Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Alpha's Silent Oath

The Alpha's Silent Oath

Selene Moonhart, gadis bisu pewaris darah Ratu Serigala, terjebak dalam perang klan setelah desanya hancur. Ia diselamatkan oleh Darius Blackthorn, Alpha yang terikat sumpah leluhur untuk tidak mencintai orang luar. Meski kutukan mengancam, ikatan mereka tak terelakkan. Di tengah intrik Luca Ashford yang haus kekuasaan, Selene harus membangkitkan kekuatan batinnya. Kini, Darius dan Selene harus memilih antara mematuhi tradisi atau mempertaruhkan segalanya demi cinta.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hutan itu membungkus dunia dalam kabut yang belum sempat hilang. Embun menggantung di ujung dedaunan seperti air mata yang enggan jatuh. Langkah kaki Darius membelah keheningan itu, menggendong Selene yang tubuhnya masih lemah, basah oleh peluh dan darah yang telah mengering.

Mereka meninggalkan reruntuhan malam sebelumnya desa yang terbakar, jerit yang terpendam, dan masa lalu yang kini tinggal puing-puing tak bernama.

"Sedikit lagi," gumam Darius lirih, entah kepada Selene, entah kepada dirinya sendiri. Angin membawa aroma tanah basah, bercampur rempah-rempah dari semak-semak obat yang hanya tumbuh di wilayah Amazon dalam.

Selene memejamkan mata, bukan karena lelah, tetapi karena ia mulai mendengar sesuatu. Sebuah bisikan dalam pikirannya, bukan dari luar-melainkan dari dalam darahnya sendiri. Suara itu tidak menggunakan kata, tapi ia tahu artinya; "Kau telah kembali."

Lembah Blackthorn tersembunyi di balik dinding-dinding alam yang hanya bisa ditembus oleh mereka yang berdarah serigala. Kabin kayu dengan ukiran motif suku Yawanawa berdiri dalam susunan melingkar, menghadap ke pusat suci tempat api tak pernah padam. Pohon ceiba yang menjulang di tengah menjadi saksi sumpah yang diikat selama ratusan tahun-sumpah diam, "The Silent Oath".

Selene tersentak saat Darius menurunkannya di rumah utama. Matanya menyapu lukisan di dinding: sosok setengah serigala-setengah manusia berdiri di antara dua dunia-cahaya dan bayangan. Ia tahu itu bukan sekadar mitos.

Elara, perempuan tua yang berambut gimbal panjang dan tato merah darah di dahinya, menyambut mereka. Di balik matanya yang nyaris buta, tersimpan hikmah yang telah melihat terlalu banyak kehancuran.

"Kau membawanya ke sini?"

"Ia diserang. Aku tidak bisa meninggalkannya."

"Darius...." Nada Elara turun seperti malam yang merayap, "Kau tahu siapa dia. Dan kau tahu apa artinya."

Selene hanya menunduk. Tapi Elara mendekatinya, menyentuh wajahnya dengan jemari keriput.

"Darahmu bicara lebih nyaring dari suara siapa pun. Tapi diam tak pernah membuat seseorang selamat."

---

Hari-hari berikutnya membawa Selene pada dunia baru. Ia tidak hanya sembuh dari luka fisiknya, tapi mulai memahami sesuatu yang lebih dalam-ia tidak asing di sini. Hutan berbicara padanya daun-daun berdesir seperti menyebut namanya. Anak-anak klan mengajarinya menari dengan api, membaca bintang, dan menyatu dengan roh leluhur.

Di malam ketiga, Selene menyaksikan ritual transisi bulan. Para anggota klan melolong serempak, bukan sebagai binatang, tapi sebagai jiwa-jiwa yang merayakan kelahiran. Darius berdiri paling depan, tubuhnya dilukis dengan arang dan lumpur tanah leluhur, matanya tak lepas dari Selene.

Ia tidak berbicara banyak. Tapi setiap kali menatap Selene, tubuhnya menegang seperti menahan sesuatu yang lebih liar dari serigala keinginan.

---

Suatu malam, di tepi danau kecil yang airnya memantulkan langit seperti cermin, Darius mendekat.

"Kau tahu tentang sumpah itu?" tanyanya, duduk di sebelahnya. Selene mengangguk perlahan. Ia telah membaca dalam buku kayu tua tentang The Silent Oath-sumpah yang mengikat para alpha untuk tidak mencintai siapa pun di luar garis darahnya. Jika dilanggar, kehancuran akan turun seperti wabah.

"Aku tak pernah memikirkan cinta," bisik Darius, "karena sejak kecil aku diajarkan bahwa cinta adalah kelemahan."

Ia menoleh padanya, dan untuk pertama kalinya, Selene melihat ketakutan dalam diri seorang alpha.

"Tapi denganmu... semuanya sunyi, tapi hidup. Kau... sunyiku yang tak menakutkan."

Selene mengulurkan tangan, menyentuh jari-jarinya. Ia tak perlu suara untuk menjawabnya. Tapi hati mereka bergetar dalam bahasa yang lebih tua dari kata-kata sentuhan.

Malam itu, bulan menatap mereka. Tapi angin membawa firasat mereka diawasi.

Di balik bayangan hutan, seseorang mengamati.

Luca Ashford.

Dulu sahabat Darius. Kini musuhnya.

Matanya bersinar dengan kemarahan dan hasrat. Ia telah lama mencari keturunan terakhir Ratu Serigala. Jika benar gadis bisu itu adalah dia, maka ia tak hanya membawa kunci keseimbangan tapi juga kekuasaan mutlak.

"Darahmu akan membuka gerbang yang bahkan Darius tak berani ketuk," gumamnya.

---

Keesokan harinya, Selene terbangun dalam keadaan menggigil. Mimpi tentang perempuan bermata emas kembali hadir. Tapi kali ini, sang perempuan mengulurkan tangannya, menempelkan telapak ke dada Selene.

"Bangunlah, Penjaga Terakhir. Masa tenangmu sudah selesai."

Selene terbangun dengan luka berbentuk bintang di lengannya-luka yang tidak ia dapatkan secara fisik.

---

Di balai utama, Darius memanggil para tetua.

"Dia... adalah yang disebut dalam Legenda Bisu."

Elara mengangguk perlahan, "Jika ia benar-benar keturunan Ratu Serigala, maka takdir kita berubah. Tapi juga bahaya akan datang lebih cepat dari yang kita duga."

Seorang tetua lain berkata lirih, "Cinta bukan musuh, Darius. Tapi ketika cinta bertabrakan dengan warisan kutukan, hanya pengorbanan yang tersisa."

Di luar ruangan, Selene berdiri sendiri, menatap ke langit. Ia mulai menyadari bahwa dirinya bukan korban tapi pusat dari badai yang akan datang.

Darius menghampirinya, membungkuk sedikit agar sejajar dengan wajahnya.

"Aku ingin kau tahu... jika aku bisa memilih, aku akan memilihmu tanpa keraguan. Tapi aku pemimpin. Aku tak bisa mencintaimu... tanpa menghancurkan semua yang kulindungi."

Selene menuliskan sesuatu di tanah; "Bagaimana jika aku tidak meminta dicintai, hanya dipercaya?"

Darius menatapnya lama. Lalu mendekat, mencium dahinya dengan perlahan. "Kepercayaanmu... adalah satu-satunya hal yang membuatku bertahan dalam sumpah ini."

Tapi saat mereka kembali ke desa, kabut telah berubah warna-merah samar.

Salah satu penjaga jatuh dari menara pengawas, lehernya robek.

Di batang pohon utama, tertulis pesan dalam darah;

"Ratu Telah Bangkit. Dan Aku Akan Menyambutnya."

Nama pengirimnya hanya satu-Luca.

Kabut merah samar menebal, menyelubungi desa seperti jubah kematian. Aroma besi dan tanah basah menggantung di udara. Angin berhenti bergerak, seakan hutan pun menahan napas.

Selene berdiri mematung di samping Darius, matanya terpaku pada tulisan darah di batang pohon suci. Kata-kata itu membakar pikirannya lebih dari api. "Ratu Telah Bangkit." Tapi siapa ratu itu? Dan mengapa luka berbentuk bintang di lengannya kini terasa panas seperti baru terukir?

"Luca," gumam Darius, nadanya berubah menjadi geraman rendah, liar, dan dingin.

Elara muncul dari balik semak dengan tongkat berukir roh leluhur di tangannya. "Bayangan telah bergerak lebih cepat dari cahaya. Kau harus menghadapinya, Darius, atau seluruh klan akan terseret dalam kutukan yang kau coba hindari."

Darius mengepalkan tangan. Matanya kembali menatap Selene, seolah ia menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui bahwa semua ini terjadi karena dia membawanya ke sini.

Namun Selene hanya menatapnya dengan sorot mata yang tidak menuntut, hanya yakin.

Rapat darurat dipanggil. Para tetua berkumpul di Balai Roh Leluhur, sebuah ruang kayu dengan dinding dihiasi topeng-topeng roh dan lukisan prajurit kuno. Di tengah ruangan, asap damar melingkar di udara, membawa aroma yang menusuk dan membangkitkan kesadaran.

"Luca ingin perang," ujar seorang tetua muda bernama Eno. "Dia telah mengusir para pemburu dan memanipulasi mereka. Ia ingin Selene... bukan sebagai pasangan, tapi sebagai alat kebangkitan kekuatan lama."

"Ia ingin darah Ratu untuk membuka Gerbang Roh Purba," sahut Elara. "Jika itu terjadi, bukan hanya klan Blackthorn yang hancur, tapi seluruh keseimbangan antara roh alam dan manusia akan pecah."

Darius berdiri. "Kita akan memperkuat perbatasan. Semua anggota muda akan dilatih kembali. Dan aku... akan mempersiapkan diri untuk menghadapi Luca secara langsung."

Suara-suara menyetujui. Tapi satu suara diam terdengar paling nyaring-Selene.

Ia berdiri dari sudut ruangan, mengambil arang dari api dan menulis di lantai:

"Jangan lindungi aku seperti korban. Aku bagian dari ini."

Para tetua saling berpandangan. Elara tersenyum kecil, "Dia bukan hanya warisan darah. Dia ingatan dari kekuatan yang kalian lupakan."

---

Malam itu, Selene kembali bermimpi.

Dalam mimpi itu, ia berdiri di tengah sungai yang bercahaya, diapit dua bayangan. Di sebelah kiri, seorang perempuan bertanduk dengan mata bercahaya emas, berbisik: "Buka hatimu. Kuatkan darahmu." Di sebelah kanan, bayangan laki-laki-tidak lain dari Luca mendekat, suaranya tajam; "Cinta Darius akan menghancurkanmu. Tapi bersamaku, kau akan abadi."

Ketika Selene membuka mata, ia mendapati dirinya berada di luar rumah, kakinya tenggelam di lumpur, seolah ia berjalan dalam tidur dipanggil oleh sesuatu.

Di langit, bulan penuh bersinar pucat. Tapi malam itu, bulan terasa seperti mata. Mengawasinya. Menilainya.

---

Hari-hari berikutnya dilalui dalam persiapan. Darius semakin jarang tidur. Ia melatih para prajurit muda sambil mengawasi hutan dari menara.

Selene, di sisi lain, semakin dalam menggali warisan dalam dirinya. Elara membawanya ke tempat suci di balik air terjun, gua tempat roh leluhur perempuan bersemayam. Di sana, ia belajar membaca tanda-tanda di kulit binatang, memahami gerak bintang, dan mendengar bisikan hutan dalam kesunyian.

Dalam diamnya, Selene menemukan bahasa yang lebih tua dari suara: intuisi, ketukan darah, tarikan napas semesta.

Darius menyaksikannya dari jauh. Setiap kali mata mereka bertemu, ada sesuatu yang tak tertahankan mengalir di antara mereka-sebuah rasa yang tak diizinkan untuk tumbuh, tapi tetap mekar dalam diam.

---

Suatu malam, saat angin berembus membawa aroma pahit, Darius mendapati Selene di bawah pohon ceiba. Ia menggenggam potongan kayu kecil, mengukir simbol bintang dengan jarinya.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Darius lirih.

Selene menatapnya, lalu menulis di tanah:

"Apakah kau lebih takut pada Luca... atau pada perasaanmu sendiri?"

Pertanyaan itu menusuk seperti taring. Darius tertawa pahit.

"Aku takut... kalau aku mencintaimu, aku akan melanggar semua yang telah aku sumpahkan. Dan jika aku tidak mencintaimu, aku kehilangan satu-satunya yang membuatku merasa hidup."

Selene mendekat, mengangkat tangan, dan menyentuh dadanya. Di balik kulit dan otot, ia merasakan detak yang bukan sekadar jantung, tapi rasa.

"Lalu izinkan aku jadi alasanmu untuk bertarung... bukan untuk kalah." Ia tidak menulisnya, tapi ia tahu Darius mengerti.

Namun malam itu tak selesai damai. Saat bulan mencapai puncaknya, lolongan panjang terdengar dari arah timur. Bukan lolongan dari klan Blackthorn. Ini... ancaman.

Darius langsung berdiri, mata berubah emas terang.

"Mereka datang."

Seluruh desa bergerak. Alarm suku dipukul: drum besar yang terbuat dari kulit macan dan batang pohon tua. Api dinyalakan di titik-titik penjagaan.

Selene menggenggam belatinya yang diberi Elara. Ia menatap bayangan pepohonan dengan tenang.

Tapi dari bayangan itu, yang muncul bukan serigala. Melainkan manusia. Seorang gadis remaja, mengenakan kalung gigi serigala dan luka di pipi.

"Aku utusan dari faksi hibrida. Luca membunuh saudara-saudaraku. Tapi aku tahu sesuatu yang tidak kalian tahu."

Mata gadis itu berkilat seperti batu akik.

"Selene... bukan hanya warisan. Dia kunci. Tapi bukan untuk kehancuran-untuk pengakhiran sumpah yang mengekang kalian selama ini."

Darius menatap Selene. Tubuhnya tegang. Pertarungan yang ia pikirkan akan terjadi di luar... ternyata sudah mulai dari dalam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Another Maze
9.6
Keberhasilan mesin waktu memicu kemunculan bola misterius yang meledak saat disentuh Robert Hans. Laboratorium hancur total, menyisakan Zora sebagai satu-satunya ilmuwan yang selamat. Demi menyelamatkan Hans yang pingsan, Zora nekat masuk ke mesin waktu tanpa koordinat pasti. Di sana, Dewi Penjaga Waktu mengungkap rahasia pulang: mereka harus mengumpulkan kepingan Air Mata Aldebran yang tersebar di berbagai dimensi asing guna menciptakan kunci kembali.
Sampul Novel I'm The Beast
9.0
Rodolfo Silas adalah pembunuh bayaran yang beralih menjadi pelindung desa saat teror makhluk aneh melanda. Di tengah misteri hilangnya manusia setiap bulan purnama, Rodolfo berjuang sendirian menghalau pasukan serigala berkat kemampuan tempurnya yang luar biasa. Namun, nasibnya berubah drastis ketika pasukan elite werewolf menculiknya dan mengubahnya menjadi monster mengerikan. Kini, ia harus menghadapi kenyataan baru sebagai bagian dari kaum yang ia lawan.
Sampul Novel Kasus 21+
9.3
Konten ini khusus pembaca dewasa 21 tahun ke atas. Eva Avalon, seorang petugas kepolisian elit, kini mengemban tanggung jawab besar sebagai ketua tim khusus. Misinya adalah memberantas tuntas berbagai tindak kejahatan serta eksploitasi seksual yang merajalela. Di tengah kemajuan teknologi yang memicu beragam modus operandi baru yang licin, ikuti perjuangan hebat Eva dalam menyelidiki dan mengungkap setiap kasus rumit demi menegakkan keadilan.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Seorang pria terjebak dalam kengerian Hutan Gondoriyo setelah tersesat saat menjelajah. Di tengah fenomena ghaib kendaraan yang raib, ia bertemu pasangan lansia misterius di sebuah pondok terpencil yang memberinya peringatan. Meski berhasil pulang, rasa penasaran membawanya kembali, namun hutan itu seolah lenyap. Hubungan gelap antara kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terkuak, memaksanya mempertaruhkan nyawa demi mengungkap kebenaran yang menghantui.
Sampul Novel OLD & GOLD
8.0
Hidup Carissa hancur saat ayahnya dipenjara karena kasus korupsi. Mencari ketenangan, ia bekerja di The Golden's Arena milik Antoni Miller, mantan staf ayahnya. Kedekatan mereka berkembang menjadi hubungan romansa dewasa yang memicu kemarahan keempat anak Antoni. Di tengah konflik keluarga tersebut, Fahri, seorang YouTuber sekaligus mantan detektif, mulai menyelidiki kejanggalan kasus ayah Carissa, mengungkap misteri yang selama ini terpendam rapat.
Sampul Novel PETUALANGAN KE KOTA PARIS
8.8
Pasca perceraian, seorang wanita muda memutuskan terbang ke Paris demi memulihkan jati dirinya yang hilang. Di tengah keindahan kota tersebut, ia bertemu seniman tampan yang mengubah pandangan hidupnya secara drastis. Hubungan mereka berkembang menjadi romansa yang sangat intens, dibalut dengan eksplorasi dunia seni yang mendalam. Perjalanan ini menjadi titik balik baginya untuk menemukan kembali gairah serta semangat hidup yang sempat redup di masa lalu.