
Terjerat Nikmat Sesaat
Bab 2
Suara gemericik sudah mulai terdengar. Ah, umbul pasti sudah dekat. Tapi, beberapa langkah aku mengayunkan kakiku, mataku terbelalak lebar. "Hah...?!"
Kami berpapasan dengan rombongan ibu-ibu setengah baya, mungkin berusia 40 tahunan. Yang membuatku kaget dan terpaku adalah... payudara mereka! Mereka berjalan berlawanan arah hanya mengenakan jarit yang menutupi pinggang ke bawah. Sementara itu, payudara mereka dibiarkan terbuka dengan jelas! Menggantung seperti pepaya masak! Putingnya sudah hitam dan membesar seperti tutup gelas. Mereka menunduk ramah ketika berpapasan dengan kami berdua. Beberapa di antaranya menyapa kami.
"Mari..."
Bu Irda pun membalas, "Mari..."
"Bu... kok..." aku shock, bingung.
"Oh..." Bu Irda mendeteksi kekagetanku, "Ini kan di desa, Fred. Jadi wajar kalo kamu liat ibu-ibu bertelanjang dada."
"Iya sih, bu, masih tradisional ya?" kataku tersipu sambil menggaruk-garuk kepala.
Umbul itu berbentuk kolam yang cukup luas. Ada air terjun kecil yang digiring menggunakan pipa-pipa bambu. Teduh dan semriwing tempatnya. Di situ ada ember-ember hitam dan Bu Irda mengambil satu. Ia pun memberiku kode untuk membawa ember lainnya.
"Untuk meletakkan baju, biar nggak kotor dan basah... boleh kok diambil," katanya diiringi suara merdu alam.
Aku menyadari kalo umbul itu tak memiliki sekat. Hanya kolam terbuka yang dalamnya kira-kira sebetis orang dewasa. Mungkin Bu Irda hanya membasuh wajah, kaki, dan tangannya saja. Atau, ia akan mengusirku nanti kalau ia ingin mandi. Begitu dugaku.
"Yuk, mandi..." Bu Irda berdiri di samping Umbul, dengan menyilangkan tangannya, ia menarik pakaiannya ke atas. Tubuhnya yang mungil terlihat dengan jelas. Perutnya rata dan Bu Irda mengenakan BH coklat dengan renda-renda sederhana. Aku mulai tersipu.
Tapi, belum hilang rasa tersipuku itu, lagi-lagi Bu Irda membuat jantungku berdetak kencang. Ia melepaskan kaitan di celananya, menurunkan retsliting, dan memelorotkan celana panjang coklatnya itu. Tampaklah celana dalam satin berwarna biru dari balik celana panjangnya itu. Ada pita kecil di bagian atas celana dalam itu. Kaki Bu Irda jenjang dan mulus. Putih, lebih putih daripada lengannya. Tapi anehnya, Bu Irda sepertinya sangat cuek.
Dan... "OMG...!!!" jeritku dalam hati. Seperti tak puas hanya dengan memamerkan pakaian dalamnya dan kakinya yang jenjang, tangan Bu Irda diputar ke belakang, dan melepaskan kaitan BH coklat yang ia kenakan. Setelah terlepas, BH itu ditarik keluar dan tangan kanannya meraih serta meletakkannya ke dalam ember. Gunung kembarnya mencuat keluar, seolah-olah ingin ikut merasakan semilirnya angin di sekitar umbul. Kencang dan padat.
Pemandangan yang benar-benar luar biasa, aku berusaha tak berkedip. Jantungku berdetak sangat kencang, dua kali lebih kencang, dan rahangku mengeras, membuat setetes ludah yang masuk ke tenggorokanku pun mampu menjungkir balikkan jakunku yang menonjol di dalam leherku. Dan... mau tak mau penisku menegang sangat keras!
Bu Irda, kamu cantik sekali!
Setelah membenarkan ikatan rambutnya dan mengenakan kacamatanya kembali, Bu Irda menatapku yang berdiri kaku. "Ayo, kok belum dibuka sih bajunya?" katanya namun tanpa ada usaha apapun untuk menutupi kedua payudaranya yang indah itu. Ia biarkan dadanya yang menonjol itu tak dihalangi oleh apapun, baik menggunakan tangan atau jari.
"Oh, iya-ya, bu.” jawabku memecah kebekuanku. Aku pun melepas baju, menyisakan celana pendek yang kupakai dari rumah.
Bu Irda menungguku dan kami berdua melangkah masuk ke dalam umbul. Kakinya yang lembut dan bersih menciptakan bunyi-bunyi gemericik di dalam air. Aku melirik Bu Irda dari belakang. Lehernya putih mulus dan pundaknya bersih serta lembut.
Ia melangkahkan kakinya menuju air terjun kecil dan membalikkan badan, membiarkan punggungnya dipijat oleh air yang tumpah dari pipa-pipa bambu itu. Payudaranya ia biarkan terbuka dan lagi-lagi, tanpa ada usaha sedikitpun untuk menutupinya.
Payudara Bu Irda kencang dan mencuat. Ukurannya proporsional terhadap tubuhnya. Dari depan tampak bundar tapi sesekali aku melihat dari samping, putingnya membentuk siluet yang lancip. Payudara sebelah kanan dihinggapi tahi lalat kecil, menambah keseksiannya.
Warna putingnya yang coklat muda, terbasuh air Umbul yang jernih, membuat bagian itu tampak mengkilat. Aku harus berusaha keras untuk tidak membiarkan tanganku melayang tepat di atas payudara ranum itu dan meremasnya. Tidak boleh, bentakku pada kedua tanganku walaupun itu melanggar hasratku yang paling dalam.
Kami pun mandi berdua. Sembari mandi, kulirik Bu Irda yang tengah asyik membasuh badannya seperti tak ada orang lain di dalam Umbul itu. Begitu nyaman ia menikmati segarnya air di sore hari itu. Perutnya yang rata ia bilas berkali-kali dengan air Umbul dengan sesekali membersihkan pusarnya dengan cara menggosokkan jari telunjuknya.
Ah, rasanya jadi ingin berlama-lama. Aku harus berendam dalam-dalam supaya penisku tidak terlihat menonjol. Maklum, aku sudah tak bercelana dalam lagi.
Bu Irda mengambil busa dan menuangkan sabun cair di atasnya. Ia remas-remas busa itu hingga berbuih dan menggosokkannya ke payudaranya secara bergantian.
“Please, bu, biarkan aku yang menjadi busa itu...” rintihku dalam hati.
Dengan mengatupkan tangan, Bu Irda menjebak air dari dalam Umbul dan mencipratkannya ke kedua belah puting susunya. Berusaha membasuh dadanya hingga bersih.
Kami berdua tampak menikmati sore hari itu.
Tapi hari sudah mulai gelap dan Bu Irda memberi komando untuk segera mentas dari air. "Supaya tidak masuk angin," katanya.
Buru-buru, kami mengenakan pakaian kami kembali. Namun, rasa penasaran masih menghinggapi benakku, mengapa bu Irda begitu tak peduli payudaranya kulihat?
Kami melangkah pulang. Bu Irda berjalan santai tapi aku begitu tegang.
Ah, lebih baik kutanyakan saja, akhirnya aku memutuskan. "Bu, maaf..." aku mulai bertanya. Bu Irda memalingkan wajahnya ke arahku tapi kami tetap berjalan santai. "Kok ibu nggak malu ya, mandi bareng tapi setengah telanjang. Apa ibu nggak takut aku apa-apain, atau kalo ada orang lewat di Umbul?"
Bu Irda tertawa, menambah kekikukanku. "Astaga, Alfred. Aku lupa kalo kamu orang baru di sini." katanya setelah menyelesaikan tawanya yang keras. "Sejak dulu, di sini ada tradisi... siapapun yang mandi, harus bertelanjang dada."
"Kok bisa, bu?" tanyaku seolah tak percaya.
"Ada legenda, Fred... dulu masyarakat sekitar percaya lewat cerita turun temurun. Kalau mau panennya selalu lancar, setiap wanita di sini harus mandi tanpa penutup dada. Jika dilanggar, maka Penyu Putih akan mengganggu seluruh desa." jelas Bu Irda. "Penyu Putih, Fred. Penunggu Umbul tadi."
Aku pun mengangguk dan mendengarkan dengan serius.
Bu Irda melanjutkan, "Sesekali, ada lelaki yang mengaku melihat bidadari cantik duduk di sekitar umbul. Mungkin jelmaan dari Penyu Putih tadi." ucapnya.
"Apa ibu nggak malu?" aku mengulang pertanyaan.
"Awalnya sih malu, Fred. Waktu pertama kali ke sini. Bahkan waktu itu, kami mandi bareng bapak-bapak pengajar di SD kita. Mereka juga kagum lho sama payudaraku." Bu Irda tertawa sendiri ketika mengingat masa lalunya itu. "Tapi lama-lama terbiasa kok, Fred. Iya loh, daripada dilihat orang lain, mending dilihat sama rekan kerja sendiri, kan?"
Kami masih bercerita panjang lebar sembari pulang. Intinya, cerita Bu Irda, pantangan mandi di Umbul harus ditaati sampai sekarang. Mandi tanpa mengenakan penutup dada.
Aku pun berpisah dengan Bu Irda ketika sampai di halaman rumah dinasku. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Bu Irda berjalan menyusuri jalan setapak dan aku menunggunya sampai ia benar-benar tak terlihat lagi.
Malam itu, menjelang tidur, aku masih membayangkan payudara Bu Irda yang ranum. Wah, betapa beruntungnya aku. Bu Irda yang tampak gagah, formal, dan disiplin ketika mengenakan seragam coklat, menjadi begitu lain ketika di dalam Umbul tadi. Ia begitu polos, cantik, dan lugu. Aku masih membayangkan wajahnya yang tirus, hidungnya yang mancung, dan alisnya yang basah oleh air dari pancuran Umbul.
Oh, andaikan aku bisa melihat Bu Irda dalam ketelanjangan total... tapi sayang, tradisi hanya mensyaratkan siapapun bertelanjang dada, dan bukan bertelanjang bulat.
Tapi, aku masih ingin berharap...
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





