Sampul Novel TEROR KOS BU TEJO

TEROR KOS BU TEJO

9.3 / 10.0
Dalam TEROR KOS BU TEJO, Rengganis harus menghadapi ancaman nyawa saat kepindahannya memicu misteri pembunuhan berantai. Sebagai horror novel yang mencekam, ia dan penghuni lain harus mengungkap dalang teror sebelum menjadi korban. Baca mystery story ini sekarang di web novel kami.
Ringkasan TEROR KOS BU TEJO
Rengganis, seorang perantau, tak menyangka keputusannya menetap di sebuah indekos di Pulau Jawa akan memicu petaka bagi seluruh penghuni. Setiap malam, ia dihantui teror mencekam yang perlahan menyingkap teka-teki pembunuhan tragis. Bersama penghuni lain, Rengganis berupaya membongkar misteri kelam di balik dinding kos tersebut. Akankah mereka berhasil mengungkap dalang di balik semua horor ini, atau justru berakhir menjadi tumbal nyawa berikutnya?
Baca Selengkapnya

TEROR KOS BU TEJO Bab 1

Rengganis terperanjat bangun dari tidur saat seseorang menggedor paksa pintu kamarnya. Lem yang merekat kedua matanya sontak luntur mendapati sosok Bu Tejo.

"Saya tahu kamu baru sehari di sini, tapi bisa ndak pake air nggak usah heboh, gebyar-gebyur berisik didengar tetangga kos," ucap Bu Tejo.

Berulang kali Rengganis mengerjap mencerna ucapan Bu Tejo, berujung keningnya memahat kerutan tipis.

"Loh, Bu? Siapa yang pake air, orang saya tadi lagi tidur," elak Rengganis menepis tuduhan tersebut.

"Orang suara airnya jelas banget loh, itu Mbak Trisna di kamar sebelah ngeluh nggak bisa tidur. Lain kali lebih diperhatiin lagi."

"Sumpah demi Allah saya nggak pake air, Bu!"

"Jadi kalau bukan kamu itu ulah setan? Iya?" sambar wanita tersebut seraya menggeleng ringan.

Sekejap Rengganis tertegun. Ekor matanya menangkap sosok Bu Tejo yang menghilang dari pandang. Ia mulai menggigit kulit bibirnya, badannya ikut menggigil, segera Rengganis berjalan kembali ke kasurnya.

"Aneh banget, jelas-jelas aku rebahan di sini dari tadi," gumamnya menarik selimut hingga menutupi setengah tubuhnya.

Suasana kos kala itu terbilang sepi. Maklum tetangga kamar di sebelahnya dominan sudah pada bekerja. Bu Tejo berkata dua dari tiga kamar tersebut biasa lembur dan pulang dini hari. Bisa di bilang Rengganis adalah satu-satunya mahasiswi di kosan itu.

"Aku jadi ndak bisa tidur," bisik Rengganis pelan.

Kali ini ia mulai merubah posisi tidurnya ke sisi kiri, di mana jendela menjadi objek matanya bertemu pandang. Suara jam yang berdetak, menghiasi kesunyian di balik kamar miliknya.

Ketika mata gadis itu hendak terpejam, tiba-tiba suara ketukan dari pintu depan kembali menyapa telinga Rengganis.

"Loh, Bu Tejo lagi?" pikirnya sesaat.

Gadis itu berjalan untuk meraih gagang pintu, namun ketika netranya melirik ke arah jendela, tidak ada siapa-siapa di sana.

"Ada yang ngetuk lagi," cetus Rengganis spontan mundur selangkah.

Namun suara kali ini dari pintu belakang, pintu yang menghadap langsung dengan kebun Bu Tejo.

"Kok aneh ya? Kok ada orang yang bertemu lewat pintu belakang?" Sebelah alis Rengganis tertaut memikirkan keanehan tersebut.

Ia memacu kakinya berlari ke pintu belakang, ada keraguan, pikiran Rengganis bertarung, bimbang memilih membiarkan atau justru membukanya.

Bermodalkan nekat, gadis itu memilih untuk menebas rasa penasarannya.

"Sial," decak Rengganis kemudian.

Kosong. Tidak ada siapa-siapa di luar.

Pikiran Rengganis langsung berkecamuk. Kembali menggigiti bibirnya yang tipis. Badannya sedikit maju untuk kembali memeriksa keadaan sekitar.

"Apa jangan-jangan maling?" Refleks Rengganis banting pintu dan menguncinya.

Tidak sampai di situ, sekujur tubuh Rengganis menegang tatkala samar-samar mendengar suara pintu depan dibuka.

Degup jantung Rengganis berpacu cepat, tangannya terkepal seolah menyalurkan keberanian dalam dirinya.

Ketika ia menengok ke belakang, ada sosok perempuan berambut panjang menutupi muka.

"Haaaaahh!"

Spontan Rengganis berteriak menghalang pandang dengan kedua tangannya. Mulutnya terbuka lebar.

Sesosok perempuan berdiri membawa sekop. air mata mengalir di wajahnya. Isak tangisnya tertahan, keluar dari mulutnya dengan berat dan parau. Ia mengangkat sekop itu tinggi-tinggi, lalu menghujamkannya ke lantai. Mata sekop itu menghancurkan lantai seakan-akan lantai itu adalah daging segar.

Sedetik kemudian tubuh Rengganis terbangun dari tidur lelap. Peluh keringat terukir jelas di wajahnya. Terperangah sebab menyadari itu hanya mimpi belaka.

***

Cuaca pagi itu lumayan cerah, Rengganis memutuskan untuk berangkat kuliah lebih awal.

"Loh Dek Ganis mau berangkat lagi toh?" sahut Mbak Trisna yang kebetulan lewat.

Raut wajah Rengganis berubah heran. Sesaat ia mulai mengernyit dahi.

"Saya baru mau berangkat, Mbak," balasnya dengan senyuman kikuk.

"Oh ya? Subuh tadi saya dengar pintumu kebuka. Saya pikir kamunya udah berangkat." Mbak Trisna menambahi seiring ekspresi Rengganis bertambah bingung.

"Saya duluan ya, Mbak!" Tanpa menyahuti ucapan wanita itu, Rengganis memilih pergi.

Padahal masih pagi, namun Rengganis malah dibuat resah. Bayang-bayang mengenai pencuri kembali bersarang di kepalanya. Apa mungkin yang didengar Mbak Trisna benar-benar perampok?

"Eh, Bu! Berhenti bentar!" cetus Rengganis menunda jalan Bu Tejo yang sedang tergesa.

"Aduh! Apaan toh?" tanyanya dengan alis terangkat heran.

Ada perasaan tak nyaman untuk mengatakannya. Namun rasa penasaran menguasai benak gadis itu.

"Saya boleh ngecek CCTV nggak, Bu? Mbak Trisna ngomong ada orang yang ngebuka pintu kamar saya subuh tadi," kata Rengganis.

Sesaat Bu Tejo berdecak. Sebercak kegelisahan juga ikut tergambar di wajah wanita itu.

"Kamu tahu ndak? Semua CCTV pagi ini tiba-tiba rusak," beber Bu Tejo sekilas membuang napas.

"Kok bisa, Bu? Semalam perasaan masih nyala saya liatin," celetuk Rengganis mengingat betul terakhir kali mendapati lampu merah masih berkedip pada benda tersebut.

"Saya pun ndak paham. Malah biaya buat benerinnya nggak murah, saya juga jadi ikutan pusing."

"Ada kemungkinan buat dibenerin ndak, Bu?" tanyanya dengan secuil harapan.

"Saat ini belum, soalnya saya lagi banyak kebutuhan."

Rengganis menghela napasnya sesaat. Bu Tejo melenggang dari pandang. Sementara gadis itu berdecak merutuki kebodohannya.

Pertanyaan mengenai perampok masih berputar-putar di kepalanya. Rengganis sedikit parno jika itu benar adanya.

Suara klakson motor membuat Rengganis sedikit tersentak. Riko, kakak tingkatnya kini memandangnya dengan tatapan penuh heran.

"Ngapain bengong di pinggir jalan?" tanyanya.

Rengganis hanya bisa menggeleng seraya naik ke atas motor.

"Nomormu kenapa dari kemarin dihubungi ndak aktif-aktif?" Riko menyerahkan sebuah helm ke gadis itu, Rengganis langsung memakainya.

"Kemarin disenggol orang, terus jatuh. Untung dia mau bayarin biaya kerusakannya. Nanti singgah di tukang service ya, Ko," pintanya sebelum motor itu benar-benar melesat jauh.

"Bener di sini tempatnya?" sahut Riko tak yakin sesaat menginjakan kaki di sebuah tempat yang sudah terbilang kumuh.

Rengganis berulang kali mengecek kertas kecil yang diberikan oleh orang kemarin kepadanya.

"Iya udah bener kok ini. Ruko nomor 14 lantai 2," jawabnya.

"Rengganis ya?"

Gadis itu terlonjak sesaat mendengar seseorang menyebut namanya. Ia sontak memegangi dadanya yang berdegup kencang.

"I-iya," sahutnya kikuk.

"Ada klien kemarin nitip pesan suruh buat benerin ponsel mbaknya, biaya udah ditanggung ama beliau," ujar pria tersebut.

Rengganis hanya mengangguk dan langsung menyerahkan ponsel miliknya. Sekejab Rengganis maupun Rico hanya bisa terdiam di ruangan yang tidak seberapa besar tersebut. Menunggu hingga ponsel itu benar-benar selesai diperbaiki.

"Ini ya mbak, ponselnya udah normal dan udah bisa digunakan," ucap tukang service menyerahkan ponsel kepada si pemilik.

"Makasih ya, Mas," lontar Rengganis sebelum kemudian meninggalkan tempat tersebut.

Gadis itu mengernyit mendapati raut wajah Rico yang berubah. Dia jadi lebih diam dari biasanya.

"Rik? Mukamu kenapa?" tanyanya.

"Kamu ndak rasa aneh, Nis?" Riko malah bertanya balik. Kepalanya menoleh ke belakang seakan memastikan sesuatu.

"Aneh kenapa?" Ia menatap dengan guratan tak mengerti.

"Kok bisa ya ada toko service di tempat ini." Rico berucap dengan suara kecil namun Rengganis dengan jelas masih bisa mendengarnya

"Memangnya ndak bisa?" Rengganis menyahuti.

"Kamu ndak tau dulunya ini tempat apa?" serobot Riko tiba-tiba.

Rengganis menggeleng dengan sepasang alis tertaut.

"Pembuangan mayat, Nis. Dulu banyak manusia dibunuh di sini," terang Riko dengan wajah penuh keseriusan.

Mendadak tubuh Rengganis berubah kaku. Matanya membelalak bersamaan mulutnya yang terbuka lebar.

"Apa? Ma-mayat?"

Bersambung...

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi TEROR KOS BU TEJO

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel COMPLICATED LOVE
9.2
Dunia ini tidak pernah adil. Perbedaan kasta dan harta membuat kesenjangan sosial kian nyata, memaksa mereka yang miskin berjuang lebih keras hanya demi setitik harapan. Di tengah kerasnya takdir, Sean yang sombong menuntut Mira bersujud di kakinya demi sebuah pengampunan. Namun, hubungan mereka perlahan berubah menjadi ketergantungan yang rumit. Seperti angin yang menggerakkan kincir, Mira menjadi sosok krusial yang menentukan arah hidup Sean di masa depan.
Sampul Novel Gairah di Kota kecil
8.2
Selamat datang dalam sebuah kisah romansa modern yang memikat, berlatar di sudut kota kecil yang tenang namun menyimpan sejuta rasa. Narasi ini dirancang secara mendalam untuk membawa imajinasi Anda menjelajahi momen-momen intim dan penuh gairah antar karakter. Pembaca diharapkan bijak saat menikmati setiap babnya, karena jalinan ceritanya mampu membangkitkan fantasi tentang hubungan raga yang sangat intens dan membuai pikiran secara nyata.
Sampul Novel Ilusi Cinta yang Kukira Abadi
8.9
Setelah dikhianati sahabat masa kecilnya, Monica menemukan kebahagiaan baru saat Simon, seorang miliarder terpandang, menikahinya. Lima tahun berlalu dalam limpahan kasih sayang, hingga Monica tidak sengaja mengungkap kebenaran pahit. Simon rupanya hanya memanfaatkan pernikahan mereka demi melindungi Cita, wanita yang dicintainya secara rahasia. Menyadari seluruh hidupnya hanyalah kepura-puraan, Monica memutuskan untuk merencanakan kematian palsunya sendiri melalui sebuah insiden tenggelam agar bisa menghilang selamanya.
Sampul Novel Kakakku Menjadi Gila Setelah Kematianku
7.9
Dalam novel misteri modern Kakakku Menjadi Gila Setelah Kematianku, hubungan darah tidak menjamin kasih sayang. Sang kakak sangat membenci adiknya dan terang-terangan berharap agar dia lenyap. Pertanyaan pilu sang adik tentang status persaudaraan mereka hanya dibalas dengan penolakan dingin bahwa ia tidak menganggapnya ada. Namun, setelah sebuah kecelakaan mobil tragis merenggut nyawa sang adik malam itu juga, penyesalan dan misteri mulai mengubah segalanya hingga membuat sang kakak perlahan kehilangan akal sehatnya.
Sampul Novel Rahasia di Balik Ruang Gelap
8.1
Menginjak usia dewasa, protagonis wanita dalam novel modern Rahasia di Balik Ruang Gelap menerima hadiah tidak biasa dari ayah tirinya di dalam bioskop pribadi yang remang-remang. Alih-alih film biasa, ia disajikan tayangan dewasa yang memicu sensasi asing dan mendebarkan dalam dirinya. Di tengah kepasrahan dan ketegangan yang menyelimuti ruangan sunyi tersebut, sang ayah tiri mendekat untuk mengambil tindakan lebih jauh, berjanji membimbingnya menjadi wanita seutuhnya.
Sampul Novel Sekretaris kesayangan CEO
9.7
Menjalin asmara dengan bos kaya bukan hal mudah bagi Yasmin Andara. Sebagai sekretaris cantik, ia harus menghadapi cobaan berat saat dipaksa menjauh dari CEO yang merupakan kekasihnya sendiri. Realitas pahit kini menguji keteguhan hati mereka di tengah tuntutan profesionalisme. Apakah cinta mereka mampu bertahan melewati rintangan ini, atau justru hubungan tersebut harus berakhir tragis? Ikuti perjuangan Yasmin mempertahankan cintanya yang penuh dilema.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan