
Thankyou My Angel
Bab 2
Hari yang ditentukanpun tiba. Hari dimana keluarga Hartono akan bertemu dengan keluarga Sutanto Bahagia. Setelah perdebatan panjang dengan orang tuanya akhirnya Cilla dengan berat hati bersedia untuk bertemu dengan pria yang rencananya akan dijodohkan dengannya. Dengan sedikit menyipitkan mata dia menangkap wajah seorang pria yang ia kenal.
Ya, dia melihat Pak Adrian ada dalam rombongan keluarga Hartono dan dia begitu syok melihat baju yang ia kenakan sama warna dan coraknya dengan Pak Adrian. Beberapa hari sebelum pertemuan itu, Bu Melisa yaitu Mama Cilla memberikan baju yang katanya harus dipakai saat pertemuan dengan keluarga Hartono.
Mati, dia langsung dapat menyimpulkan bahwa yang akan dijodohkan dengan dia adalah Pak Adrian. Wahh bisa diledek habis-habisan ini sama Dewa, pikirnya menerawang jauh ke masa depan. Sementara Dewa kaget juga melihat pemandangan yang ada didepannya sambil menebak 1000% bahwa Cilla pasti akan mencari seribu satu alasan untuk menolak perjodohan itu. Bagaiman tidak, pertemuan pertama dengan Adrian, dia sudah tahu jika Cilla tidak menyukai orang kaku seperti itu. Hanya karena kebutuhan bisnis saja Cilla masih mampu bersikap sopan didepan Adrian.
"Ini Pricillia Amerta Bahagia, Mas. Foundernya MDA yang dia banggakan," ucap Pak Sutanto pada Pak Hartono dengan bangga.
"Wahh, memang Pricillia ini selain cantik juga hebat ya. Saya ngikuti lho perkembangannya MDA itu. Sebagai sesama perusahan yang bergerak di bidang media saya juga tertarik dengan MDA. Denger-denger sudah taken kontrak juga ya dengan Biru," komentar panjang lebar dari Pak Hartono Mandala.
"Udah kok, Pa. Kemarin aku sudah taken sama Bu Pricillia dan Pak Dewa," jawab Adrian.
Cilla masih saja diam. Muak rasanya mengingat pertemuan kemarin dengan Adrian. Gaya kerjanya dengan Dewa yang sedikit santai rasanya berontak jika berhadapan dengan orang semacam Adrian.
"Jadi kalian sudah saling bertemu rupanya, wah .. bagus kalau begitu." Kali ini Bu Melisa Bahagia ikut menimpali, seolah-olah Cilla dan Adrian sudah setuju untuk dijodohkan.
"Iya, Ma. Kemarin aku dan Dewa sudah ketemu Pak Adrian."
"Ihh jangan Pak Adrian dong panggilnya. Kalian kan tidak sedang di kantor. Panggil saja dia Biru, Cil. Anak Tante ini namanya Adrian Askara Biru," sahut Bu Roslina Mandala.
"Bodo amat, mau Biru kek, hijau kek, merah mudah atau putih sekalipun. Gue nggak peduli. Pokoknya ogahlah dijohin sama orang sekaku kanebo kering kayak dia. Bisa stroke gue." Lagi-lagi Cilla mengumpat dalam hati.
Cilla berjalan menjauhi kerumunan 2 keluarga itu. Ingin rasanya ia kabur ke kamar dan menggulung tubuhnya dengan selimut. Ahh nikmat sekali sepertinya bermalas-malasan di kasur seperti bayangannya. Tiba-tiba sebuah derap langkah mengejutkan Cilla.
"Hai Pricillia." Suara berat itu, Cilla yakin adalah suara berat yang sama sekali tidak ingin ia dengar.
"Ngapain lo kesini? Ngikutin gue?" selidik Cilla.
"Ya bisa dibilang begitu," jawab Adrian santai.
"Terus, mau apa?"
"What do you think?"
"Apa?"
"Soal perjodohan kita."
"Gue nggak mau. Gue akan cari cara untuk menggagalkan perjodohan kita."
"Emang saya kurang apa sih? Saya kaya, ganteng, terus apa lagi?"
"Wah, gue baru tahu selain arogan, lo narsis juga ya."
"Maksud saya, setidaknya kamu harus mengenal saya baru kamu boleh ambil keputusan."
"Cieh, baru dikenalin udah mojok aja kalian," ucap Dewa yang tiba-tiba muncul.
Cilla memijat pelipisnya tanpa tertarik untuk menjawab ledekan Dewa sedikitpun. Cilla terlalu lelah malam ini untuk meladeni Dewa, ditambah Adrian. Kembali ia merindukan kasur kamarnya.
"I'm sorry. Gue masuk kamar dulu."
"Acaranya belum kelar, Cil. Nih Adrian juga masih disini."
"Lo aja ngobrol sama Adrian. Biar lebih dekat. Gue ngantuk."
Cilla melangkah menuju kamarnya. Namun sialnya dia terpeleset dan jatuh ke dalam kolam renang. Semua orang yang berada disana berteriak panik. Melihat hal itu, Adrian segera masuk ke kolam dan menyelamatkan Cilla. Sementara Dewa membantu Adrian mengangkat tubuh Cilla ke bibir kolam. Dengan penuh keraguan Adrian mencoba untuk memberikan nafas buatan pada Cilla. Tak lama akhirnya Cilla sadar.
"Woe ngapain lo cium gue," teriak Cilla panik.
"Cilla, ngomong apa kamu?" tanya Pak Tanto.
"Papa, masak Adrian cium aku sih."
"Kamu tahu bedanya dicium sama kasih nafas buatan nggak sih?" tanya Bu Melisa.
"Maaf Om, Tante. Sebaiknya Cilla dibawa ke kamar aja. Kasian kedinginan."
Cilla sedikit berteriak saat Adrian menggendong tubuhnya. Ingin rasanya dia memaki Adrian tapi dia masih sadar banyak orang saat ini. Tepat didepan kamarnya, Cilla berusaha turun dari gendongan Adrian. Sungguh dia merasa sangat sial. Pertemuan pertamanya dengan Adrian bisa dikategorikan pertemuan yang tidak baik. Sekarang, pertemuan keduanya kembali tidak baik. Tidak bisa dia banyangkan akan ada apa lagi setelah ini jika ia masih saja bertemu dengan Adrian. Apalagi menjadi istrinya.
"Kamu itu bandel banget sih. Gerak-gerak terus dari tadi," omel Adrian.
"Ehh, lo pikir gue bahagia gitu digendong elo. Heran kenapa tiap ketemu lo suasana itu nggak enak. Nggak bikin happy."
Cilla masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Adrian tersenyum mendapat perlakuan itu dari Cilla. Sesungguhnya dia belum terlalu yakin dengan perjodohan ini, tetapi dia sedikit tertarik untuk mengenal Cilla dan menaklukan gadis itu.
***
Siang itu Pak Hartono mendatangi kantor PT. Mega Media Mandala khusus untuk menanyakan tanggapan Adrian tentang pertemuannya dengan Cilla. Pak Hartono sangat berharap jika Adrian dan Cilla setuju untuk dijodohkan.
"Jadi gimana, Bi? Kamu suka sama Cilla?"
"Nggak semudah itu, Pa. Semua butuh waktu dan proses."
"Papa tahu. Setidaknya beri tahu Papa, kamu bersedia mencoba berkenalan atau tidak?"
"Bersedia, Pa. Cilla perempuan hebat."
"I think so, Boy. Papa senang kamu mau buka hati kamu. Kalau gitu Papa pergi dulu ya."
"Kesini cuma mau tanya itu aja, Pa? Repot banget nggak telpon aja."
"Hahaha, Papa mau lihat ekspresi kamu." Pak Hartono beranjak dari kursi dan melangkah pergi.
Adrian kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Sesekali ia melihat ponselnya. Beberapa menit yang lalu Pak Hartono mengirim nomor ponsel Cilla dan meminta ia untuk menghubungi Cilla. Tetapi Adrian masih ragu tentang apa yang hendak ia katakan pada Cilla nantinya karena dia bukan tipe lelaki yang mudah berbasa-basi. Terlebih terakhir kali ia dekat dengan wanita adalah setahun yang lalu dengan Miranda. Setelah itu ia sama sekali tidak tertarik untuk berpacaran. Tapi jika tidak dimulai bagaimana perjodohan ini akan berjalan, meskipun belum jelas pada akhirnya akan menikah atau tidak.
Adrian kemudian membuka laman Google untuk mencari tahu apa yang harus ia lakukan. Adrian tersenyum geli menyadari apa yang ia perbuat. Sungguh jika ada orang lain yang mengetahui perbuatannya, ia pasti akan sangat malu.
Anda Mungkin Juga Suka





