
Tersegel Dalam Dunia Palsu
Bab 2
Vivienne terjaga di tengah malam, matanya terbuka lebar, membiarkan gelap meresap ke dalam pikirannya. Suara angin yang menderu di luar jendela hanyalah latar belakang dari kebingungannya yang semakin dalam. Arthur sudah memberi peringatan, tetapi tidak ada yang mempersiapkannya untuk kenyataan yang mengerikan ini. Apa yang sebenarnya dia hadapi? Dan mengapa keluarganya begitu terlibat dalam permainan yang belum sepenuhnya dia pahami?
Di dalam kamar tidur yang sepi, Vivienne memutar otaknya, mencoba untuk mengurai benang-benang yang mengikat kehidupannya. Semua yang dia anggap normal-ibu tirinya, saudara perempuan palsunya, pernikahan ini-semuanya adalah bagian dari sebuah rencana besar yang lebih kelam daripada yang dia bayangkan. Semakin dia berpikir, semakin jelas bahwa ada lebih banyak yang harus dia ketahui. Namun, ia tahu satu hal pasti: ia tidak bisa lagi mempercayai siapa pun, bahkan dirinya sendiri.
Pagi datang dengan cepat, dan Vivienne merasa seolah waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Arthur tidak tampak seperti biasanya. Seperti seorang pria yang diselimuti rahasia, ia tetap menahan informasi yang semakin membebani pikiran Vivienne. Dia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan dengan ketegangan yang mencekam di antara mereka.
Namun, hari itu ada sesuatu yang berbeda. Ketika Vivienne turun ke ruang makan untuk sarapan, suasana terasa lebih berat. Arthur duduk di meja, menatap surat kabar yang terhampar di depannya. Matanya terfokus pada sesuatu yang tak dapat dilihat Vivienne, dan suara denting sendok yang menyentuh piring hanya menambah kesunyian yang menekan.
Vivienne duduk di seberangnya, tak tahu harus memulai percakapan dari mana. Akhirnya, ia memberanikan diri. "Arthur, aku ingin tahu lebih banyak. Tentang dirimu. Tentang keluargaku. Semua yang terjadi selama ini... aku harus tahu."
Arthur menatapnya sesaat, tampak ragu, sebelum akhirnya meletakkan surat kabar itu. "Apa yang ingin kamu ketahui, Vivienne?" jawabnya pelan, namun ada ketegangan yang jelas dalam suaranya.
"Kenapa kamu berkata bahwa keluargaku terhubung denganmu?" Vivienne bertanya, rasa cemas di dalam dadanya semakin membesar. "Aku tidak tahu apa yang kamu maksud."
Arthur menghela napas panjang, kemudian menatapnya dengan tatapan yang penuh arti. "Keluargamu bukanlah keluarga biasa, Vivienne. Mereka terlibat dalam hal-hal yang jauh lebih besar daripada yang kamu bisa bayangkan. Perusahaan mereka, posisi mereka di masyarakat, semuanya terhubung dengan jaringan kekuasaan yang lebih luas, lebih gelap. Mereka memiliki tujuan yang tidak pernah kamu ketahui."
Vivienne merasa seluruh dunia di sekelilingnya terguncang. "Apa yang mereka lakukan? Apa hubungannya aku dengan ini semua?"
Arthur bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat, seolah ingin memastikan bahwa setiap kata yang ia ucapkan dipahami dengan benar. "Mereka menggunakanmu untuk mencapai tujuan mereka. Pernikahan ini, Vivienne, bukan hanya tentang keluarga mereka, tetapi tentang kekuatan yang mereka ciptakan-kekuatan yang akan mempengaruhi masa depan seluruh industri ini. Kamu hanyalah bagian dari permainan besar."
Vivienne merasa seperti dirinya telah dikepung, terjebak dalam dunia yang tidak ia kenali. "Dan kamu?" tanya Vivienne, matanya penuh kebingungan. "Apa peranmu dalam semua ini?"
Arthur menatapnya dengan tajam, wajahnya serius. "Aku adalah salah satu yang paling berpengaruh dalam dunia ini, Vivienne. Aku hanya berpura-pura menjadi seseorang yang tak berarti. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk saat ini, saat di mana aku akan muncul kembali dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."
Vivienne merasa dunia berputar di sekelilingnya. "Jadi, semuanya ini sudah direncanakan sejak awal? Pernikahan ini... aku..." kata Vivienne, merasa terhimpit. "Aku hanya pion dalam rencanamu? Dalam rencana keluarga kita?"
Arthur tidak menjawab langsung. Sebaliknya, ia mengangkat tangan dan menunjuk ke luar jendela, ke arah kota yang tampak begitu jauh. "Keluargamu telah memainkan peran mereka, dan kini, saatnya bagi kita untuk memainkan peran kita. Apa yang akan datang selanjutnya, Vivienne, akan mengubah segalanya."
Vivienne menatapnya, rasa bingung semakin mendalam. "Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Vivienne dengan suara serak. "Kenapa kamu memilih aku sebagai bagian dari permainan ini?"
Arthur menoleh, tatapannya dingin dan penuh perhitungan. "Karena kamu satu-satunya orang yang bisa aku percayai, Vivienne. Kau memiliki kekuatan yang belum kau ketahui. Dan ketika saatnya tiba, kamu akan melihat betapa pentingnya kamu dalam semua ini."
Vivienne terdiam, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja dia terima. Apa yang telah dia jalani? Apa yang akan terjadi pada dirinya? Semuanya terasa seperti sebuah jebakan yang semakin mempersempit ruang geraknya.
Namun, di dalam dirinya, sebuah perasaan mulai tumbuh. Sebuah perasaan bahwa ia tidak bisa lagi menjadi korban dalam permainan ini. Jika ini adalah perang, maka ia akan bertarung dengan cara yang berbeda. Ia akan mencari kebenaran, meskipun itu berarti menggali lubang-lubang gelap yang telah disembunyikan oleh keluarga dan suaminya.
Namun, tepat saat Vivienne berniat untuk berbicara lebih lanjut, pintu terbuka dengan keras, dan seseorang masuk-seorang pria yang tidak dikenal, dengan ekspresi penuh ancaman. "Kita perlu bicara," katanya, suaranya tegas dan penuh kesabaran.
Anda Mungkin Juga Suka





