiti hati istrinya. Ana kini harus bertahan menghadapi sikap suaminya yang sedingin es dan penuh amarah.
Sampul Novel Kejutan Untuk Pengkhianat Cinta
9.4
Adele mengambil keputusan nekat untuk tetap melangsungkan pernikahan yang dijadwalkan setengah bulan lagi, tetapi dengan satu perubahan besar: mengganti calon suaminya. Tanpa ragu, ia meminta staf pernikahan merahasiakan rencana ini dari Darren, pasangannya yang sibuk. Bagi Adele, pergantian pengantin di menit-menit terakhir ini adalah sebuah kejutan sekaligus hadiah pemungkas yang ia siapkan khusus untuk membalas pengkhianatan sang kekasih.
Sampul Novel Ketika Cinta Telah Mati dan Harapan Pupus
9.4
Saat mendaki gunung, Chloe Winata mengalami hipotermia hingga penyakit jantungnya kambuh. Namun, dua sahabat masa kecilnya justru mengabaikan kondisinya demi melindungi Lucia, putri sopir mereka. Alih-alih menolong, mereka malah menuduh Chloe cemburu. Setelah diselamatkan oleh tim SAR dan dirawat di rumah sakit selama seminggu tanpa dijenguk, Chloe mengetahui bahwa mereka justru sibuk merayakan ulang tahun Lucia. Sadar persahabatan belasan tahunnya sia-sia, Chloe memutuskan menyerah dan menyetujui perjodohan dengan putra Keluarga Januar.
Sampul Novel Menjadi Istri Dadakan CEO Posesif
9.1
Amber kerap dipandang sebelah mata sebagai anak haram yang tidak diakui keluarganya. Nasibnya kian rumit saat dipaksa menjadi istri dadakan bagi Reyvan, CEO angkuh nan dingin. Reyvan memberi peringatan keras agar Amber tidak jatuh cinta padanya dan menetapkan batasan waktu sebelum mereka bercerai. Namun, kehidupan pernikahan kontrak ini berubah di luar kendali. Sang CEO yang awalnya menolak kehadiran Amber justru berbalik sangat bergantung dan tidak bisa hidup tanpa wanita itu di sisinya.
Sampul Novel Om Bule Menjadi Kekasihku
8.4
Ela, karyawan swasta, menikmati liburan 12 hari di Luzern dan bertemu Ali, pengusaha properti asal Libanon. Kedekatan mereka memicu skandal saat paparazzi menuduh Ela sebagai orang ketiga dalam hubungan Ali dengan artis Nihan. Di luar dugaan, Ali justru mengakui Ela sebagai kekasihnya saat konferensi pers. Meski Ela ragu karena perbedaan negara, Ali membuktikan keseriusannya dengan menyusul ke Jakarta demi memperjuangkan cinta mereka berdua.