
The Antagonist Motive
Bab 3
Seperti ada yang menarik tangannya, bagian kakinya yang masih ada di luar kotak kayu langsung terpeleset dan jatuh ke dalam dasar jurang tidak berujung itu diiringi dengan teriakan Yvonne.
Yvonne jatuh dengan kepala yang ada di bawah, sementara kakinya ada di atas. Karena ada di bawah itulah, Yvonne bisa melihat dengan jelas pemandangan atas yang mirip dengan pintu masuk keluar loteng kecil yang muat untuk anak-anak di atasnya.
Pemandangan berupa langit-langit kotak kecil bergambar plafon putih kusam bangunan bergaya Victoria itu. Menimbulkan berkas-berkas cahaya yang masuk ke dalam kegelapan di sekitar Yvonne.
Diiringi dengan dentuman, penutup kotak kayu itu menutup sendiri. Hingga berkas cahaya dan pemandangan plafon itu perlahan menghilang. Kini, terdengar bunyi klik pelan gembok yang terkunci di atas Yvonne. Dan seketika itu di sekeliling Yvonne mendadak gelap gulita tanpa
ada cahaya satu pun. Yvonne jatuh seperti jatuh di dalam jurang yang tidak memiliki ujung.
Suara-suara yang seakan-akan langsung datang dari kegelapan suram dan menyeramkan menyerang Yvonne dengan berbagai macam suara-suara histeris yang luar biasa memusingkan. Suara-suara yang betul-betul dibenci, suara-suara yang lama sekali pernah terjadi.
Kepala Yvonne serasa pusing sekali. Kepalanya mendadak terasa pecah hingga Yvonne menutup
kedua telinganya rapat-rapat dengan perasaan yang campur aduk di dalam benaknya.
“JANGAN!!!! JANGAN SUARA ITU!!! AKU BENCI!!” teriak Yvonne di tengah kegelapan sembari ia terjatuh di dalam kegelapan tidak berujung yang seakan-akan menelan suaranya.
“JANGAN!!! JANGAN LAGI!!! DASAR SIALAN!!!! AKU SALAH!! AKU TAHU AKU SALAH!!!!”
Yvonne tidak tahu apakah ia menangis atau apa. Tetapi matanya seakan-akan basah dan tentunya perih. Karena ia jatuh, Yvonne tahu jika air matanya tidak akan turun ke pipi. Di sini rasanya dingin sekali, terasa sangat sunyi dan mencekam, Yvonne tidak suka.
Rambutnya yang digeraikan menampar-nampar seluruh wajahnya seakan-akan dia dihukum karena kesalahan yang sudah ia buat. Gaunnya berkibar-kibar, topinya, bahkan sepatu haknya serasa sudah lepas dari kepala dan kedua kakinya.
Kesadaran gadis itu perlahan-lahan surut. Ia merasakan ada sebuah beban yang terangkat dari hatinya dan terbang entah ke mana. Dan rasanya agak damai meski masih seram. Dan siapa itu yang bernyanyi?
Yvonne bertanya di dalam benaknya ketika ia mendengar sebuah senandung yang merdu sekali! Yvonne tidak ingat siapa yang menyanyikan senandung merdu ini. Merasakan rasa damai di hatinya, kedua mata Yvonne berat,
dan akhirnya ia tidak sadarkan diri.
Saat Yvonne membuka matanya lagi, ia sudah tidak jatuh lagi ke jurang gelap tanpa ujung itu. Melainkan sebuah rumah pedesaan yang terasa familiar bagi Yvonne.
Sebuah rumah ala jaman dulu yang ada aaat manusia belum mengenal bagaimana cara mengolah besi dan melelehkannya. Sebuah jaman di mana batu di asah hingga dibuat menjadi kapak, pisau, serut, dan juga sebagai mata tombak untuk perang antara suku yang saat itu sedang berkecamuk di mana-mana.
Sebuah jaman, di mana tulisan berupa gambar-gambar yang memiliki arti khusus .....
Yvonne lalu melirik dan menoleh ke arah sampingnya. Dan ia melihat ada tiga orang yang ada di sana. Ada sepasang manusia, laki-laki dan perempuan yang cukup muda. Memakai pakaian yang terbuat dari kulit hewan.
Masing-masing dari mereka memakai jubah bulu yang terlihat mewah. Yang laki-laki memakai jubah bulu beruang berwarna coklat yang besar
dengan kepala beruang asli menempel di belakang leher laki-laki ini. Sedangkan yang perempuan memakai jubah bulu serigala putih serupa salju yang cantik.
Baik laki-laki dan perempuan yang kelihatan berumur ini memakai perhiasan batu-batu permata di leher, kedua tangan, dan sebuah mahkota yang terbuat dari anyaman daun-daunan di kepala mereka masing-masing. Mata laki-laki berwarna hijau tua yang serupa dengan
warna lumut basah, rambutnya berwarna pirang emas yang cemerlang.
Sedangkan sang perempuan memiliki mata berwarna biru kehijau-hijauan seperti warna laut, dengan rambut merah jahe ikal disanggul anggun di kepalanya.
Kedua orang ini terlihat ketakutan dan bersimbah keringat. Wajah mereka pucat sekali. Mereka duduk bersimpuh di hadapan seorang gadis yang berambut merah darah, diikat kepang satu dengan satu bulu burung sebagai penahan rambutnya.
Berpakaian kulit hewan dengan atasan tanpa lengan dan sepanjang perutnya saja. Sedangkan gadis ini mengenakan rok kulit binatang sepanjang atas lutut. Di pinggangnya banyak sekali belati kecil dan besar, kalung aneh, bandul-bandul aneh, tas kecil, mata tombak, sarung pisau, dan semua peralatan untuk berburu lainnya terikat menjadi satu di sabuk yang melingkari pinggang.
Mata emas itu menatap tajam dan dingin ke arah kedua pasang manusia yang ketakutan itu. Yvonne tahu jika gadis itu adalah dirinya saat berumur 14 tahun. Dirinya yang lebih muda ini tampak sedang menimbang-nimbang menatap tajam ke arah dua manusia yang ketakutan ini.
Seakan-akan sedang berpikir, dirinya hendak melakukan apa?
Dirinya yang saat itu memainkan sebuah kalung dengan bandul yang fungsinya untuk mengusir mimpi buruk. Yvonne muda hanya mendengus kecil. Tangan kirinya yang memakai banyak sekali gelang anyaman berbagai bentuk berkacak pinggang. Kakinya yang bersepatu boots bulu tinggi tampak berdiri angkuh di depan sepasang manusia ini.
Dirinya yang masih muda dan berpakaian ala pemburu itu hanya menggeleng dengan tatapan dingin dan tanpa emosi pada kedua manusia itu. Dengan gerakan tangan kanan yang terangkat di samping wajahnya, dirinya yang muda itu langsung menjentikkan jarinya hingga suara jentikan jari itu terasa bergema di dalam kedua telinga Yvonne.
Langsung saja, kepala dua pasang manusia itu terpenggal dan melayang di udara seperti lontaran katapel. Kedua kepala manusia yang memasang ekspresi ketakutan itu langsung jatuh di tanah dengan diiringi semburan darah mirip air mancur yang bercucuran ke segala arah.
Kedua kepala itu menggelinding ke arah kaki Yvonne seperti bola sepak. Leher yang sudah terputus di penggalan kepala itu mengucurkan darah di mana-mana. Dan tidak hanya itu, tubuh tanpa kepala itu juga mengucurkan darah di penggalan lehernya yang sudah mirip dengan air mancur darah.
Cipratan darah itu mengenai jubah coklat dan kepala beruang mati yang ada di belakang punggung itu. Tubuh si laki-laki dipenuhi dengan darah, kulit leher, baju kulit yang ia kenakan. Lengan dan bawahan kulit yang ia pakai, badan, semuanya sudah diwarnai dengan warna merah
yang serupa dengan warna rambut Yvonne. Baik saat ini maupun saat itu.
Sedangkan kondisi si perempuan tidak jauh berbeda. Jubah putih salju itu sudah terkena darah yang membuatnya seakan-akan mengotori salju dengan darah seekor mangsa. Pakaian, perhiasan, seluruh badan, semuanya sudah berceceran dengan darah yang masih mengalir
deras. Kedua tubuh tanpa kepala itu langsung tumbang ke depan di sertai dengan suara dentuman seperti kedua benda berat yang jatuh.
Tidak puas dengan hanya memenggal kepala
kedua orang itu, Yvonne muda pun menginjak kepala sang perempuan dengan sepatu bootsnya. Selopnya seketika itu langsung kotor terkena darah. Tetapi Yvonne muda terlihat sama sekali tidak peduli dengan hal itu.
Mengambil belati kecil seukuran tangannya di sabuk pinggang, Yvonne muda lalu berjongkok dan mulai melakukan pelampiasannya yang memuaskan.
Di mana Yvonne muda mencungkil kedua mata biru hijau laut itu. Hingga kedua bola mata asli yang mirip mainan itu melompat keluar dan kemudian jatuh menggelinding di tanah. Yvonne muda juga mengiris hidung dan kedua telinga hingga ketiga bagian itu jatuh di tanah
bersama dengan bola mata.
Tidak lupa, Yvonne muda juga menyayat kedua pipi perempuan itu hingga sampai ke bibir dan telinganya. Dan kemudian Yvonne juga membuang kepala itu begitu saja seperti membuang sampah yang tidak berharga.
Yvonne muda juga melakukan hal yang sama
dengan sang laki-laki. Bedanya, Yvonne muda juga meludah tepat di kening laki-laki itu dan lalu membuang kepala yang sudah cacat itu. Dengan mata yang menggelap, Yvonne muda langsung menginjak-nginjak semua potongan wajah yang
sudah ia iris itu. Dari mulai daging hidung, telinga, dan empat mata yang seketika itu benyek di selop sepatu Yvonne muda.
Yvonne muda menatap dingin ke jasad yang bersimbah darah itu. Sudut bibirnya terangkat, baik Yvonne muda yang mengenakan pakaian kulit pemburu, dan Yvonne masa kini yang memakai gaun merah terang, mengucapkan kalimat yang sama .....
“Semoga tenang, Ibu dan Ayah!” ucap Yvonne muda dan Yvonne masa kini berbarengan tanpa emosi dengan memakai kedua bahasa yang berbeda. Bahasa kuno, dan bahasa prancis era abad ke-19.
“Aku akan mengirimkan burung gagak untuk kalian berdua!”
Dan kemudian, layaknya riak air ergelombang saat sebuah batu kerikil di lemparkan di atas permukaan air, hingga mengaburkan bayangan di atasnya. Adegan kilas masa lalu itu berubah, dan kini berganti menjadi sesuatu yang lain. Seakan-akan dipindahkan ke tempat lain.
Rumah kayu dengan lantai tanah dan pemandangan berupa kedua jenazah terpenggal
itu kini berganti menjadi sebuah tempat berupa padang bunga yang cantik. Sebuah padang bunga yang penuh dengan bunga matahari yang bersinar kekuningan di bawah cahaya matahari yang indah.
Bunga-bunga lili putih, bunga-bunga mawar merah yang ada di setiap sudut padang bunga itu, dan berbagai macam bunga-bunga berwarna-warni, menyemarakkan padang rumput yang kehijauan itu di tengah langit biru dengan awan-awan putih lembut seperti kapas.
Dari jauh, Yvonne bisa melihat seorang anak kecil berpakaian gaun berok panjang yang terbuat dari kulit. Dengan rambut merah darah yang dibiarkan tergerai, dan anyaman mahkota bunga di kepalanya, anak kecil berumur 4 tahun itu berlari sambil tertawa terbahak-bahak.
Kedua tangan mungil itu memeluk bunga-bunga warna-warni cerah yang sudah dipetiknya di padang rumput ini. Anak kecil itu kelihatan manis dan ceria, dengan sepasang bola mata emas seakan-akan sebatang emas dilelehkan dan kilauannya sama seperti matahari yang hangat.
Anak kecil itu lalu berlari melewati Yvonne dewasa yang memakai gaun merah terang begitu saja seakan-akan Yvonne di masa kini itu tidak ada bedanya dengan udara. Di belakang anak kecil yang manis utu, seorang wanita paruh baya yang memakai pakaian kurang lebih sama dengan anak itu mengejar dengan nafas yang terengah-engah.
“Putri!!” teriak sang wanita memakai bahasa Gaelic yang kental. Sedangkan sang anak kecil lalu melompat-lompat sambil berteriak-teriak dengan suara yang manis. Anak kecil itu menoleh ke belakang, tersenyum ceria menampakkan dua bagian depan giginya yang
ompong.
“Ayo bibi, kejar Yvonne!” teriak anak kecil itu sembari kembali berlari sambil tertawa-tawa. Saat wanita paruh baya itu melewati Yvonne, adegan ini langsung sama seperti adegan yang sebelumnya.
Beriak dan berdistorsi seperti permukaan air yang bergoyang saat dilempari dengan batu kerikil. Mata Yvonne menggelap, dan saat ia membuka matanya lagi, ia sudah ada di dalam ruangan yang tadi.
Sebuah ruangan tanpa perabot dengan marmer, dinding, dan plafon atap putih kusam yang membosankan. Ahh, Yvonne tersadar, kalau ia dari tadi masuk ke dalam halusinasi kristal merah itu. Dan kristal merah itu menampakkan kedua kenangan paling samar yang pernah terjadi di dalam hidup Yvonne yang panjang.
Yvonne lalu menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir kedua kenangan itu di dalam kepalanya, Yvonne lalu menunduk untuk melihat apa yang ada di dalam kotak kayu itu. Dan benar saja seperti yang sudah dilaporkan, sebuah kristal merah yang berukuran kira-kira sekepalan
tangan orang dewasa sudah ada di dasar kotak kayu itu.
Bersinar cerah seperti ada api di dalamnya. Dan bentuknya bukanlah seperti permata yang ada di
perhiasan.
Kristal merah itu malah terlihat seperti batu permata mentah belum jadi dengan potongan sisinya yang kasar dan seperti ala kadarnya. Seperti batu permata yang belum dipotong rapi, dan belum digosok hingga berkilat supaya bisa dijadikan perhiasan cantik yang sepantasnya.
Yvonne menghela nafas saat menatap kristal merah yang kilauannya terlihat hampir sama dengan batu Ruby. Mengerutkan keningnya, Yvonne langsung berniat hendak menyentuh kristal itu.
Namun, setetes darah Yvonne langsung jatuh di atas kristal merah. Layaknya sponge, darah yang sudah jatuh di atas permukaan kristal kasar itu langsung terserap di dalam kristal merah. Mendadak, kristal merah langsung bersinar lebih terang seperti api yang berkilat-kilat.
Kristal merah itu langsung retak-retak dan terbelah menjadi dua. Dan di dalam retakan dan belahan itu, keluarlah cahaya yang terang benderang yang seketika itu membutakan mata Yvonne.
Sadar jika akan ada lagi sesuatu yang akan datang, Yvonne cepat-cepat mengalirkan mana yang ada di jantungnya untuk keluar dan membuat tabir pelindung di aekitarnya. Sebuah tabir yang bisa melindunginya dari serangan apa pun dan berpotensi bisa menyakitinya.
Dari dalam kristal merah itu, keluarlah asap-asap hitam yang terasa seperti kegelapan pekat. Asap-asap itu langsung membumbung tinggi dan menyebar di dalam ruangan itu dengan hawanya yang betul-betul terasa membekukan tulang.
Dan mungkin saja orang-orang yang menyentuh ataupun berdekatan dengan asap-asap hitam ini akan menggigil kedinginan, atau hipotermia yang demikian parah hingga organ dalamnya berhenti berfungsi.
Bukan hanya asap-asap hitam saja yang muncul, petir-petir keemasan yang besar dan serupa dengan guntur pun langsung menyambar-nyambar dan membuat ruangan penyimpanan langsung gosong. Seketika itu ruangan putih membosankan ini langsung terbakar hingga menimbulkan asap-asap yang membuat batuk-batuk orang yang menghirupnya.
Keadaan di dalam demikian parahnya hingga petir-petir itu merusak seluruh ruangan, menyambar dan membakar apa saja yang ada di dekatnya. Dan seketika itu ruangan langsung dipenuhi dengan api-api meretih yang berkobar-kobar di mana-mana. Sedangkan asap-asap hitam itu semakin menyebar ke segala arah seperti wabah hitam yang menjangkiti apa saja.
Ruangan penyimpan langsung hancur luluh lantak. Api menjalar di mana-mana, sedangkan Yvonne yang berdiri di tengah kekacauan itu terlihat tenang-tenang saja berkat sihir perlindungan yang ia gunakan.
Api yang ada di lantai, petir besar yang menyambar tepat di samping telinganya, dan bagian atas tubuh serta kepala Yvonne yang dimakan oleh asap hitam itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya. Yvonne baik-baik saja, api, petir, dan asap hitam yang jaraknya sangat dekat dengan dirinya sama sekali tidak melukainya.
Atap pun langsung roboh di sana sini hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Suara api yang berderak, sambaran guntur, dan lain-lain. Membuat udara yang ada di situ luar biasa panas sekaligus juga dingin. Terdapat perbedaan suhu yang ekstrim di sana, hanya saja Yvonne tetap berdiri di situ memandangi semua kekacauan yang ada dengan wajah datar tanpa emosi.
Ruangan itu pun meledak, tidak! Bukan ruangan itu saja, tetapi seluruh bangunan itu meledak seperti terkena bom.
Kayu-kayu, dinding bata yang langsung hancur menjadi serpihan pasir yang berterbangan di langit-langit, atap-atap kayu hangus yang sudah patah-patah terbang ke langit dengan api yang melalapnya. Pintu, marmer yang seketika itu
langsung tercabut dari semennya dan berubah menjadi beling-beling hangus panas yang sudah hancur.
Serta segala dari bangunan bertingkat dua dengan gaya Victoria itu, semuanya sudah hancur luluh lantak. Dan kini, sepasang mata emas Yvonne menyipit di udara, ke arah petir-petir dan asap-asap itu kemudian memisah diri
antara satu sama lain.
Asap-asap hitam perlahan-lahan bergerak mengumpul menjadi satu. Asap-asap itu membentuk seperti bayangan siluet janin manusia yang seukuran dengan jempol tangan, terus membesar membentuk seukuran bola kasti, mangga, dan terus membesar lagi hingga seukuran bayi manusia.
Kepala, kedua tangan dan kaki, serta tubuhnya terbentuk sempurna seperti seorang bayi manusia yang hidup dan bernafas. Sedangkan tubuhnya yang awalnya hitam legam itu perlahan-lahan warna hitamnya surut dan memudar dan kini digantikan oleh kulit berwarna putih kuning langsat yang sempurna.
Hidungnya, bibirnya, jari jemari kaki dan tangannya, matanya, wajahnya, telinganya, dan seluruhnya terbentuk sempurna membentuk bayi manusia yang baru lahir. Sedangkan di saat yang bersamaan, petir-petir kemudian menyambar-nyambar dan mengumpul membentuk menjadi satu.
Membentuk semacam cahaya mirip dengan janin bayi yang belum sempurna. Janin bayi bercahaya itu kemudian bertambah besar sama dengan bayi yang terbuat dari asap-asap hitam. Hingga janin bercahaya terang itu membentuk sesosok bayi yang sempurna.
Kulitnya berwarna putih kuning langsat, dengan bibir, hidung, mata, wajah, dan kedua telinga yang mirip sekali dengan bayi yang pertama.
Mata Yvonne sama sekali tidak berkedip aaat ia menyaksikan kedua bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu turun perlahan-lahan seperti sedang terbang. Kemudian semakin rendah, hingga kedua bayi tanpa busana itu sudah mendarat di lantai hangus dan tergeletak begitu saja di depan kaki Yvonne.
Yvonne menundukkan kepalanya dengan mata yang memicing untuk melihat kedua anak bayi itu agar lebih jelas. Bayi yang pertama memiliki rambut merah darah yang sama dengan rambut merah darah Yvonne.
Saat bayi itu membuka matanya, terlihat jika kedua mata bayi ini memiliki warna hijau yang serupa dengan warna rumput di pagi hari yang sudah dipotong. Bayi pertama yang tadinya terbuat dari asap-asap hitam dingin itu menatap ke arah Yvonne dengan mata dan wajah polos
yang luar biasa menggemaskan.
Bibir tebal itu mengeluarkan air liur imut-imut,
mata itu bertemu pandang dengan mata emas Yvonne yang dingin. Bayi itu lalu tertawa ceria dengan suara yang menggemaskan. Tangan montok itu masuk ke dalam mulutnya yang kecil.
Sedangkan bayi yang satunya, memiliki rambut pirang emas yang bercahaya seperti matahari. Mata bayi yang ini berwarna biru langit yang teduh. Berbeda dengan bayi berambut merah yang tertawa dan terlihat senang melihat Yvonne yang menjulang di atasnya, bayi pirang ini tiba-tiba menangis dengan keras sambil memasukkan tangannya ke dalam mulutnya.
Seolah-olah bayi ini ketakutan melihat Yvonne.
Melihat kedua bayi berwajah sama yang ada di depannya ini, Yvonne hanya terdiam dengan raut wajah kaku. Ia tidak memperlihatkan emosi apa pun. Tidak merasa panik, ataupun mencoba untuk menggendong, mencari bantuan, atau apa seperti selayaknya orang normal saat melihat kedua bayi tanpa ibu dan ayah ini. Sebaliknya, melihat kedua bayi ini,
Yvonne seperti patung es.
Itu wajar, setidaknya bagi Yvonne. Seumur hidupnya, ia sama sekali tidak pernah melihat ataupun mengendong bayi baru lahir, ataupun menyentuhnya. Bagi Yvonne, bayi hanyalah makhluk lemah yang hanya bisa menangis, minum susu, meneteskan air liur, tertawa dengan suara yang menggelikan, lalu buang air besar, setelah itu tidur.
Bayi hanyalah makhluk tidak berguna baginya. Dan mendengar suara tangisan bayi pirang ini, membuat kepala Yvonne pusing luar biasa.
Dari kejauhan, Yvonne bisa mendengar auara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekatinya. Suara langkah kaki seorang pria? Barangkali? Terdengar semakin dekat di belakang punggung Yvonne. Bahkan tanpa perlu Yvonne menoleh ke belakang lagi, ia tahu jika pelayannya itu akan
datang dengan wajah yang pucat, dan tergopoh-gopoh seperti seorang nenek tua yang menjemput cucunya sebelum matahari turun.
Benar saja, suara langkah kaki itu
berhenti tepat di belakang punggung Yvonne.
"Your Majesty!!!” suara Edmund yang
biasanya lembut itu terdengar keras sekali seperti guntur. “Ledakan apa itu?”
tanyanya lagi dengan suara yang serak.
Suara tangis bayi pirang itu semakin menjadi-jadi saja. Sedangkan tawa si bayi berambut merah terdengar lantang sekali menimpali suara tangisan si bayi pirang. Hingga keadaan di situ
diramaikan oleh suara tangisan keras dan tawa yang sangat menggemaskan.
Yvonne menoleh sebentar ke arah Edmund yang ada di belakangnya. Benar saja, Edmund tampak pucat dan ia membelalakkan mata saat mendengar suara bayi itu. Dia dengan jelas melihat ada dua bayi tergeletak di ubin hitam berasap di depan Yvonne. Dua bayi yang masih merah, jelas sekali jika kedua bayi kecil ini tampak baru lahir.
“Your Majesty?” Edmund ternganga sejenak saat menatap dua bayi tanpa busana itu. “Bayi siapa ini?” Edmund kedengarannya sangat histeris.
Sebaliknya, berbeda dengan Edmund, Yvonne malah terlihat sangat santai dan tidak panik sama sekali. Ia malah menatap satu jari telunjuknya yang berdarah. Bibir merah Yvonne merengut tidak suka. Yvonne kemudian mendengus saat ia menatap darah merah itu.
Darah yang sama dengan warna rambutnya.
Sepertinya, Edmund yang melihat darah yang mengalir di telunjuk Yvonne mendadak paham. Pelayan itu langsung merogoh kantong celananya sendiri, menarik satu sapu tangan berwarna putih krem di sana, dan menyerahkannya pada Yvonne, Yvonne langsung mengelap jarinya yang berdarah dengan sapu tangan itu.
Darah merah itu kini sudah berpindah di sapu tangan, mewarnai kain putih lembut yang terbuat dari sutra itu dengan setitik darah merah cerah. Setelah mengelap jarinya itu, Yvonne langsung membuang sapu tangan itu dengan lagak angkuh. Sapu tangan itu langsung jatuh di tanah dan teronggok loyo di sana.
Yvonne langsung menatap ke arah Edmund dengan tatapan tanpa emosi yang dingin. Ia lalu menunjuk ke arah dua bayi itu dengan dagunya sendiri.
“Ambil dan rawat kedua bayi ini! Edmund!” perintah Yvonne dengan wajah dingin selayaknya patung es. “Kita akan membesarkannya!”
Dan kemudian, Yvonne langsung melenggang
pergi dari sana. Melewati kekacauan yang berupa banyak sekali puing-puing bangunan yang terbakar, dengan bau hangus dan angin yang berembus kencang di tempat itu.
Sedangkan Edmund? Ah, pria itu kelabakan karena mulai saat ini, ia harus merawat dan mengasuh kedua bayi itu. Bayi yang menggemaskan sekali, hanya saja, entah misteri apa yang ada di kedua bayi yang mendadak muncul itu ....
Hanya Yvonne yang tahu!
Anda Mungkin Juga Suka





