
Tersandung Luka, Terkubur Cinta
Bab 3
Aira duduk sendiri di sudut ruang tamu, matanya terpaku pada televisi yang tak lagi menyala. Hujan masih menguyur deras di luar, namun kali ini, suara rintikannya terasa lebih sunyi, lebih menyakitkan. Aira merasa dunia di sekelilingnya semakin terkunci dalam kesunyian yang pekat, seakan-akan tak ada lagi suara yang bisa memecahkan kegelapan yang merantai dirinya. Di luar, langit tetap hitam, seolah mencerminkan kehancuran yang kini tengah ia rasakan. Sementara di dalam dirinya, ada sebuah kekosongan yang tak bisa diisi oleh apapun, meski ada janji manis dari Reyhan untuk memperbaiki semuanya.
Reyhan masih berada di kamar mereka, entah dengan apa yang kini ia lakukan. Sejak percakapan tadi malam, Aira merasa seolah-olah dia terjebak dalam pusaran perasaan yang tak terhentikan. Kata-kata Reyhan yang mengatakan ingin memperbaiki semuanya terasa seperti duri yang menembus hatinya, menambah rasa sakit yang sudah begitu dalam. Cinta yang dulu begitu indah kini hanya sebuah kenangan pahit yang semakin sulit untuk ia pegang.
Aira mengelus perutnya yang mulai membesar, merasakan gerakan kecil dari bayi yang ada di dalam kandungannya. Setiap detik yang berlalu, dia merasa semakin bingung. Bagaimana mungkin ada kehidupan baru yang harus ia perjuangkan, sementara segala hal yang pernah dia percayai tentang pernikahannya kini hancur? Bayi itu adalah satu-satunya harapan yang membuatnya tetap bertahan, namun perasaan yang menghancurkan di dalam dirinya seolah-olah ingin menenggelamkan semuanya. Aira ingin menangis, tetapi ia tahu bahwa air matanya sudah tidak cukup untuk menghapus rasa sakit yang menyelubungi hatinya.
Ia memejamkan mata, mencoba merasakan kedamaian yang tidak pernah datang. Setiap kali ia mencoba untuk mengingat kenangan indah bersama Reyhan, perasaan itu selalu terhalang oleh bayang-bayang kebenaran yang menakutkan. Mengapa Reyhan melakukannya? Mengapa ia, yang selalu merasa cukup dengan cinta dan kepercayaan, akhirnya terjatuh dalam jurang pengkhianatan yang begitu dalam? Aira tidak tahu jawaban untuk semua itu, dan semakin ia berusaha mencarinya, semakin ia merasa semakin hilang.
Ponselnya bergetar, mengalihkan perhatiannya dari pikirannya yang kacau. Aira melihat layar ponselnya, dan matanya terhenti pada nama yang tertera: **Reyhan**. Untuk sejenak, ia ragu untuk membuka pesan itu. Apa lagi yang akan ia dengar? Kata-kata yang lebih manis? Lebih banyak janji-janji kosong yang hanya akan memperpanjang penderitaannya? Atau kali ini, mungkin Reyhan benar-benar akan menunjukkan perubahan?
Namun, Aira tahu satu hal yang pasti-setiap kali Reyhan berbicara tentang perubahan, ia merasa semakin terluka. Sebuah suara di dalam dirinya berteriak untuk berhenti berharap, untuk berhenti memberi kesempatan, tetapi ada bagian dari dirinya yang masih belum bisa melepaskan. Seakan-akan, harapan kecil itu adalah satu-satunya hal yang ia miliki untuk bertahan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aira membuka pesan itu.
**Reyhan**: "Aira, aku tahu ini sulit, tapi aku minta maaf. Aku ingin kita memperbaikinya, aku ingin memperbaiki kita. Tolong beri aku waktu. Aku berjanji akan menunjukkan bahwa aku bisa berubah."
Pesan itu hanya berupa kata-kata kosong, seperti semua kata-kata Reyhan yang sebelumnya. Aira merasa jantungnya berdegup kencang, tetapi kali ini bukan karena cinta. Ia merasa seolah-olah hatinya diaduk-aduk oleh emosi yang tak terkendali. Di satu sisi, ada dorongan untuk memberi kesempatan pada Reyhan, untuk mempercayainya lagi, tetapi di sisi lain, ada luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan kata-kata.
Aira menatap pesan itu untuk beberapa saat, matanya kabur oleh air mata yang mulai menggenang. Ia ingin sekali melempar ponselnya, ingin sekali menjerit dan melepaskan semua perasaan itu, tetapi ia tahu bahwa itu tidak akan menyelesaikan apapun. Reyhan sudah mengkhianatinya, dan meski ia ingin percaya bahwa cinta bisa mengatasi semuanya, hatinya tahu bahwa segalanya telah berubah.
Kakinya terangkat, dan tanpa sadar, Aira berdiri dan berjalan menuju kamar mereka. Setiap langkah terasa berat, seperti beban yang terlalu besar untuk ia pikul. Pintu kamar terbuka perlahan, dan Aira melihat Reyhan duduk di sisi tempat tidur, matanya menatap lantai dengan ekspresi yang penuh penyesalan. Ia tahu Reyhan ingin berbicara, ingin memperbaiki hubungan ini, tetapi Aira merasa semakin tidak tahu harus berkata apa.
Reyhan menatapnya dengan mata yang penuh penyesalan. "Aira," suaranya begitu pelan, penuh keraguan. "Aku tahu aku sudah membuatmu terluka. Aku tahu aku sudah menghancurkan semuanya, tapi aku ingin kita bersama lagi. Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Aira menatapnya tanpa emosi. "Tidak bisa hidup tanpaku?" ucapnya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Kenapa kau tidak ingat itu saat kau bersama dengan wanita lain, Reyhan? Kenapa baru sekarang, ketika semuanya sudah hancur, kau mengatakan hal seperti ini? Apa yang bisa aku percayai lagi?"
Reyhan terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Matanya berkaca-kaca, dan Aira bisa melihat betapa besar penyesalan yang terpatri di wajahnya, tetapi penyesalan itu sudah tidak cukup. Tidak ada kata-kata yang bisa membenarkan perbuatannya. Tidak ada penyesalan yang bisa menghapus luka yang telah ia sebabkan.
"Aira," Reyhan mencoba lagi, suara serak. "Aku tahu aku sudah berbuat salah, dan aku tidak bisa memperbaikinya dalam semalam. Tapi, aku berjanji aku akan melakukan apapun untuk memperbaikinya. Aku akan berhenti dengan semuanya, dengan dia, dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa aku masih mencintaimu."
Aira merasa hatinya bergejolak. Bagaimana bisa Reyhan begitu yakin bisa memperbaiki semuanya hanya dengan kata-kata? Sejak kapan kata-kata bisa memperbaiki sesuatu yang sudah hancur berkeping-keping? Aira merasa tubuhnya lemas, dan matanya kembali basah. "Aku ingin percaya padamu, Reyhan. Aku ingin kita kembali seperti dulu, tapi bagaimana bisa aku begitu bodoh untuk mempercayaimu lagi setelah semua yang kau lakukan?"
Tangan Aira menempel di dada, merasakan jantungnya berdegup kencang. "Aku lelah, Reyhan. Aku lelah dengan semua kebohongan ini, lelah dengan janji-janji yang tak pernah ditepati. Aku lelah dengan diriku sendiri yang masih berharap kau akan berubah. Aku tidak tahu bagaimana lagi aku bisa bertahan."
Aira mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat hujan yang tak pernah reda. Setiap tetesnya seperti mengingatkan dirinya bahwa, mungkin, hidup ini memang tidak akan pernah kembali seperti semula. Dia harus menerima kenyataan bahwa mungkin cinta yang ia perjuangkan selama ini sudah tak cukup untuk membuatnya bahagia.
Reyhan berdiri dan mendekat, ingin meraih tangannya, tetapi Aira menarik tangannya cepat-cepat, menjauh darinya. "Jangan sentuh aku," ucapnya tegas. "Kau sudah merusak segalanya. Aku tidak tahu lagi siapa dirimu, dan aku tidak tahu apakah aku masih bisa mempercayaimu."
Aira merasakan tangisnya semakin deras, meski ia berusaha menahannya. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa mungkin inilah akhir dari semuanya. Mungkin ini adalah saatnya untuk melepaskan semua yang telah ia pertahankan, melepaskan seseorang yang telah lama ia cintai, meskipun itu sangat sulit.
Anda Mungkin Juga Suka





