Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ternyata, Cinta Tidak Semenakutkan Itu

Ternyata, Cinta Tidak Semenakutkan Itu

Aina adalah wanita yang menutup rapat pintu hatinya bagi pria mana pun. Baginya, jatuh cinta hanya akan berakhir dengan luka yang tak sanggup ia hadapi. Untuk melindungi diri, ia selalu bersikap dingin dan ketus demi menjauhkan siapapun yang mendekat. Namun, benteng pertahanan Aina goyah saat seorang pria justru terpikat oleh kepribadiannya yang sulit itu. Di tengah trauma dan ketakutan, Aina mulai mempertanyakan prinsip hidupnya tentang asmara.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Kkkkkkrrrriiiiinnnngggggg.” Bell masuk berbunyi, anak-anak berbondong-bondong berlari untuk masuk ke dalam kelas.

Jam pelajaran mereka pun di mulai, Aina yang saat ini tidak ada jadwal mengajar di jam ke dua pun memutuskan untuk pergi ke kantin bersama Nasya.

Kantin Sekolah….

“Bu Aina mau pesan apa? Biar saya pesankan.” Tanya Bu Nasya.

“Saya mau pesan mie ayam sama minumnya es teh manis yah, Bu.” Bu Nasya memanggil salah satu pegawai kantin sekolah dan memesan.

“Bu iem, saya mau pesan mie ayam sama bakso. Untuk minumannya es teh manis dua.”

“Siap Bu Nasya.” Ucap Bu iem.

“Bu Aina, saya ingin bertanya.”

“Panggil saja saya Aina, Bu Nasya.”

“Baiklah, A-aina. Kamu juga manggil saya, Nasya saja. Lagian umur kita tidak jauh berbeda” ucap Bu Nasya.

“Oke, Nasya. Kamu mau nanya apa tadi?”

“Sebelumnya saya minta maaf, kamu masih single atau udah merried?.” Tanya Nasya dengan tidak enak. Ya walaupun terbilang kurang sopan, tapi Nasya memiliki alasan untuk menanyakan hal itu.

Aina tertawa kecil “hehehehe,, Alhamdulillah.”

“udah merried?” tanya nasya memastikan

“Masih jomblo fisabilillah, dan saya juga gak tertarik buat menjalin relationship.” Jawab Aina sambil tertawa kecil.

Belum lama Aina dan Nasya mengobrol, Bu Iem datang membawakan pesanan makanan dan minuman yang di pesan oleh Nasya dan Aina.

“Monggoh,, ini mie ayam dan baksonya. Dan ini minuman es teh manisnya. Selamat menikmati.” Setelah menghantar pesanan makanan dan minuman Nasya dan Aina, Bu Iem kembali ke dalam lagi untuk membuat pesanan baru yang di pesan oleh beberapa guru di sana.

“Heeuuummmmm,, aromanya nikmat” ucap Aina.

“Gasssss,, makannn!!” balas Nasya.

“Kkkkkkkkkkrrrrrrrriiiiiiinnngggggggggg.” Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Bell pulang pun berbunyi. Aina dan Nasya yang sedang mengerjakan sesuatu di laptop pun mengakhiri pekerjaannya.

“Aina, kamu pulang sama siapa?.” Tanya Nasya.

“Aku bawa motor sendiri, Sya. Kalau kamu?.” Sambil menata berkas-berkas yang ada di meja kantornya.

“Aku juga bawa motor sendiri, yok bareng.” Ajak Nasya.

“Ayokk.”

Saat sampai di depan parkiran motor, tiba-tiba Pak Dimas menghampiri Aina.

“Selamat siang Bu Aina.”

“Siang juga.” Jawab Aina dengan cuek dan dingin seperti biasa.

Dalam hati Pak Dimas berkata, “ini cewek punya dua karakter atau gimana si? Cuekk amat. Tapi gak papa, cewek kan ngeselin. Jadi gue harus sabar ngehadapinnya.” Tutur Pak Dimas dalam hati.

“Bu Aina, pulang sendiri? Bareng sama saya yok.” Ajak Pak Dimas.

“Maaf, tapi saya tidak bisa.” Tolak Aina.

“Lho, kenapa Bu?”

“Tin, tin, tin.” Suara lakson motornya Naysa, dan Nasya pun menuju untuk menghampiri Aina.

“Eh, ada Pak Dimas.” Nasya menyapa sambil mengedipkan mata genitnya ke Pak Dimas.

Pak Dimas yang melihat kedipan mautnya Nasya membuatnya merasa geli. Aina yang melihat tingkah lakunya Nasya kepada Pak Dimas membuatnya ingin tertawa. Tak lama setelah diberi kedipat mautnya Nasya Pak Dimas langsung berpamitan kepada Aina untuk pulang terlebih dahulu, “Bu Aina, saya duluan yah.”

“Iyah, silahkan.” Balas Aina dengan cuek seperti biasa. Setelah Pak Dimas sudah berjalan menjauh, Aina dan Nasya pun tertawa bersama. HAHAHHAHAHABAHHAHAHAH AHHAHABAHHABAHAHAHABAHAHAHAHHA HHABABBABABBAHAHAHA HAHAHAHHAHAAHHAAH,, dengan puasnya Nasya tertawa.

“Udah udah takut ada yang liat hahaha, ntar dikira kerasukan lagi, yok pulang.” Ajak Aina.

“Yok.” Mereka menjalankan kendaraannya masing-masing. Mereka berhenti disaat ada lampu merah, dan bertepatan dengan perempatan jalur jalan ke rumah masing-masing.

“Aina, jalan kerumahku belok kiri nih.” Ucap Nasya.

“Jalan rumahku masih lurus, Sya”

“Kamu mau mampir ke rumahku dulu yok.” Ajak Nasya.

“Besok-besok ajah deh Sya, kamu yang mampir ke rumahku yok!.” Ajak Aina.

“Next time ajah deh.” Balas Naysa.

“Huuuuu, gak asik.”

Lampu hijau di rambu-rambu lalulintas sudah menyala.

“Udah ijo tuh, duluan ya. Dahh”

“Daahh”

“Ccccccccccciiiiiiiiiitttttttt.” Setelah memarkirkan motornya di teras depan rumahnya Aina membuka pintu untuk masuk ke dalam rumah.

“Kkkkkkkrrrrrriiiiieeeettt. Assalamualaikum, tumben sepi, pada kemana orang rumah ini.” Tuturnya. Aina langsung berjalan ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.

“Bbbrruuggg, eeeuuumm capeknya.” Ucapnya sambil memejamkan mata, tiba-tiba ia melihat jam yang berada di dinding kamarnya. Jarum jam menunjukkan pukul 13.30. “Astaghfirullah, aku kan belum sholat Dzuhur.” Aina langsung bangkit dari kasur untuk mengambil air wudhu, setelah mengambil air wudhu ia pun menggelar sajadah dan memakai mukenah. Ia segera menunaikan ibadah sholat Dzuhur.

“Allahuakbar”

“Assalamualaikum warahmatullah” Aina menoleh ke kanan. “Assalamualaikum warahmatullah” Lalu Aina menoleh ke kiri.

Lalu iaa berdo’a kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sambil mengangkat kedua tangannya. “Ya Allah ya Tuhanku, trimakasih atas segala karunia yang Engkau berikan kepadaku, lancarkan lah segala urusan ku, lindungilah hamba, kedua orang tua hamba, dan anggota di keluarga hamba dari marabahaya dan malapetaka, dari kejahatan syaitan yang terkutuk. Kuatkan lah iman Islam hamba, aamiin. Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar” lalu Aina mengusap wajahnya.

“Alhamdulillah, dah selesai” ucap Aina sambil melepaskan mukenah yang ia kenakan, ia masih mengenakan hijabnya. “Ini Mamah sama Papah kemana si kok pergi gak ngasih tau aku” ucapnya dengan nada sebal.

Aina mengambil ponselnya di dalam tasnya, lalu ia mematikan mode pesawat. Dan semua pesan dari whatsapp seketika masuk. Begitu banyak pesan yang Aina belum baca, salah satunya dari Mamahnya.

“Mamah Malaikatku.”

Nama yang Aina tulis di kontak whatsapp nya.

Begitu banyak panggil telpon yang tak terjawab, sekitar 15 panggilan tak terjawab. Karena Mamah Aina menelpon disaat Aina sedang mengajar, dan kebetulan memang di sekolah tempat ia mengajar, Aina tidak menyalakan handphonenya karena sibuk menata data muridnya di laptop. Mamah Aina menulis pesan. “Assalamualaikum Aina, Mamah sama Papah mau ke rumah Mba Jenna di Semarang. Tadi Mba mu telpon Mamah sambil nangis-nangis, Mamah sama Papah jadi gak tega. Akhirnya Mamah sama Papah pergi ke tempat Mba mu. Takut dia kenapa-kenapa, kasihan Dika.”

Pesan kedua, masih dari Mamahnya. “Mamah berulang kali buat nelpon kamu tapi HP kamu gak aktif-aktif, mungkin kamu lagi sibuk-sibuknya. Maaf yah Mamah tinggal, kamu kalau mau nyusul, nyusul ajh”

Aina membalas pesan Mamah nya. “Waalaikum salam, Iyah mah gak papa. Aina udah biasa mandiri. Mba Jenna nangis kenapa lagi? Pasti karna ulahnya Ka Eko yah? Aina udah bisa nebak kajadian itu pasti terulang lagi. Orang kayak gitu tuh gak bisa berubah!! Aina jadi ikut kesel deh!! Kirim ” Balas Aina sambil sedikit emosi.

Tiba-tiba ada notifikasi whatsapp dari nomor yang gak dikenal.

“Ini nomer siapa nih?” Tanyanya pada diri sendiri, lalu ia membuka pesan itu.

“Assalamualaikum Aina, ini aku. Nasya, guru yang ngajar sejarah di sekolah menengah pertama islam negeri.”

“Waalaikum salam, ouuu Nasya. Oke oke aku save yah,” balas Aina.

“Kamu lagi ngapain Aina?.” Tanya Nasya.

“Lagi santai nih di kamar.”

“Besok kamu berangkat ke sekolah lagi kan buat ngajar?”

“Aku belum tau si. Niatnya besok aku mau ngambil cuti buat beberapa hari.”

“Lho lho lho, kok gitu? Kenapa? Kapok kah ngajar disana? Padahal baru pertama masuk lho.” Tanya Nasya sambil mengirimkan emot tertawa.

“Kapok si engak, cuman besok aku mau ke Semarang. Besok aku minta tolong kamu buatin surat cuti buat aku yah.” Sambil mengirim emot ketawa.

“Semarang? Ngapain?.”

” Oke besok aku buatkan.”

“Aku mau ketempat Mba ku disana. Makasih yaw ^^ “

“Mba mu rumahnya di Semarang? Budhe ku juga di Semarang wkwkwk.”

“Wihhhh,, jangan-jangan…..” Balas Aina.

“~ Jangan datang lagi cinta, bagaimana aku bisa lupa. Padahal kau tahu, kenyataannya kau bukanlah untukku” balas Nasya menggunakan lirik lagu.

“Hahahaahahaahh, Nasya kocak.”

“Ntar malam kamu sibuk gak?.” Tanya Nasya.

“Enggak kok, lagi Kesepian juga wkwkwkw,” balas Aina.

“Ke perpustakaan kota yok.” Ajak Nasya.

“Gasssss,, baca buku gratis wkwkwk.”

Nasya hanya membalas menggunakan emoticon jempol.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARJUNA MENCARI CINTA
9.3
Arjuna Levin adalah CEO angkuh di Jakarta yang gemar mempermainkan wanita demi kepuasan sesaat. Berbekal kekuasaan, ia dengan mudah menjerat mangsa tanpa melibatkan perasaan. Namun, kemunculan Jane Calista Cintania yang lembut dan lugu seketika meruntuhkan pertahanan hatinya. Sang miliarder kini justru bertekuk lutut dan mengemis cinta pada gadis tersebut. Akankah Arjuna berhasil memenangkan hati Jane, atau ia justru akan mencicipi pahitnya kegagalan?
Sampul Novel BLIND HEART
9.7
Silvana, mahasiswi tingkat akhir yang terdesak biaya wisuda, terpaksa mencari pekerjaan sampingan demi membantu ayahnya. Alih-alih menjaga anak kecil, ia justru harus mengasuh Max Elgort, miliarder buta yang sangat temperamental. Di tengah bentakan Max, benih cinta mulai tumbuh di hati Silvana. Namun, Max masih terbelenggu bayang-bayang mendiang kekasihnya yang tewas dalam kecelakaan pemicu kebutaannya. Akankah Silvana bertahan saat Max masih setia pada janji masa lalunya?
Sampul Novel Cinta Dibalik Dusta
7.8
Delapan tahun membina rumah tangga, Nia tak menyangka kebahagiaannya hanyalah kepalsuan. Hatinya hancur saat mengetahui fakta bahwa dirinya adalah istri kedua Arvan. Namun, saat Nia ingin bercerai, alasan Arvan berkhianat pun terkuak. Ternyata, Ayu sebagai istri pertama telah lebih dulu berselingkuh hingga memiliki anak dari pria lain. Kini Nia terjebak dalam dilema besar. Akankah ia tetap pergi, atau bertahan setelah memahami motif Arvan yang sebenarnya?
Sampul Novel Cowokku Lebih Muda
8.9
Andini tengah menjalani kisah asmara dengan seorang pria yang usianya jauh di bawahnya. Namun, stabilitas hubungan mereka mendadak goyah saat sosok dari masa lalu yang selama ini Andini nantikan kehadirannya muncul kembali secara tiba-tiba. Kini, Andini dihadapkan pada pilihan sulit mengenai masa depan perasaannya. Apakah ikatan cintanya dengan Alex sanggup bertahan, ataukah kehadiran orang lama tersebut akan mengakhiri segalanya?
Sampul Novel I am Your Boss
8.2
Pasca ditinggalkan kekasih karena kondisi ekonomi yang sulit, Andra bangkit dan sukses membangun kekaisaran bisnisnya sendiri dalam enam tahun. Kini ia dikenal sebagai bos kejam dengan aturan yang sangat kaku. Namun, reputasi dinginnya mulai goyah saat seorang pelamar kerja wanita hadir di hadapannya. Pertemuan tersebut perlahan mencairkan kebekuan hati Andra dan membukanya kembali pada harapan akan cinta baru yang telah lama ia lupakan.
Sampul Novel Istriku Disiksa Sampai Gila
9.4
Kepulanganku yang tak terduga dari Taiwan ke kampung halaman justru disambut oleh kenyataan pahit yang menghancurkan jiwa. Aku menemukan istri tercintaku telah kehilangan kewarasannya, sementara buah hati kami dikabarkan sudah tiada. Di balik duka ini, muncul kecurigaan mendalam terhadap kebenaran yang ada. Benarkah semua kesaksian dari pihak keluargaku bisa dipercaya? Aku harus mengungkap misteri kelam di balik tragedi yang menimpa keluargaku.