
The Antagonist Motive
Bab 2
Yvonne dan Edmund berjalan menyusuri koridor yang terbuka dan menampakkan berbagai ruang serta bangunan-bangunan kecil yang elok di sekitarnya. Sebuah koridor terbuka dengan pemandangan asri taman-taman yang indah dan elok di sana sini.
Koridor itu berbentuk jalan setapak batu-batu halus putih, dengan atap-atap mewah bergaya ketimuran yang melengkung di sisinya dan dihiasi dengan ukiran patung-patung naga di setiap atapnya, berikut dengan bunga-bunga lotus di setiap sisinya. Menurut Edmund atap itu
sangat indah sekali, berwarna emas dan merah cerah yang rasanya seperti masuk ke benua lain saja saat melewati koridor terbuka ini.
Edmund orang Inggris. Ia belum pernah menginjakkan kakinya keluar dari benua biru ini. Ia hanya pernah mendengar cerita-cerita tentang benua timur, semenanjung cina selatan, timur tengah, benua hitam, benua merah, dan berbagai daerah-daerah di belahan bumi lain.
Di mansion ini para penyihir berasal dari berbagai daerah di setiap jengkal dunia. Saat mendengar cerita-cerita koleganya tentang kampung halaman mereka masing-masing, Edmund hanya bisa kagum mendengarnya dan ia hanya bisa mendesah iri.
Memang, baginya, saat ia meninggalkan kampung halamannya, Inggris saat itu masih dalam masa era kegelapan. Di mana banyak sekali hal-hal yang tidak indah ada di sana. Berbeda sekali dengan masa sekarang yang menurut Edmund dengar kampung halamannya itu sudah maju dengan bangunan-bangunan yang indah, budaya yang berkembang pesat sekali, perdagangan dan hal-hal lain yang bisa melewati lautan luas melewati laut-laut serta daerah yang sangat jauh.
Edmund sudah tidak menginjakkan kakinya ke kampung halamannya selama beratus-ratus tahun. Sebelum ia datang ke sini, Edmund tidak punya kenangan yang indah di kampung halamannya. Selain orang-orang yang masih percaya takhayul, berdoa tidak sesuai dengan kitab suci. Pemerintahan dan raja yang sangat korup, maksiat dan kekotoran di mana-mana,
dan hal-hal jelek saat itu yang sudah menjadi hal biasa di era kegelapan yang penuh dengan tikus, wabah pes, mayat-mayat bertumpuk-tumpuk di sepanjang sungai dan danau yang juga dijadikan sebagai tempat buang kotoran, mandi, dan bahkan untuk minum.
Edmund tidak punya kenangan bagus akan kampung halamannya yang itu, meski sekarang Edmund cukup senang karena kabarnya kampung halamannya itu menjadi kota yang besar dan maju.
Hanya saja sayang, pemerintahan dan ratunya yang sekarang menjajah dan menjarah negara lain. Dan melakukan kolonialisme dan pembunuhan serta genosida di mana-mana. Edmund yang dibesarkan dengan ajaran agama yang kuat, dan besar terpisah dari kebobrokan yang ada di sana, hanya bisa meminta maaf dengan kikuk dan bilang pada koleganya yang negaranya hancur akibat kampung halaman Edmund sendiri. Edmund merasa malu saat ia bilang kalau dirinya adalah orang Inggris!
“Jadi, kristalnya ada di ruangan penyimpanan?” tanya Yvonne pada Edmund sembari mereka berjalan.
Kaki Edmund serasa macet seperti kaki manekin rusak karena dirinya sadar, jika dirinya akan mendekati dan melihat-lihat relik Kristal berbahaya itu. Kristal yang konon menyimpan kutukan dan cerita seram yang bahkan Edmund sendiri tidak tahu kebenarannya seperti apa!
“Benar, Your Majesty!” tenggorokan Edmund rasanya sangat kering dan sesak. Lidah rasanya pahit seperti menelan obat, dan mulutnya terasa seperti dijejalkan dengan pasir.
“Tapi ....” Edmund langsung merasa ragu-ragu. ”ada masalah, Your Majesty!” ucapnya dengan hati-hati sekali. Seakan-akan takut ada intel tersembunyi yang mendengar pembicaraan tentang relik berbahaya itu dan akan terbang pergi dari sini. Dengan sekantong info yang bisa ditukar dengan uang.
Bibir Yvonne seketika itu langsung memasang senyum dingin. Mimik wajahnya berubah kaku, masam, dan menunjukkan ekspresi tanpa emosi yang lagi-lagi tidak Edmund pahami.
“Masalah apa, Edmund?” tanya Yvonne tajam dan menusuk seperti ada belati yang bisa mengiris wajah Edmund.
“Kotak kristal itu .... tidak mau terbuka, Your Majesty!” Edmund terdengar tidak enak dan kepalanya menggeleng pelan. “Seperti tidak mau menunjukkan dirinya.” Edmund memutuskan untuk jujur saja dengan keadaan genting yang baru saja terjadi.
Yvonne menyernyitkan keningnya. ”Masalahnya hanya itu, Edmund?” tanya Yvonne dengan nada suara yang halus dan senyum manis di bibir.
Dan Edmund tahu, jika itu bukanlah apa yang ada di dalam hati dan pikiran Your Majestynya. Yang jelas, Edmund tahu persis apa maksud Yvonne.
Yvonne benar-benar sangat marah, betul-betul marah hingga mendekati murka. Tidak galak dan pedas seperti yang sudah biasa terjadi. Oh, kalau bisa memilih, Edmund lebih memilih dimarahi oleh Yvonne yang galak. Itu sudah jelas!
Setidaknya kemarahannya bisa diukur dari seberapa lama Yvonne marah, seberapa pedas mulutnya, dan berapa banyak barang yang dibanting oleh Yvonne.
Daripada tersenyum manis seperti ini. Ini bukan diri Yvonne yang sebenarnya. Kalau tersenyum seperti ini, berarti situasi sekarang ini lebih berbahaya dari yang Edmund kira.
“Bukan hanya itu, Your Majesty.....” Edmund menegang. ”energi orang-orang yang mengantar Kristal ini langsung tersedot, jika mereka berada terlalu dekat dengan kristalnya, Your Majesty!”
Saat mengatakan hal ini, Edmund sengaja untuk
menunduk sedikit sembari berjalan. Yang ia lihat hanyalah kaki panjangnya memakai sepatu hitam berkilat berayun mengikuti gaun merah berenda dengan belahan kaki tinggi yang dikenakan oleh Yvonne. Hingga kaki jenjang Yvonne terlihat cukup jelas menyusup di balik ayunan rok gaunnya yang berdesir setiap kali dia melangkah.
“Semua orang yang mengantar kristalnya .....” Edmund agak ragu-ragu untuk mengatakannya. “langsung sakit, Your Majesty!” Edmund kali ini bergidik, tenggorokannya terasa kering sekali.
”Bahkan beberapa ada yang meninggal hingga jasadnya kisut seperti mumi karna energi kehidupannya dihisap, Your Majesty.” jelas Edmund panjang lebar.
Ia lalu tanpa sadar langsung mengelus belakang lehernya yang entah kenapa terasa dingin, padahal hari ini matahari bersinar cukup terik di tengah musim panas.
Setelah mengucapkan hal itu, Edmund memutuskan untuk mengangkat kepalanya dan menatap ke arah sang nona yang berjalan cukup condong ke depan daripada dirinya. Dan lagi-lagi, seperti melihat hantu yang sangat menyeramkan saja, Edmund hanya tersenyum kikuk dan berusaha untuk menyembunyikan getaran tubuhnya saat ia melihat sang Your Majesty yang ia layani, alias Yvonne, sedang menyeringai seperti nenek sihir yang melihat Putri Salju sudah sekarat karena memakan apel beracun.
Memang, penampilan Yvonne benar-benar mencolok hari ini dan sangat cocok sekali dengan bibirnya yang menyeringai. Gadis cantik ini berdandan dengan memakai eye shadow merah terang, berpipi merah muda yang bersemu indah seperti kelopak mawar, memiliki bibir yang dioleskan dengan warna seperti darah, hingga kulit pucat yang dipadukan dengan gaun berbelah dada rendah dan belahan kaki yang sangat tinggi itu.
Gaun yang dipakai Yvonne tampak sangat vulgar sekali seperti pelacur untuk ukuran seorang nona bangsawan seperti dirinya.
Yvonne hanya tersenyum lebar hingga senyum itu terlihat seperti senyum seorang vampir wanita. “Aku disebut sang penyihir agung bukan tanpa alasan, Edmund!” ucap Yvonne lembut selembut desiran angin yang menggelitik belakang leher Edmund.
Edmund merasakan tanda bahaya, Karena ia yakin sekali, Your Majestynya itu tidak akan berbicara selembut itu sepanjang dirinya mengenal sang majikan. Seperti bukan Your Majestynya saja! Edmund hanya menelan ludah. Ia benar-benar bingung hendak membuka mulut untuk membalas perkataan majikannya ini, ataupun untuk diam saja. Tetapi dirinya harus melewati jalan yang entah kenapa terasa
cukup sepi ini. Seperti buah simalakama saja!
Bicara salah karena takut dimarahi, kalau diam .... terasa lumayan menyeramkan juga karena dandanan serba merah darah terang Your Majestynya hari ini agak terasa seperti vampir.
Namun, Edmund memutuskan untuk diam saja. Meski sejujurnya, ini cukup menyeramkan. Tetapi Edmund cukup bersyukur karena hari ini siang hari. Untung saja dirinya melewatkan pekerjaan penting untuk menemani Yvonne pergi melihat kristal merah yang adalah relik berbahaya itu. Sekalian ia bisa bolos dan beristirahat dari pekerjaannya yang melelahkan.
Hitung-hitung istirahat dari rutinitasnya! Karena siang-siang ini tidak akan ada hantu ataupun sesuatu berbahaya yang mungkin akan muncul kan?
Edmund berpikir semoga saja begitu! Ia tidak mau sesuatu yang berbahaya muncul begitu saja seperti meledak di tengah siang bolong. Sudah seperti petir di tengah cuaca cerah saja! Lagi pula kalau ada apa-apa, semua kekacauan akan dilimpahkan padanya, ia harus mengurus segalanya. Dan itu artinya Edmund akan begadang selama beberapa hari tanpa tidur hingga ia akan kembali mengalami halusinasi yang biasa dialaminya! Nasib punya bos otoriter! Memang nasibnya di sini lumayan apes!
Begitulah, Edmund diam saja sembari berjalan pelan mengikuti langkah kaki Yvonne yang ada di depannya. Untuk mengusir rasa lelah dan tegang, Edmund memutuskan untuk menghirup nafas dalam-dalam, menikmati pemandangan indah di sepanjang jalan. Hingga tanpa priaitu sadari, kini ia sudah bisa melihat bangunan penyimpanan yang menyimpan Kristal merah itu.
Pecahan Jiwa milik malaikat kembar di dalam legenda! Dan bahkan dari jauh Edmund bisa merasakan hawa yang berbeda di dekat bangunan penyimpan, yang berbentuk seperti bangunan dua lantai dengan dinding bata berwarna coklat burgundi dan jendela-jendela di depannya.
Atap segitiga limas panjang yang di ketiga sisinya menempel atap tambahan berbentuk segitiga di bagian kiri, segitiga kecil menyembul di tengah, dan corong segitiga di bagian paling pojok kanan.
Ada sebuah undakan tangga di depan. Cukup besar dan luas sekali, dengan pintu setinggi 3 meter lebih yang terbuat dari kayu yang dipernis bagus hingga berkilat dan tahan lama. Meskipun tinggal beberapa belas meter saja, dari kejauhan, memang bangunan penyimpanan yang
dimaksud menguarkan energi yang membuat tubuh dan kepala berat, serta membuat dada seperti dihimpit oleh dua gunung yang berdempetan.
Edmund beberapa kali mengelap keningnya yang berkeringat, nafasnya sesak. Ia memang mendengar laporan dari bawahannya yang menyebutkan kalau kristal itu menyebabkan siapa pun yang mendekatinya akan merasa lemas, pusing, sesak, mual, dan tanda-tanda tubuh tidak enak lainnya seperti orang yang sakit.
Mengenai orang-orang meninggal itu, menurut laporan yang di terima oleh Edmund, orang-orang meninggal itu adalah para manusia biasa yang membawa kristal itu untuk menyebrangi benua dan lautan menuju ke sini.
Karena terlalu lama terpapar energi tidak enak yang menguar dari kristal merah ini, tidak ayal jika energi mereka habis dan mereka mati mengenaskan dalam keadaan kurus kering. Seperti orang yang mati karena kelaparan.
Bahkan, banyak sekali orang yang mati dan kristal ini terpaksa di antar secara bergantian. Cukup lama kristal ini tiba, mungkin sekitar setengah tahun. Wajar jika Yvonne selama setengah tahun ini agak terlihat tidak sabaran setiap hari. Seolah-olah Kristal itu adalah hal yang paling diinginkan oleh gadis itu.
Bukan hanya mual dan rasa pusing yang
dialami oleh Edmund, pria itu juga merasa kalau pandangannya berkunang-kunang dan tubuhnya terasa kesemutan. Kulitnya juga serasa ditusuk-tusuk oleh ratusan jarum yang menyengatnya, seperti dijalari listrik juga.
Belum apa-apa, Edmund langsung merasa hendak pingsan saja daripada harus mengalami rasa sakit seperti ini. Jalannya juga sudah sempoyongan seperti orang yang terkena darah rendah.
Lain dengan Edmund yang seperti sudah mau pingsan itu, Yvonne malah sebaliknya. Gadis itu sama sekali tidak apa-apa, tidak sakit, mual, kepayahan ataupun mengalami gejala yang sama dengan yang dialami oleh Edmund.
Yvonne terlihat sangat sehat, segar bugar malah! Langkah kaki Edmund yang mulai tersendat-sendat dan goyah hingga ia melambat, tidak mampu mengimbangi langkah kaki Yvonne yang semakin cepat. Seolah ia tidak sabar untuk masuk ke dalam bangunan yang ada di depan mereka itu, dan masuk ke dalamnya.
Yvonne sama sekali tidak merasa terganggu dengan hawa mencekam dan energi kehidupannya yang konon akan disedot oleh kristal merah itu. Justru sebaliknya, mata emas itu memancarkan rasa semangat dan binar yang cerah. Serupa dengan seorang kolektor yang menemukan benda langka di dalam lelang yang diikutinya.
Yvonne mendadak berhenti, gadis itu langsung menoleh ke arah Edmund yang sudah menutup mulutnya rapat-rapat untuk menahan muntahnya. Yvonne terlihat menaikkan alis, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi iba ataupun simpati, justru ia terlihat tidak peduli dan malah memasang wajah kesal.
“Edmund!” bentaknya. “Sebaiknya kau pergi saja!” Yvonne terdengar jengkel sekali.
"Kau tidak akan kuat untuk menahan energi ini .....” mata emas itu melirik ke arah bangunan kecil itu lalu kembali ke arah Edmund. “kalau kau tetap masuk ke dalam sana, tubuhmu bisa-bisa hancur!”
“Tapi .... Your Majesty .....” Edmund dengan sisa-sisa tenaganya mencoba untuk berdiri lebih tegak dari yang sebelumnya.
“Anda bisa masuk sendiri, kan?” tanya Edmund spontan. Dan lalu, ia kemudian sadar, jika pertanyaan yang ia ajukan itu sangat bodoh sekali.
Edmund mendadak lupa, siapa gadis yang ada di depannya ini. Dan kenapa semua orang yang ada di mansion, semua pekerjanya, sangat segan kepada gadis cantik yang ada di depannya ini.
Dan juga ..... sekaligus sangat takut. Gadis cantik dengan dandanan yang bisa mengundang
skandal ini, gadis cantik yang terlihat lemah dan manis ini, adalah seorang penyihir kuat yang sudah hidup sangat lama.
Mendengar hal itu, Yvonne langsung tertawa merdu yang terdengar semanis madu dan selembut sutra ketika dibentangkan.. Tetapi juga terdengar sangat menusuk seperti bunga mawar yang saat dipetik, akan melukai jari hingga berdarah.
Tawa Yvonne mereda sejenak, gadis cantik beracun itu menoleh ke arah Edmund dengan sorot mata yang percaya diri sekali. Bibir itu melengkung membentuk senyuman mirip bulan sabit yang cantik sekaligus sangat tajam.
“Kau lupa, siapa aku, Edmund?” tanya Yvonne dengan suara yang manis. Edmund bisa merasakan ada belati dibalik suara itu yang terarah padanya.
Rangkaian kalimat yang seolah-olah mempertanyakan, apakah Edmund lupa siapa gadis yang berdiri di depannya ini? Edmund langsung menunduk dalam-dalam.
Sekaligus ia sejenak melupakan rasa sakit di kepala, dan seluruh tubuhnya karena sejujurnya, Edmund lebih takut dengan gadis yang ada di depannya ini melebihi apa pun. ia bahkan jauh lebih menakutkan dari ketakutan Edmund yang sudah lama menghilang.
“Bagus sekali!” suara itu terdengar geli dan penuh dengan rasa kepuasan yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata.
“Ternyata otak kecilmu itu ingat!”
Sadar jika itu berarti Your Majestynya ini dengan halus menyuruhnya untuk segera menyingkir dari sini, Edmund memutuskan untuk menuruti saja apa kata Yvonne.
Daripada Your Majestynya ini akan memberinya hukuman untuk membunuh dan mengambil ular-ular piton di sarangnya langsung? Edmund paling benci jika harus berurusan dengan ular. Jadi pergi saja dari sini sebelum majikannya ini meledak!
Tanpa diperintah dua kali pun, Edmund dengan cepat mengangguk dan buru-buru berbalik memunggungi Yvonne. Ia bisa merasakan tatapan tajam gadis ini dibalik punggungnya. Menahan rasa pusing dan mualnya yang cukup membuat pandangan mata berputar-putar.
Edmund berusaha untuk menyeimbangkan kedua kakinya dan ia pun mengambil seribu langkah untuk menjauh dari sana. Pergi dari situ meninggalkan Yvonne seorang diri yang berkacak pinggang sambil tersenyum puas.
“Bagus sekali!” bisik Yvonne dengan nada yang senang. “Nah, sebaiknya aku langsung melihat kristal sialan itu!”
**
Yvonne kini sudah berdiri di depan bangunan yang tingginya kira-kira 30 meter lebih itu. Sebuah bangunan yang kurang lebih ia buat hanya sebagai tempat penyimpanan barang-barang yang sesekali akan digunakan. Meski bangunannya cantik dan megah, keberadaan bangunan ini tidak terlalu penting bagi Yvonne.
Yvonne menaiki undakan tangga yang mengarah ke pintu depan dengan langkah kaki yang mantap. Sepatu hak tinggi yang dikenakan oleh Yvonne menimbulkan suara hentakan yang cukup keras saat tumit dan haknya beradu dengan lantai marmer di undakan tangga dan halaman.
Dengan tubuh yang tegap, Yvonne sampai di depan pintu utama yang menjulang tinggi di depannya ini, ia langsung membuka pintu dengan memutar kenop berukirkan kepala burung Phoenix itu.
Saat pintu terbuka secelah, angin dingin yang bertiup kencang langsung menerpa wajah Yvonne hingga kulit wajah gadis itu terasa membeku. Poni di atas alis yang sengaja di belah tepat di tengah rambut kepalanya langsung acak-acakan. Begitu juga dengan topi dengan kain tule hitam yang ia sematkan di samping kepalanya itu.
Topi tule hitam dengan bunga mawar merah kecil beberapa batang yang menutupi sebelah alis dan menggantung di sebelah kiri sisi kepalanya itu, juga terasa hendak jatuh.
Yvonne terpaksa harus menahan topinya agar
tidak jatuh dengan tangannya, dan juga tangan satunya lagi terpaksa harus menahan poni dan rambut bagian depannya. Karena angin yang bertiup kencang ini, rambut bagian belakang Yvonne langsung terbang. Angin kencang yang dingin itu berembusnya tidak lama, setelah bertiup kencang, angin tersebut mendadak diam
saja.
Saat Yvonne mengayunkan langkahnya ke dalam, kepala Yvonne seakan-akan diberi beban beberapa tumpuk buku di atasnya. Seperti berada di kelas tata krama dan etiket. Yvonne menarik nafas panjang-panjang. Sambil menahan rasa rindu dan amarah di dalam hatinya yang berkecamuk, Yvonne berusaha untuk menguatkan dirinya. Dan gadis itu langsung masuk ke dalam bangunan lantai dua itu. Bangunan yang di dalamnya hanya berupa ruangan-ruangan kosong tanpa adanya perabotan.
Atapnya hanya berupa plafon putih yang kusam. Dengan dinding yang juga sama putihnya dengan batu pualam. Ruangan itu sama seperti rumah-rumah pada umumnya. Memiliki sekat-sekat yang ada di mana-mana sebagai pemisah mana ruangan satu dan ruangan satunya lagi.
Meski tidak ada perabotan, ada satu hal yang ada di sana. Berupa sebuah meja kayu mirip meja makan kecil untuk rakyat biasa, tanpa ada kursi. Dan di atas meja itu terdapat sebuah kotak kayu mirip peti harta karun bergembok besar yang terkunci.
Kayunya tampak kusam, dengan beberapa bagian yang rapuh tampak seperti dimakan oleh rayap. Samar-samar juga tercium bau apak di kotak kayu itu. Gembok besi dan lis serta paku-paku besi yang berfungsi untuk menyambung papan kayu satu sama lain hingga membentuk kotak pun mengalami hal yang sama, yaitu berkarat. Bau besi berkarat itu bahkan mirip dengan bau darah segar.
Yvonne lalu perlahan-lahan berjalan tegap menuju ke kotak kayu bergembok. Dan langsung saja, suara-suara bisikan memenuhi kepala dan benak Yvonne. Suara-suara yang memanggil namanya dengan beragam macam emosi dan perasaan yang dalam.
Dari mulai suara yang memanggil namanya dengan kasih sayang, senang, gembira, sedih, pilu, jahil, iseng, bersahabat, sampai marah, menderita, tidak terima, sakit hati, kehilangan .....
hingga suara paling terakhir yang seketika itu membuat jantung Yvonne berhenti berdetak.
Saat mendengar suara itu, Yvonne langsung menggeleng kuat-kuat. Ia hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika suara-suara itu hanya halusinasi yang timbul karena kristal merah yang ada di dalam sana.
Meski sudah tahu suara-suara itu hanya halusinasi, tetapi saat mendengarnya, gejala seperti mual dan jantungnya serasa diremas-remas pun terasa. Sambil menahan rasa tidak nyamannya, sepatu hak Yvonne kembali beradu
lebih cepat di atas lantai marmer. Hingga tangan Yvonne kini sudah ada di atas meja kayu yang entah kenapa terasa lebih dingin padahal ini adalah musim panas.
Sadar akan keanehan ini, Yvonne lagi-lagi menguatkan dirinya. Ia tidak mau membuang kesempatan ini hanya karena merasakan perasaan tidak berguna. Selama beribu-ribu tahun ini, Yvonne sudah cukup sabar. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kesempatan untuk mendapatkan apa yang sudah hilang dan direnggut darinya secara paksa.
Perlahan sekali, Yvonne lalu menggigit jari telunjuknya sendiri hingga tetesan darah pun langsung mengalir di antara jemarinya. Yvonne mengoleskan satu tetes darah itu di gembok yang terkunci.
Gembok yang awalnya terkunci pun bergerak dan membuka sendiri dengan disertai bunyi klik pelan. Dengan tangan yang gemetar, Yvonne langsung membuka kotak kayu itu.
Dan mendadak, secelah demi secelah kotak kayu itu terbuka, tubuh Yvonne mendadak menegang saat ia merasakan ada sesuatu yang menariknya masuk ke dalam kotak kayu itu.
Sesuatu yang serupa seperti ratusan tangan yang menjegalnya dan menahannya agar tidak bergerak. Sementara tangan Yvonne yang kaku tidak bisa bergerak, kotak kayu terbuka sendiri, hingga ia terbuka sepenuhnya diiringi dengan dentuman keras.
Belum sempat Yvonne melihat apa isi di dalam kotak kayu itu, tubuhnya mendadak terjungkal dan jatuh ke depan. Kakinya kehilangan keseimbangan, kedua tangan Yvonne tidak sempat untuk memegang sesuatu agar mencegah jatuh menimpa kotak kayu ini.
Tetapi terlambat, seperti ada gelombang pasang yang menghisapnya, tubuh Yvonne jatuh ke dalam kotak kayu itu hingga setengah tubuhnya sudah masuk ke dalam dasar kotak kayu yang berubah
gelap seperti jurang tanpa ujung.
Anda Mungkin Juga Suka





