
Tersandung Luka, Terkubur Cinta
Bab 2
Aira berdiri di depan cermin besar yang ada di ruang tidurnya, menatap dirinya sendiri dengan pandangan kosong. Dulu, cermin ini adalah tempat ia melihat senyum kebahagiaan, sebuah refleksi dari harapan dan impian yang ia bangun bersama Reyhan. Namun hari ini, cermin itu hanya memantulkan wajah seorang wanita yang hancur, wajah yang merasa tidak dikenal oleh dirinya sendiri. Mata Aira yang biasanya bersinar cerah kini tampak lelah, penuh keputusasaan. Di balik kilau yang dulu ada, kini hanya ada kesedihan yang memeluknya erat.
Tangan Aira terulur, meraih perutnya yang mulai membuncit. Bayi itu, buah cinta yang ia jaga selama beberapa minggu terakhir, kini menjadi satu-satunya alasan ia bertahan. Namun, dengan setiap detik yang berlalu, perasaan cemas dan bingung semakin membesar di dalam dadanya. Bagaimana ia bisa membawa kehidupan baru ini ke dunia yang begitu penuh dengan kebohongan? Apa yang akan ia lakukan jika kenyataan yang tak terelakkan itu akhirnya datang dan menghancurkan semua yang ia harapkan?
Tiba-tiba, suara pintu yang dibuka dengan kasar mengalihkan perhatian Aira. Ia menoleh, melihat Reyhan berdiri di ambang pintu dengan wajah yang lelah. Biasanya, saat Reyhan pulang, Aira akan berlari menyambutnya dengan senyuman. Namun kali ini, ia hanya berdiri di tempat, tak tahu harus berbuat apa. Hatinya berdebar, tetapi ia berusaha menahan diri. Aira tahu, ia tidak bisa lagi menerima begitu saja penjelasan Reyhan tanpa mengetahui semuanya. Ia ingin mendengar pengakuan, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ini.
Reyhan menatapnya dengan tatapan kosong, seolah menghindari tatapan mata Aira yang penuh dengan pertanyaan. "Aira," katanya pelan, suara itu terdengar lemah dan tertekan. "Aku pulang lebih cepat."
Aira tersenyum tipis, tetapi senyumnya terasa terpaksa, seakan ada pisau yang menusuk dari dalam hatinya. "Lebih cepat?" ulangnya dengan suara dingin. "Apakah urusanmu selesai, Reyhan?"
Reyhan terdiam sejenak, tampak bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu. Aira, yang biasanya begitu sabar menunggu, kini tak bisa menahan amarah yang mulai mendidih di dalam dirinya. Setiap kata yang keluar dari mulut Reyhan terdengar seperti kebohongan yang semakin membuatnya merasa semakin jauh dari pria yang pernah ia cintai.
"Kenapa kamu selalu menghindar, Reyhan?" Aira akhirnya memecah keheningan. "Kenapa setiap kali aku bertanya, kamu selalu punya alasan yang baru? Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Apa yang terjadi dengan kita?"
Reyhan menundukkan kepala, dan Aira bisa melihat ekspresi yang sangat berbeda dari Reyhan yang dulu-pria yang penuh dengan keyakinan dan percaya diri kini tampak rapuh, seolah-olah ia takut menghadapi kenyataan yang harus dihadapinya.
"Aira, aku... aku minta maaf," Reyhan akhirnya berkata dengan suara yang serak. "Ini bukan mudah bagiku. Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya."
Aira merasa tubuhnya seperti ditarik ke dalam pusaran emosi yang tak terkendali. Kata-kata Reyhan terasa begitu berat, dan dalam hatinya, ia tahu bahwa apapun yang akan diungkapkan Reyhan setelah ini tidak akan cukup untuk mengobati luka yang telah menggores hatinya. Setiap detik yang berlalu membuatnya merasa semakin terperangkap dalam kebohongan yang tak bisa diubah.
"Maaf?" Aira tertawa sinis, air mata mulai mengalir tanpa bisa ia tahan. "Apa yang harus aku lakukan dengan kata 'maaf' itu, Reyhan? Kata 'maaf' tidak akan bisa mengembalikan kepercayaan yang telah hancur. Kata 'maaf' tidak akan bisa mengembalikan semua yang telah kamu rusak."
Reyhan terlihat semakin cemas, langkahnya maju sedikit, mencoba mendekati Aira, tetapi Aira mundur, menjauh darinya. "Aira, aku... aku tahu aku salah. Aku khianati kamu, dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Tapi aku ingin memperbaikinya. Aku ingin kamu tahu bahwa aku masih mencintaimu."
Aira memandangnya dengan tatapan yang tajam. "Cinta? Cinta yang seperti apa, Reyhan? Cinta yang kau beri pada wanita lain, sementara aku harus menunggu di sini, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi? Cinta yang kau sembunyikan begitu dalam sampai aku harus menemukannya sendiri?" Suaranya mulai naik, penuh dengan kemarahan yang terpendam selama ini.
Reyhan terdiam, tak mampu berkata-kata. Aira bisa melihat wajahnya yang penuh penyesalan, tetapi itu tidak cukup untuk menghapus rasa sakit yang membakar dalam dirinya. Setiap detik yang berlalu, Aira merasa semakin lelah. Ia lelah dengan kebohongan, lelah dengan harapan palsu yang selalu Reyhan tanamkan, lelah dengan perasaan yang terus menerus dirusak tanpa ada perbaikan.
"Tahukah kamu apa yang paling menyakitkan, Reyhan?" Aira berkata, suaranya penuh kepedihan. "Ketika aku tahu bahwa kau sudah memiliki anak dari wanita lain. Ketika aku tahu bahwa aku hanya menjadi bayangan dalam hidupmu, sementara kamu sibuk membangun kehidupan dengan orang lain. Bagaimana mungkin aku masih bisa mempercayaimu setelah semua ini?"
Aira merasakan dadanya sesak, dan untuk pertama kalinya, ia merasa ingin berteriak, ingin melepaskan segala perasaan yang selama ini terpendam. Namun, ia tahu bahwa tidak ada yang akan bisa mengubah apa yang telah terjadi. Reyhan telah mengkhianatinya, dan walaupun ia ingin percaya bahwa ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya, ia tahu itu hanya sebuah ilusi.
Reyhan berusaha mendekat lagi, tetapi kali ini, Aira mundur lebih jauh, menahan diri agar tidak semakin terjerumus dalam perasaan yang begitu rumit. "Kau sudah hancurkan semuanya, Reyhan. Aku tak tahu bagaimana lagi aku bisa bertahan dalam hubungan yang penuh kebohongan ini."
Reyhan menghela napas panjang, menatap Aira dengan tatapan yang penuh penyesalan. "Aira, aku minta maaf. Aku tahu aku telah salah. Tapi, aku masih ingin berjuang. Aku ingin kita tetap bersama. Aku ingin kita tetap membangun keluarga ini. Tolong beri aku kesempatan."
Aira menatapnya, dan untuk sesaat, hatinya terasa kosong. Apakah ia masih bisa mempercayai kata-kata Reyhan? Apakah ia bisa memberi kesempatan kedua kepada suaminya yang telah menghancurkan segalanya? Semua pertanyaan itu menggantung di pikirannya, dan untuk pertama kalinya, Aira merasa takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di luar, hujan semakin deras, seakan menjadi saksi bisu dari perasaan yang menghancurkan di dalam hati Aira. Dunia sekitarnya terasa kabur, dan segala harapan yang dulu ada kini hanya bayang-bayang yang tak pernah bisa ia raih lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





