Sampul Novel Terpikat Pesona Guru Muda

Terpikat Pesona Guru Muda

8.7 / 10.0
Maya Ailenn adalah siswi populer yang justru lebih terpikat pada pria dewasa ketimbang teman sebayanya. Ketertarikan ini membawanya ke dalam cinta segitiga rumit bersama gurunya, Dewangga, dan kekasihnya, Sarah. Meski tahu Dewangga akan segera menikah, Maya pantang menyerah. Ia rela mengorbankan hal paling berharga demi merebut hati sang guru dari tunangannya. Akankah ambisi Maya membuahkan hasil, atau ia harus menerima kegagalan pahit di hadapan Sarah?

Terpikat Pesona Guru Muda Bab 1

Namanya Maya, Maya Ailenn. Gadis cantik bermata bulat itu adalah seorang primadona di sekolahnya. Dengan paras cantik dan tubuhnya yang aduhai, ia mampu membuat semua mata kaum Adam tertuju hanya padanya. Sama seperti pagi ini, saat Maya dan salah seorang temannya berjalan melewati lorong-lorong kelas, terlihat banyak mata lelaki yang menatap ke arahnya dan mengabaikan gadis-gadis lainnya.

"Setiap jalan sama lo pasti semua mata cowok-cowok tertujunya ke lo deh, May. Bikin gue mengiri aja," celetuk Nadine, teman sekelas Maya.

"Makanya lo tuh dandan dong biar mata cowok-cowok juga tertuju ke lo," kekehnya sembari merangkul bahu Nadine.

"Gue mau dandan kayak apapun juga nggak bakalan bisa nyaingin lo May," tukas gadis berponi itu.

Maya mencebik, "Ah lo-nya aja yang nggak mau berusaha," ucapnya.

"Bukannya nggak mau berusaha, tapi gue tuh cuma sadar diri. Mau sebesar apapun usaha gue tetep aja gue nggak akan bisa jadi kayak lo," balas Nadine seraya menarik rambut Maya.

"Aw, perih bego!" sungutnya sambil memukul lengan Nadine.

"Gue nggak bego, ya. Lo tuh yang bego." Sambil menjulurkan lidahnya, Nadine berlari kecil menuju ke kelas, meninggalkan Maya yang masih berjalan santai di belakang.

Maya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman karibnya itu.

Sesaat kemudian, Maya pun memasuki kelas dan berjalan menuju tempat duduknya yang kebetulan berada tepat di belakang bangku Nadine.

"Dasar cewek prik," bisiknya dengan sengaja saat melewati meja Nadine.

"Biarin prik daripada lo, cantik doang tapi otaknya kosong," balas Nadine sambil memutar tubuhnya kebelakang.

Maya tertawa mendengar Nadine mengatainya. "Sialan lo," umpatnya.

"Eh Nad, gue nyontek PR Penjas lo dong. Gue belom ngerjain nih," pinta Maya dengan wajah memelas.

Nadine seketika memalingkan wajahnya, "Kerjain sendiri. Kalau urusan Penjas, gue nggak mau nolongin lo,"

"Idih ... pelitnya kambuh." cebik Maya.

Karena tak berhasil merayu Nadine, Maya pun akhirnya beralih ke Rio, lelaki tampan nan gagah yang selalu menjadi tempatnya bersandar.

"Rio, pssstt ..." panggilnya.

Si pemilik nama pun menolehkan wajahnya seraya menatap lembut ke arah Maya.

"Apa sayang?" tanya Rio sembari menopang kepalanya.

"Gue nyontek PR Penjas lo dong, boleh nggak? Gue belom ngerjain satupun nih gara-gara semalem begadang main game online," rengek Maya dengan suara manjanya.

Tanpa berkata-kata lagi, Rio pun segera memberikan buku tugasnya ke Maya, membuat gadis cantik dengan rambut lurus sepinggang itu tersenyum riang.

"Aaah ... Rio, makasih. Lo emang the best deh pokoknya," ucap Maya senang.

Rio tersenyum melihat tingkah menggemaskan gadis cantik di seberang mejanya itu, "Masa makasih doang? Ciumannya mana?" godanya.

Sambil mengerucutkan bibir, Maya dengan imutnya memberikan ciuman jauh ke Rio berulang kali, "Emuah emuah ...."

Rio tertawa keras, "Cuma ciuman jauh doang udah bikin hati gue bergetar, May. Apalagi kalau lo cium beneran," celetuknya.

Maya tersenyum tipis menanggapi candaan Rio, "Kalau beneran mungkin lo bisa kejang-kejang, Yo." kelakarnya.

Rio kembali tertawa sembari menggelengkan kepalanya. Sedangkan Maya, dia terlihat sudah sibuk memenuhi bukunya dengan tulisan-tulisan yang ia salin dari buku Rio.

Di sekolahnya, Maya sendiri memang terkenal suka becanda seperti itu ke teman-teman lelakinya. Namun meskipun begitu, Maya bukanlah gadis sembarangan yang dengan mudahnya bisa tersentuh oleh kaum Adam manapun. Malah sebaliknya, Maya terkenal sangat menjaga tubuhnya dari sentuhan-sentuhan nakal teman-teman sepermainannya yang terkadang dengan sengaja mendekati Maya hanya untuk memanfaatkan tubuhnya saja sebagai objek pikiran tak senonoh mereka.

Tetapi hal itu tak akan berlaku jika yang menyentuh tubuhnya adalah seorang pria yang dia inginkan. Karena sekali Maya menginginkan seorang pria untuk dimilikinya, maka Maya akan melakukan apapun demi mendapatkan perhatian pria itu meskipun harus memancingnya dengan tubuh indahnya.

Bel jam pelajaran pertama pun dimulai. Maya yang belum selesai menyalin tugas Rio, terlihat gugup sambil mempercepat gerakan tangannya.

"Aduh ... mana masih banyak pula, nggak akan kelar ini sih." gumamnya semakin panik.

Sialnya, tak berapa lama kemudian seorang guru pria memasuki ruangan kelas IPS 2, tempat di mana Maya berada. "Selamat pagi semuanya," sapa Dewangga yang biasa dipanggil Pak Dewa oleh murid-muridnya serta rekan kerjanya di sekolah.

"Pagi, Pak." balas seisi kelas bersamaan.

Melihat guru muda itu berdiri tegap di depan kelas membuat Maya harus buru-buru menyelesaikan tugas yang belum dia kerjakan sebelumnya, supaya dia tak dihukum lagi oleh guru idaman murid-murid perempuan di sekolahnya itu.

"Tugas yang saya berikan minggu lalu, apa sudah kalian kerjakan?" tanya guru tampan itu sembari melihat ke sekeliling kelas.

"Sudah Pak ...."

Dengan percaya diri, Maya pun ikut menjawab pertanyaan Dewa sama seperti yang diucapkan teman-temannya yang lain hingga tanpa sengaja mata Dewa tertuju ke meja Maya yang saat itu terlihat sedang sibuk menulis sesuatu di bukunya. Dewa lalu berjalan pelan dengan kedua tangannya dilipat ke belakang, menghampiri meja Maya kemudian berdiri tepat di depannya.

"Sudah selesai, May?" tanya Dewa tiba-tiba.

Mendengar suara Dewa yang begitu dekat dengannya, membuat Maya seketika membeku dan tak lagi melanjutkan kegiatannya menyalin tugas Rio.

"Su— sudah, Pak," jawabnya terbata sembari melirik Dewa.

Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, dengan cepat tangan Dewa mendarat di telinga kanan Maya hingga membuat gadis belia itu meringis kesakitan.

"Jam segini kamu baru mengerjakan tugas dari saya? Kemarin-kemarin apa saja yang kamu lakukan selama di rumah?" tanya Dewa dengan geramnya.

"Aduh aduh, Pak. Sakit lho," ucap Maya seraya memegangi tangan Dewa.

"Kamu itu anak perempuan tapi bandelnya minta ampun!" tukas Dewa. "Sudah berapa kali kamu tidak mengerjakan tugas yang saya berikan?" tanyanya lagi.

"Ba— baru tiga kali, Pak," jawab Maya tanpa merasa bersalah.

Dewa berdecak sambil menggelengkan kepala, "Baru tiga kali kamu bilang? Apa hanya itu yang kamu ingat?" tanyanya.

Maya mengangguk pelan, "I—iya, Pak,"

"Kamu itu hampir setiap hari saya hukum karena tidak mengerjakan tugas dari saya. Dan ini entah minggu ke berapa kamu saya hukum lagi dan lagi. Herannya, kamu itu kenapa tidak pernah jera?" Dewa menghela nafas panjang lalu melepas jeweran di telinga Maya.

"Ma— maafkan saya, Pak," Maya memberikan tatapan memelasnya.

Dewa berkacak pinggang sambil menatap kesal ke Maya, "Keluar kamu! Kamu tidak saya izinkan ikut mata pelajaran saya sampai satu jam mendatang," tegasnya.

"Iya..iya, Pak. Saya keluar kelas tapi, saya tidak disuruh lari keliling lapangan lagi kan?" Maya berusaha mendapatkan keringanan dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya.

"Kali ini saya tidak akan menghukum kamu seperti hari biasanya. Tapi, hukumanmu bertambah menjadi dua jam mata pelajaran saya," jawab Dewa seraya menunjukkan dua jemarinya ke arah Maya.

"Tidak apa-apalah, Pak. Daripada saya harus lari-lari di tengah lapangan lagi." balas Maya dengan tersenyum manis sembari berjalan melewati Dewa.

Dewa menggeleng pelan sambil menatap punggung Maya, "Anak perempuan kok bandelnya melebihi anak laki-laki. Heran saya," gumamnya.

"Yang lainnya, keluarkan buku tugas kalian dan tumpuk satu persatu di meja guru supaya saya nanti bisa mengoreksi pekerjaan kalian," perintah Dewa.

Mendengar ucapan sang Guru, Rio tiba-tiba saja mengangkat tangannya dan memanggil Dewa.

"Pak Dewa. Maaf, Pak ... saya lupa mengerjakan tugas minggu lalu," ucap Rio berbohong.

Dewa seketika menoleh ke arah Rio lalu berkata, "Sana keluar. Dan jangan masuk ke dalam kelas saya selama dua jam mendatang," geramnya.

Rio dengan senang hati menuruti perintah Dewa, seolah memang itulah yang ia inginkan. Tak lupa sebelum Rio keluar dari kelasnya, dia sesegera mungkin menyingkirkan buku tugasnya ke dalam laci meja Maya supaya tidak ketahuan oleh sang Guru jika dia sebenarnya sudah mengerjakan tugasnya.

Di luar kelas, terlihat Maya yang tengah berdiri di samping pintu kelasnya seorang diri hingga tiba-tiba sosok Rio muncul dari balik pintu dan mengejutkannya.

"May," panggil Rio.

Maya menoleh sambil mengernyitkan dahi, "Ngapain lo ikutan keluar kelas, Yo?" tanyanya bingung.

"Gue disuruh keluar sama Pak Dewa gara-gara gue bilang belom ngerjain tugas dari dia," jawab Rio sembari menghampiri Maya dan berdiri di sebelahnya.

Maya tersenyum miring melihat tingkah Rio, "Segitu bucinnya ya lo ke gue? Sampai rela dikeluarin dari kelas," ledeknya.

Rio balik menatap Maya, "Apapun gue relain, May. Demi bisa deketan terus sama lo," ucapnya.

Maya cekikikan mendengar omong kosong lelaki di sebelahnya itu, "Jijik gue dengernya, Yo." ucapnya sembari menepuk bahu Rio.

Di tengah gurauan keduanya tanpa mereka sadari dari balik jendela kelas ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan tatapan tak suka.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Terpikat Pesona Guru Muda

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Tiga tahun menikah, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai dari istrinya demi menyelamatkan putra kandungnya bersama Lin Yanran yang menderita leukemia. Ia memohon izin untuk memiliki anak lagi dengan sang mantan agar sel bayi baru lahir itu bisa menjadi obat, sambil berjanji akan kembali setelah misi medis itu selesai. Namun, di tengah tangis kepedihan suaminya, sang istri menemukan pesan provokatif dari Yanran yang sudah menanti Yu'an untuk segera menghamilinya malam ini juga.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel LEMBAYUNG CINTA
9.2
Rangga terjebak dalam obsesi mendalam terhadap Davina. Pria itu rela melakukan segala cara demi mencuri perhatian sang wanita impian. Setiap tindakan yang Rangga ambil dirancang khusus untuk memikat hati Davina agar mau membalas perasaannya. Di tengah ambisi tersebut, ia terus berjuang memancing simpati Davina demi mendapatkan cinta yang ia dambakan. Inilah kisah perjuangan seorang pria yang tak kenal lelah mengejar wanita pilihannya dalam balutan romansa modern.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjalani hidup sebagai istri kedua dari pengusaha sukses bernama Raga Dirgantara. Terjebak oleh beban hutang budi di masa lalu, Kayla tidak memiliki pilihan selain menerima nasibnya yang pahit. Kehadirannya dalam pernikahan itu hanyalah demi memberikan keturunan bagi sang miliarder. Ia harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa dirinya cuma dianggap sebagai alat tanpa memiliki posisi yang sesungguhnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan