Sampul Novel Harakat Cinta

Harakat Cinta

8.9 / 10.0
Insiden di jalan raya menjadi awal takdir yang mempertemukan Jingga dengan Langit. Jingga adalah gadis tulus yang kerap menghadapi kemarahan ibunya, sementara Langit merupakan pemuda baik hati dari keluarga konglomerat yang akhirnya menjadi pasangan hidupnya. Perjalanan asmara mereka tidaklah mudah, karena keduanya harus menghadapi berbagai ujian hidup yang rumit dan menguras emosi demi mempertahankan ikatan cinta yang telah terjalin kuat.

Harakat Cinta Bab 1

"Ibu, apa Ibu tidak bosan berbuat kasar terhadapku?" ucap perempuan cantik bernama Jingga.

Pagi hari dengan udara yang masih dingin terdengar suara tamparan yang sangat keras

"Aku tidak akan pernah merasa bosan selama Kamu tidak menuruti semua kemauanku. Aku juga tidak bosan menamparmu karena selalu saja minta apa pun dariku," ucap seorang wanita yang dipanggil Ibu oleh Jingga.

"Aku ini anak Ibu apa bukan sih, Bu?" teriak Jingga dengan nada yang penuh dengan kekesalan.

Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut ibunya. Ibu Jingga hanya terdiam dan berlalu meninggalkan rumah. Sebelum keluar dia berkata, "Jangan pergi sebelum cucian di ember bersih dan mengering serta tumpukan baju yang akan disetrika menjadi rapi."

"Apa tidak ada hal lain selain mengurusi baju-baju ini? Sangat melelahkan Bu. Aku ada kelas jam 11 nanti untuk kuliah. Aku juga harus kerja cari uang," ucap Jingga yang tanpa dia sadari ibunya telah berdiri lagi dihadapananya.

'Plak.' Suara tamparan di pipi terdengar sangat keras dan bisa dipastikan itu rasanya sakit sekali.

Jingga menangis dengan berusaha menghentikan isakannya. Air matanya keluar membasahi pipinya yang mulus tanpa jerawat. Jingga kali ini hanya diam dan tidak lagi membantah ibunya. Lelah yang dia rasakan karena selalu berdebat dengan ibunya. Pada akhirnya, kekerasan yang dia terima. Tangannya sangat cekatan membawa baju-baju kotor ke ember dan akan mencucinya hingga bersih.

Setelah menampar pipi Jingga, ibunya langsung pergi keluar yang entah kemana tujuannya. Jingga tidak pernah mengetahui kemana saqt ibunya keluar rumah.

Sejak Jingga kecil perlakuan seperti itu sudah menjadi hal biasa. Perlakuan kasar dari ibunya menyiratkan tanda seperti bukan anak kandung. Wajar saja jika Jingga muncul pikiran tentang hal tersebut. Pernah suatu hari kala Jingga masih duduk di bangku sekolah dasar, ibunya memarahinya dihadapan teman-temannya dan para wali murid. Persoalannya sebenarnya tidak terlalu rumit. Waktu itu, Jingga menumpahkan minuman yang baru saja dibelikan ibunya. Minuman tersebut membasahi pakaian ibunya. Ibunya marah dan tidak mengenal situasi serta kondisi. Jingga menjadi malu. Kepalanya menunduk dan wajahnya ditutupi dengan tangannya. Jingga tidak berani menangis.

Ibunya Jingga tidak seperti ibu-ibu lainnya dalam memperlakukan anaknya. Orang lain yang melihat pasti mengira bahwa Jingga adalah anak tiri.

Jingga membuka wadah sabun cuci. Jingga berniat segera menyelesaikan pekerjaan itu.

"Ah sial sabun cucinya habis lagi. Jadi harus keluar rumah untuk membelinya. Sebenarnya Aku males. Hidup seperti ini terus. Membosankan!," gumam Jingga dengan perasaan kesal.

Jingga segera beranjak dari tempat cucian dan menuju ke kamar untuk mengambil dompet. Jingga membuka dompetnya. Dengan wajah memelas dia berkata, "Uangku di dompet akan segera habis. Masih banyak kebutuhan yang harus Aku penuhi. Kalau begini keadaannya maka Aku harus mencari tambahan penghasilan."

Jingga tidak ingin berlama-lama larut dalam sendu yang menghampiri. Jingga segera mengambil jaket dan hijabnya lalu keluar rumah untuk membeli sabun di toko seberang jalan. Rumah Jingga berada di pinggir jalan raya yang lalu lintasnya ramai sekali. Jingga berhenti di pinggir jalan dan menoleh ke kanan serta ke kiri untuk melihat kendaraan yang lalu lalang. Setelah sepi dia melangkahkan kakinya untuk menyeberang. Jalan raya yang letaknya di depan rumah Jingga selalu ramai saat pagi hari karena jam-jam sibuk seperti berangkat sekolah dan kantor.

Tiba-tiba Jingga membalikkan tubuhnya di tengah jalan. Langsung saja berbalik. Perbuatannya itu tidak dia sadari. Alasannya karena ingat tidak membawa uang. Dia tadi membuka dompet tetapi malah menutupnya kembali sebelum dia mengambil uang. Dari arah kanan Jingga, melajulah pengendara montor sport dengan kecepatan tinggi. Beruntung pengendara tersebut bisa menguasai diri dan montornya sehingga bisa berhenti tepat di depan Jingga.

"Hei, kalau jalan lihat-lihat dan jangan di tengah jalan tiba-tiba balik kanan gitu. Bahaya untukmu dan pengguna jalan lainnya!" teriak pria tersebut dengan rasa kesal pada Jingga.

Jingga hanya menoleh dan terdiam saja. Entahlah Jingga pagi ini enggan berbicara. Membuka mulut untuk sekedar menguap saja tidak dilakukannya. Mulutnya hanya bergerak sedikit sekedar untuk berdecit.

"Hei, Kamu! Kenapa tidak merespon pertanyaanku?" tanya pria tersebut. Pria itu menghardik Jingga di tengah jalan karena kesal. "Kelakuan Kami barusan itu bisa membuat celaka banyak orang. Kamu paham!" ucap pria tersebut.

Jingga hanya menganggukkan kepala dan terpaksa membuka mulut lalu berkata, "Maaf". Jingga kemudian berlalu dari hadapan pria tersebut. Pria bermotor yang masih merasa kesal melajukan kembali kendaraannya. "Ada-ada saja. Perempuan itu menyebalkan sekali. Tapi parasnya terlihat sendu," gumam pria bermontor tadi.

Pria itu melamunkan Jingga sambil berkendara. "Oh Tuhan, gadis tadi cantik sekali. Tadi manusia apa malaikat ya? Ataukah jin? Mbak Jinni dong. Hahahahah," gumamnya.  "Ah kok aku tiba-tiba melamunkan dirinya," ucap pria itu. "Aku merasa gila jika harus melamunkan dirinya. Bisa bahaya! Hahahaha!" Pria tersebut tertawa malu seperti orang sedang jatuh hati.

****

[Di rumah Jingga]

Jingga kembali ke rumah berniat mengambil uang untuk membeli sabun cuci yang habis. Suara hiruk piku terdengar sangat keras di rumahnya. "Ada apa ini? Berisik sekali. Kenapa ibu dikerumuni orang-orang berbadan preman?" gumam Jingga.

Jingga memberanikan diri melangkahkan kakinya menuju ke rumah. Sebelum sampai rumah, seorang wanita paruh baya berkata, "Sukma! dengar baik-baik! Kamu harus melunasi hutangmu yang banyak ini."

Jingga lantas berhenti dan segera bersembunyi di balik dinding rumahnya yang berbatasan dengan rumah tetangganya. Jingga sedikit panik dan ketakutan melihat orang-orang yang mengerumuni ibunya. Penampilannya pantas jika disebut preman. Seorang wanita paruh baya yang dipanggil mami oleh ibunya Jingga berpenampilan sangat seksi. Pakaiannya ketat membentuk lekuk tubuh. Make up yang menempel di wajahnya juga sangat tebal. Lipstiknya merah menyala. Bulu matanya seperti bulu mata unta.

Jingga terus menguping pembicaraan mereka dari balik dinding. Jingga terus mengawasi karena menyangkut keselamatan ibunya.

"Hutang apa Mami? aku tidak pernah punya hutang denganmu. Apakah belum lunas? Hutangku sudah ditebus lunas dahulu, Hah?" kata Bu Sukma.

Jingga kaget mendengar perkataan ibunya. Penuh tanya dalam dirinya.

"Ibu punya hutang?" gumamnya.

Jingga kembali mengintai mereka. Ibunya dicaci maki dengan perkataan kasar dan tidak layak diucapkan. Jingga merasa ngeri melihatnya. Jingga merasa takut. Jingga menitihkan air mata.

"Oh Tuhan, tolonglah Kami. Lindungi Ibu Saya dari gangguan para preman tersebut," ucap Jingga sambil menengadahkan tangan dan menundukkan kepala karena berdoa dengan khusuk.

Mami itu terus menerus berbicara keras. Isi pembicaraannya berupa ancaman.

Sesungguhnya Jingga bertanya-tanya. Pikirannya menghubungkan keterkaitan ibunya dengan dirinya.

"Kasihan Ibu. Biar bagaimanapun juga, Ibu adalah orang yang merawatku sejak bayi. Ibu yang membiayaiku. Aku harus membelanya," kata Jingga.

Jingga mengambil nafas dalam-dalam lalu melangkahkan kakinya untuk menuju ke rumah. Lebih tepatnya menuju pada kerumunan kecil tersebut.

"Ibu, ada apa ini? Ibu kenapa?" tanya Jingga dengan suara bergetar menahan takut.

Semua orang memandang Jingga dengan pandangan licik. Terutama mami yang memandang Jingga dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Harakat Cinta

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Derita Menantu Jelita
8.2
Kecelakaan tragis yang melumpuhkan sang suami memaksa ayah mertua tinggal bersama mereka. Namun, situasi di rumah tangga dalam novel modern misteri Derita Menantu Jelita ini kian mencekam saat sang suami bertekad mendapatkan keturunan demi garis keluarga. Sebuah rencana nekat dijalankan; ia diam-diam mencampurkan obat ke dalam minuman istri dan ayahnya sendiri. Keputusan gelap tersebut seketika mengubah segalanya, menyeret kehidupan mereka ke dalam pusaran konflik yang tak lagi terkendali.
Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Terlahir dengan keterbatasan fisik, Jasmine Bintang tumbuh di bawah bayang-bayang kekecewaan ibunya. Ia berharap menemukan kebahagiaan saat menikahi Ardan Mahendra yang sukses. Namun, keluarga Ardan justru menghina keterbatasannya. Luka Jasmine kian dalam saat Anindya, mantan kekasih Ardan, kembali dan mengungkap kebohongan cinta mereka. Meski Jasmine mantap meminta cerai demi martabatnya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya begitu saja.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Shila merintih kesakitan saat Sam mulai merasuki dirinya dengan penuh gairah. Dalam suasana yang mencekam dan penuh risiko, Sam berbisik lirih agar Shila mengecilkan suaranya. Ia memperingatkan gadis itu bahwa orang tuanya bisa mendengar aktivitas rahasia mereka di dalam rumah tersebut. Ketegangan memuncak saat mereka berusaha menyembunyikan hubungan terlarang ini dari pendengaran ayah dan ibu Shila yang berada sangat dekat dengan mereka.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela mengambil risiko besar dengan mengandung anak Jeremy secara rahasia, meski ia tahu dirinya hanya dimanfaatkan. Sadar akan kekejaman Jeremy, Angela sengaja memancing amarah pria itu agar ia dilepaskan. Namun, pelariannya berakhir saat Jeremy berhasil melacak posisinya. Di ambang keputusasaan, Angela memohon kebebasan. Tak disangka, kehadiran sang buah hati justru mengubah segalanya. Jeremy yang dulu dingin kini menawarkan diri untuk melayani Angela dan bayi mereka.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Dua tahun menikah, Nadia Antika bertahan menghadapi hinaan ibu mertuanya karena cinta tulus Askara Brahma. Namun, kebahagiaan itu sirna saat suaminya berubah menjadi tertutup dan dingin. Nadia mulai mencium rahasia besar yang disembunyikan sang suami di balik perubahan sikapnya. Mampukah ia mengungkap kebenaran yang menyakitkan? Bagaimana reaksi Nadia saat mengetahui Askara ternyata menjalin hubungan terlarang dengan adik iparnya sendiri di rumah mereka?
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan