
Terpaksa Menikah Karena Kesalahpahaman
Bab 3
Sinar matahari pagi masuk melalui jendela ruang kerja Marissa dengan lembut, menyingkap debu tipis di permukaan meja. Ia menatap layar laptop dengan rasa frustrasi. Berhari-hari ia mencoba menyelesaikan proyek penting untuk perusahaan keluarga, tapi konsentrasinya terpecah oleh pikiran tentang pernikahannya yang baru dan kehidupan yang tak lagi sama.
Marissa menutup laptop dengan sedikit gemas. "Aku tidak mengerti... kenapa semua harus berubah begini?" gumamnya sendiri. Ia menegakkan punggung, berusaha menenangkan diri. Tapi setiap detik terasa seperti dorongan untuk menyerah.
Di depan pintu, terdengar ketukan ringan. Hendra muncul dengan nampan berisi sarapan sederhana: roti panggang, telur rebus, dan teh hangat. Wajahnya terlihat serius, namun ada ketulusan di matanya.
"Bu Marissa... sarapan. Aku pikir kau butuh energi untuk hari ini," katanya pelan.
Marissa menatapnya dingin, tapi tak menolak. "Terima kasih," jawabnya singkat. Ia tahu Hendra niatnya baik, tapi hatinya masih dipenuhi kemarahan dan rasa sakit.
Setelah sarapan, Marissa memutuskan untuk pergi ke kantor sendiri. Hendra menawarkan untuk mengantar, tapi Marissa menolak. Ia ingin merasakan sedikit kebebasan-walau sadar, kebebasan itu kini selalu dibayangi oleh kenyataan pahit pernikahannya.
Di jalan, Marissa merasakan tatapan orang-orang yang mengenalnya. Beberapa tersenyum sinis, beberapa menatap penuh rasa ingin tahu. Gosip tentang pernikahannya sudah menyebar, dan ia menjadi bahan perbincangan di mana-mana. Hatinya panas, tapi ia mencoba menenangkan diri.
Sesampainya di kantor, Marissa menemukan tantangan baru. Klien penting yang akan ditemui hari itu tiba-tiba membatalkan pertemuan karena mendengar rumor tentang pernikahannya. Marissa menahan napas, berusaha tetap profesional, tapi amarahnya semakin memuncak.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Hendra:
"Aku tahu ini sulit, tapi aku percaya kau bisa melewati ini. Jangan biarkan orang lain menentukan nilai dirimu."
Marissa menatap pesan itu. Hatinya berdebar, campur aduk antara rasa marah dan sedikit terhibur. Ia menatap luar jendela, menyadari bahwa Hendra-meski bukan pria yang ia idamkan-mulai menunjukkan sisi yang tak pernah ia duga.
Sore harinya, setelah pertemuan yang melelahkan, Marissa memutuskan untuk berjalan kaki pulang. Tiba-tiba, seorang pria yang ia kenal dari masa lalu muncul di depannya. "Marissa... lama tak jumpa," kata pria itu sambil tersenyum, tapi ada nada sinis di suaranya.
Marissa menegakkan tubuhnya. "Apa yang kau mau?"
Pria itu tertawa kecil. "Aku hanya ingin tahu... bagaimana rasanya menikah dengan Hendra. Orang bilang kau sangat... tidak bahagia."
Marissa menatapnya dingin. "Kau sebaiknya pergi. Aku tidak ingin berbicara denganmu."
Pria itu mendekat, mencoba mengganggu. Marissa terhenti, hatinya panik. Saat itu, Hendra tiba-tiba muncul di belakangnya, memegang lengan pria itu dengan tegas. "Cukup. Kau tidak boleh mendekati Bu Marissa lagi."
Pria itu terkejut dan melepaskan tangannya. Hendra menatapnya tajam. "Jika kau tidak pergi sekarang, aku akan memastikan kau menyesal."
Marissa menatap Hendra dengan mata terbelalak. Hatinya berdebar bukan karena takut, tapi karena rasa kagum dan sedikit lega. Hendra bukan hanya sekadar sopir atau suami yang dipaksa menikahinya-pria itu benar-benar melindunginya, meski ia tak pernah memintanya.
Malam itu, di rumah, Marissa duduk di ruang tamu dengan secangkir teh. Hendra menempatkan kursi di sampingnya, duduk dengan tenang. "Hari ini berat, ya?" katanya lembut.
Marissa menatapnya. "Aku... aku tidak tahu harus bilang apa. Kau... kau benar-benar berbeda dari yang kubayangkan."
Hendra tersenyum kecil. "Aku hanya ingin kau tahu... aku ada di sini, untukmu. Apapun yang terjadi."
Marissa terdiam, hatinya bergejolak. Ia menyadari satu hal: meski awalnya ia membenci situasi ini, Hendra perlahan mulai menembus benteng kebenciannya. Tidak karena wajah atau status, tapi karena ketulusan dan kesetiaan yang tulus.
Di balkon malam itu, mereka duduk berdampingan, diam tapi terasa nyaman. Angin malam membawa aroma bunga dari taman belakang rumah, dan sejenak Marissa merasa tenang. Ia menyadari perjalanan mereka masih panjang, penuh ujian dan gosip yang tak berhenti. Namun ada sesuatu yang berubah: sedikit demi sedikit, hatinya mulai membuka celah untuk menerima Hendra, meski ia belum berani mengakuinya.
Pagi itu, Marissa membuka matanya dengan perasaan cemas yang tak biasanya. Ia menatap jam di samping tempat tidurnya; pukul tujuh pagi. Tugas penting menunggu di kantor, tapi pikirannya terus melayang pada kabar yang baru saja sampai padanya: ada masalah besar di salah satu proyek perusahaan yang melibatkan klien lama, seorang pengusaha yang terkenal keras kepala.
Dengan cepat ia bangkit, mandi, dan bersiap. Pakaian kerja yang ia kenakan terasa kaku, seolah mencerminkan ketegangan hatinya. Ia menatap dirinya di cermin: wajahnya tampak lelah, tapi matanya masih menyala penuh determinasi. Meski hidupnya baru saja berubah drastis, insting profesionalnya tetap tidak bisa dikalahkan.
Saat ia turun ke ruang makan, Hendra sudah menunggu dengan sarapan sederhana namun tertata rapi. Senyum tipisnya mencoba menghangatkan suasana.
“Bu Marissa, sarapan sudah siap. Aku sudah menyiapkan semua yang kau butuhkan untuk hari ini,” katanya sambil menyerahkan nampan berisi roti, telur, dan jus.
Marissa menatap sekilas, menarik napas panjang, lalu duduk. “Terima kasih. Hari ini… aku mungkin akan sangat sibuk,” ucapnya, mencoba menenangkan diri.
Hendra duduk di kursi sebelahnya, diam tapi tetap terlihat waspada. “Aku akan menunggu di sini sampai kau siap berangkat. Tidak masalah,” katanya pelan.
Marissa menatap pria itu. Ada ketulusan yang sulit diabaikan di matanya. Ia menelan rasa frustrasinya, lalu makan sedikit sarapan. Meskipun ia belum sepenuhnya menerima kenyataan pernikahan ini, Hendra selalu ada, tanpa menekan, tanpa menuntut—hanya hadir.
Sesampainya di kantor, masalah baru muncul. Klien lama yang terkenal keras kepala itu tiba-tiba menolak bertemu karena mendengar kabar pernikahan Marissa yang viral. Gosip yang beredar membuat reputasi Marissa di dunia bisnis sedikit terguncang. Ia menatap layar ponsel, membaca pesan masuk dari stafnya yang panik.
Marissa menghela napas panjang. Ia tahu satu hal: ia harus menyelesaikan ini sendiri. Menyerah bukan pilihan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan dari Hendra:
"Aku tahu kau bisa melewati ini. Jangan biarkan orang lain mengatur hidupmu."
Marissa menatap pesan itu, hatinya sedikit hangat. Kata-kata itu sederhana, tapi ada kekuatan di dalamnya. Hendra bukan hanya sekadar pria yang dipaksa menikahinya; ia mulai menunjukkan kesetiaan yang tulus, tanpa pamrih.
Di tengah kesibukan itu, Marissa mendapat panggilan mendesak dari kantor cabang. Ada masalah dengan salah satu proyek baru yang membutuhkan kehadirannya di lokasi. Ia bergegas menuju mobil, tapi lalu lintas padat membuatnya frustasi.
Di saat itulah Hendra tiba-tiba muncul dengan mobilnya sendiri, menepuk bahu Marissa. “Aku akan mengantarmu. Tidak masalah kalau aku harus melewati kemacetan ini,” katanya tegas.
Marissa menatapnya, terkejut. Ia merasa ada rasa aman yang aneh saat berada di dekat Hendra, meskipun hatinya masih menolak untuk menerima kenyataan.
Di lokasi proyek, situasinya lebih rumit dari yang dibayangkan. Beberapa pekerja protes, ada laporan kesalahan teknis, dan klien yang marah menunggu. Marissa mencoba tetap profesional, tapi tekanan yang datang bertubi-tubi membuatnya hampir menyerah.
Tiba-tiba Hendra muncul lagi, membantu menenangkan situasi. Ia berbicara dengan pekerja, menenangkan klien, dan menunjukkan ketegasan yang membuat semua orang terdiam. Marissa menatapnya dengan mata terbelalak. Ia tidak menyangka bahwa Hendra bisa begitu cekatan dan berani menghadapi situasi sulit.
Saat semuanya mulai terkendali, Marissa menyadari satu hal: Hendra bukan hanya sosok suami yang dipaksa menikahinya, tapi juga seseorang yang mampu membantunya bertahan di dunia yang penuh tekanan. Hatinya sedikit goyah, meski ia menolak mengakuinya.
Malam harinya, setelah proyek selesai, mereka kembali ke rumah. Marissa duduk di balkon dengan secangkir teh, menatap langit malam yang gelap tapi indah. Hendra duduk di sampingnya, diam tapi tetap hadir.
“Hari ini sangat berat,” kata Marissa akhirnya, suara bergetar. “Aku… aku hampir menyerah.”
Hendra menatapnya dengan lembut. “Tapi kau tidak menyerah. Itu yang membuatku kagum padamu. Aku tahu kau kuat, Bu Marissa. Dan aku… aku ingin kau tahu, aku akan selalu ada untukmu. Tidak peduli apapun yang terjadi.”
Marissa menatapnya, campur aduk antara marah, frustrasi, dan sedikit rasa kagum. Ia menyadari satu hal: meski awalnya ia membenci kenyataan ini, Hendra perlahan menembus pertahanan hatinya. Tidak karena penampilan atau status, tapi karena ketulusan, kesetiaan, dan keberanian yang tak pernah ia duga.
Di luar balkon, angin malam membawa aroma bunga dari taman belakang. Marissa menarik napas panjang. Ia tahu perjalanan mereka masih panjang, penuh ujian, gosip, dan tekanan dari dunia luar. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasakan sedikit rasa aman—sebuah perasaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan sejak hidupnya berubah.
Anda Mungkin Juga Suka





