Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpaksa Menikah Karena Kesalahpahaman

Terpaksa Menikah Karena Kesalahpahaman

Hidup Marissa berubah total setelah terjebak dalam kesalahpahaman undangan pesta yang membuatnya dipaksa menikah dengan Hendra, sopir pribadinya yang berwajah biasa saja. Meski awalnya menolak keras karena kehilangan kebebasan, Marissa tak berdaya melawan keputusan keluarga demi menutupi skandal. Namun, seiring berjalannya waktu, kesabaran dan ketulusan Hendra mulai meluluhkan hatinya. Ia pun belajar bahwa kesetiaan jauh lebih berharga daripada sekadar penampilan fisik.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi berikutnya, Marissa terbangun dengan kepala pusing. Malam sebelumnya terlalu berat-tangisannya masih meninggalkan bekas di pipinya. Ia menatap langit-langit kamarnya, mencoba menenangkan diri, tapi hatinya terasa kosong. Setiap detik terasa seperti hukuman.

Di luar kamar, terdengar suara ketukan pelan. Hendra.

"Bu Marissa... sarapan sudah siap," suaranya terdengar lembut, berbeda dari biasanya. "Aku juga sudah menyiapkan pakaian untuk hari ini."

Marissa menatap pintu dengan mata setengah marah, setengah lelah. "Aku tidak butuh semuanya, Hendra. Biarkan aku sendiri."

Hendra mengangguk perlahan. "Baik, Bu. Tapi aku akan tetap di luar. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil aku saja."

Marissa mendesah dan kembali menatap langit-langit. Ia tahu Hendra hanya ingin membantu, tapi hatinya belum siap untuk menerima keberadaan pria itu di hidupnya. Menikahinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya-setidaknya, itulah yang ia rasakan saat ini.

Beberapa jam kemudian, Marissa harus bersiap menghadiri pesta resmi pertama mereka sebagai pasangan. Gaun yang dipilih keluarga tampak indah, tapi baginya itu hanya penjara. Hendra menunggu di sampingnya, mengenakan setelan sederhana tapi rapi. Pandangan mereka bertemu, dan ada ketegangan yang sulit diurai.

"Marissa... aku tahu ini sulit," Hendra memulai. "Tapi aku ingin... kita mencoba. Hanya... mencoba."

Marissa menatapnya tajam. "Mencoba? Kau pikir aku bisa mencintai orang yang dipaksakan menikah denganku hanya karena kesalahan orang lain?"

Hendra menunduk, wajahnya merah. "Aku tidak minta kau mencintaiku. Aku hanya ingin kau merasa nyaman. Sedikit saja. Itu cukup untukku."

Marissa terdiam. Kata-kata Hendra sederhana, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat hatinya bergetar meskipun ia tidak mau mengakuinya. Namun, ia tetap keras.

"Tidak. Aku tidak bisa nyaman denganmu. Aku tidak pernah memintamu. Dan aku... aku benci ini!"

Hendra menelan ludah, menahan rasa sakit di hatinya. Ia tahu ia harus sabar. Menjadi suami Marissa bukan hal yang mudah. Tapi ia bertekad, meski berat, untuk menjaga wanita ini.

Mobil melaju menuju rumah pamannya Marissa. Jalanan Jakarta terasa lebih ramai dari biasanya. Marissa menatap luar jendela, hatinya campur aduk. Ia merasa terjebak, tidak hanya oleh pernikahan yang dipaksakan, tapi juga oleh pandangan orang-orang yang selalu menghakimi.

Begitu mereka tiba, kerabat sudah menunggu. Mata semua orang tertuju pada mereka. Marissa merasakan tekanan yang luar biasa. Beberapa sepupu menatapnya sinis, beberapa paman dan bibi berbicara berbisik. Semua itu membuatnya semakin marah.

"Marissa, kau harus tersenyum!" seru salah satu sepupunya sambil menatap Hendra. "Dan kau... jangan hanya diam! Kau suaminya sekarang, tunjukkan sedikit kejantanan!"

Hendra tersenyum canggung. "Aku hanya ingin memastikan Bu Marissa nyaman," jawabnya pelan.

Marissa menatapnya, ingin menampar pria itu-tapi ia menahan diri. Terkadang, ketenangan Hendra membuatnya bingung, bahkan mengganggu. Ia merasa tersiksa oleh perasaannya sendiri.

Pesta berlangsung dengan penuh ketegangan. Semua mata tertuju pada Marissa dan Hendra. Setiap langkah mereka diiringi bisik-bisik dan pandangan menghakimi. Marissa merasa seperti boneka yang dikendalikan orang lain, sementara Hendra mencoba sebisa mungkin membuatnya merasa aman.

Di tengah pesta, seorang kerabat mengangkat topik yang membuat Marissa panas dingin. "Marissa, bagaimana rasanya menikah dengan Hendra? Kau pasti sangat... terkejut, ya?"

Marissa menatap mereka, hatinya berdebar. "Ini bukan hal yang bisa kubicarakan dengan santai," jawabnya dingin.

Hendra menepuk punggungnya pelan. "Biarkan mereka. Kita tidak perlu menjawab semua pertanyaan."

Namun, pertanyaan itu terus datang. Beberapa tamu bahkan berbisik tentang betapa jeleknya Hendra, membuat Marissa semakin marah dan merasa dipermalukan. Hati kecilnya memberontak, tapi ia tahu, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Ketika pesta hampir selesai, Marissa memutuskan untuk keluar sejenak, berjalan di halaman belakang yang luas. Udara malam yang sejuk sedikit menenangkan hatinya. Hendra menyusul, tetap di jarak yang sopan.

"Kenapa kau harus begitu... baik padaku?" tanya Marissa tiba-tiba, suaranya rendah.

Hendra menatapnya. "Karena aku tidak bisa membiarkan orang yang dipaksa menikah denganku menderita. Setidaknya, aku bisa membuat satu hal lebih ringan. Itu saja."

Marissa diam. Kata-katanya menyentuh sesuatu di hatinya yang selama ini ia coba tutupi: bahwa Hendra, meski biasa dan tampak jelek menurut standar dunia, memiliki kebaikan yang tulus. Ia mulai menyadari, bahwa ketulusan itu adalah hal yang belum pernah ia hargai.

Malam itu, setelah pesta selesai dan mereka kembali ke rumah, Marissa duduk sendiri di balkon. Matanya menatap bintang di langit, hati masih penuh amarah, tapi ada sedikit rasa penasaran yang sulit ia jelaskan.

Hendra berdiri di dekatnya, menunduk pelan. "Aku akan menunggu... selama kau membutuhkanku. Tidak lebih."

Marissa menarik napas panjang. Kata-kata itu sederhana, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat hatinya tidak sepenuhnya menolak. Ia merasa, mungkin-hanya mungkin-perjalanan ini tidak akan seburuk yang ia bayangkan.

Namun, di balik semua itu, ancaman lain sudah mengintai: desas-desus dari keluarga, gosip teman-teman, dan rahasia yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Semua itu bisa merusak segalanya, kapan saja.

Dan di sanalah mereka-dua orang yang berbeda dunia, terpaksa hidup bersama oleh sebuah kesalahan yang mengubah jalan hidup mereka. Perasaan Marissa masih campur aduk antara kebencian, kesedihan, dan sedikit penasaran terhadap pria di sampingnya.

Hendra tahu, perjalanan mereka masih panjang. Dan ia siap menghadapi apa pun demi menjaga wanita ini-meskipun hatinya sendiri terluka, meskipun dunia tidak pernah memberi mereka kesempatan.

Pagi itu, Marissa membuka jendela kamarnya dengan perasaan campur aduk. Udara segar masuk ke dalam ruangan, tapi tidak mampu menyingkirkan rasa penyesalan dan amarah yang masih bersarang di hatinya. Selama seminggu terakhir, hidupnya benar-benar berubah. Ia kini bukan lagi Marissa yang bebas dan mandiri, melainkan seorang wanita yang dipaksa menikah dengan pria yang tak pernah ia pilih.

Ia memutuskan hari itu untuk berjalan-jalan sendiri, mencoba menenangkan pikiran. Tanpa memberi tahu Hendra, ia mengenakan jaket panjang, sepatu nyaman, dan membawa tas kecil. Jalanan di sekitar kompleks rumah keluarga Marissa cukup ramai, tapi Marissa lebih memilih melewati jalan kecil yang sepi. Setiap langkah terasa berat; setiap wajah yang ia lewati seolah menatap dan menilai kehidupannya yang kini kacau.

Di sebuah kafe kecil yang tersembunyi di sudut jalan, Marissa duduk sendirian sambil memandangi secangkir kopi hangat. Di antara hiruk-pikuk lalu lintas dan suara percakapan, ia merasa sedikit lega. Ini pertama kalinya sejak menikah, ia bisa bernapas tanpa merasa diawasi.

Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Dari pintu kafe, seorang wanita muda menatapnya penuh selidik. “Hei… Marissa, kan? Aku dengar kau… menikah?” Suara itu terdengar sinis.

Marissa menatapnya dengan dingin. “Ya. Ada urusan?”

Wanita itu tertawa kecil, lalu duduk di meja dekatnya, seolah sengaja ingin memancing konfrontasi. “Aku cuma penasaran. Kau pasti merasa terkejut ya? Suamimu… cukup… biasa, kan?”

Marissa menatap secangkir kopinya, menenangkan diri sebelum menjawab. “Kalau maksudmu penampilan, itu urusan pribadiku.”

Wanita itu tersenyum penuh kemenangan. “Ah, aku cuma ingin melihat bagaimana kau menghadapi kenyataan. Kau pasti kesal, ya?”

Marissa menatapnya tanpa sepatah kata pun. Ia tahu, percakapan ini hanya akan membuat gosip berkembang lebih cepat. Ia memutuskan untuk meninggalkan kafe itu, tapi wanita itu mengikuti.

Di luar, Marissa mulai berjalan cepat, mencoba menghindari kejaran sang wanita. Ia merasa ketakutan—bukan hanya karena pria itu, tapi juga karena kebebasan yang baru ia dapatkan bisa hilang begitu saja.

Tiba-tiba, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Marissa menoleh dan melihat Hendra, yang tampak lelah tapi tegas. “Bu Marissa… kau sendirian? Kenapa tidak memberitahuku?”

Marissa menatapnya, campuran marah dan lega. “Aku hanya ingin keluar sebentar. Tidak ada yang perlu kau urus.”

Hendra menatapnya dalam-dalam. “Aku mengerti, tapi aku tidak bisa membiarkan orang lain mengganggumu.”

Marissa menunduk, hatinya terasa aneh. Ada sesuatu dalam tatapan Hendra yang berbeda. Tidak ada rasa paksaan, tidak ada tuntutan. Hanya… perhatian yang tulus.

Mereka berjalan bersama, meninggalkan wanita muda itu yang masih menatap dengan sinis. Sepanjang jalan, Marissa menyadari bahwa Hendra lebih dari sekadar sopir yang dipaksa menikahinya. Ia melihat sisi pria itu yang sabar, penuh pertimbangan, dan selalu ingin melindunginya. Hal itu membuat hatinya mulai goyah, meskipun ia menolak mengakuinya.

Di rumah, suasana tetap tegang. Keluarga Marissa menunggu dengan tatapan menghakimi. Namun kali ini, Hendra mengambil inisiatif. Ia menenangkan situasi dengan sopan tapi tegas. “Kita tidak perlu membicarakan hal-hal yang tidak perlu,” katanya, menatap setiap orang. “Yang terpenting adalah Bu Marissa merasa nyaman di rumahnya sendiri.”

Kata-kata itu membuat beberapa kerabat terdiam. Mereka tidak menyangka pria yang mereka anggap biasa saja bisa memiliki keberanian seperti itu.

Malam harinya, Marissa duduk di balkon sambil menatap langit malam. Ia mulai merenungkan banyak hal: pernikahannya yang dipaksakan, Hendra yang selalu ada di sampingnya, dan dunia yang kini terasa semakin rumit. Ia sadar satu hal: meskipun ia menolak kenyataan, hidup tidak akan kembali seperti semula.

Di dalam kamar, Hendra menyiapkan teh hangat dan meletakkannya di meja dekat Marissa. “Aku tahu kau masih marah,” katanya pelan, “tapi aku ingin kau tahu… aku tidak akan pernah menyakiti hatimu. Bahkan jika kau membenciku, aku tetap akan ada di sini untukmu.”

Marissa menatap pria itu, hatinya bergetar. Ia tidak tahu harus merasa lega atau semakin tertekan. Perasaan campur aduk ini membuatnya bingung, tapi ada satu hal yang jelas: Hendra berbeda dari semua orang yang pernah ia kenal.

Di luar jendela, bulan bersinar lembut. Malam itu, angin seolah membawa pesan yang tak terdengar: bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai, penuh liku-liku, ujian, dan kejutan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Sahabat dan Cinta
9.5
Rania, Ray, dan Gia telah menjalin ikatan sahabat sejati selama lima tahun sejak SMP. Kini, saat mereka menginjak kelas tiga SMK, dinamika hubungan ketiganya mulai diuji oleh perasaan yang terpendam. Banyak yang percaya persahabatan antara pria dan wanita mustahil tanpa bumbu cinta. Di tengah tawa dan air mata masa sekolah, mereka terjebak antara keberanian menyatakan rasa atau diam demi menjaga keutuhan geng. Akankah cinta merusak segalanya?
Sampul Novel Don't Leave Me
9.5
Amel, mahasiswi lugu, terkejut saat dilamar Barry, kakak ipar dari dosen pembimbingnya. Barry ternyata sudah lama mengincar Amel secara diam-diam. Namun, impian pernikahan bahagia Amel hancur seketika saat ia mengetahui pengkhianatan suaminya. Barry menjalin hubungan gelap dengan sekretarisnya yang juga merupakan sahabat lama keluarganya. Kini Amel terjebak dalam dilema besar: tetap bertahan atau menyudahi rumah tangganya yang penuh luka tersebut.
Sampul Novel Kumpulan Cerita Dewasa Untuk 21+++
9.3
Antologi ini menyajikan deretan kisah romansa modern yang dikhususkan bagi pembaca dewasa. Setiap cerita di dalamnya dirancang dengan narasi yang berani dan eksplisit, sehingga sangat tidak disarankan bagi pembaca di bawah umur. Fokus utama karya ini adalah mengeksplorasi hubungan intim serta momen-momen penuh gairah yang intens. Pastikan Anda telah cukup umur sebelum menyelami kumpulan narasi sensual yang ditujukan khusus untuk audiens berusia 21 tahun ke atas ini.
Sampul Novel My BadBoy
8.6
Adzando Dalwes dikenal sebagai siswa nakal yang tampan sekaligus jago berkelahi. Meski banyak gadis mengejarnya, luka masa lalu membuat Adzando menutup hati dan menganggap semua wanita sama. Namun, persepsi itu goyah saat Vania Deltasya hadir. Siswi baru blasteran Amerika-Indonesia ini membawa perubahan besar dalam hidup Adzando. Apakah sang pembuat onar benar-benar jatuh cinta? Mampukah Vania membalas perasaan lelaki yang selama ini dikenal dingin tersebut?
Sampul Novel Pelarian Manis Istri Pengganti
7.8
Tiga tahun Cantika menyamar sebagai Aulia demi menyelamatkan label musik keluarganya. Meski menjadi istri Kenan Adiwangsa, ia hanya dianggap pengganti yang terabaikan. Di tengah dinginnya sikap Kenan dan kelicikan Elara, Cantika bertahan meski nyawanya terancam. Saat Aulia kembali, ibunya justru mengusir Cantika tanpa belas kasih. Kini, Cantika memilih pergi dan meninggalkan luka masa lalu. Ia pun menemukan cinta sejati serta kebahagiaan bersama pria yang menghargainya.
Sampul Novel Perangkap Tuan CEO
8.1
Dalam jeratan obsesi sang CEO, tidak ada jalan untuk melarikan diri. Baginya, memiliki dirimu bukanlah pilihan melainkan sebuah keharusan yang mutlak. Ia menuntut pengabdian penuh atas tubuh, jiwa, hingga setiap jengkal kulitmu tanpa sisa. Di bawah kendalinya yang dominan, kamu terkunci dalam kepemilikan eksklusif yang tidak membiarkan siapa pun mendekat. Setiap napasmu kini menjadi milik sang penguasa yang hanya menginginkan dirimu seorang diri.