Sampul Novel Terungkapnya Kebiasaan Buruk Suamiku

Terungkapnya Kebiasaan Buruk Suamiku

9.5 / 10.0
Dalam Terungkapnya Kebiasaan Buruk Suamiku, Indira harus menghadapi pengkhianatan Agung dan Zahra. Romance novel ini menceritakan misi Indira memberi pelajaran bagi mereka yang berselingkuh. Baca kisah modern novel ini untuk melihat bagaimana ia mengambil keputusan sulit demi hidupnya.
Ringkasan Terungkapnya Kebiasaan Buruk Suamiku
Indira tak menyangka Agung tega mengkhianati pernikahan mereka dengan menjalin hubungan gelap di belakangnya. Menghadapi pengkhianatan suami yang membagi hati dengan Zahra, Indira sadar bahwa memberi pelajaran saja tidak cukup. Ia harus berani mengambil langkah tegas untuk meninggalkan pria tak tahu malu itu demi harga dirinya. Ikuti perjuangan emosional Indira dalam menghadapi kemelut rumah tangga dan keputusannya untuk mencari keadilan serta kebahagiaan baru.
Baca Selengkapnya

Terungkapnya Kebiasaan Buruk Suamiku Bab 1

Brak!

Pintu terbuka sedikit kencang. Disusul suara langkah kaki yang seperti sengaja di hentak-hentakan, membuatku yang sedang sholat dzuhur sedikit terganggu, berkurang rasa khusyu dalam beribadah.

Setelah uluk salam, segera kutemui si pemilik langkah kaki yang ternyata anakku, Adi. Dia duduk selonjoran di sofa dengan pandangan menerawang ke atas.

"Eh, pulang sekolah kok nggak ucap salam?" Kudekati dia dengan duduk di sebelahnya namun tak ada sahutan, bujangku itu hanya diam tak merespon. Bahkan menoleh pun tidak. Sepertinya tengah kesal, tapi karena apa, akupun tak tahu.

"Adi, ditanya kok nggak jawab?" tanyaku penasaran. Pikiranku jadi menerawang, mungkinkah dia ada sedikit masalah di sekolahnya. Atau ada hal yang membuatnya kesal hingga membawa masalahnya hingga ke rumah.

Dia mencebik kesal, sambil menoleh dengan muka marah.

"Bu, ibu kenapa sih nggak cerai aja dengan ayah?" Deg, apa maksudnya? kenapa tiba-tiba dia berkata demikian. Padahal dia baru kelas tiga sekolah dasar dan belum mengerti arti perceraian. Aneh.

"Loh, Di. Maksud kamu apa, kok ngomong gitu sama ibu? Nggak boleh lho, anak kecil bilang begitu. Memang kamu tahu artinya apa," ucapku saat wajahnya terlihat masam.

"Udah, ah. Percuma ngomong sama Ibu." Adi berjingkat pergi menuju kamarnya dan membanting pintu. Blug!

Ada apa dengan anak itu.

Tok tok tok!

Belum hilang keherananku, tiba-tiba pintu depan ada yang mengetuk. Segera kubuka dengan penasaran.

"Bu, Bu Indira, maaf nih saya ganggu. Bu Indira sudah tahu kabar suaminya belum?" Rupanya Bu Dewi tetangga dekat mertuaku yang datang. Dilihat dari deru nafasnya, seperti habis berlari dan dikejar anjing galak. Entah ada apa sebenarnya.

"Tenang dulu, Bu Dewi, sini masuk dulu." Aku mengajaknya masuk dan menyuruhnya duduk, lalu ke dapur untuk mengambil air putih dan kembali lagi ke depan.

Segelas air putih ditandaskan dalam waktu sekejap saja. Setelah kulihat agak tenang, barulah aku mengajaknya bicara.

"Bu Dewi, kenapa? Coba ceritakan apa yang terjadi," pintaku cepat. Wanita paruh baya itu terlihat menarik nafas panjang.

"Bu Indira, kok Bu Indira tenang-tenang aja dirumah sih. Memang belum tahu kabar suaminya sekarang?" tanyanya seperti keheranan.

"Tahu apa, Bu?" Giliranku kini yang penasaran dengan apa yang tengah terjadi dengan suamiku.

"Lho, emang Bu Indira nggak tahu kalau sekarang suami Bu Indira lagi di rumah ibunya, bawa perempuan muda, cantik, lagi hamil juga kayaknya," tutur Bu Dewi dengan tatapan penuh ke arahku yang melotot.

"Apa!?" tanyaku tak percaya.

"Iya, Bu, benar. Bahkan Adi juga tadi habis dari rumah neneknya. Emang dia belum cerita sama Bu Indira?" Bu Dewi bicara penuh penegasan dengan kening bertaut melihatku yang heran. Aku menggeleng cepat. Pantas saja tingkahnya terlihat beda.

"Apa maksud Bi Dewi, jangan bercanda deh, nggak lucu!" ucapku tak percaya.

Iya, Bu, bener. Masa saya bohong soal beginian. Bahkan Adi juga tadi habis dari rumah neneknya. Memang dia belum bercerita sama Bu Indira?" Raut wajah heran itu semakin kentara saat melihatku.

"Sebaiknya Bu Indira datang ke sana saja kalau nggak percaya."

Entah kenapa tiba-tiba seperti ada yang menonjok dalam dada.

Sakit, sangat sakit. Apakah benar yang dikatakan Bu Dewi ini, entahlah. Namun jika benar Mas Agung membawa perempuan lain ke rumah ibunya, kenapa tak ada satu orang pun kerabat dari mertua yang memberitahuku. Dan kalau itu benar, pantas saja Adi datang ke rumah dengan wajah yang ditekuk tidak seperti biasanya. Bahkan tadi sempat bilang 'cerai' segala.

'Ah rasanya sakit dan sulit dipercaya jika Mas Agung berkhianat.

"Bu Indira, Bu, kok malah bengong. Ya udah, Saya mau pulang dulu takut anak-anak nyariin." Bu Dewi keluar dari rumah setelah mengucap salam yang hanya kujawab dalam hati.

Aku harus pergi untuk memastikan.

Ya Tuhan. Kenapa rasanya sakit sekali, meski itu belum tentu benar.

Segera kusambar pashmina instan yang tergantung di belakang pintu kamar. Aku harus memastikan kabar yang baru saja kudengar, agar jangan sampai ada kesalahpahaman juga agar aku tidak berprasangka buruk, karena belum tentu benar adanya.

Setelah pamit pada Adi yang sama sekali tak menyahut ucapanku, segera kuhidupkan motor matic putih menuju kediaman mertuaku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku yang dibangun masih di tanah mertua. Hanya berjarak lima ratus meter saja.

Sengaja ku kendarai motor dengan kecepatan rendah, agar aku bisa menata hati dan tidak bertindak anarkis jika saja hal yang menimpa mas Agung benar adanya. Aku tak boleh gegabah dengan melakukan hal yang akan membuatku malu disana nantinya. Kebiasaan emosiku dari dulu memang sulit ditaklukkan.

Aku juga terbiasa bepergian sendiri karena Mas Agung sangat jarang mengantarku. Apalagi beberapa waktu ini, Mas Agung selalu tak ada waktu untukku dan Adi.

Sampai di depan rumah mertua, tampak Yanti, adik Mas Agung tengah memainkan ponselnya di teras. Seakan tahu aku yang datang, segera dia mengangkat satu kakinya dengan menumpangkan ke kaki lainnya. Sombong memang Yanti, tak berubah sikapnya padaku meski Ayah Mertua berulang kali menasehati. Padahal aku tak pernah mengusik atau menyulitkannya.

"Assalamualaikum, Yan. Apa Mas Agung ada di dalam?" tanyaku sopan, namun diabaikan salamku. Gadis itu seakan-akan budeg, bahkan sama sekali dia tak menoleh ke arahku.

Dasar anak ini!

Tak menunggu perintah, aku memasuki rumah. Tak ada siapa-siapa di ruang tamu, hanya ketika berjalan ke arah ruang keluarga, tampak Doni, yang juga adiknya suamiku tengah asyik menonton film kartun. Film yang biasanya ditonton anak kecil itu terlihat begitu dia nikmati. Doni tertawa seakan asik sekali menontonnya.

Aku berdehem pelan.

Doni menoleh sedikit kaget, namun tak lama kemudian dia kembali mengalihkan pandanganya ke layar 63 inci di depannya. Sama seperti Yanti, dia pun seakan tak peduli padaku yang mematung di sebelahnya.

"Eh, Indira, kamu datang, Nak?" Ibu Mertua melangkah keluar dari arah dapur. Mukanya tampak kusut, matanya sedikit memerah seperti bekas menangis. Entah kenapa perasaanku semakin tidak enak.

"Dimana Mas Agung, Bu?" Tanpa basa-basi aku menanyakan keberadaan suamiku. Rasa penasaran serasa membuat darahku naik, apalagi mendapati Doni dan Yanti tadi yang memang sengaja mengacuhkanku.

Menyebalkan sekali kedua orang itu.

"Duduk dulu, Nak," pinta Ibu sambil meraih tanganku, namun segera kulepaskan dengan tangan kiriku dan kugenggam balik dua tangannya.

"Aku kemari bukan untuk duduk, Bu. Tapi mencari Mas Agung yang sudah seminggu ini tidak pulang," ucapku penuh penegasan.

Ibu menatap lirih dan seperti berat untuk menjawab. Namun perhatianku justru tertuju ke pintu kamar tamu yang tertutup rapat, dan terdengar suara wanita cekikikan dari dalam.

Bukankah di rumah ini yang perempuan muda, hanya Yanti? Itu pun sedang duduk di luar sambil memainkan ponselnya.

Lalu suara siapa di sana?

Segera kulangkahkan kaki dan meninggalkan Ibu yang mulai terisak.

"Sabar, Nak, tahan emosimu," lirihnya sambil mencoba menahan langkahku. Namun tak menyurutkan niatku untuk menuju ke sumber suara.

"Lepaskan Indira, Bu. Biarkan Indi tahu semuanya," ucapku pelan tak kuasa sakit.

"Wah, kayaknya akan ada perang dunia nih." Terdengar perkataan Doni dari belakang disusul suara tawanya yang seakan mengejek. Namun aku tak peduli. Semuanya harus segera terungkap.

Dan akan kuhadapi apapun kenyataan yang sebenarnya.

Tunggu saja kalian yang di dalam, aku akan segera mengetahuinya.

Aku Indira, tidak akan diam saja.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Terungkapnya Kebiasaan Buruk Suamiku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dokterku, Cintaku
8.1
Berprofesi sebagai dokter spesialis ginekologi membuatku terbiasa berinteraksi dengan berbagai pasien wanita setiap hari. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menandingi kesempurnaan Teresa Bunanta, wanita yang tinggal tepat di sebelah rumahku. Di mata pria ini, sosok Teresa adalah definisi keindahan yang mutlak. Di balik sikap profesionalnya sehari-hari, sang dokter memendam sebuah hasrat rahasia yang mendalam, yaitu sebuah harapan agar suatu hari ia bisa memeriksa tubuh tetangganya itu secara medis.
Sampul Novel Kalau Cinta, Pasti Sayang
8.3
Lima tahun pernikahan tanpa cinta membuat sang istri menderita karena diabaikan suaminya. Begitu sang istri meninggal, sang suami justru segera menemui cinta pertamanya. Ketika istrinya menghilang, dia hanya mencemooh dan menganggapnya sebagai taktik mencari perhatian. Demi membuktikan kebohongan tersebut, ia berniat memastikan kabar kematian istrinya secara langsung. Namun, dia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang diabaikannya itu memang telah tiada sejak beberapa hari yang lalu.
Sampul Novel Neng Zulfa
8.5
Zulfa Zahra El-Faza, putri kiai yang dingin terhadap asmara, selalu menolak setiap lamaran yang datang. Namun, keteguhannya runtuh saat mengenal Fatih Thoriqul Firdaus. Meski akhirnya menikah, Zulfa justru terjebak dalam kepedihan. Fatih menyimpan banyak rahasia kelam yang memicu luka mendalam. Di tengah bayang-bayang orang ketiga, sanggupkah kejujuran menyelamatkan cinta mereka? Sebuah kisah tentang pengkhianatan dan pencarian kepercayaan dalam rumah tangga.
Sampul Novel Re(s)tart
9.7
Kebahagiaannya dirampas hingga tak bersisa, kini nyawa menjadi taruhan terakhir. Sambil terduduk dengan tubuh penuh memar dan luka, anak itu menatap remeh musuhnya meski tenaganya hampir habis. Di tengah ejekan tentang masa lalunya yang dianggap nyaman, ia menyimpan sisa kekuatan demi menyambut hari esok yang penuh misteri. Akankah ia mampu bertahan, atau justru melarikan diri sambil menangis saat maut mulai mendekat dan mengancam masa depannya?
Sampul Novel SCANDAL WITH PRIVATE DOCTOR
8.3
Eliza terjebak dalam pernikahan toksik dengan Karan, pria yang hanya memanfaatkannya demi pemuasan nafsu. Malam pertama yang seharusnya indah berubah menjadi trauma mendalam hingga mengganggu kesehatan mentalnya. Keadaan kian memburuk saat Karan berselingkuh dengan banyak wanita lain. Di tengah penderitaan itu, Eliza bertemu Sean, dokter tampan sekaligus teman baiknya. Kehadiran Sean tidak hanya memulihkan luka batinnya, tapi juga menjadi sosok sandaran hati yang baru.
Sampul Novel SUAMIKU BULE BRONDONG
9.3
David adalah seorang ateis yang menaruh hati pada Hania, sosok perempuan bercadar yang memikat jiwanya. Perjuangan David untuk memilikinya mengungkap tabir rahasia kelam dari masa lalu Hania yang tersembunyi. Meski takdir menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan, badai masalah pelik mulai menguji keteguhan cinta keduanya. Di tengah jalan buntu tanpa solusi, apakah mereka akan memilih menyerah atau tetap berjuang menghadapi takdir yang kejam?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan