Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel TEROR GADIS RAMBAI

TEROR GADIS RAMBAI

Soni merasa curiga saat melihat objek aneh yang dikerumuni lalat di danau, meski Rudi menganggapnya hanya sepotong kayu biasa. Karena rasa penasaran yang tak terbendung, Soni mengabaikan peringatan temannya dan mendekati benda misterius tersebut. Rudi akhirnya ikut menyelidiki setelah melihat kegigihan Soni. Namun, saat mereka mencoba menarik objek itu ke tepian, sesosok kepala wanita muncul dari air dan menyeringai mengerikan ke arah mereka berdua.
Bab
Bagikan

Bab 1

" Son, mancing yuk?" Ajak Rudi.

" Kamu gila ya! Kan kamu tau sendiri kalau sekarang hari Jum'at,Mana boleh kita pergi mancing!" Jawab Soni sedikit jengah dengan sahabat nya itu.

Rudi sudah beberapa kali ingin mengajak Soni untuk pergi memancing, dan hari ini adalah hari Jum'at, Rudi memiliki sedikit waktu santai untuk tidak bekerja.

Oleh karena itu, Dia mengajak sahabatnya itu untuk ikut memancing bersamanya. Karena kalau pergi sendiri juga tidak asyik dan di tempat itu juga sepi.

" Ayolah Son! Nanti kalau dapat ikan yang banyak, aku bagi kamu semuanya deh, mau ya?" Ajak Rudi masih tidak mau kalah dengan apa yang diinginkan nya itu.

Rudi memang sangat hobi sekali memancing, dan dia juga suka mengikuti kompetisi memancing di manapun orang mengadakan lomba, Tetapi kali ini dia sangat tertarik untuk pergi memancing di dekat sungai yang ada di kampung mereka.

Ada waktu itu, temannya sesama memancing mengatakan kepada Rudi kalau di sungai itu, banyak sekali ikan yang besar-besar. Dan sangat susah untuk menangkapnya.

Semenjak hari itu, Dia Selalu kepikiran untuk mencoba memancing di tempat tersebut.Dan kali ini dia mau pergi bersama Soni, walau bagaimanapun caranya dia harus bisa membujuk Soni agar bisa pergi bersamanya.

Melihat reaksi Soni yang biasa saja, Rudi benar-benar merasa geregetan.

" Kalau saja,aku berani pergi sendiri. Pasti aku tidak akan membujuk manusia satu ini untuk ikut menemaniku," ucap Rudi dalam hati.

Soni menimbang baik dan buruknya kalau dia ikut memancing bersama Rudi. Kalau dia menolak keinginan Rudi tentunya nanti Rudi juga tidak mau lagi menemaninya kalau ingin berkebun lagi, tetapi kalau dia mau nantinya juga dia akan mendapatkan ikan hasil tangkapan Rudi. Karena Soni memang kurang hobi dalam hal memancing,kalau bukan Rudi yang mengajaknya pasti dia tidak akan mau.

" Baiklah, tapi kamu janji ya. Semua ikan hasil tangkapan mu itu untukku?" Tanya Soni memastikan.

Rudi tersenyum dan dengan cepat mengiyakan semua ucapan Soni, karena dia memang kurang suka dengan ikan, Tetapi dia sangat suka memancing.

" Sekarang lebih baik kita ke rumahku dulu ya, buat ambil peralatan pancingan dulu," Ucap Rudi.

Soni pun langsung mengikuti Rudi kerumahnya. Dan mereka berdua menyiapkan semua peralatan memancing yang akan mereka bawa.

Rudi sangat merasa senang sekali karena dia akhirnya bisa mewujudkan keinginannya untuk bisa memancing di tempat yang akan mereka tuju Sekarang ini.

Dengan menaiki sepeda motor milik Rudi,mereka berdua pun berangkat ke sungai tersebut. Tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya sekitar ,15 menit mereka berdua sampai di tempat itu.

Soni agak bingung melihat Rudi berhenti di tempat itu, karena biasanya mereka akan langsung ke danau untuk memancing.

" Kenapa kita kesini,Rud?" Tanya Soni yang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya itu.

" Ikut sajalah, kata teman aku di sini tu tempatnya bagus buat mancing,ikan nya juga lebih besar," Jawab Rudi.

" Tapi kan di sini tempatnya sepi Rudi, mana gak ada orang sama sekali di sini. Aku juga gak pernah denger tuh di tempat ini orang mancing, setau aku mereka kesini hanya mandi saja," Ucap Soni lagi.

" Aduh Son, kamu kok takut sih? Lagian di sini kan dekat jalan juga. Gak usah lebay gitu lah, takut kok dipelihara sih!"

Rudi sedikit kesal melihat tingkah Soni yang seperti orang ketakutan, dia malah senang sekali kalau di sini gak ada orang,jadinya dia bisa memancing sendiri tanpa ada yang ganggu.

Dia mulai berjalan ke arah sungai yang biasa dijadikan oleh warga sebagai tempat mandi,kalau air mati di perumahan mereka. Nama sungai ini adalah sungai Dareh (sungai deras) karena aliran sungai di sini airnya sangat lah deras,jadi setiap anak-anak yang akan mandi di sini harus dengan pengawasan orang tuanya.

Soni mengikuti kemana arah Rudi berjalan,dia memang sama sekali tidak tertarik untuk memancing,apalagi di tempat seperti ini,yang tidak ada orang dan seram menurutnya.

Melihat Soni yang masih mengekor ke arahnya, Rudi pun langsung menatap ke arahnya.

" Mau sampai kapan kamu selalu mengekor di belakangku? Tidakkah kamu mau melepaskan pancing yang ada di tanganmu itu?" Tanya Rudi.

" Aku takut Rud, ini kan hari Jum'at. Gak boleh tau pergi ke tempat yang sepi begini di hari Jum'at," ucap Soni mengingatkan lagi.

" Yaelah… masih percaya aja sama yang begituan kamu, sudah sana jauhan dikit. Biar aku bisa lebih leluasa untuk melepaskan pancingan ku ke arah lain," ujar Rudi.

Dengan berat hati dan rasa takut yang masih menghinggapi dirinya, akhirnya Soni membawa pancingannya itu menjauh dari arah Rudi. Ketika sudah merasa agak jauh, akhirnya dia langsung menurunkan pancingan nya ke air,setelah itu dia memilih untuk duduk sambil memegangi pancingannya.

Sudah agak lama Soni menunggui pancingan itu, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau pancingan nya akak dimakan oleh ikan, yang ada umpan yang selalu dikaitkan habis kalau sudah masuk ke dalam air.

Tanpa disadari oleh Soni, ternyata umpan yang di gunakan nya sudah habis,karena tadi mereka memang membagi umpan yang dibawa sebelum mereka mencari spot mancing yang mereka inginkan.

" Sial! Aku kehabisan umpan lagi, harusnya aku tadi bawa umpan yang banyak saja. Umpan habis malah ikan gak dapat satupun,mau jemput ke tempat Rudi. Males banget deh, nanti dikiranya aku mau ganggu dia lagi," ucap Soni bicara sendiri.

Di tempat berbeda, Rudi sudah mendapatkan beberapa ekor ikan dari hasil pancingannya itu,dia sangat suka sekali memancing di sini. Dan ikan yang didapat oleh Rudi juga lumayan besar.

" Tidak sia-sia memang aku pergi ke sini, ikanya ternyata sangat banyak disini," ucap Rudi sambil terus tersenyum.

Sementara Soni yang sudah kehabisan umpan,sekarang sibuk memakan cemilan yang sengaja mereka beli buat bekal untuk mereka makan di saat memancing.

Dia mengarahkan pandangannya ke seluruh sungai itu, dan memang sungai ini sangat lah deras dan airnya juga sangat jernih. Tetapi tempat yang agak menjorok ke dalam membuat tempat ini jarang sekali dikunjungi oleh masyarakat, padahal sebenarnya tempat ini kalau dibuka dan di jadikan untuk tempat wisata pasti akan banyak sekali peminat yang berkunjung untuk menikmati indahnya sungai Dareh ini.

Ketika asyik melamun, tiba-tiba saja Soni melihat ada yang bergerak di antara pohon yang ada di seberang sungai tempat dia duduk. Rasa takut yang dimiliki oleh Soni sekarang malah makin bertambah,yang dia takutkan kalau itu adalah hewan buas. Karena disini dipenuhi oleh pepohonan luas dan tidak ada orang lain di sini selain mereka berdua.

Akhirnya Soni memutuskan untuk kembali ke tempat Rudi,dan sesampainya di sana dia melihat Rudi sedang asyik memancing.

Melihat kedatangan Soni, Rudi pun langsung melihat bawaannya dan dia sama sekali tidak melihat ada ikan yang dipegang oleh nya,jadi dapat disimpulkan kalau Soni tidak dapat ikan sama sekali.

" Kamu kenapa kesini lagi, Son? Kamu juga gak dapat ikan?" Tanya Rudi.

" Umpan yang aku bawa habis,tau sendiri kan kalau tadi aku bawa sedikit dan ya benar sekali,aku gak dapat ikan. Sepertinya disini gak ada ikan nya," jawab Soni.

" Siapa bilang gak ada, lihat nih hasil pancingan ku," ucap Rudi sambil memperlihatkan hasil pancingannya kepada Soni.

Soni beringsut ke belakang,karena saking kagetnya dia melihat apa yang sudah di dapat kan Rudi.

" Rud,lepasin aja itu! Itu bukan ikan Rud," ucap Soni sambil melangkah ke belakang melihat apa yang di pegang Rudi.

Rudi merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh Soni, jelas-jelas yang dipegang oleh Rudi saat ini adalah ikan yang dia dapat.

" Kamu itu apa-apaan sih Son? Ini jelas-jelas ikan, memangnya apa lagi?" Bentak Rudi.

" Astagfirullahaladzim, kayaknya kita harus pulang sekarang deh Rud. Kayaknya ini sudah gak benar deh Rud,percaya sama aku," ucap Soni yang badannya mulai merasa ketakutan.

" Kamu itu penakut banget sih Son! Gak ada apa-apa disini, lagian ikanya banyak di tempat ini. Kamu itu laki-laki jangan pengecut, kalau kamu gak suka melihat ikan tangkapan ku,sana gih kamu pergi ke tempat tadi,lagian kamu iri ya lihat hasil yang aku dapat itu banyak," ledek Rudi.

Soni akhirnya diam saja, dan memilih untuk tidak bicara. Dia tidak beranjak dari tempatnya Sekarang, Soni memilih untuk berdoa di dalam hatinya. Dari awal dia pergi tadi memang dia merasa semua yang terjadi di sini memang sangat ganjal dan kemauan Rudi yang sangatlah keras untuk memancing di tempat ini,apalagi yang dilihatkan oleh Rudi barusan kepadanya itu, Soni tau sekali kalau yang dipegang oleh Rudi bukanlah ikan,melainkan ular.

Soni sempat berpikir kalau dia berhalusinasi,tetapi dia beberapa kali mencoba mengucek matanya dan dia tidak mendapati kalau yang dipegang oleh Rudi adalah ikan tapi itu adalah ular yang masih hidup.

Dan perasaan Soni,kalau ular itu menghadap ke arahnya. Hal itulah yang membuat Soni tidak mendekat ke arah Rudi,karena ular itu terus mendesis ke arahnya.

" Rud, ayolah kita pulang," ucapnya lagi.

" Sebentar lagi kenapa sih? Buru-buru amat kamu Son, gak lihat apa kalau di sini aku dapat ikan banyak. Lagian kan nanti ikan ini juga buat kamu Son," ucapnya.

" Aku gak mau, buat kamu ajalah," jawab Soni. Karena dia tau sekali setiap Rudi mengatakan dapat ikan, yang diangkatnya itu tetap saja anak ular dan membuat Soni semakin takut.

" Rud, kamu mau pulang gak? Kalau nggak kamu sendiri saja di sini, aku gak papa kok pulang jalan kaki, aku lupa kalau ibuku menyuruh untuk mencabut singkong tadi menjelang pulang," ucap Soni mencari alasan agar dia bisa pulang secepat mungkin. Soni memang sudah merasa berkeringat di seluruh badannya dan tidak bisa di pungkiri kalau saat ini dia merasa kalau dirinya dalam bahaya.

Karena tidak enak dengan Soni, dan dia juga tidak mau di tinggal oleh Soni, akhirnya Rudi terpaksa mengiyakan ucapan Soni,lagian dia juga sudah mencoba memancing di sini, dan dia sama sekali belum puas dengan hasil tangkapannya itu.

" Ya Sudahlah, ayo kita pulang," ucapnya kepada Soni.

Sambil memegang pancingan dan ikan hasil tangkapannya itu,Soni berjalan duluan karena dia sangat takut dengan ular yang dipegang oleh Rudi dan dikatakan olehnya itu adalah ikan.

Ketika mereka hendak menyeberang sungai, Soni melihat ada seperti sesuatu di dalam air,Dia pun menghentikan langkahnya.

" Kamu kenapa tiba-tiba berhenti sih Son? Untung saja aku gak jatuh karena ulahmu yang berhenti mendadak."

" I— itu apa Rud? " Tanya Soni.

" Mana? Itu paling kayu,injak aja lah Son," ujar Rudi.

" Tapi kok kayaknya beda ya Rud," Ucap Soni lagi.

" Aduh, beda apanya lagi sih Son? Itu kan beneran kayu, di sekitar sini kan banyak orang yang menebang pohon dan itu adalah kayu yang sudah gak di gunakan orang lagi,makanya hanyut sampai ke sini," jawab Rudi.

" Soni melihat lebih dekat lagi, itu yang panjang-panjang,hitam dalam air apa Rud? Kok mirip rambut ya? " Tanya Soni lagi.

" Hahaha.. rambut apa sih,itu bayangan lumut kali,kan kalau udah lama pasti hitam juga tu lumut Son, kamu itu mikirin apa sih Son? Jadi pulang gak sih?" Tanya Rudi akhirnya.

Soni tetap tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rudi,dan akhirnya dia mencoba untuk mengambil nya dari dalam air. Ketika dia menyentuh dan memegang benda itu.

Mata Soni terbelalak saat tahu apa yang di pegang nya saat ini,dan dia coba menarik benda hitam itu dari dalam air dan memandangi arah kemana rambut itu berjalan.

Rudi juga heran melihat apa yang coba dipegang oleh Soni,dia juga mulai penasaran dan mengikuti arah benda hitam yang di genggam Rudi saat itu.

Semakin di gumpal,semakin panjang dan mata mereka berhenti melihat ke arah atas di tempat air mengalir itu.

Mereka sangat kaget saat melihat,sebuah kepala yang berada di tengah-tengah air yang mengalir deras dan menatap mereka dengan seringainya yang amat menakutkan.

Otomatis Rudi dan Soni langsung melepaskan rambut yang dipegangnya itu,

" Mau kalian apakan rambut ku?"

Soni yang tersadar akan bahaya yang mengintai mereka berdua langsung memegang tangan Rudi untuk lari bersama dengannya, Rudi sama sekali tidak bergerak melihat pemandangan yang ada di depannya itu.

" Ayo Rud, cepat lari. Kamu itu ngapain sih bengong?" Teriak Soni.

Dan Soni melihat kalau kepala yang dilihatnya tadi mulai mendekati mereka,dan anehnya hanya kepala nya saja serta usus yang berdarah segar mulai melaju ke arahnya.

Dengan sekuat tenaga dia menarik Rudi,dan dia tidak mau mati konyol di tempat ini,Soni langsung berteriak Allahu Akbar di telinga Rudi.

Dan akhirnya Rudi terperanjat,dan dia mulai ketakutan melihat benda yang terbang mengarah ke arah mereka berdua.

Dengan sigap mereka berdua lari dari tempat itu sambil mengucapkan Allahu Akbar sekuat mungkin.

Tetapi tetap saja kepala melayang itu sama sekali tidak berhenti mengejar mereka berdua.

Soni berlari secepat mungkin tanpa dia ketahui kalau sebenarnya Rudi masih tertinggal jauh di belakangnya,karena tadi Rudi sempat terjatuh karena ada bebatuan kecil dan kakinya terpeleset.

" Tinggallah di sini bersamaku,atau kalian berdua tidak akan bisa keluar dari tempat ini," ujar kepala melayang itu sambil mendekat ke arah Rudi.

" Tidaaak!" Jangaaan, Lepas kan akuuu,"

"Aaaaaaaa..tolong aku Soniii!"

Mulaian bisa keluar dari tempat ini," ujar kepala melayang itu sambil mendekat ke arah Rudi.

" Tidaaak!" Jangaaan, Lepas kan akuuu,"

"Aaaaaaaa..tolong aku Soniii!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dianggap Pembunuh Cinta Sejati Suamiku
9.8
Setelah tewas mengenaskan akibat tusukan pisau bedah suaminya sendiri yang mendendam atas kematian Charlene, sang protagonis mendapatkan kesempatan kedua. Ia kembali ke hari di mana ia menderita pankreatitis akut akibat alkohol. Kali ini, suaminya yang berprofesi sebagai dokter UGD memilih mengabaikannya demi menyelamatkan cinta sejatinya tanpa ragu. Namun, keputusan sang suami untuk meninggalkannya justru memicu penyesalan mendalam, hingga akhirnya pria itu berlutut memohon pengampunannya.
Sampul Novel Bayangan Kematian: Kutukan Tiga Roh
9.7
Aurelia adalah putri tunggal konglomerat yang hidup dalam kemewahan hingga sebuah kecelakaan maut mengubah segalanya. Setelah menabrak tiga pemotor hingga tewas, gadis berusia lima belas tahun ini memilih kabur demi menghindari tanggung jawab. Namun, pelarian itu justru mengundang petaka supranatural. Kini, Aurel diburu oleh tiga roh penuh dendam yang menuntut balas. Mampukah ia lepas dari teror mengerikan ini, atau ia akan selamanya terjebak dalam kutukan?
Sampul Novel Bermula Dari Casing Berminyak
8.1
Misteri mencekam dimulai saat casing ponsel milik tokoh utama selalu terasa berminyak. Saat mengeluh pada sahabatnya, ia terkejut mendengar bahwa benda itu terbuat dari kulit manusia. Keadaan menjadi mengerikan di malam hari ketika ia merasakan sensasi seolah wajahnya sedang dikuliti, disertai bisikan misterius yang menyuruhnya memakai kulitnya sendiri jika ia tidak menyukai kulit pada casing tersebut.
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi nyaris tewas akibat syok anafilaksis saat suaminya, Bram, justru mengabaikan nyawanya demi Clara. Tragedi memuncak ketika putra mereka, Leo, tewas tertabrak saat mencari bantuan. Namun, takdir berputar balik. Nindi terbangun di masa lalu sebelum petaka itu terjadi. Dengan ingatan tentang pengkhianatan Bram dan kematian Leo, ia bertekad melindungi sang putra. Kesempatan kedua ini menjadi ajang pembalasan bagi mereka yang menghancurkan hidupnya di masa depan.
Sampul Novel Ibu Angkat Psikopat
8.5
Diadopsi bersama kembarannya yang rupawan, sang protagonis mengira kehidupan barunya akan normal. Namun, rahasia kelam keluarga angkatnya terbongkar saat ia menyaksikan putra ibu angkatnya, Donny, melecehkan kakaknya demi menghasilkan plasenta. Sang ibu percaya plasenta kerabat dekat adalah obat segala penyakit. Setelah melahirkan tiga anak untuk dikonsumsi plasentanya, kelahiran anak keempat justru membawa petaka misterius yang membuat ibu angkat mereka kehilangan akal sehat.
Sampul Novel Istriku Kuyang
9.6
Yusuf, seorang pemuda asal Jawa yang merantau, menemukan tambatan hati pada seorang gadis cantik di Kalimantan. Namun, romansa indah itu seketika berubah menjadi teror mengerikan saat ia mengungkap identitas asli sang kekasih. Ternyata, wanita yang ia puja adalah sosok kuyang, siluman berkepala terbang dengan organ dalam yang menggantung. Kini, Yusuf terjebak dalam dilema antara cinta dan kengerian. Bagaimana nasib hubungan mereka selanjutnya?