Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Pesona Dosen Tampan

Terjerat Pesona Dosen Tampan

Agnesia Putri Hutama adalah aktris ternama yang terpaksa mengambil jeda dari dunia hiburan demi meraih gelar sarjana. Di tengah perjuangan akademisnya, ia justru bersinggungan dengan Kevin, dosen muda menawan yang menyimpan kebencian mendalam terhadap profesi selebritas. Situasi menjadi semakin rumit saat sebuah keadaan memaksa keduanya untuk tinggal bersama di bawah satu atap. Akankah benci berubah jadi cinta saat dua dunia mereka yang kontras saling beradu?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tawaran yang cukup menarik, tapi …

“Jadi mahasiswa bimbingannya pasti susah, ya?” Nyali Agnes seketika menciut. Dia memang tidak bodoh, tetapi tidak terlalu pintar juga.

“Ya, susah. Tapi tenang! Abang kenal dia kok. Dia teman abang kuliah dulu. Cuma ya gitu.”

“Gitu apa?” tanya Agnes lagi.

Abang ini kalau ngomong gak bisa langsung apa, ya? Kaya’ mobil aja pakai dicicil. Keluh Agens dalam hati.

“Ya orangnya dingin, gak banyak bicara, teliti dan perfectionis. Tapi, abang jamin dia orangnya baik.”

“Cowok apa cewek?”

“Kenapa tanya kayak gitu?”

Agnes tersenyum lebar, lalu mengibaskan rambut ke belakang. “Ya kalau cowok mah gampang. Memang ada gitu cowok yang bisa nolak pesona seorang Agnesia Putri Hutama?” ucapnya menyombongkan diri dengan mengedipkan sebelah mata.

“Dih pede! Dia beda sama cowok kebanyakan, mau ada cewek secantik Kendall Jenner di depannya juga, kalau gak suka sama attitude-nya sudah pasti ditolak.”

Agnes menatap abangnya heran. Lah, serius? Cewek secantik Kendall Jenner ditolak? Nah, apalagi gue yang nggak ada sekukunya seorang Kendall Jenner. Agnes mendadak ragu, apa mungkin teman abangnya itu, “Dia normal, kan?”

Tangan Ammar lalu menjitak pelan kepala adiknya, sementara Agnes hanya meringis dengan menunjukkan deretan gigi putihnya. “Ya normal lah. Setahu abang dulu pas SMA dia pernah punya pacar kok.”

“Pernah? Berarti sekarang nggak punya?” tanyanya lagi, mendadak merasa penasaran.

“Kenapa? Kamu mau jadiin dia pacar kamu?” tanya Abang, kali ini Agnes yang memukul lengan abangnya pelan.

“Sembarangan kalau ngomong! Kan adek sudah punya Kak Varo,” katanya sambil tersenyum saat mengingat ketampanan paripurna kekasihnya.

“Ya, abang kalau disuruh milih, jelas lebih milih Kevin. Jauh lebih baik dia dari segi apapun. Abang berani jamin!”

Agnes mendecakkan lidah, masih saja abangnya tidak menyukai Varo. “Pacar aku tuh yang abang ledekin!” Agnes sengaja menyindir Ammar. Merasa kesal karena Ammar terus saja menjelekkan kekasihnya di setiap kesempatan.

Jadi penasaran, seganteng apa sih teman abang yang namanya Kepin itu? Paling juga masih ganteng pacar gue ke mana – mana. Batin Agnes berkomentar.

“Kapan kamu mau ketemu sama Kevin? Biar abang atur waktunya.”

Spontan Agnes melirik jam yang terpasang di pergelangan tangan, dan otaknya baru mengingat bahwa – gue ada jadwal pemotretan! Dia baru saja melupakannya.

“Astaga!” Agnes bangkit dari tempat duduk tiba – tiba, membuat Ammar yang duduk di sebelahnya ikut terkesiap hingga mengusap dada beberapa kali.

“Ngapain sih kamu? Ngagetin aja!” sentak Ammar dengan ekspresi kesal miliknya.

“Adek ada pemotretan jam sembilan. Abang bisa antar adek gak? Bisa diamuk Rizky kalau sampai telat!”

Agnes bergerak panik, lalu bernapas lega saat Ammar menganggukkan kepala. Tidak pernah sekalipun Agnes terlambat saat ada jadwal, karena dia merupakan anggota tim ON TIME. No ngaret – ngaret! Apalagi pemotretan kali ini fotografernya Rizky, bisa dimarahin habis – habisan kalau sampai telat semenit saja.

***

“Ky, sorry gue telat. Tunggu sepuluh menit ya, gue mau ganti baju dulu!” Agnes segera menghampiri Rizky yang tengah sibuk dengan kamera di tangannya. Baru akan melangkah, Rizky kemudian berdiri dan menghalangi jalannya.

“Gak perlu ganti baju. Kita pulang aja.” Tanpa aba – aba, Rizky menarik tangan Agnes tanpa ijin, membuat gadis itu memberontak di tempat.

“Kenapa, sih?! Kan pemotretan jam sembilan. Ini sudah jam –”

“Halo, Agnes.”

Vanda? Dalam hati Agnes menyebutkan nama perempuan yang berdiri di hadapannya kini.

“Ngapain lo di sini?” tanya Agnes, to the point. Agnes terlalu malas untuk berbasa – basi dengan spesies macam Vanda, membuang waktu!

“Harusnya gue yang nanya itu. Ngapain lo masih di sini?” balasnya, menatap Agnes dan Rizky secara bergantian. Dahi gadis itu mengkerut bingung. Agnes merasa bahwa ada yang tidak beres di sana.

“Lo belum ngasih tahu dia?” tanya Vanda, bukan ditujukan untuk Agnes, melainkan untuk Rizky.

“Rizky.”

“Sorry, Nes.”

“Ha?” Agnes semakin bingung saat Rizky hanya meminta maaf tanpa memberikan penjelasan apapun.

“Soal pemotretan hari ini –”

“Lo diusir, dan gue yang gantiin.” Bukan Rizky yang mengungkap itu, tetapi Vanda, dengan nada menyebalkan yang selalu berhasil membuat Agnes naik darah. Agnes terkejut bukan main, tetapi mulutnya bahkan kelu hanya untuk membuka suara. Terlalu speechless.

“Kenapa masih di sini? Lo udah nggak ada urusan di sini, Agnes!” Vanda mulai menyerang Agnes dengan perkataan tajamnya, tetapi gadis itu hanya menatap Rizky yang masih terdiam di tempatnya.

“Minggir lo!” Sebelah tangan Vanda hampir menyentuh bahu Agnes dan mendorongnya ke belakang sebelum Rizky menghentikan aksi Vanda lebih dulu. “Jangan pernah kasar sama Agnes, atau lo akan tahu akibatnya,” tegas Rizky mengancam.

Setelah itu, Rizky menggenggam tangan Agnes, membawa gadis itu untuk ikut bersamanya.

“Benar yang dibilang sama Vanda? Gue diusir?”

Rizky menggeleng kuat, saat ini mereka sedang berbicara di dekat mobil Rizky. Tadi pagi, karena diantar oleh Ammar, mobil Agnes tertinggal di rumah.

“Bukan, sejak kapan lo percaya sama omongan Vanda?” sahut Rizky, dengan nada sarkas saat menyebut nama Vanda.

“Terus?”

“Om Hutama yang batalin pemotretan, dia bayar tiga kali lipat dari royalty yang lo terima.”

“What?!”

Apa – apaan ini?! Jadi, ancaman ayahnya tadi pagi bukan hanya sekadar ancaman? Itu pertanyaan yang ada di benak Agnes saat ini.

“Lo ada masalah apa sama bokap lo?” tanya Rizky, sementara Agnes hanya diam, terlalu terkejut. Bukan terkejut karena ayahnya benar – benar melakukan seperti apa yang diucapkan, tetapi Agnes hanya tidak menyangka bahwa ayahnya akan bertindak secepat itu.

“Ada, lo nggak perlu tahu. Gue pergi dulu, ada urusan!”

Sepertinya Agnes harus segera bertemu dosen kaku – teman Ammar itu.

***

Agnes tersenyum lebar saat berhasil kabur dari para wartawan yang sudah berjajar di depan pintu gerbang kampus.

Jika kalian ingin tahu apa masalahnya, setelah kegagalan pemotretan tadi pagi, muncul berita yang mengatakan bahwa Agnes ditendang secara tidak hormat dari pemotretan. Dia sendiri tidak tahu dari mana wartawan tahu tentang masalah itu, tetapi yang penting sekarang Agnes sudah bebas.

Agnes tidak menyangka bahwa ide Michelle untuk mengelabuhi para wartawan itu ternyata berhasil. Kalau dipikirkan kembali, tubuh Michelle dengannya memang memiliki kemiripan, jadi wajar kalau mereka terkecoh saat Michelle berpura – pura menjadi Agnes.

Michelle dan Rizky memang selalu menjadi orang pertama yang membantunya saat Agnes dirundung oleh masalah seperti sekarang. Mereka menjaga Agnes layaknya seperti saudaranya sendiri, Ammar dan Ali.

Saat ini Agnes sedang bersembunyi di balik dinding lorong kampus. Masih mencoba menelisik keadaan di luar, memastikan bahwa dia sudah benar – benar aman dari kejaran para wartawan.

Tepukan di pundak membuat Agnes mengalihkan pandangan. Bola matanya kemudian membulat sempurna saat menatap pria tampan yang berdiri di hadapannya. Sejak kapan kampus ini memelihara cowok seganteng ini? Batin Agnes berkomentar.

“Sedang apa di sini?” tanya pria itu, dengan nada dingin yang justru terdengar keren menurut Agnes.

Agnes masih diam, tidak menjawab karena masih mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.

“Kamu bukan mahasiswi di sini, ‘kan?” tanyanya lagi, membuat Agnes tergugu di tempat.

“Gue mahasiswa di sini, angkatan tahun 2016. Lo angkatan berapa?” tanyanya, mengulurkan tangan yang hanya dibalas dengan tatapan dingin pria itu.

“Saya hapal semua mahasiswa yang ada di sini, jadi kamu tidak bisa membohongi saya. Siapa kamu?”

Agnes kembali dibuat takjub karena ada orang yang tidak mengenalinya. Padahal dia merupakan artis papan atas di negaranya yang sedang naik daun.

“Jangan bilang kamu maling?” tuduhnya, membuat Agnes mendecak kesal.

“Enak aja! Cantik gini dibilang maling!” serunya tidak terima.

Untung ganteng, kalau enggak, udah gue timpuk mulutnya! Umpat Agnes dalam hati, dia tidak berani untuk berbicara langsung di depan.

“Kalau bukan maling, untuk apa kamu sembunyi? Lagi pula mahasiswi di sini tidak mungkin ke kampus memakai daster seperti kamu ini.”

Wah, Agnes mendadak speechless!

“Hello! Ini dress ya, bukan daster. Lo tinggal di goa, ya? Nggak tahu fashion banget!” cibirnya.

“Ikut saya!” katanya, sembari menarik sebelah tangan Agnes, membuat gadis itu spontan memberontak.

“Eh, ke mana?” tanya Agnes, masih mencoba menahan tangan pria itu yang besarnya hampir dua kali lipat tangan Agnes.

“Ke satpam depan. Untuk melaporkan kalau ada orang yang mencurigakan di sini.”

Ha? Satpam depan? Tempatnya wartawan dong! Udah susah kabur, masa’ harus balik lagi? Tanya Agnes dalam hati.

“Ayo!” serunya, kembali menarik tangan Agnes untuk berjalan mengikutinya. Agnes kemudian menangkis tangan pria itu yang memegang erat lengannya. Namun karena gerakan Agnes terlalu terburu dan kasar, tangan pria itu ikut tertarik hingga membuat mereka kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Brukk.

Agnes merasakan sakit di punggung karena terbentur lantai kampus yang keras. Dalam jarak sedekat itu, Agnes bisa melihat wajah tampan pria itu begitu dekat, sampai dia bisa merasakan deru napas pria tersebut.

Deg deg. Deg deg.

Beberapa detik mereka masih berada di posisi yang sama. Agnes jatuh terlentang di bawah dengan pria itu menindih di atasnya. Tidak sepenuhnya badan pria itu menindih karena Agnes bisa melihat tangan pria itu berusaha menopang berat badannya agar tidak memberatkan Agnes.

Setelah itu, pria tersebut lebih dulu berdiri dari posisi kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu, membuat Agnes secara langsung menerimanya. Namun, mendadak suasana menjadi canggung.

“Soal tadi –”

Plak.

Bodoh kan. Tangan gue kenapa gerak sendiri?! Agnes mengumpat dirinya sendiri.

“Kok saya ditampar?” tanyanya, sementara Agnes hanya diam, merutuki kebodohan.

Agnes juga tidak tahu alasan kenapa tiba – tiba tangannya sudah menempel begitu saja di pipi putih pria tampan itu.

Duh, gue masih berani aja bilang tampan setelah menganiaya wajahnya. Agnes bicara dalam hati sembari menepuk jidatnya sendiri.

“Sorry.” Setelah mengatakan itu, Agnes segera melangkahkan kaki cepat untuk melarikan diri. Berlari secepat kilat untuk menghindari pria itu.

Serius, gue malu. Kenapa hari ini gue sial banget?! Agnes memberontak kesal dalam hati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkit dari Kematian Palsuku
8.7
Sepuluh tahun pernikahan dikhianati saat Mahendra berselingkuh dengan Kiana. Setelah disiksa hingga cacat permanen akibat ulah mereka, aku dibiarkan sekarat dalam kecelakaan tragis. Dibantu Prakoso, aku memalsukan kematian di sebuah kebakaran demi memulai hidup baru sebagai pelatih balap legendaris di luar negeri. Tiga tahun berlalu, aku telah sukses dan berada di puncak karier. Tiba-tiba, Mahendra muncul dengan penuh penyesalan dan memohon kesempatan kedua.
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Menjadi sekuel dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, kisah ini mengeksplorasi dilema horor yang tak biasa. Mana yang lebih menakutkan: teror makhluk halus atau desakan menikah setiap hari? Bagi sang protagonis yang baru saja menyandang status sarjana, tekanan sang ibu yang sangat ambisius mencari menantu jauh lebih mencekam daripada gangguan gaib. Ikuti perjuangannya menghadapi tuntutan keluarga di tengah situasi yang penuh komedi dan nuansa misteri.
Sampul Novel Ketua Jurusan vs Cewek Kampungan
8.2
Mutiara Embun Pagi terpaksa pindah ke Jakarta demi memenuhi wasiat mendiang ayahnya. Di sana, ia terusik oleh Leon Bhaskara Granada, pemenang King of School yang arogan dan gemar meremehkannya sebagai gadis kampungan. Tak terima dihina, Embun bertekad memenangkan ajang Queen of School untuk membuktikan kemampuannya. Di tengah persaingan dan intimidasi Leon, mampukah Embun bertahan, meraih takhta sekolah, sekaligus menaklukkan hati sang playboy kaya tersebut?
Sampul Novel Kisah Sang Penguasa
9.4
Demi menyelamatkan ekonomi keluarga Vegas dan membalas budi Dimitri, Fugaku rela menikahi Vior dari klan Diningrat. Namun, pernikahan itu hanyalah jebakan kejam Vior untuk mencuri rahasia bisnis keluarganya. Di hari bahagia tersebut, Fugaku justru disiksa, diracun, hingga dibuang ke laut. Secara ajaib ia selamat dan bangkit menjadi bagian dari pasukan elite Celestial di Kota Kastiya. Kini, sang penyintas misterius ini memulai babak baru dalam hidupnya.
Sampul Novel Kopi Es Tanpa Kafein
7.8
Kathy meminta suaminya, Jared, seorang profesor, membelikan kopi saat menjemputnya. Namun, Jared justru memberikan kopi tanpa kafein yang tidak diinginkannya. Kathy langsung membuang minuman itu dan menuntut cerai di hadapan asisten baru Jared, Diana Riley. Meski Diana menganggapnya masalah sepele dan Jared merasa Kathy berlebihan, keputusan Kathy sudah bulat. Ia bertekad mengakhiri pernikahan mereka dan membawa surat perceraian keesokan harinya.
Sampul Novel Maaf, Merebut Suamimu
9.2
Gilsha merasa hidupnya sangat tidak adil saat melihat kebahagiaan orang lain. Rasa putus asa mendorongnya untuk merebut kembali apa yang ia yakini sebagai miliknya. Target utamanya adalah Noah, pria yang kini sudah membangun rumah tangga bahagia bersama wanita lain. Gilsha bertekad menghancurkan hubungan itu demi obsesinya. Namun, apakah tindakan nekat ini benar-benar akan membawanya pada kebahagiaan sejati yang selama ini ia impikan?