Sampul Novel Terjerat Obsesi Gila Duda Anak Dua

Terjerat Obsesi Gila Duda Anak Dua

8.5 / 10.0
Dalam Terjerat Obsesi Gila Duda Anak Dua, hidup tenang seorang publik figur hancur saat Aksa, billionaire narsis, memaksa melamarnya. Kisah romance modern ini penuh konflik saat ia harus menolak obsesi sang duda di tengah kejaran berita viral. Baca web novel seru ini sekarang!
Ringkasan Terjerat Obsesi Gila Duda Anak Dua
Kehidupan damai seorang figur publik tanpa sensasi mendadak kacau saat ia bertemu Thalita, bocah yang ingin membelinya. Sejak itu, sang ayah yang merupakan duda kaya raya bernama Aksa Malvino Alexander mulai mengejarnya. Status Aksa yang bukan orang biasa memicu gosip viral yang merusak reputasi sang artis. Meski Aksa sangat narsis dan pemaksa dalam melamar, ia tetap teguh menolak pria tersebut meski dituduh bodoh karena menyia-nyiakan kesempatan.
Baca Selengkapnya

Terjerat Obsesi Gila Duda Anak Dua Bab 1

*Happy Reading*

"Tita mau beli Tante ini sekalian ya, Pah. Boleh, kan?"

Hah?!

Seketika, aku pun hanya bisa melongo di tempatku, mendengar permintaan seorang bocah perempuan yang tadi tiba-tiba saja menarik lenganku ke arah kasir, saat aku sedang melihat-lihat deretan jam di toko ini.

Aku tidak mengenal anak itu sama sekali. Melihatnya pun, baru hari ini. Lalu kenapa tiba-tiba dia ingin membeliku? Dia yang tidak bisa membedakan antara manusia dan benda bernama jam, atau ... memang aku ini yang mirip jam?

Yang benar saja. Aku ini model, loh! Masa disamakan dengan benda bulat berdetak begitu?

"Boleh kan, Pah? Yah?"

Aku hanya bisa menggaruk belakang leher yang sebenarnya tidak gatal. Saat lagi-lagi anak kecil itu menatap bapaknya dengan tatapan memelas, dan menanyakan hal aneh itu.

'Eh, bener kan dia bapaknya. 'Pah' itu berarti Papah, kan? Bukan Opah apalagi sampah. Ck, gak mungkin banget. Orang ganteng gitu kok bentukannya. Beneran jadi sampah juga pasti banyak yang mungut itu, mah. Gak perlu didaur ulang dan bisa langsung di pajang. Udah cocok banget pokoknya.'

Kini aku malah membatin tentang pria yang dipanggil 'Papa' oleh anak itu. Tanpa sadar terpesona pada wajahnya yang maskulin, dan tatapannya yang sangat meneduhkan.

Mendengar tanya anaknya, si Papa pun--Duh, maksud aku si papanya anak-anak--Eh, kok jadi papanya anak-anak, sih? Papanya tuh bocah! Astaga!

'Gusti ... kenapa jadi belibet gini omonganku? Tuh cowok hot banget, sih. Kan, aku jadi gak Fokus. Aduh ... aduh, bisa jongkok dikit gak sih, Pa? Gantengnya Papa kelewatan tinggi, tahu. Kan, jadi gak bisa fokus!'

Okeh, lupakan! Sepertinya aku mulai error gara-gara pria ganteng itu. Pokoknya, pria itu lalu berdehem sejenak sebelum melirik aku dan anaknya bergantian.

"Sayang, jangan gitu, dong. Tantenya bukan mainan. Mana bisa dibeli?"

'Ya ampun ... suaranya! Seksi banget! Kupingku Auto istighfar jadinya. Pokoknya jangan sampai aku khilaf dan malah lumer di dadanya minta beneran di bawa pulang. Aduh! Jaga image, Nur! Jual mahal dikitlah biar dikata elegant!'

Aku pun sekuat tenaga menahan diri agar tetap tenang di tempatku. Meski sudah sangat tidak fokus dengan keberadaan pria yang sangat menggoda iman itu.

Bukan aku murahan. Tetapi, bagaimana lagi? Meski aku terkesan cuek selama ini. Aku tetaplah wanita normal. Dan tentu saja, sebagai seorang wanita, aku juga suka melihat pria-pria tampan seperti bapaknya bocah itu. Aku tidak mau munafik.

"Tapi Tita suka, Pa. Tantenya cantik. Tita mau Tante ini aja yang gantiin mama, Pa. Dede bayi juga pasti suka punya mama baru kayak Tante."

Tunggu!

Mama baru? Dede bayi?

Mengerjap pelan, aku pun memaksa otakku mencerna ucapan bocah yang bernama Tita itu, secepat yang aku bisa.

'Gusti ... ini maksudnya apa? Si Papa maksudnya Duda, gitu? Udah Punya anak dua dan ... Ya ampun, jangan bilang nasibku akan seperti Intan.'

Nggak! Nggak! Nggak! Aku gak mau Nikah sama Duda! Buy one get three lagi, ya kan? Astaga! Kayak gak ada cowok single nganggur aja. Tuhan, jangan iseng, dong.

"Tapi--"

"Ekhem!" Tak ingin hanya berpangku tangan melihat si papa membujuk anaknya. Aku pun sengaja berdeham cukup keras, agar mendapat sedikit atensi mereka. Bagaimana pun, Ini juga menyangkut masa depanku, ya kan? Aku harus buka suara.

Tentu saja, keinginanku terkabul. Sedetik setelah aku berdehem. Anak dan bapak itu pun menoleh ke arahku. Membuat mataku pun tak sengaja bersirobok dengan mata si Papa dan ... 'Gantengnya ....'

'Fokus, Nur! Ingat buy one get three!' batinku pun berseru mengingatkan.

Benar. Aku gak boleh jatuh ke pesona si Papa, yang sialnya memang hot-nya minta di ajak bikin anak. Menyebalkan! Kenapa sih, cowok ganteng seperti ini selalu bekas orang?

"Sayang, Maaf, ya? Kayaknya Tante gak bisa memenuhi keinginan kamu barusan, buat jadi mama baru kamu dan dede bayi." Akhirnya aku ingat tujuanku berdehem tadi.

"Kenapa?" Bocah itu pun kembali bertanya dengan penasaran.

"Karena ...." Aku menggantung kalimatku, mencari alasan logis secepatnya sebagai jawaban. Sebab aku tidak mungkin jujur untuk alasan yang sebenarnya.

"Karena Tante udah punya tunangan," jawabku asal, mengikuti ide random yang melintas begitu saja di otak.

Tidak tanggung-tanggung. Demi meyakinkan bocah itu, aku pun mengangkat tangan kiriku, dan menunjukan sebuah cincin polos yang tersemat di jari manisku.

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dengan cincin itu. Hanya sebuah cincin mainan, hadiah dari ciki lima ribu yang dibawa si Nur (Nyonya Ammar) ke toko tempo hari. Karena lucu, dan seperti cincin emas putih sungguhan. Aku pakai aja. Siapa sangka, ternyata tuh cincin lumayan berguna hari ini?

Tolong ingatkan aku untuk membelikan hadiah buat kembaran aku itu, ya?

"Tante punya tunangan?" Bocah itu meminta konfirmasi lagi, yang langsung aku sambut dengan anggukan riang.

"Udah mau nikah?"

"Iya."

"Kapan?"

Eh? Kapan, ya? Kapan aku nikah? Maunya sih besok, tapi ... gebetan aja aku gak punya, gimana bisa menikah, coba? Haduh ....

"Minggu depan." Terlanjur berbohong. Maka sekalian aja tenggelam, ya kan? Toh, aku yakin. Setelah ini juga kami gak akan ketemu lagi. Jadi ya ... santai saja.

Mendengar jawabanku barusan, bocah itu pun mengerjap perlahan, sebelum kemudian menunduk sedih. Membuat aku sebenarnya tidak tega. Tapi ... mau bagaimana lagi?

Aku gak jelek-jelek amat sampai harus dapetin duda. Duda buntut satu sih, gak masalah. Nah ini, buntutnya sudah dua. Yang satu masih bayi lagi. Aku yakin gak bakal sanggup. Jadi, aku terpaksa harus kejam.

"Gitu ya? Ya udah deh. Tita cari mama lain aja."

Untungnya lagi bocah itu tidak sama seperti Si Bella. Karena kalau tuh bocah setipe dengan anak tirinya Intan. Yakin aku dia gak akan menerima begitu aja situasi ini, dan ... jawabannya pasti menyebalkan. Tahu sendiri bagaimana Bella. 'Bikin emosi' sudah jadi sifat permanennya.

Bocah itu akhirnya melepaskan tanganku, dan beringsut ke arah si Papa. 'Aduh, ini lidah gak bisa di kondisikan. Keenakan manggil Papa. Kayak pas aja gitu buat dijadiin panggilan sayang.'

Pria itu lalu merendahkan diri demi bisa menyambut putrinya. Menggendongnya segera dan membelai rambut indah Tita dengan tangannya yang bebas. Kok, aku iri, ya?

"Maaf kalau Tita sudah mengganggu waktu kamu," ucap pria itu lagi, menatapku teduh.

"Gak papa. Gak ganggu, kok. Cuma kaget aja tiba-tiba ada yang narik." Aku pun berusaha menjawab seramah mungkin.

Aku harus jaga image sebagai publik figur, kan?

"Iya, Tita memang--"

"Ekhem! Maaf ganggu. Tapi ... Dev, udah waktunya pergi."

Aku pun mendesah kecewa diam-diam. Saat Lika, asistenku tiba-tiba muncul dan menyela omongan si Papa begitu saja. Lebih dari itu, dia juga mengingatkan jadwal pekerjaan yang tidak bisa aku abaikan. Jadinya, mau tidak mau kami harus berpisah.

"Tante?" Belum sempat aku mencapai pintu toko, Tita memanggilku kembali.

"Ya?" sahutku refleks, menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya kembali.

"Kalau Nikahnya batal, bilang, ya? Tita masih mengharapkan Tante sampai bulan depan."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Terjerat Obsesi Gila Duda Anak Dua

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Another Maze
9.6
Keberhasilan mesin waktu memicu kemunculan bola misterius yang meledak saat disentuh Robert Hans. Laboratorium hancur total, menyisakan Zora sebagai satu-satunya ilmuwan yang selamat. Demi menyelamatkan Hans yang pingsan, Zora nekat masuk ke mesin waktu tanpa koordinat pasti. Di sana, Dewi Penjaga Waktu mengungkap rahasia pulang: mereka harus mengumpulkan kepingan Air Mata Aldebran yang tersebar di berbagai dimensi asing guna menciptakan kunci kembali.
Sampul Novel Demi Ranjang Panas
7.9
Elena, pelayan klub malam berusia 23 tahun, terjebak dalam masalah besar akibat ulah ayahnya, Hendrik. Setelah sang ibu tiada, Hendrik justru terjerumus judi hingga berutang 500 juta kepada Darel. Darel adalah rentenir berperut buncit berusia 45 tahun yang kini menagih janji. Karena tak mampu membayar, Hendrik menjadikan putri kandungnya sebagai jaminan. Akankah Elena terpaksa menyerahkan hidupnya menjadi budak pemuas nafsu Darel demi melunasi utang sang ayah?
Sampul Novel Dikhianati Tunangan dan Sepupu Tercinta
8.8
Liburan ke Bali menjadi awal kehancuran saat Fredi berselingkuh dengan sepupuku, Lydia. Setelah memutuskan hubungan secara sepihak, Fredi dan ibunya terus menghinaku hingga karierku hancur total. Di titik terendah, Hendra yang merupakan kakak sepupu Fredi hadir memberikan perlindungan. Saat Fredi kembali mencoba merendahkanku di sebuah pesta, aku berdiri tegak di samping Hendra. Dengan hati yang telah membeku, aku tegaskan bahwa cintaku padanya sudah lama mati.
Sampul Novel Gairah Liar Sang Mantan
8.2
Kejadian tak terduga menimpaku saat kakek melakukan tindakan nekat di dalam kamar. Di bawah ancaman agar tidak membangunkan adik, aku terjebak dalam situasi yang membingungkan sekaligus menggelisahkan. Sentuhan dan bisikannya membuatku kehilangan kendali hingga tubuhku terasa lemas tak berdaya. Saat kakek melancarkan aksinya lebih jauh dengan melucuti pakaianku, tiba-tiba lampu kamar menyala. Sebuah rahasia besar terancam terbongkar dalam keheningan malam itu.
Sampul Novel INNOMINATUS : THE LOST CHILD
8.8
Seorang profesor ambisius melontarkan kutukan pahit kepada seorang bocah tanpa identitas. Ia meramalkan bahwa sang anak akan hidup dalam kesendirian total, tanpa ikatan, dan kehilangan semua hasil kerja kerasnya karena dikhianati dunia. Namun, bocah itu tidak gentar. Dengan senyuman tipis yang penuh teka-teki, ia menantang balik pernyataan sang ilmuwan. Ia menegaskan bahwa akhir dari permainan takdir ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan bagi siapa pun.
Sampul Novel Tangisan Pilu Sang Istri
9.6
Manda rela melepas karier cemerlang demi membangun rumah tangga impian yang penuh kehangatan. Namun, realita berbanding terbalik dengan harapannya. Meski Dimas yang membawanya masuk, keluarga sang suami justru menjadi sumber luka batin yang mendalam bagi Manda. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan pernikahan yang menyakitkan atau pergi demi menyelamatkan kesehatan mentalnya. Akankah ia terus bertahan di tengah tekanan orang terdekat Dimas?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan