
Terpaksa Berbagi Ranjang
Bab 3
Selesai mandi, aku pun mempersiapkan pakaian andalan yang semaksimal mungkin mampu menonjolkan sisi erotis sisi atletisku. Celana dan kaos yang sama-sama ketat sehingga dada bidang dan selangkanganku yang menonjol langsung bisa terlihat hanya dengan satu lirikan wanita. Aku pun segera mengeluarkan motor sport kesayanganku lalu kuparkir di halaman depan rumahku. Antara rumah kontrakan tidak ada pagar pembatas sehingga memudahkan kami untuk saling bertegur sapa.
Aku pun berpura-pura mengelap motorku dengan sangat telaten hingga tak tak lama kemudian Mbak Nania keluar dari rumahnya sambil tersenyum ke arahku.
“Pagi Mas Gilang, sedang apa?” sapanya ramah.
“Pagi juga Mbak Nania. Ini, lagi siap-siap mau berangkat ke kampus, ada yang masih ketinggalan di sana,” sahutku.
Untuk keakraban dan saling menghormati sesama warga, walau aku masih muda, tetapi semua orang menyapaku dengan ‘Mas Gilang.’ Hal yang sudah sangat lumrah di kompleks-komplek yang warganya terdiri dari berbagai suku.
‘Oh my God... cantiknya wanita ini,’ ucapku dalam hati.
“Mbak Nania pagi-pagi sudah cantik bener, mau kemana?” tanyaku basa-basa dan berpura-pura tidak tahu.
“Ini loh, Mas, aku mesti ke pasar, tapi sebenarnya malas karena jauh. Di sini cari ojek di mana ya. Mas Gilang tahu gak?” tanya Mbak Nania dengan wajah yang menampilkan mimik kesal atau mungkin sedih. Aku tersenyum dalam hati karena memang iblis kembali berbisik menyemangatiku.
“Maaf, Mbak Nania. Kalau gak keberatan, boleh saya temani atau setidaknya saya anter ke pasar? Biar gak diganggu preman di sana. Soalnya sekarang di pasar-pasar sedang sangat rawat dengan gangguan preman. Setelah itu saya nanti saya baru ke kampus,” tawarku dengan bahasa yang benar-benar sangat lebay dan bombastis.
“Memangnya kita searah? Mas Gilang tidak keberatan kalau ngebonceng saya? Nanti ada yang marah, gimana, heheheh,” sahut Mbak Nania yang mulai sangat cair dan seolah mengatakan deal, ini pasti bisa aku antar.
“Tenang aja, Mbak. Saya masih jomblo akut dan sama sekali belum ada cewek yang berminat jadi pacar saya. Kita searah kalau mau ke pasar, sekalian aja kebetulan saya juga ada sedikit keperluan ke pasar,” jawabku panjang lebar dan antusias. Aku tidak ingin kesempatan emas yang pertama ini, gagal.
“Oh gitu, memangnya Mas Gilang mau ke kampusnya jam berapa? Nanti aku ganggu waktunya lagi,” jawab Mbak Nania sepertinya masih merasa tidak enak hati.
“Waktu saya bebas kok, kan udah gak ikut mata kuliah, tinggal nunggu wisuda aja kok. Tenang aja, pokoknya buat Mbak Nania akan saya usahakan. Ya, hitung-hitung balas kebaikan Mas Gufron yang telah memberikan informasi lowongan kerja pada saya heheheh,” sahutku dengan nada yang semakin antusias.
“Oke deh kalau Mas Gilang gak keberatan, terima kasih aja sebelumnya!” Mbak Nania pun melangkah mendekatiku.
Jantungku langsung berdetak kencang tidak karuan. Semalaman dan hingga pagi ini, aku telah bisa memandangi tubuh telanjangnya. Sekarang dia akan berboncengan denganku dalam balutan pakaian yang jauh lebih seksi dari biasanya. Wow, ternyata bila kita berusaha dan berniat jahat, iblis akan senantiasa memabntu memberikan kemudahan untuk segalanya. Iblis, syaiton dan kawan-kawannya memang selalu totalitas dalam setiap memerikan dukungan pada hal-hal yang beraroma maksiat.
Motor telah aku starter dan Mbak Nania pun sudah duduk manis di belakangku. Karena model jok motor tinggi di belakang, maka otomatis posisi duduk Mbak Nania pun sedikit lebih tinggi dariku. Alhasil tubuh bagian atasnya jatuh telak ke punggungku dan tak dia sengaja payudaranya menyentuh punggungku dengan sempurna.
Tanganku sedikit bergetar, menahan napas akibat tekanan empuk dari buah dadanya di punggungku. Ternyata dadanya sangat kenyal dan menggetarkan. Sudah cukup lama aku tidak mendapatkan sajian dari susu emak-emak yang kenyal. Dan tak ayal lagi penisku mendadak bereaksi dan menegang di balik celana ketatku. Sepertinya Mbak Nania pun tersadar, tak lama kemduian dia menempatkan tangannya untuk membatasi dadanya agar tidak menyentuh punggungku.
“Maaf ya Mas Gilang, gak sengaja,” bisik Mbak Nania dengan sangat lembut dan manja.
“Oh gak apa-apa kok, Mbak. Justru seharusnya saya yang minta maaf, karena motornya terlalu tinggi jadinya yang duduk di belakang jadi seperti nungging. Tapi memang sih, kalau kelamaan nempelnya, malah saya yang bisa bahaya, Mbak,” candaku memulai speak-speak iblis.
“Kok jadi Mas Gilang yang bahaya, memang kenapa?” tanya Mbak Nania polos.
“Ya iyalah, saya bisa-bisa grogi dan gak konsentrasi bawa motornya. Saking empuknya punggung saya, hehehhehe,” jawabku sekenanya dan memang kepalang tanggung.
“Ih, Mas Gilang bisa aja. Memangnya gak pernah kesentuh sama begituan apa?” tanya Mbak Nania sambil sedikit terkikik dan sepertinya dia muali penasaran dengan omonganku.
“Hehe, saya belum pernah tuh. Baru kali ini berani membonceng cewek. Sampai-sampai sekujur tubuh mendadak panas dingin begini, hehe,” timpalku semakin gila dan banyak gombalnya.
“Dasar!” sergah Mbak Nania sambil mencubit pahaku. Dan sontak saja perbuatan manjanya itu kian membuat penisku semakin bereaksi dan tegang setegang-tegangnya.
“Ih, Mbak Nania jangan gitu dong. Nanti kalau saya gak tahan gimana, mau tanggung jawab?” ucapku sambil mengintip wajahnya di kaca spion motor. Wajah Mbak Nania tampak memerah, sungguh cantik wanita ini, rambutnya tergerai tertiup angin. Kami pun terdiam seribu bahasa, hingga tak terasa sudah sampai di parkiran pasar.
Selama kurang lebih lima belas menita aku menemani Mbak Nania belanja kebutuhannya di pasar. Aku melihat seluruh mata lelaki di sana menyantap kesintalan tubuh Mbak Nania yang hanya terbalut tank top putih dan beha hitam yang terlihat membayang di balik bajunya.
Setelah selesai belanja, kembali dia terlihat kebingungan.
“Kenapa, Mbak?” tanyaku.
“Mas Gilang, aku bingung pulangnya. Ternyata jauh juga ya, kalau naik ojek, aku jadi takut dijahatin. Gimana dong, Mas?” Mbak Nania tampak sedikit panik.
“Ya sudah, saya anterin pulang lagi deh,” balasku santai dan kembali hatiku loncat-loncat kegirangan.
“Tapi kan Mas Gilang mau ke kampus?” sergah Mbak Nania.
“Gak apa-apa, besok-besok masih bisa. Sebenarnya saya cuma mau minta tolong teman untuk buatkan CV lamaran itu, saya masih bingung gimana caranya buat cv,” jawabku lagi sambil menawarkan sesuatu ayang akan semakin membuat aku dan dia dekat.
“Oh gitu. Kenapa gak bilang dari tadi, kan aku bisa bantu buatin CV untuk Mas Gilang, aku bisa kok, pokoknya bagus deh,” sahut Mbak Nania antusias dengan wajah yang mendadak semringah .
“Oke deh kalau begitu. Jadi malu saya. Yu sekarang kita pulang lagi Mbak,” ajakku dengan hati yang kembali guling-guling di lantai.
“Oh iya, Mas Gilang, jangan panggil saya Mbak dong, kita kan masih sebaya kayaknya gak jauh deh usia kita. Aku kan masih muda juga, anak aja belum punya. Kita saling panggil nama aja ya? Gimana kalau Mas Gilang panggil aku Nania aja, aku panggil kamu Gilang atau Lang?” pinta Mbak Nania.
“Oke deh, Nania,” sahutku menyetujuinya. Ini benar-benar sangat sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Anda Mungkin Juga Suka





