Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel TERPAKSA MENIKAHI ANAK BOS

TERPAKSA MENIKAHI ANAK BOS

Michael Dharsono sangat membenci orang bertubuh gemuk, namun takdir memaksanya menikahi Regina Larasati melalui kontrak. Sebagai musuh lama sejak SMA, pernikahan mereka penuh pertengkaran hebat. Situasi memanas saat cinta pertama Mike kembali dan menuntut perceraian. Namun, Mike mulai ragu ketika kakak tirinya, Darren, terang-terangan ingin merebut Regina. Akankah Mike memilih cinta lamanya, atau justru berjuang mempertahankan Regina di sisinya selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Jawab gajah! Ngapain kamu disini?!"

Gajah. Sebutan itu lagi. Ejekan yang sama dan keluar dari mulut orang yang sama. Saat menyebutnya pun selalu disertai dengan ekspresi yang sama dari dulu. Ekspresi kebencian. Entah sejak kapan dia mulai... Oh ya aku ingat! Parkiran! Di tempat itulah Mike mulai membenciku. Tapi tepatnya kejadiannya seperti apa aku hanya ingat sedikit saja. Sebenarnya apa ya yang kulalukan di parkiran tersebut yang membuat dia membenciku. Tunggu... biar kuingat-ingat... kalau nggak salah waktu itu kan...

Teriakan Mike yang semakin membahana tidak kuhiraukan. Pikiranku melayang ke masa lalu. Ke masa dimana permusuhan kami dimulai.

"Gimana sukses?"tanya Indah, sahabatku sambil cengar-cengir.

"Sukses apanya? Kamu nggak liat apa mataku bengkak?!"jawabku ketus. Tidak seharusnya memang aku menjawabnya seperti itu, tapi emosiku sudah sampai di ubun-ubun.

"Iya ya, matamu bengkak banget. kamu abis ngapain tadi?" Ohhhh... kenapa sih di saat seperti ini, anak ini justru lemotnya kumat. Padahal aku lagi pengen dapat penghiburan dari dia setelah peristiwa menyakitkan tadi. Tapi kenapa... oh kenapa ya Tuhan... untuk mendapatkannya aku harus melewati ujian lagi???

"Ya tentu saja karna nangis to, ndah! Masak gara-gara disengat lebah!"

"Ha? Kamu nangis? Ya ampun kenapa?"

"Telat!"

"Ayolah... jangan ngambek dong. Kamu kan tau sendiri kadang-kadang tingkat kecerdasanku menurun kalau siang-siang begini. Ayolah... jangan marah. Cerita dong!"

"Abisnya kamu sih nggak ngerti-ngerti situasi dari tadi! Aku kan jadi sebel,"jawabku sambil menghentak-hentakkan kaki ke tanah. Manjaku kumat deh!

"Iya... iya... iya... sorry. Sekarang ayo cerita. Ada apa sebenarnya?" Wajahnya langsung berubah super serius. Dengan raut muka begini pasti nggak ada yang percaya kalau anak ini, beberapa menit yang lalu, barusan terserang penyakit lemot. Di tambah lagi dengan kaca mata besar bergagang hitam yang sedari tadi berusaha ditahannya agar tidak melorot dari hidungnya, dia benar-benar terlihat seserius seorang profesor yang sdang meneliti sesuatu.

"Aku ditolak! Nggak hanya itu, dia bahkan mengejekku habis-habisan di depan teman-teman ganknya. Dia bilang GAJAH seperti aku nggak pantas jadian sama pangeran tampan seperti dia. Tuh kan apa aku bilang! Dari awal ini memang MISSION IMPOSSIBLE! Kalian sih maksa-maksa. Akhirnya jadi begini deh!"

"Ga...gajah?? dia bilang kamu gajah? Kuraang ajar betul! Bolehlah kalau dia nggak suka, tapi nggak suka pakai menghina segala. Dikatain binatang pula. Nggak ada sopannya tuh anak. Wajah aja kelihatan ganteng, tapi sikapnya... Wah... kalau sampai Loni tau, dia pasti marah besar!"

"Pastinya. Kamu kan tau dia orangnya gampang emosi. Apalagi kalau denger masalah begituan. Oh ya, mana dia? Bukannya tadi janjinya nungguin kabar dariku di kelas. Sekarang kok menghilang?!"

"Oh... dari tadi sih dia nungguin kamu. Tapi karna kelamaan, dia akhirnya nongkrong dulu. Bentar lagi dia juga datang."

"Nongkrong dimana?"tanyaku bingung.

"Ya... di mana lagi kalau nggak di kantin hehehe... Kamu kan tau kalau pas jam istirahat pertama dia ALWAYS dan tidak pernah NEVER absent dari jadwal rutinnya ngobrol soal BTS bareng sesama ARMY dari kelas sebelah,"jelas Indah dengan dibumbui bahasa Inggris acak kadut.

"Oalah... bisa rutin gitu ya ketemuannya. Ngomong-ngomong kamu ada tisu basah nggak? Mukaku cemong semua gara-gara nangis tadi."

"Punya. Bentar aku... nah... itu dia... yang ditunggu akhirnya datang juga,"seru Indah tiba-tiba sambil menunjuk ke arah Loni yang sedang berjalan dengan wajah girang ke arah kami.

"Lama banget sih nongkrongnya!"semburku langsung sembari mengambil tisu yang disodorkan Indah.

"Sorry tadi lagi seru-serunya." Begitu Loni mendekat, wajahnya terlhat terkejut melihat kedua mataku yang terlihat sembab dan memerah. "Lho matamu kok bengkak? Kamu habis nangis?! Jangan-jangan... kamu ditolak???"

Aku mengangguk lesu.

"Nggak cuma ditolak. Dia juga diejek gajah sama Mike dan teman-temannya. Kurang ajar nggak tuh!"

"Haaa? Masak sih? Kok kasar gitu cara ngomongnya. Memang dia siapa seenaknya mengejek penampilan orang. Kayak dia uda cakepan aja!"teriak Loni dengan ekspresi yang seakan-akan berkata 'aku bisa membunuhnya sekarang juga!' ke arah pintu keluar.

"Kalau soal cakep sih... dia memang cakep. Luar biasa cakep malah,"sahut Indah dengan ekspresi setengah melamun.

"Indah! Tau situasi dong! Kamu di pihak mana sih?"semprot Loni seraya melotot ke arah Indah.

"Maaf... maaf... sesaat tadi aku sempat khilaf. Sekarang apa yang harus kita lakukan untuk membalas mereka?"

"Nggak usah ada acara balas-membalas ah. Tadi aja aku uda luar biasa malu. Aku nggak mau menambah daftar 'perbuatan memalukan masa SMA ku' dengan cari masalah sama Mike dan kawan-kawannya."

"Tapi Gin, kalo kita nggak membalas, takutnya mereka akan meremehkan kita!"seru Indah dengan tampang meyakinkan.

"Biar aja diremehkan! Toh kelasnya beda dari kita, jadi nggak bakalan sering ketemu."

"Sadar, Gin! Mana harga dirimu sebagai penghuni kelas 1b?"tegas Loni berusaha meyakinkanku.

"Ha? Apaan tuh? Apa hubungannya kejadian aku diolok-olok Mike sama harga diri sebaga kelas 1b?"

Aku mulai nggak ngerti arah pembicaraan Loni.

"Masak kamu lupa? Bukankah selama ini kita sudah berjuang bersama-sama mengarungi pertarungan demi pertarungan melawan kelas lain. Lomba kebersihan, voli, basket, sepak bola, dan tarik tambang, semuanya kan kita menangkan bersama-sama dengan keringat dan air mata. Masak kau rela kebanggaan sebesar itu diinjak-injak oleh cecunguk-cecunguk nggak berguna macam mereka!"seru Loni berapi-api dengan diiringi anggukan berulang-ulang tanda setuju dari Indah.

"Ayolah teman-teman... kondisinya kan nggak seserius itu. Nggak perlu-"

Sayangnya tak ada yang menggubris. Mereka berdua malah bergerombol sendiri kayak kelompok sindikat gelap yang sedang merencanakan sesuatu yang sangat penting dan berbahaya.

"Oke ini yang akan kita lakukan. Kita kempesi aja motor mereka. Aku rasa ini ide yang bagus. Simpel dan jitu. Mereka kan-"jelas Loni menggebu-gebu disertai tatapan serius dari Indah.

"Hei... hei... hei... jangan cuekin aku dong!"

Tetap saja nggak didengarkan. Mereka malah meneruskan rapat khusus mereka.

"Mereka kan terkenal sayang banget tuh sama motor sport touring mereka yang terkenal super mahal itu. Sedikit lecet aja mereka stressnya minta ampun. Apalagi kalau ada yang ngempesin motornya, mereka pasti kesel berat. Ditambah lagi tukang pompa ban kan jauh dari sini. Bayangkan saja capeknya nuntun motor sebesar itu sampai ke jalan raya. Bisa keriting tuh betis hahahahaha..."lanjut Loni disertai tawa liciknya yang membahana. Mungkinkah di antara kami bertiga, hanya aku saja yang masih waras. Persoalan biasa saja kenapa harus ditanggapin segitunya.

"Emangnya kalian tau caranya ngempesin motor?"celetukku dengan nada meremehkan. Mereka sontak memalingkan wajah ke arahku bebarengan.

"Bapakku kan tukang tembel ban. Masak kamu lupa? Masalah kecil seperti ngempesin ban sih sudah aku pelajari dari kecil,"jawab Loni dengan ekspresi 'kau tak bisa menghentikanku' yang terpampang jelas di wajahnya.

Wah... jawaban yang tak disangka-sangka. Aku memang tau kalau bapaknya Loni tukang tambal ban, tapi aku nggak nyangka kalau keahlian tersebut juga diwariskan ke anak-anaknya. Gawat! Bukannya bisa menghentikan mereka, aku malah jadi bingung harus ngomong apa lagi supaya kejadian balas dendam yang direncanakan teman-temanku batal terjadi.

"Teman-teman please jangan gila dong! Aku aja yang jadi korban, nggak-" Kata-kataku terhenti saat tiba-tiba mendengar bel masuk berbunyi.

Loni dan Indah pun langsung berhamburan ke tempat duduk mereka masing-masing sambil melemparkan tatapan 'nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita' ke arahku.

Ah... padahal aku lagi pengennya berkelabu ria setelah di tolak Mike tadi. Ini bukannya bebas menghabiskan waktu menangis sepuas-puasnya di bangku pojok kelas, aku malah harus disibukkan mengurus kedua temanku yang lagi getol-getolnya merencanakan misi BALAS DENDAM.

Sudahlah... toh nanti mereka sadar sendiri kalau rencana mereka cuma buang-buang waktu saja. Paling-paling juga nggak bakalan jadi tuh rencana ngempesin ban Mike dan kawan-kawannya. Lebih baik aku konsentrasi dengerin guru aja dari pada nanti kena semprot kayak kemaren.

.

"Gin, ayo cepetan!"panggil Loni dari tempat duduknya setelah pelajaran usai. Dia tampak sibuk memasukkan buku-bukunya cepat-cepat ke dalam tas.

"Ha? Mau kemana?"tanyaku bingung.

"Gimana sih? Masak kamu lupa rencana kita waktu istirahat tadi?"jawab Indah seraya bolak-balik melihat ke jam tangannya.

"Rencana? Ha!!! Berarti kalian jadi ngempesin-"

"Ya iyalah. Udah ayo cepat! Mumpung kelas Mike belum bubar,"desak Loni seraya menarikku keluar menuju ke tempat parkir.

"Tunggu dulu dong. Bukannya tadi masih mau dibicarain dulu. Ini kok uda mau beraksi sih?"teriakku protes.

"Nggak ada waktu lagi. Toh kan cuma ngempesin ban doang. Gampang! Makanya cepetan larinya, Gin!"jawab Loni enteng.

"Kalian gila! Kalau ketauan gimana?"

Walaupun aku protes habis-habisan, mereka tetap aja nggak bisa dibujuk.

"Wah banyak banget motornya! Yang mana motornya Mike sama teman-temannya?"tanya Indah dengan nafas tersengal-sengal sesampainya di parkiran.

"Sport touring merah punya Mike, yang hitam dan biru punya temannya."jawab Loni seraya menyeretku menghampiri motor Mike.

"Sport touring itu apaan?"tanya Indah linglung.

"Ahhhh.... pokoknya cari motor yang besar dan yang kelihatan paling mahal. Cari yang warna biru atau yang hitam. Punya Mike biar aku dan Gina yang urus,"jawab Loni seraya memandang motor Mike layaknya sang pemburu pada korbannya.

"Lon, aku-"

"Ayo tunggu apa lagi, cepat lakukan!"

"Aku..." Benar-benar dilema. Aku nggak tahu harus bagaimana. Mau melakukan aku takut, nggak dilakukan nanti di bilang nggak setia kawan. Bagaikan dilanda peribahasa 'hidup segan mati tak mau' saja tiba-tiba.

"Aduh gimana sih kamu, Gin?! Udah sejauh ini kamu malah-"

"Sorry aku benar-benar nggak bisa."

"Ya uda biar aku saja!" Secepat kilat Loni dengan keahlian tingkat tinggi langsung membuat ban Mike kempes sekempes-kempesnya. Setelah selesai dia langsung berlari untuk melanjutkan misinya mengempesin motor temannya Mike. Aku yang lumayan terkagum-kagum, melongo saja melihat aksi Indah dan Loni. Sebenarnya bukan hanya aku saja yang melongo melihat mereka. Beberapa orang yang berada di situ termasuk beberapa teman sekelas kami juga ikut melongo dan kaget.

Tapi mereka hanya diam saja memperhatikan. Tidak ada satu pun yang mencoba menghentikan. Menurutku sih itu karna yang dikempesin adalah motornya Mike dan kawan-kawan. Maklumlah, selain kami, tidak sedikit juga yang nggak suka dengan tingkah mereka yang sok berkuasa.

Sebenarnya aku juga nggak suka dengan cowok yang sok, tapi nggak tau kenapa aku dengan bodohnya bisa jatuh cinta dengan si tolol Mike itu. Kalau saja waktu bisa diputar, aku pasti...

"Woi... gajah, ngapain kamu berdiri dekat motorku?! Mau nyatain cinta lagi?"tanya Mike, yang tanpa aku sadari sudah berdiri di belakangku sambil memandangku dengan tatapan merendahkan.

Aku berbalik perlahan sambil berdoa dalam hati kalau yang kudengar barusan hanya halusinasiku saja.

Sayangnya, yang berdiri di depanku sekarang beneran Mike. Saking kagetnya aku seperti merasakan seluruh udara di paru-paruku tersedot keluar sampai habis.

"Ngapain melotot! Kerasukan ya?!"bentaknya kasar.

Karna aku nggak menjawab dan masih aja melotot, dia lantas berteriak "Anybody home??? (Ada orang di dalam?)" ke arah wajahku sambil mengetuk-ngetuk kepalaku dengan jari telunjuknya.

"Ya Tuhan Gina-" Terdengar pekik Indah dan Loni dari kejauhan. Rupanya kedua temanku baru sadar kalau aku sudah tertawan oleh musuh. Mendengar teriakan mereka, Mike sontak menoleh.

"Ngapain juga tuh cewek-cewek?! Tunggu dulu... kenapa mereka ada di samping motor Jefry dan Peter? Jangan-jangan... wuasem... kamu apakan motorku, gajah???"teriak Mike membabi buta ketika sadar ban motornya kempes.

"Kamu apain motorku?! Kau duduki ya? Jawab!!!"

"Nggak kok, aku cuma-"

"Nggak apanya! Pokoknya aku nggak mau tau, aku mau kamu kembalikan semua udara yang kau ambil dari banku. Semua! Cepat!"perintahnya kejam sambil mencengkram lenganku.

Aku benar-benar panik. Yang jelas berputar-putar di pikiranku adalah secepatnya kabur dari cengkraman monster di depanku. Aku perlahan melihat sekeliling dan bersyukur karna tidak mendapati tanda-tanda kehadiran Jefry dan Peter. Kalau cuma Mike saja mungkin masih bisa kulawan.

"Masih diam saja! Kau tidak de-" Omelannya terhenti seketika dan digantikan dengan teriakan 'Auwww....' yang keras saat kakinya yang beralaskan sepatu bermerk tersebut aku injak kuat-kuat.

"Lariiiii cepat!"teriakku sambil melambai-lambaikan tangan ke arah Loni dan Indah.

Mereka berdua cepat-cepat berlari ke arahku dan segera menarik tanganku untuk lari bersama-sama. Namun betapa terkejutnya aku ketika tanganku yang satunya ditarik oleh Mike yang tampak luar biasa marah plus kesakitan. Karna panik, aku pukul saja dia dengan tasku yang berat satu kali, dua kali, tiga kali dan akhirnya dia terjatuh.

Walaupun berhasil membuat Mike terkapar, tapi aku sadar aku sudah membuat kesalahan yang besar. Dan benar juga setelah peristiwa di parkiran itu, Mike dan teman-temannya dengan giatnya tak pernah berhenti menyiksa kami. Pertengkaran demi pertengkaran tak elak mewarnai kehidupan kami berdua saat itu. Pertengkaran yang aku pikir berakhir di masa SMA itu, justru sekarang tak kusangka, kembali menghantuiku.

Benar-benar sial! Entah kenapa aku harus terlibat pertengkaran dengan bocah ini dulu. Kalau tahu akan seperti ini jadinya, pasti aku akan menghindar sejauh-jauhnya agar tak terlibat apapun yang ada sangkut pautnya dengan Michael Dharsono. Tapi semuanya sudah terlambat, bagaimana pun juga aku harus tetap berusaha untuk menutupi perkara ini dan mempertahankan pekerjaan ini sampai titik darah penghabisan! Mike atau monster apapun takkan bisa menghalangiku untuk mendapatkan pekerjaan ini!!!

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
8.9
Lina terjebak dalam kemiskinan bersama Randi, kuli bangunan yang memberinya uang belanja minim. Di tengah kesulitan ekonomi dan sifat keras kepala suaminya, Lina mulai berpaling pada Damar, tetangga mapan yang memberikan perhatian serta materi lebih. Meski kini kebutuhan hidupnya tercukupi secara sembunyi-sembunyi, perasaan bersalah mulai menghantui Lina saat melihat pengorbanan Randi. Ia pun bimbang antara memilih keadilan hidup atau kesetiaan pada pernikahan.
Sampul Novel Pengantin Sempurna Sang CEO: Kesepakatan dengan Iblis yang Menyamar
8.1
Leyla sering dicap sebagai wanita licik yang pandai menggoda pria demi ambisinya. Namun, publik terkejut saat ia mendadak dinikahi oleh Colton, sang miliarder playboy, setelah pertemuan singkat. Meski awalnya dianggap sebagai kesepakatan bisnis tanpa rasa, dinamika mereka berubah drastis saat Colton menunjukkan kerapuhannya di sebuah pesta. Leyla akhirnya menyadari bahwa seluruh pertemuan dan pernikahan mereka adalah rencana matang yang telah disusun Colton sejak awal.
Sampul Novel Harakat Cinta
8.9
Insiden di jalan raya menjadi awal takdir yang mempertemukan Jingga dengan Langit. Jingga adalah gadis tulus yang kerap menghadapi kemarahan ibunya, sementara Langit merupakan pemuda baik hati dari keluarga konglomerat yang akhirnya menjadi pasangan hidupnya. Perjalanan asmara mereka tidaklah mudah, karena keduanya harus menghadapi berbagai ujian hidup yang rumit dan menguras emosi demi mempertahankan ikatan cinta yang telah terjalin kuat.
Sampul Novel Istri Rahasia Sang Miliarder
9.4
Mimpi Arabella Balqis untuk dicintai hancur saat Leonard Abraham datang membawa dendam. Leonard menyelinap ke rumahnya, namun justru memutarbalikkan fakta hingga warga memaksa mereka menikah siri akibat fitnah tersebut. Sebagai yatim piatu, Arabella terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh penderitaan. Di tengah nasib buruk yang kian mengepung, mampukah ia bertahan menghadapi kekejaman suaminya dan menemukan kebahagiaan yang selama ini ia idamkan?
Sampul Novel Kasus 21+
9.3
Konten ini khusus pembaca dewasa 21 tahun ke atas. Eva Avalon, seorang petugas kepolisian elit, kini mengemban tanggung jawab besar sebagai ketua tim khusus. Misinya adalah memberantas tuntas berbagai tindak kejahatan serta eksploitasi seksual yang merajalela. Di tengah kemajuan teknologi yang memicu beragam modus operandi baru yang licin, ikuti perjuangan hebat Eva dalam menyelidiki dan mengungkap setiap kasus rumit demi menegakkan keadilan.
Sampul Novel Kesempatan Keduaku, Penyesalannya
8.7
Wasiat mendiang ayah mengharuskan Alya menikahi anggota keluarga Adhitama saat ia berusia 22 tahun. Dulu, ia mencintai Bima meski pria itu kejam, berselingkuh dengan Jelita, bahkan tega meracuninya hingga tewas setelah menikah. Namun, keajaiban membawanya kembali ke masa lalu tepat di hari ulang tahunnya. Kini, Alya terbangun dengan ingatan pahit tentang pengkhianatan Bima. Ia bertekad mengubah takdir dan tidak akan memilih pria yang sama lagi.