Sampul Novel Bukan Salesman Biasa

Bukan Salesman Biasa

9.0 / 10.0
Dalam Bukan Salesman Biasa, Ardhan mendapat benda misterius yang mengungkap sifat asli manusia melalui warna mata. Saat nasib buruknya berubah, ia bertemu pria dengan mata yang tak terbaca. Ikuti kisah fantasy modern ini di web novel penuh misteri dan rahasia tersembunyi.
Ringkasan Bukan Salesman Biasa
Hidup Ardhan Aji Pradiptio berubah total setelah menolong kakek misterius dan menerima benda ajaib sebagai imbalan. Sebelumnya, ia selalu dirundung malang, mulai dari karier yang mandek, hinaan atasan, hingga batalnya pernikahan. Kini, ia memiliki kemampuan unik untuk melihat kadar kebaikan atau kejahatan seseorang melalui matanya. Namun, sebuah pertemuan dengan pria bermata ganjil membuatnya bimbang. Mampukah Ardhan mengungkap identitas sosok misterius tersebut?
Baca Selengkapnya

Bukan Salesman Biasa Bab 1

“Lho kok gaji saya cuma segini, Pak?” tanya seorang lelaki muda di ruangan atasannya.

“Kerja aja nggak becus, kalau mau gajimu utuh tagih semua klien-klien kamu! Klien pada nggak bayar kok minta gaji besar,”omel sang atasan.

“Tetapi saya mohon Pak, bulan ini jangan dipotong lagi. Saya akan kerja lebih keras lagi,” ujarnya.

“Kerja keras apa? diikutkan promosi jabatan malah hasilnya begitu, tender nggak pernah menang, proyekmu gagal. Beruntung kamu masih saya pertahankan, kalau tidak kasian karena kamu mau nikah, sudah saya pecat dari bulan kemarin,” lanjut pria tua dan gendut dengan kacamata yang tebal.

Skak Mat!!

“Saya janji Pak, saya akan berubah. Tetapi tolong-lah Pak, jangan potong gaji saya bulan ini.”

“Hei Ardhan, saya bisa kembalikan gaji kamu tetapi semua tunggakan klienmu harus beres dalam waktu dua hari.”

“Baik Pak, terima kasih banyak.”

Usai mengucapkan hal tersebut, ia pun berjalan keluar menuju ruangannya. Ketika pria bertubuh kurus itu akan masuk ke dalam ruangannya tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. “Mas Ardhan, ini daftar klien yang harus ditagih dan pastikan semua tunggakan mereka beres secepatnya ya Mas. Atau gajimu bulan depan juga akan dipotong!!”

“Baik Bu, akan saya usahakan,” jawab Ardhan.

Ardhan lalu melanjutkan langkahnya menuju ke dalam ruangan kerjanya. Di dalam ruangan berukuran 3x3 meter itu, ia memilih klien yang akan didatangi hari ini. Ardhan akan lakukan semua hal agar gajinya bisa kembali utuh.

Setelah memilah dan memilih, ia menetapkan empat perusahaan karena etaknya yang berdekatan. Ardhan mempersiapkan semua berkas yang diperlukan kemudian keluar dari ruangannya dan bergerak menuju parkiran. Dengan motor bututnya lelaki itu siap menunaikan tugasnya.

Usai berjibaku di jalanan selama 45 menit akhirnya lelaki itu sampai di perusahaan yang pertama. Ardhan langsung menghadapa ke bagian resepsionis dan mengatakan maksud dan tujuannya datang ke perusahaan tersebut. Tak perlu menunggu waktu lama, orang yang hendak ia temui langsung mendatanginya.

“Selamat Pagi Pak, maaf saya men—“

“Kamu ini apa-apaan Pak Ardhan, saya tahu kewajiban saya apa. Tidak perlu kamu datang dan menagih ke kantor seperti ini!” ujar lelaki berkacamata tebal itu, ia tampak marah dengan kedatangan Ardhan.

“Saya datang ke mari dengan maksud yang baik, asal bapak tahu ya tagihan bapak ini sudah lewat—“

“Saya tahu dan saya tidak mangkir, perusahaan kami akan bayar tagihannya. Tetapi tidak perlu datang ke sini, memalukan saja!!” potong lelaki itu, ia semakin marah. Keributan antara dua orang itu membuat pihak keamanan perusahaan tersebut mendekati mereka.

“Ya kalau tidak mau malu, bayar tagihannya Pak! Saya yang kena getahnya!” jawab Ardhan tak kalah garang, emosinya sudah meluap.

“Usir dia Pak! Datang ke mari dengan tidak sopan,” titah lelaki itu kepada dua security tersebut. Kedua pria berbadan tegap itu seketika membawa Ardhan keluar dari ruang lobby perusahaan. Mereka mendorong Ardhan hingga terjatuh di lantai yang keras.

“Pergi kamu!! Jangan pernah datang ke perusahaan ini lagi!!”

Ardhan yang kesal dan merasa malu segera angkat kaki dari perusahaan itu, ia berjalan menuju motornya dan langsung pergi begitu saja. Hal pahit yang didapatkan Ardhan tadi tak membuatnya patah semangat, dirinya sudah bertekad akan menyelesaikan semua tunggakan klien-nya. Dan kini Ardhan bergerak menuju perusahaan yang kedua.

Berbeda dengan perusahaan sebelumnya, di tempat kedua kali ini Ardhan tak bertemu dengan pihak keuangan melainkan hanya bagian frontliner-nya saja. “Mohon maaf sekali Pak Ardhan, perusahaan kami belum bisa membayar sekarang tetapi kami akan melunasi tagihannya sesegera mungkin,” jelas pegawai wanita tersebut.

“Kira-kira berapa lama ya mbak? Saya perlu kepastian waktunya untuk laporan ke atasan saya. Tanggal jatuh temponya sudah terlewat jauh,” desak Ardhan.

“Kami belum bisa memastikan tanggal tepatnya, kami akan usahakan sesegera mungkin.”

“Begini saja mbak, katakan pada boss anda jika besok saya akan kembali ke sini lagi. Karena saya harus mendapatkan kejelasan tanggal pembayaran, terima kasih.”

Usai mengatakan hal tersebut kemudian Ardhan pergi dari perusahaan tersebut, ia bergerak cepat menuju perusahaan yang lainnya. Dua perusahaan yang didatanginya belum bisa membayar sedangkan hari sudah semakin siang membuat lelaki itu menjadi panik.

Ardhan bergegas menuju parkiran, menyalakan mesin motor bututnya dan bersiap ke perusahaan yang ketiga. Di tengah jalan motornya mendadak mati, Ardhan berdecak kesal. “Sial, pake mogok segala!” umpatnya sembari menepikan motor.

Ardhan mencoba memperbaiki motornya, ia memeriksa mesinnya berulang kali dengan teliti namun tak juga bisa menyala. Ardhan yang kesal mencoba beristirahat sebentar untuk meredam emosinya dan kekalutan dalam dirinya.

Ketika dirinya duduk di bahu jalan, netra coklatnya tak sengaja melihat seorang kakek renta sedang mengorek bak sampah. Kakek itu seperti hendak mencari makanan sisa, Ardhan yang teringat akan sosok kakeknya merasa iba. Ia lantas menghampiri pria tua tersebut.

“Permisi Kek, Kakek lagi cari apa di kotak itu?”

“Saya lapar Nak, dari kemarin belum makan,” jawab Kakek tersebut sembari menunduk.

Benar dugaan Ardhan, lelaki berpakaian formal itu berada dalam kebimbangan. Di satu sisi dirinya kasihan pada si Kakek, di sisi lainnya ia juga merasa lapar ditambah pula uangnya hanya tinggal sedikit.

“Saya ada sedikit rejeki buat Kakek, tolong diterima. Tidak usah mencari makanan di situ, beli saja di warung,” kata Ardhan seraya mengeluarkan uang receh dari saku celananya. Ternyata rasa ibanya lebih besar dibanding rasa laparnya.

“Terima kasih ya Nak, akhirnya saya bisa makan,” ujar Kakek tersebut tersenyum. Ardhan ikut senang melihat Kakek itu senang. “Saya tidak bisa membalas kebaikanmu tetapi saya punya sesuatu untukmu.”

Pria tua berbaju lusuh itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya. Sebuah kacamata putih diberikan oleh Kakek itu kepada Ardhan. “Tidak usah Kakek, saya tidak memerlukan kacamata ini,” tolak Ardhan.

“Terima saja, hanya ini yang saya punya. Mudah-mudah bisa membantu pekerjaan kamu ya,” ujar lelaki itu memaksa Ardhan untuk menerimanya. Akhirnya Ardhan menerima benda pemberian lelaki tua itu walau dengan berat hati.

“Kacamata ini tampak jadul, sepertinya ini kacamata baca,” gumamnya, lelaki itu kembali ke tempatnya semula. Ardhan yang penasaran lalu mencoba memakai kacamata tersebut, ia bercermin di kaca spion. “Lumayan cocok untukku.”

Lelaki itu kemudian mencoba melihat ke arah jalanan. Detik berikutnya ia menjadi ketakutan sendiri hingga memundurkan langkahnya. Ardhan yang panik berusaha melepaskan kacamata misterius tersebut tetapi benda itu terus menempel, tidak bisa dilepaskan sekeras apapun ia mencobanya.

 Apa yang dilakukan oleh Ardhan tentu saja menjadi pusat perhatian pengendara lain. Salah satu pengendara memberhentikan kendaraan dan bermaksud untuk membantu Ardhan. “Lho ini Mas Ardhan ya? Kenapa Mas?”

“Ah tidak apa-apa, Pak,” jawabnya.

“Beneran Mas Ardhan tidak apa-apa?” ulang lelaki itu dan Ardhan menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Kebetulan saya menunggu kedatangan Mas Ardhan lho. Bisa kita sekarang ke kantor saya?”

“Bapak menunggu kedatangan saya?”

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Bukan Salesman Biasa

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta Aliansi, Cinta Transaksional
8.6
Pernikahan aliansi di kalangan elite memiliki aturan unik: suami boleh memiliki kekasih asal memberi kompensasi setara kepada istri sah. Dean Ramosh memegang teguh prinsip ini dengan memberi Calista Syahrina nafkah seratus kali lipat dari selingkuhannya, bahkan setelah keluarga Calista bangkrut. Saat sang kekasih mendapat rumah murah, Calista dihadiahi Vila Northcoast No. 1 yang mewah. Di tengah desakan sosial agar ia bersyukur, Calista justru meminta cerai karena merasa bosan.
Sampul Novel Diminta Menjadi Madu
9.7
Kecewa pada sang suami, Ningroem sering mengadu ke tetangganya, Ratna. Tersentuh oleh kerja keras Ningroem, Ratna memintanya menjadi madu bagi suaminya, Dani. Meski sempat menolak, Ningroem akhirnya setuju. Setelah hamil, persaingan batin muncul antara kedua istri demi memiliki Dani sepenuhnya. Pasca wafatnya Ratna, Dani yang tak terbiasa beristri satu memutuskan menikah lagi. Enggan dimadu, Ningroem lebih memilih menjanda daripada harus berbagi suami kembali.
Sampul Novel Moonlight and Mr. CEO
8.2
Nicholas Liu adalah CEO furnitur sukses di Hong Kong yang masih melajang hingga muncul rumor miring tentang orientasinya. Hidupnya yang tenang terusik saat ia terpaksa merawat kucing putih milik sahabatnya, Hanna. Karena enggan, Nic membiarkan hewan itu di teras. Namun, di bawah cahaya bulan purnama yang menyilaukan, kucing itu lenyap secara misterius. Sebagai gantinya, muncul seorang gadis cantik tanpa busana yang mengubah takdir Nic selamanya.
Sampul Novel Pernikahan Dadakan dengan CEO
8.8
Dalam Pernikahan Dadakan dengan CEO, konflik rumah tangga memuncak akibat masalah finansial. Sang suami menuntut agar semua pengeluaran, termasuk biaya hidup, cicilan KPR, dan cicilan mobil, dibagi secara patungan. Situasi semakin tegang karena kehadiran sang adik yang menumpang tinggal. Kontribusi bulanan sebesar empat juta rupiah dinilai tidak cukup dan dianggap setara dengan menumpang gratis, memicu tuntutan agar ia membayar setengah dari biaya hidup mereka.
Sampul Novel Rumit
9.6
Sassy adalah remaja yang merasa sangat kesepian karena kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Hidupnya mulai berubah saat Tio hadir sebagai teman baru yang dibawa ayahnya dari Kalimantan. Namun, kedekatan mereka melampaui batas hingga Sassy terjebak dalam hasrat yang melanggar aturan. Situasi menjadi kian pelik ketika sebuah rahasia besar mengenai jati diri Tio terungkap. Kini Sassy harus menghadapi konsekuensi dari jalan hidupnya yang semakin rumit.
Sampul Novel Tergoda Sahabat Mama
7.9
Brian, pemuda berusia dua puluh tahun, menaruh hati pada Aurora yang merupakan sahabat karib ibunya sendiri. Meski terpaut usia delapan belas tahun dan sempat ditolak, kegigihan Brian akhirnya meluluhkan hati Aurora. Mereka pun menjalin cinta secara sembunyi-sembunyi demi menjaga rahasia. Namun, skandal ini akhirnya tercium hingga memicu kemarahan besar sang ibu. Hubungan beda generasi tersebut terancam hancur karena restu keluarga yang mustahil didapatkan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan