Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terungkapnya Kebiasaan Buruk Suamiku

Terungkapnya Kebiasaan Buruk Suamiku

Indira tak menyangka Agung tega mengkhianati pernikahan mereka dengan menjalin hubungan gelap di belakangnya. Menghadapi pengkhianatan suami yang membagi hati dengan Zahra, Indira sadar bahwa memberi pelajaran saja tidak cukup. Ia harus berani mengambil langkah tegas untuk meninggalkan pria tak tahu malu itu demi harga dirinya. Ikuti perjuangan emosional Indira dalam menghadapi kemelut rumah tangga dan keputusannya untuk mencari keadilan serta kebahagiaan baru.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab 3

Aku melangkah gontai paling akhir. Rasanya kakiku gemetar dan sulit sekali untuk melangkah. Ditambah rasa sakit hati dan juga tangan yang terasa kebas, bekas menampar mas Agung dan perempuan itu. Sakit.

Mereka semua sudah duduk di ruang tengah. Mas Agung tampak menenangkan perempuan itu yang masih terisak sambil memeluk Mas Agung. Dasar tidak tahu diri.

Ibu mertua menatapku dengan rona sedihnya, Ayah Mertua duduk di sofa single seolah sedang berpikir. Sementara Yanti, Doni dan tiga orang lainnya yang kuketahui sebagai tetangga Ibu, tampak berdiri seakan menunggu pembicaraan Kedepannya yang akan diputuskan.

"Duduklah, Nak." Ibu bergeser memberi tempat di sebelahnya. Kalau saja ada tempat lain, mungkin aku tidak sudi duduk di sebelah Ibu yang menghadap tepat pada Mas Agung dan perempuan sia*an itu.

"Ayo, Nak, sini," pinta Ibu masih dengan suara khasnya. Lembut. Wanita yang sudah sepuluh tahun menjadi mertuaku itu, memang sangat baik dari dulu bahkan tidak pernah berubah. Meski kadang aku yang masih belum sempurna menjadi menantunya selama ini.

"Ah, Ibu. Teganya anakmu melukai hati dan perasaanku, setelah baktiku selama ini yang sama sekali tidak dihargai.

"Agung, coba sekarang jelaskan semuanya pada istrimu!" Ayah Mertua berucap tegas. Diliriknya Mas Agung yang masih pada posisinya. Berpelukan, tepat seperti Dipsy dan Tinky Winky.

"Baik, Yah." Sejenak dia menghela nafas kasar, lalu menatap tajam ke arahku.

"Maafkan aku Indira, aku telah berbohong di belakangmu. Sekarang aku akan jujur, bahwa aku telah menikahi Zahra. Dia istriku sekarang. Dan dia tengah hamil. Tapi …," Ucapannya terjeda sebentar, seakan ragu untuk meneruskan lagi. Diusapnya wajah, seakan berat untuk bercerita.

"Tapi apa? Katakan semuanya, dan jangan pernah kamu sembunyikan semuanya dariku, Mas." sergahku muak melihat wajah tak bersalahnya. Hatiku sakit mendengar pernyataannya itu. Kenyataan yang tak ingin kudengar. Semuanya terlalu tiba-tiba dan aku tidak siap dengan semua itu tentu saja.

"Tapi …," Mas Agung kembali menghentikan ucapannya sambil menoleh pada perempuan itu dan menggenggam tangannya.

"Katakan dengan jelas! Kamu laki-laki dan harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu!" bentak Ayah Mertua. Seakan beliau juga jengah melihat anaknya yang sedikit bertele-tele.

"Tapi anak yang dikandungnya itu bukan darah dagingku," lirih Mas Agung.

Aku terperangah mendengar tutur katanya, bukan hanya aku sepertinya, semua yang mendengar di ruangan ini pun merasa kaget dengan apa yang diucapkan oleh anak sulung mertuaku ini. Terlebih Ibu, beliau begitu syok, dapat kulihat jika bibirnya sedikit bergetar.

"Ya, ampun. Agung, dimana jalan pikiranmu, kenapa kamu menikahi wanita yang jelas-jelas hamil anak orang lain!" bentak Ayah Mertua. Beliau murka dengan menunjuk muka Mas Agung.

Aku tak tahu pasti, sepertinya beliau pun baru tahu jika Mas Agung membawa perempuan itu ke rumahnya. Sama sepertiku.

"Tapi, Yah. Aku punya alasan sendiri. Aku kasihan pada Zahra. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan Zahra melahirkan tanpa sosok suami di sisinya." Mas Agung memberikan pembelaan membuat Ayah Mertua kalap.

"Tapi seharusnya kamu pikirkan hati istri kamu, Gung. Jangan gegabah, dengan menikahi wanita ini begitu saja. Dasar kamu!"

Sejenak Mas Agung melirik ke arahku. Namun melihatku yang menatapnya dengan tatapan benci, dia menunduk. Seakan ciut nyalinya.

'Kamu harus menerima balasannya dariku, Mas. Tunggu saja!'

🍎🍎🍎🍎🍎

Mau tahu rasanya, saat orang yang sudah sepuluh tahun membersamai kita, tiba-tiba dia berbuat curang di belakang. Sangat sakit. Meski dia berdalih karena kasihan, tapi kenyataannya tetap saja membuat hatiku sangat sakit. Bagai tertusuk besi panas, tepat di jantung. Seperti itulah sakitnya.

"Ini tidak bisa dibiarkan. Pernikahan kalian tidak sah. Bagaimanapun juga, wanita yang hamil apalagi tanpa suami tidak boleh dinikahi!" bentak Ayah dengan menatap tajam ke arah mas Agung.

"Aku tidak perduli, aku akan tetap mempertahankan Zahra, baik itu sah atau tidak!" Mas Agung berdiri, lalu meraih tangan Zahra dan berlalu begitu saja menuju ke arah kamar. Disusul suara pintu yang terbanting. Membuatku semakin merasa sakit. Bahkan lelaki itu tidak menghargai orang tuanya sendiri.

"Nak, sabar ya." Ibu berusaha menenangkanku yang mulai tersedu tak kuasa menahan rasa sakit atas penghianatan dan kelakuan Mas Agung.

Sementara Ayah ikut berdiri dan berkacak pinggang.

"Dasar anak tidak tahu diri!" Setelah berkata demikian, lalu pergi entah kemana, aku tidak tahu.

"Mungkin si Agung lagi khilaf, kamu yang sabar ya, Indira." Bi Wina tetangga Ibu ikut menenangkanku. Sementara dua orang lainnya hanya diam, begitu pun dengan Yanti Dan Doni yang memang tidak suka denganku, hanya tersenyum sinis. Seakan puas melihat kesakitanku.

"Maaf, Bu, apa nggak sebaiknya Bu Indira pulang saja dulu, biar hatinya tenang." Bu Wina memberi saran, dan kupikir itu lebih baik bagiku sekarang. Aku harus bisa berpikir dengan langkah selanjutnya. Tak mungkin aku hanya diam disini dan melihat tingkah laku Mas Agung dan perempuan itu. Bisa-bisa aku mati menahan rasa sakit.

*****

Sudah dua hari sejak kejadian itu, sama sekali aku tak mendengar lagi kabar mereka. Hatiku juga sudah lebih tenang dan lebih siap dengan kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Bagaimanapun juga aku tak akan memaafkan dan melupakan semua yang telah Mas Agung lakukan padaku.

Aku tengah fokus membuat adonan kue, hingga tak kusadari ada seseorang yang tengah berdiri di dekat pintu dan tengah memperhatikanku saat ini.

Dia, orang yang dua hari ini membuatku sangat muak dan benci.

Siapa lagi kalau bukan lelaki itu, Mas Agung.

"Indi, apa kabar kamu?" Huh, untuk apa dia berbasa-basi hanya sekedar bertanya kabar, bukankah dia tahu bahwa aku tidak mungkin baik-baik saja.

"Untuk apa kamu kemari, Mas?" Aku melengos menatap kembali adonan kue yang tengah kuuleni.

"Apa salah jika aku pulang ke rumahku sendiri, hm?" Mas Agung perlahan mendekat. Dan duduk di kursi makan tidak jauh dari tempat dudukku.

"Kupikir kamu sudah lupa jalan pulang, Mas," balasku acuh.

"Aku ingin bicara denganmu, Indi. Jadi, tolong jangan acuhkan aku." Aku menghentikan kegiatanku dan beralih menatapnya tajam.

"Bukankah kamu memang sedang bicara, lantas kenapa kamu berpikir aku mengacuhkanmu?" tatapku tajam pada manik matanya.

"Sejak kapan kamu berani berkata 'kamu' padaku, Indi? Bukankah biasanya hanya kata 'Mas' yang selalu terlontar dari bibirmu, hm?" Mas Agung menatapku marah. Namun aku tidak peduli. Sejak dari rumah Ibu, segalanya telah berubah.

"Sejak kamu bawa perempuan ja***g itu ke rumah Ibumu."

"Diam kamu, Indi. Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia!" bentak Mas Agung dengan telunjuk yang mengarah tepat ke mukaku. Kenapa dia marah aku berkata yang sebenarnya. Heran.

"Oh, ya. Ternyata kamu banyak tahu tentang dia. Mungkin saja kamu juga tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung perempuan itu." Aku tersenyum sinis. Biarlah kamu murka padaku Mas, aku sudah tidak peduli lagi sekarang.

"Ka-kamu!" Tangannya berayun ke atas, seperti ingin menamparku. Namun dengan cepat aku bicara.

"Kenapa kamu berhenti, hm? Tampar, Mas. Ayo tampar aku," tantangku tanpa rasa takut. Namun dia menghempaskan tangannya kembali. Lelaki picik.

"Ahhh!!" Dia berlalu begitu saja. Meninggalkan luka yang kembali menganga. Sakit.

Sore Hatinya.

Pintu depan terdengar ada yang mengetuk. Aku yang masih terduduk di dapur, segera beranjak dan membukanya.

"Ibu." Ibu Mertua mendekat dan memelukku. Beliau tak datang sendiri. Di belakangnya sudah Ada Ayah Mertua, Doni, Pak RT dan tentu saja Mas Agung dan perempuan yang beberapa hari ini selalu menjadi duri untukku. Siapa lagi kalau bukan perempuan itu. Yang mengaku tengah hamil tapi bukan anak Mas Agung. Meski aku tidak percaya.

"Bisa kita bicara di dalam, Indira?"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NFS" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NFS
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balada Cinta Cassanova Impoten
7.9
Bramono adalah casanova angkuh yang hobi berganti pasangan cantik. Namun, hidupnya hancur saat mantan kekasih menjebaknya hingga ia meniduri Mala, gadis sederhana yang sangat ia benci. Bukannya menyesal, Bramono justru menghina Mala hingga gadis itu pergi membawa luka. Tak lama, Bramono mendadak impoten dan kehilangan gairah. Satu-satunya kunci kesembuhan adalah kembali pada Mala. Mampukah ia menemukan Mala yang dulu ia zolimi demi memulihkan kejantanannya?
Sampul Novel Bisakah Untuk Tidak Memilih
7.9
Kehidupan sering kali melenceng dari rencana awal dan menyajikan beragam pilihan sulit bagi setiap orang. Meski sebuah jalan terlihat menjanjikan, tiap keputusan pasti membawa konsekuensi tertentu. Sebagai manusia, kita dituntut bijak dalam menilai situasi demi masa depan. Terkadang, berdiam diri dan mengikuti arus pun tetap memiliki risiko tersendiri. Renungkanlah setiap langkah dengan matang agar tidak ada penyesalan mendalam akibat salah mengambil keputusan di kemudian hari.
Sampul Novel Cinta hilang kembali pulang
9.4
Rachel memohon agar Nathan melepaskannya pergi bersama putri mereka, Key. Namun, Nathan yang diliputi amarah menolak keras karena tak ingin ditinggalkan lagi. Ia mengklaim Key tengah bahagia bersamanya dan melarang Rachel menemui anak itu. Meski terlihat kejam dengan menahan Rachel, Nathan sebenarnya melakukan ini karena rasa cinta yang mendalam. Ia tidak berniat menyakiti, melainkan hanya ingin memastikan Rachel dan Key tetap berada di sisinya selamanya.
Sampul Novel Hold My Hand
8.0
Pasca kepergian orang tua angkat mereka, Khanza menyadari adanya getaran asmara yang tak biasa terhadap kakaknya, Barra. Meski tidak memiliki ikatan darah, status sebagai saudara membuat batin Khanza tersiksa oleh kebimbangan yang mendalam. Hubungan rumit ini semakin diuji saat mereka terjebak dalam pusaran konflik besar. Situasi kian mencekam ketika Barra terseret dalam sebuah kasus pembunuhan yang mengancam masa depan dan rahasia hati mereka berdua.
Sampul Novel I Love You Om
9.4
Setelah sepuluh tahun menetap di Malaysia, Tania pulang ke Indonesia demi mencari Rian, cinta pertamanya. Namun, Rian justru bersikap asing dan tidak mengenali benda kenangan mereka. Pencarian ini membawa Tania bertemu Bian, paman Rian. Tak disangka, pertemuan itu mengungkap luka lama Bian yang kelam. Ternyata, sosok Rian yang selama ini Tania cari adalah Bian yang menyamar. Rahasia besar ini pun mengancam kestabilan hidup mereka yang penuh misteri.
Sampul Novel Jika Cinta Jangan Bercerai
9.0
Keyra, gadis mualaf berusia 20 tahun, memenuhi wasiat ayahnya untuk menikahi Afnan Noor Malik. Meski awalnya skeptis, pesona Afnan sebagai pemilik pesantren dan pria dermawan perlahan memikat hatinya. Namun, kebahagiaan mereka diusik oleh Samuel, mantan kekasih Keyra yang berniat menghancurkan rumah tangga tersebut. Ujian semakin berat saat Afnan terpaksa berpoligami dengan Lathisa. Keyra pun harus berjuang mempertahankan cintanya di tengah badai masa lalu dan takdir baru.