Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpikat Pesona Guru Muda

Terpikat Pesona Guru Muda

Maya Ailenn adalah siswi populer yang justru lebih terpikat pada pria dewasa ketimbang teman sebayanya. Ketertarikan ini membawanya ke dalam cinta segitiga rumit bersama gurunya, Dewangga, dan kekasihnya, Sarah. Meski tahu Dewangga akan segera menikah, Maya pantang menyerah. Ia rela mengorbankan hal paling berharga demi merebut hati sang guru dari tunangannya. Akankah ambisi Maya membuahkan hasil, atau ia harus menerima kegagalan pahit di hadapan Sarah?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Sepertinya di luar lebih menyenangkan ya dibanding dengan harus memperhatikan pelajaran yang sedang saya terangkan," ujar Dewa tiba-tiba sambil melipat kedua tangannya di dada.

Karena ucapannya, sontak seisi kelas langsung memperhatikan kemana arah mata Dewa, begitu juga dengan Priska. Ia tak sadar jika yang sedang disindir Dewa adalah dirinya. Tanpa merasa bersalah, Priska malah ikut-ikutan mencari sosok yang dimaksud gurunya itu.

"Kamu sedang apa, Priska? Mencari apa?" tanya Dewa kepada gadis berambut sebahu itu.

Priska seketika menoleh ke sumber suara dan menatap bingung ke Dewa.

"Kamu itu sedang mencari apa?" tanya Dewa lagi. "Yang saya sindir ya kamu bukan orang lain, untuk apa kamu celingukan sana-sini?" lanjutnya.

"Saya, Pak? Saya dari tadi memperhatikan Bapak kok," tunjuk Priska ke dirinya sendiri.

"Benarkah? Kalau begitu, coba jawab pertanyaan yang akan saya ajukan dan berikan saya jawaban yang benar jika memang kamu memperhatikan penjelasan saya. Tapi kalau sampai kamu salah ... bersiaplah kamu mendapatkan hukuman dari saya," pungkas Dewa.

Dengan yakin Priska pun mengangguk dan mengiyakan perkataan guru tampan itu, "Baik,"

"Ada pola penyerangan dalam permainan sepak bola yang dilakukan dengan susunan pemain 2-4-4. Dan pertanyaan saya, apa posisi dari 2 pemain ini? Silakan dijawab Priska," ujar Dewa.

Priska menelan salivanya, sekarang dia benar-benar merasa tersudut dan bingung harus menjawab apa.

"Kenapa diam? Katanya kamu memperhatikan saya? Seharusnya pertanyaan saya tadi mudah kan untuk dijawab?" sindir Dewa.

Merasa terpojok, Priska akhirnya memutuskan untuk mengakui kesalahannya saja dan berharap Dewa mau memperingan hukumannya.

"Maaf, Pak. Saya memang tidak terlalu memperhatikan, jadi saya tidak tahu jawabannya apa ..." lirih Priska.

Sontak, seisi kelas pun menyoraki Priska. Kelas yang tadinya hening, kini berubah ramai dengan murid-murid yang saling melempar ejekan ke Priska.

Dok dok dok.

Dewa mengetuk meja guru menggunakan penghapus yang sedari tadi dipegangnya supaya para murid kembali memperhatikannya dan tak membuat keributan lagi di kelas.

"Maju kamu," perintah Dewa sambil menjulurkan tangannya ke depan dan melambai ke arah Priska.

Tanpa bantahan, Priska pun beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Dewa.

"Berdiri di depan papan tulis sampai saya mengizinkan kamu untuk duduk kembali," titah Dewa.

Dengan gontai, Priska kemudian berjalan ke belakang Dewa dan berdiri di depan papan tulis menghadap teman-temannya sama seperti apa yang diperintahkan Dewa.

"Kalau ada yang tidak memperhatikan penjelasan saya lagi, saya akan memberikan hukuman yang lebih buruk daripada hukuman yang saya berikan ke Priska. Paham?" tegas Guru tampan itu.

"Paham, Pak ..." jawab seisi kelas bersamaan.

Setelahnya, Dewa pun melanjutkan pelajarannya lagi. Guru muda itu memang selalu memasang wajah serius ketika sedang mengajar dan ia juga terkenal tegas dengan para muridnya. Namun, semua itu ia lakukan hanya saat berada di dalam kelas saja, selebihnya ia cukup terkenal sebagai guru yang baik, murah senyum dan tentunya gaul, mengingat usianya saat itu yang masih sangat muda.

Tik tok tik tok.

Tak terasa jam di dinding kelas telah menunjukan pukul delapan tepat, itu artinya sudah 1 jam berlalu sejak Dewa memberikan hukuman kepada Maya dan juga Rio. Ia pun memutuskan untuk menghentikan hukumannya itu dan memberikan kesempatan untuk Maya dan Rio kembali mengikuti pelajarannya.

Saat semua murid sedang sibuk menyalin tulisan yang dicatat di papan tulis oleh sekretaris kelas, di saat itulah Dewa berjalan santai dengan kedua tangannya dilipat ke belakang menuju keluar kelas untuk menemui Maya dan juga Rio.

"Ehem, kalian berdua masuklah dan ikuti pelajaran saya satu jam terakhir ini," ujar Dewa kepada dua murid bandelnya itu.

Maya dan Rio akhirnya bisa bernafas lega saat Dewa memberi keringanan atas hukuman mereka.

"Terima kasih, Pak ..." ucap keduanya kompak.

"Lain kali kalau saya ataupun guru lainnya memberikan tugas, maka segeralah kalian mengerjakannya. Mengerti?" tegas Dewa.

"Mengerti, Pak," jawab mereka. Dewa lantas kembali masuk ke dalam kelas dan diikuti oleh kedua muridnya.

"Duduklah dan fokus dengan pelajaran yang sedang saya jelaskan," titah Dewa kepada Priska.

"Baik, Pak. Terima kasih." Dengan senang hati, Priska pun juga kembali ke tempat duduknya setelah diizinkan oleh Dewa.

"Psst, May. Tolong ambilkan buku gue dong di laci meja lo," ujar Rio setengah berbisik.

Maya langsung mengambil buku yang dimaksud Rio ke dalam laci mejanya dan mengembalikannya ke Rio.

"Btw, thanks ya ..." tukas Maya sembari tersenyum.

"You'r welcome, Babe." balas Rio.

Tak ingin terkena masalah lagi dengan Dewa, keduanya pun segera mengakhiri candaan mereka dan fokus kepada apa yang tengah dijelaskan oleh sang Guru. Dari mejanya, Maya terlihat sedang menopang dagu sambil memperhatikan Dewa dengan seksama. Kedua matanya terus saja mengikuti setiap gerak guru muda yang tampan itu, seolah Maya tak ingin kehilangan sosoknya barang sedetik pun.

"Ya Tuhan, ini guru sempurna banget sih. Kalau lagi pakai seragam, kelihatan kharismanya kalau lagi pakai baju olah raga kelihatan seksinya ... Bikin hati gue tambah cenat-cenut aja." gumam Maya dalam hati.

Sudah resiko menjadi guru termuda dan juga tertampan di sekolahan, jika banyak murid perempuan di SMA Swasta Cakrawala menjadikannya idola. Tak hanya tampan, beberapa dari murid perempuan lainnya juga melihat Dewa sebagai pria yang menggairahkan serta seksi, begitu juga dengan pendapat Maya.

Bel berbunyi tiga kali, menandakan jika telah berakhirnya dua jam mata pelajaran.

"Karena jam saya sudah berakhir, maka pembahasan kita akan saya lanjutkan di minggu mendatang," ujar Dewa mengakhiri sesi pertemuannya. "Silahkan yang mau beristirahat," lanjutnya.

Seketika, para murid IPS 2 pun berhamburan keluar kelas. Ada yang langsung menuju ke kantin sekolah, ada juga yang menghabiskan jam istirahat mereka ke perpustakaan dan ada pula yang memilih untuk tidur di dalam kelas hingga jam istirahat berakhir.

"Ke kantin yuk, May. Gue udah laper banget nih," ajak Nadine sembari mengusap-usap perutnya.

"Lo duluan aja, Nad. Entar gue nyusul," tolaknya lembut.

"Lo mau ngapain dulu emangnya?" tanya Nadine kemudian.

"Gue mau ke toilet dulu bentar," ucapnya berbohong.

"Oh, oke deh. Entar beneran nyusul ya,"

"Oke." Sambil tersenyum, Maya melambaikan tangannya ke arah Nadine yang dibalas sama oleh teman baiknya itu.

Seperginya Nadine, Maya malah dengan sengaja menghampiri Dewa yang saat itu masih berada di dalam kelas sambil merapikan buku-buku tugas milik para murid IPS 2.

"Boleh saya bantu bawakan ke kantor tidak, Pak?" tanya Maya tiba-tiba.

"Silahkan," tukas Dewa sambil menatap dingin ke arah Maya.

Bergegas, Maya kemudian menumpuk buku-buku tugas milik teman-temannya itu lalu membawanya ke kantor guru.

"Eh eh, Pak Dewa ... tungguin saya," teriak Maya dari dalam kelas. Maya mempercepat langkah kakinya untuk mengejar Dewa yang saat itu sudah sampai di lorong kelas lain.

"Selamat pagi, Pak Dewa," sapa beberapa murid lainnya yang berpapasan dengan Dewa.

"Selamat pagi ..." balas Dewa sambil tersenyum ramah.

Melihat guru idamannya itu tersenyum kepada murid perempuan lain, membuat wajah Maya seketika menunjukkan ketidaksukaannya.

"Kalau sama murid lain aja senyum giliran sama gue marah-marah terus," gerutu Maya dengan lirih.

"Kamu sedang membicarakan saya, Maya?" tanya Dewa yang seolah ia mendengar gerutuan Maya.

"Ah tidak, Pak. Mana mungkin saya berani membicarakan Bapak," kelit Maya.

Dewa memalingkan pandangannya dari Maya, dengan sengaja Dewa mempercepat langkah kakinya agar ia tak perlu lagi berjalan berdampingan dengan murid yang menurutnya menyebalkan itu.

"Lah kok gue ditinggal lagi sih?" gerutu Maya.

Di saat yang bersamaan dari arah belakang Maya, tampak seorang wanita berseragam sama dengam Dewa sedang berjalan cepat dengan wajah berseri melewati Maya.

"Selamat pagi, Pak," sapa wanita itu kepada Dewa.

"Selamat pagi, Bu," balas Dewa dengan ramahnya.

Mereka berdua lantas berjalan bersama melewati lorong-lorong kelas lainnya. Maya yang melihat kedekatan mereka langsung memasang wajah tak suka.

"Dasar perempuan gatel," ejeknya. Sambil menegakkan tubuhnya ia kemudian berjalan cepat dan menerobos kedua gurunya itu.

"Permisi ... saya mau lewat, tapi jalannya ketutup sama tubuh kalian," ketus Maya tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.

"Aw," pekik wanita di sebelah Dewa yang tampak terbentur tiang sekolah akibat terdorong tubuh Maya.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Dewa kepada guru di sebelahnya saat Maya sudah berlalu dari hadapan mereka.

"Iya, aku nggak apa-apa kok. Cuma agak terkejut aja gara-gara di dorong sama murid bandel satu itu," gerutu si wanita.

Dewa tersenyum manis sambil mengusap lembut tangan si wanita, "Jangan diambil hati ya, Sayang. Mungkin dia kayak gitu karena kesal sama aku gara-gara sering kukasih hukuman," ucapnya menenangkan.

"Dia bukan kesal, Mas. Tapi cemburu," tukas si wanita.

"Cemburu? Enggak mungkinlah, kamu itu terlalu mengada-ngada," balas Dewa sembari tertawa kecil.

"Aku ini wanita, Mas. Jadi aku bisa bedakan mana kesal karena hukuman dan kesal karena cemburu," bantah si wanita.

"Udahlah, nggak perlu lagi bahas si Maya," pungkas Dewa.

Usai berdebat kecil dengan Dewa, si wanita tiba-tiba saja menghentikan langkahnya di depan kelas yang kosong sambil mencekal lengan Dewa.

"Ada apa, Yang?" tanya Dewa sembari celingukan.

"Kenapa kamu nggak ngumumin aja ke semua orang tentang hubungan kita ini, Mas? Biar mereka semua tahu kalau kamu itu milikku. Jujur, aku selalu cemburu waktu murid-murid perempuan ataupun guru-guru wanita lainnya berlomba-lomba mencari perhatianmu, sedangkan aku sebagai pacarmu aja nggak pernah bisa berbuat seperti itu," ujar si wanita.

Dewa cukup tercengang dengan apa yang dikatakan wanita di sebelahnya itu.

"Yang, kenapa kamu bahas masalah ini lagi sih? Di sekolahan pula kalau ada yang dengar pembicaraan kita, gimana?" balas Dewa seraya melepas pelan genggaman si wanita.

"Ya biarin aja, biar orang tahu sekalian kalau kita ini statusnya berpacaran," ujar si wanita yang semakin membuat Dewa gusar.

"Pelankan suaramu, Yang. Aku bener-bener nggak mau kehilangan pekerjaanku sebagai guru di sekolahan ini," tegasnya pada si wanita yang tak lain adalah kekasihnya sejak sekolah SMA dulu.

Si wanita tersenyum sinis usai mendengar ucapan Dewa, "Selalu aja kamu lebih mentingin pekerjaan daripada perasaanku," lirihnya.

Puas meluapkan emosinya, si wanita lantas berjalan mendahului Dewa sambil menyela air matanya. Di sepanjang lorong, dia terus menerus mengusap wajahnya yang basah dan kemudian dia pun menghilang di balik tembok sekolahan.

Kriet.

Dewa yang sedang berdiri mematung di depan jendela kelas 11 IPA 3 tiba-tiba dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka. Penasaran siapa yang membuka pintu, Dewa pun perlahan mendekati kelas yang dikiranya kosong itu.

"Kamu?" pekik Dewa saat melihat salah seorang muridnya tengah duduk di lantai sambil memegangi daun pintu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.
9.2
Banyu menerima surat misterius yang menyatakan dirinya terpilih sebagai avatar setelah pengamatan enam bulan oleh tim rahasia. Meski bingung dan curiga, ia diminta datang ke Jalan Lembayungkuning No. 17, tepat di samping kantor MNG Group, untuk mendapatkan penjelasan lengkap melalui sesi wawancara. Didorong rasa penasaran sekaligus takut, Banyu akhirnya memutuskan memenuhi panggilan tersebut. Keputusan nekat ini menjadi awal mula petualangan besar dalam hidupnya.
Sampul Novel Elegi of Rosr
9.1
Pasca gagal menikah, hidup Ayu Suwarjo hancur hingga ayahnya terpaksa menjaminkan dirinya pada Roy Punda demi menyelamatkan bisnis keluarga. Lewat kontrak enam bulan, Ayu terikat pernikahan paksa dengan pria sombong tersebut demi kebahagiaan ibunya. Meski awalnya menolak, Ayu harus berjuang menjaga sikap di depan suami barunya. Di tengah rahasia dan petualangan yang menguji kesetiaan, akankah sandiwara pernikahan sementara ini berubah menjadi ikatan cinta yang abadi?
Sampul Novel Gadis Barbar dan Cowok Cupu
9.3
Seorang putri bos mafia yang menawan terbiasa menjalani hidup bebas tanpa kekangan aturan siapa pun. Di sekolah, ia justru menaruh hati pada teman sebangkunya sendiri. Pemuda tersebut dikenal sebagai sosok yang sangat culun dan sering kali menjadi sasaran perundungan siswa lain. Meski kepribadian mereka sangat kontras, sang gadis barbar tetap terpikat pada cowok cupu tersebut di tengah kerasnya lingkungan kehidupan dunia bawah dan sekolahnya.
Sampul Novel Gairah Terkutuk
8.5
Liana memaksa Hart masuk ke dunianya dan menjadikannya budak tanpa menyadari bahwa pria itu berasal dari masa lalunya. Hart sengaja menyembunyikan identitas aslinya demi sebuah rencana besar. Pertemuan mereka yang tampak kebetulan di hidup Veronica ternyata telah diatur rapi oleh Hart sejak awal. Di balik kepatuhannya, Hart menyimpan rahasia gelap dan ambisi tersembunyi yang menjadi tujuan utamanya mendekati Liana dalam jeratan gairah penuh misteri.
Sampul Novel Istri Bayaran
9.5
Demi biaya kuliah dan pengobatan sang ayah, seorang gadis muda terpaksa bekerja sebagai teman kencan bayaran. Takdir membawanya bertemu seorang pria kaya berwajah dingin yang merupakan kakak dari kliennya. Terpikat sejak awal, sang tuan muda menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi finansialnya. Meski awalnya terpaksa, hubungan mereka penuh liku akibat campur tangan keluarga dan rahasia masa lalu. Akankah cinta sejati tumbuh sebelum masa kontrak mereka berakhir?
Sampul Novel Kekuatan Hati, Kekuatan Cinta
7.9
Demi kesembuhan ibunya, Alira Santika terpaksa menikahi Dimas Aditya Wiratama, pewaris ningrat yang butuh keturunan. Gadis 19 tahun ini harus meninggalkan kekasihnya, Raka, demi perjodohan tanpa cinta. Di rumah barunya, Alira menderita akibat kekejaman Cynthia, istri pertama Dimas yang penuh dendam. Tanpa pembelaan sang suami, ia berjuang sendirian melawan intrik keluarga. Akankah Alira mampu bertahan di tengah pengkhianatan dan tekanan demi cinta sejatinya?