
The Alpha's Silent Oath
Bab 3
Kabut belum juga menghilang dari desa saat fajar menyusup perlahan melalui celah-celah pepohonan. Cahaya merah muda yang lembut menerpa dedaunan, seperti ingin menenangkan luka malam sebelumnya. Tapi ketenangan itu hanya semu.
Di Balai Roh Leluhur, Elara duduk bersila di depan api kecil. Tatapannya kosong, namun jari-jarinya sibuk menggenggam kalung taring yang diwariskan dari ayah mereka. Api bergetar pelan, seolah ikut gelisah.
Pintu terbuka. Darius masuk, langkahnya tenang tapi sorot matanya waspada. Ia tahu percakapan ini akan membuka retakan yang selama ini mereka jaga tetap tersembunyi.
"Kau seharusnya tidak membawanya ke sini," ucap Elara tanpa menoleh.
Darius berhenti di seberang api. "Dia bukan musuh. Kau melihatnya sendiri. Dia... bagian dari kita."
"Bagian dari apa?" Elara menatapnya tajam. "Kita? Atau takdir yang belum kita pahami dan bisa menghancurkan kita semua?"
Api menjilat kayu, mengeluarkan letupan kecil. Di balik sinarnya, dua kakak-beradik itu saling mengukur, seperti dua bintang tua yang pernah bersinar bersama tapi kini terpisah oleh orbit yang berseberangan.
"Selene membawa sesuatu yang bahkan roh leluhur tidak bisa jelaskan sepenuhnya. Tapi kau membiarkannya tinggal, bahkan melatihnya," kata Elara.
"Karena dia harus tahu siapa dirinya. Kita semua pernah melalui itu. Termasuk kau."
Elara berdiri. "Perbedaan kita, Darius, adalah aku tahu kapan harus patuh pada sumpah. Dan kau... tampaknya sudah melupakannya."
---
Di luar, Selene sedang belajar menggunakan busur bersama para prajurit muda. Tangannya luka, tapi matanya menyala. Setiap tarikan panah adalah bahasa. Setiap pelepasan adalah pernyataan.
Tiba-tiba, Rael salah satu prajurit muda berbisik pada temannya, cukup keras untuk Selene dengar. "Kita tidak tahu dari mana dia datang. Bisa saja dia mata-mata Luca."
Selene berhenti. Ia menatap Rael, tidak marah, tapi juga tidak takut. Ia mengambil anak panah, lalu menancapkannya ke tengah sasaran dengan satu gerakan.
Elara yang menyaksikan dari jauh mengerutkan alis. Ia melihat kekuatan itu. Terlalu besar untuk dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan.
Malam harinya, Elara memanggil dewan tetua secara diam-diam. Mereka berkumpul di gua bawah tanah, tempat suara tidak memantul, dan rahasia bisa hidup lebih lama.
"Darah Selene bukan hanya serigala. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak bisa dijelaskan. Aku khawatir... dia bukan Ratu seperti yang dikira. Tapi portal."
Eno bertanya, "Portal?"
"Ke dunia roh yang telah dikunci oleh leluhur karena satu alasan: kekuatan itu terlalu liar untuk dikendalikan. Jika dibuka, bukan hanya Luca yang akan datang. Tapi mereka... yang tak bernama."
Salah satu tetua, perempuan tua bernama Yura, bergumam lirih, "Kalau begitu, kau ingin kita mengasingkannya?"
"Aku ingin kita berhenti berpura-pura bahwa cinta Darius padanya tidak berbahaya."
Sementara itu, Darius membawa Selene ke makam ibu mereka. Di sana, bunga-bunga malam bermekaran di atas batu, seolah bumi pun masih mengingat kelembutan wanita yang melahirkan dua pemimpin berbeda.
"Elara tidak membencimu," kata Darius.
Selene menatap batu nisan itu, lalu menuliskan di tanah: "Tapi dia takut padaku."
Darius menatap tulisan itu lama. "Dia takut kehilangan aku. Dan aku... tidak tahu apakah aku masih bisa menjadi Alpha jika aku terus mencintaimu."
Selene mengangguk pelan, lalu menulis: "Mungkin cinta bukan untuk menyelamatkan pemimpin. Tapi untuk mengingatkan bahwa mereka masih manusia."
Darius memejamkan mata. Ia ingin menciumnya. Tapi sumpah di dalam darahnya menjerat. Maka ia hanya menyentuh pipinya. Diam. Lama.
---
Keesokan harinya, keributan terjadi. Rael memimpin sekelompok pemuda yang menolak latihan bersama Selene. Mereka membakar tong latihan dan menggantungkan simbol tolak di pagar desa.
"Kami tidak akan dilatih oleh seorang asing yang bahkan tak bisa bicara!"
Darius muncul, suaranya tenang tapi keras: "Kalau kau tidak bisa mengalahkannya dalam latihan, maka kau tidak layak bersuara."
Rael mencoba menyerang Selene, tapi dalam satu gerakan, gadis itu menjatuhkannya tanpa suara. Semua terdiam.
Elara datang, melihat kejadian itu. Ia tahu, Selene bukan hanya kuat. Ia simbol. Dan simbol... bisa menyatukan, atau menghancurkan.
Malam itu, Elara memanggil Selene ke mata air suci. Mereka duduk berhadapan, hanya diterangi cahaya kunang-kunang.
"Kau ingin kepercayaan kami. Maka aku ingin kejujuran darimu. Apa yang kau lihat dalam mimpi-mimpimu?"
Selene menarik napas, lalu menulis di atas batu basah; "Sungai. Dua bayangan. Satu ingin aku jadi ratu. Satu ingin aku jadi kunci. Tapi aku hanya ingin jadi aku."
Elara menatap tulisan itu lama. Lalu berkata, "Kalau begitu, buktikan. Bantu kami menghadapi Luca. Tapi jika kau berbalik, aku sendiri yang akan mengakhirimu."
Selene mengangguk. Tak gentar.
Tapi saat mereka berjalan kembali, seekor burung jatuh dari langit. Tubuhnya membusuk dalam hitungan detik. Di bawahnya, secarik kain berdarah-pesan dari Luca.
"Gerbang akan dibuka pada bulan keempat. Ratu akan memilih. Dan yang tidak dipilih... akan lenyap."
Elara menggenggam kain itu, lalu menatap Selene. Untuk pertama kalinya, tatapan mereka tidak penuh kecurigaan. Tapi kesiapan.
Perang bukan hanya melawan Luca. Tapi terhadap waktu. Terhadap takdir. Dan terhadap cinta yang tak bisa diucapkan, tapi bisa mengubah segalanya.
---
Malam mulai menipis, diselimuti angin lembap dan aroma kayu basah. Setelah kembali dari mata air suci, Elara dan Selene berjalan dalam diam, hanya suara dedaunan dan desiran napas mereka yang terdengar. Kain berdarah dari Luca masih tergenggam erat di tangan Elara, seolah serpihan masa lalu yang tak bisa dibuang begitu saja.
Sesampainya di kamp, para penjaga bersiaga penuh. Ketegangan terlihat di wajah-wajah mereka, seolah pesan dari Luca telah mengendap sebagai mimpi buruk yang belum selesai. Darius berdiri di depan api unggun, mata tajamnya menangkap kehadiran Elara dan Selene. Namun kali ini, dia tidak mendekat. Ada jeda, ada ruang di antara mereka yang mulai berubah.
"Apa yang dia katakan?" tanya Darius tanpa basa-basi.
Elara melemparkan kain berdarah itu ke tanah, tepat di antara kaki Darius.
"Gerbang akan dibuka pada bulan keempat," gumam Elara. "Dan Ratu harus memilih."
Darius menatap Selene, yang berdiri tanpa gemetar. Tak ada suara keluar darinya, tapi matanya memancarkan tekad.
"Kita harus bersiap. Kalau Luca benar, maka ini bukan lagi pertempuran kecil. Ini adalah akhir dari keseimbangan yang tersisa," ucap Darius.
Keesokan harinya, pertemuan klan diadakan di aula terbuka. Bangunan bundar itu dikelilingi oleh patung-patung serigala tua, simbol pelindung dan leluhur. Para anggota klan Blackthorn berkumpul, dari para tetua hingga pejuang muda, semua ingin tahu kebenaran tentang wanita asing yang kini tinggal di antara mereka.
Elara berdiri di tengah, mengangkat tangan untuk memulai.
"Kita semua tahu ancaman dari Luca. Kita semua tahu apa artinya jika gerbang benar-benar dibuka. Tapi kita belum tahu sepenuhnya apa yang dibawa oleh wanita ini."
Suara riuh rendah muncul, gumaman, bisikan, bahkan keraguan.
"Selene tidak datang untuk menghancurkan kita. Tapi kita tak bisa membiarkan dirimu hanyut oleh simpati," lanjut Elara, lalu menatap Darius tajam. "Atau cinta."
Darius berdiri. Suaranya tenang namun tegas. "Cinta bukan kelemahan. Tapi sumpah kita sumpahku adalah pedang bermata dua. Aku tidak memintamu untuk mencintai Selene. Aku hanya ingin kalian tahu bahwa dia adalah bagian dari cerita kita, suka atau tidak."
Selene melangkah maju. Dengan kapur yang ia ambil dari altar tengah, ia menulis di batu besar di hadapan semua klan:
"Aku tidak minta diterima. Aku hanya minta diberi kesempatan."
Diam. Hening. Lalu salah satu tetua berdiri.
"Kalau kau bisa buktikan dirimu dalam ritual malam bulan keempat, kami akan menerima kehadiranmu. Tapi jika kau gagal, bahkan langit tak akan menangis untukmu."
Malam itu, Selene duduk sendirian di sisi sungai. Air mengalir tenang, tapi pikirannya beriak. Darius menghampirinya dengan langkah hati-hati.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Selene menggeleng. Lalu menulis di tanah, "Apa yang terjadi jika aku memilih tidak memilih?"
Darius duduk di sebelahnya, lutut mereka hampir bersentuhan.
"Maka dunia akan memilih untukmu. Dan dunia jarang sekali memilih dengan adil."
Selene menatapnya, lalu dengan ragu, menyentuh dadanya perlahan. Ia merasakan detak itu. Jantung serigala yang berdetak untuknya, tapi terbungkam oleh sumpah. Darius menggenggam tangannya, memejamkan mata.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu," bisiknya. "Tentang sumpah itu."
Selene mengangkat alisnya.
"Sumpah itu... bukan hanya janji. Itu sihir. Kutukan yang ditanam oleh leluhur kami karena cinta mereka menghancurkan dunia. Mereka takut kita mengulanginya. Jadi mereka mengikat keturunan mereka dalam keheningan."
Selene menulis, "Tapi apa cinta selalu menghancurkan?"
"Tidak," jawab Darius pelan. "Tapi cinta yang ditakuti akan menjadi senjata bagi mereka yang ingin memecah belah kita."
Seketika suara jeritan terdengar dari arah utara. Mereka berdiri bersamaan. Seekor penjaga berlari, darah mengalir dari bahunya.
"Kami diserang! Di sisi utara! Luca mengirim pasukan bayangan!"
Elara sudah siap dengan pasukan. Ia menatap Darius, lalu pada Selene.
"Buktikan kata-katamu. Buktikan bahwa kau bukan beban."
Selene berlari bersama Elara dan pasukan, tanpa ragu. Di tengah pertempuran, ketika serigala-serigala bayangan menerjang dari balik kabut, Selene berdiri. Ia memejamkan mata. Lalu sesuatu terjadi.
Hutan menjadi senyap. Serigala-serigala itu terdiam. Mata mereka bersinar merah, tapi tak bergerak. Suara Selene tak terdengar, namun pikirannya... menggema.
"Berhenti." Satu kata. Satu perintah.
Dan mereka berhenti. Serigala-serigala bayangan itu mundur, lalu menghilang seakan tertelan hutan.
Para pejuang Blackthorn menatap Selene. Nafas mereka memburu. Elara maju, menatap wanita bisu itu lama. Kemudian mengangguk.
"Kau tidak lagi hanya tamu. Kau adalah bagian dari pertarungan ini."
Darius berdiri di sisi Selene. Ia tak berkata apa-apa. Tapi dari cara ia memandang, dunia bisa membaca segalanya: cinta yang tak boleh tumbuh, tapi tak bisa dihentikan.
Dan jauh di dalam hutan, Luca berdiri di antara pohon-pohon yang berlumur darah. Ia tersenyum.
"Ratu mulai menyadari kekuatannya," bisiknya. "Tapi dia belum tahu... bahwa kunci untuk membuka gerbang bukan kekuatan. Tapi rasa sakit."
Tapi perang sudah dimulai, dan semua pilihan akan menuntut harga yang lebih tinggi dari yang pernah mereka bayangkan.
Anda Mungkin Juga Suka





