
Terjerat Gairah Berbahaya
Bab 3
Deg!
Melati yang mendengar pertanyaan itu cukup shock. Ia bingung harus menjawab apa ke calon mertuanya. Dari cara berbincang, Melati menyadari kalau wanita paruh baya di depannya adalah wanita yang baik.
“Emm... beri aku waktu, Tante. Jujur, aku belum memiliki rasa apa-apa sekarang. Maafin aku ya, Tante.”
“Tante pikir memang seharusnya demikian. Tante selalu menunggu kesiapan kamu. Meski Tante tahu, tidak mungkin secepat itu. Tapi biarkan semuanya berjalan, mengalir secara alami sampai kalian berdua menemukan kedekatan dan rasa suka masing-masing. Kalian sudah sama-sama dewasa,” tutur Nina.
Dari kalimatnya terlihat kalau Nina benar-benar berharap pada Melati. Wanita paruh baya itu ingin anaknya segera menikah dan mendapatkan cucu impian mereka. Meski ia sadar kalau Melati dna Arya memiliki kepribadian berbeda, but not impossible untuk menyatukan mereka.
“Terima kasih Tante udah percaya sama aku. Saat ini aku masih fokus sama karirku. Aku akan mencoba menyukai dia,” sahut Melati, tersenyum tipis.
“Iya, Mel. Tante percara sama kamu. Tolong bantu dia move on dari masa lalunya. Karena sampai saat ini, Arya nggak mau menikah karena dia masih trauma dengan kematian kekasihnya lima tahun yang lalu,” ungkap Nina
Mendengar hal itu membuat Melati terharu. Ia benar-benar tak menyangka kalau pria sedingin Arya memiliki kisah masa lalu yang kelam. Bahkan lebih menyedihkan dari yang dia alami.
“Baiklah Tante. Aku akan berusaha. Tapi aku nggak bisa berjanji saat ini.”
“Nggak apa-apa. Melati. Kamu nggak perlu melakukan itu.”
Setelah itu, obrolan mereka terhenti setelah kedatangan kedua orang tua Melati datang. Lalu disusul oleh Candrajaya.
Arya yang baru saja tiba di tempat itu pun merasa deg-degan melihat kecantikan Melati. Wajar saja, penampilan wanita itu sekarang berbeda jauh saat bertemu pertama kali. Setelah itu, Arya berinisiatif mengajak Melati berbincang berdua di bangku dekat kolam renang.
Dari kejauhan, kedua orang tua mereka hanya tersenyum memandang mereka berdua. Arya dan Melati hanya menerka-nerka, apa yang tengah dipikirkan oleh kedua orang tuanya. Sikap Melati ke Arya masih seperti biasanya, jutek, sinis dan menatap pria itu dengan tatapan yang menyebalkan. Tapi Arya cuek saja, ia juga tidak ingin menyalahkan sikap yang ditunjukkan oleh Melati saat ini.
“Kok kamu mau nerima perjodohan menyebalkan ini?” Tiba-tiba saja Arya bertanya pada Melati.
Wanita bermata indah itu langsung menoleh ke Arya yang duduk di sampingnya. Ia merasa perlu menjelaskan semua kesalahpahaman ini pada pria sombong di sampingnya.
“Siapa bilang aku menerimanya?” Melati memandang sinis. “Aku hanya menghargai orang tuaku. Jadi tolong ya nggak usah ge-er ya, PAK!”
“Siapa juga yang ge-er. Aku juga sama kayak kamu. Lagipula, wanita sepertimu sama sekali bukan tipeku. Jadi, jangan pernah berharap aku akan menyukaimu,” tegas Arya dengan angkuh.
Melati kesal sendiri mendengar ucapan Arya yang terlalu percaya diri. Ia sama sekali tak punya perasaan apa-apa sekarang. Meski ia sadar kalau Arya adalah pria yang tampan. Tetapi belum berhasil membuatnya jatuh cinta.
“Maaf-maaf ya. Aku nggak pernah berharap dan bermimpi menjadi istrimu. Jadi, simpan jauh-jauh harapanmu tentang perjodohan ini. Karena aku akan pastikan kalau aku nggak akan pernah jadi pengantinmu,” tutur Melati membalas ucapan Arya.
“Oke. Baguslah. Deal. Mulai malam ini kita sepakat kalau semua ini hanyalah omong kosong. Gimana?” Arya mencoba bernegosiasi.
“Iya, aku setuju dengan satu syarat.” Melati menggantung kalimatnya. Membuat Arya penasaran sekali dengan kelanjutannya.
Melati memadang Arya dengan serius. Ia berharap permintaannya akan dituruti oleh pria sombong di sampingnya.
“Katakanlah, apa?”
“Kamu bebasin lahan warga untuk pabrikmu. Kalau kamu memenuhi syarat itu. Maka aku akan ikut aturan mainmu.”
Sejenak Arya terkejut mendengar permintaan ini. Itu sesuatu yang berat untuknya. Rautnya memasang wajah yang bimbang.
“Aku akan pikirkan besok. Oke!”
“Oke.” Melati merasa menang sekarang. Sekalipun belum menemukan jawabannya. Namun, ia yakin akan menyelamatkan para warga miskin itu.
Beberapa saat kemudian, kedua orang tua Melati memanggil. Karena mereka akan segera pulang. Melati dan kedua orang tuanya mengantar mereka hingga ke depan rumah.
“Besok main-main ke rumah ya, Arya. Tante tunggu loh ya.”
“Iya, Tante.” Arya tersenyum memasang wajah yang manis. Ia terpaksa melakukan hal itu untuk membuat kedua orang tuanya senang.
***
Keesokan harinya, pria tampan bertubuh jangkung itu memenuhi keinginan Kirana yang memintanya datang. Tentu saja, semua itu adalah rencana Nina dan Kirana untuk membuat kedua anak mereka segera menemukan rasa suka.
Baru saja Arya tiba di rumah tersebut. Kirana langsung heboh dengan pesan yang baru saja diterima dari temannya. Ia berlari menghampiri Melati duduk di ruang keluarga.
“Lihat, kakakmu di Belanda. Ngapain dia di sana? Siapa yang mengajaknya ke sana?” tanya Kirana, panik.
“Pacarnya mungkin yang bawa dia ke sana. Terus kita harus gimana?”
Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Kirana yang baru saja menyadari kedatangan Arya. Langsung meminta pria itu duduk di depan mereka.
“Bagaimana kalau kamu ikut sama Melati ke Belanda. Bisa, kan?” tanya Kirana.
Melati begitu terkejut saat mendengar hal itu. Ia langsung menatap ibunya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sang ibu rencanakan, ia belum bisa menerka maksudnya.
“Belanda? Wah! Ide bagus tuh. Kali aja kalian bisa semakin dekat setelah liburan ke Belanda,” sahut sang Nenek.
Melati terlihat bingung. Namun, tatapan sang Nenek menunjukkan kalau dirinya tak mungkin bisa menolak keinginan keluarga. Namun, kali ini ia mencoba untuk menolaknya.
“Nggak! Nggak! Nggak mau! Aku ada kegiatan beberapa hari ke depan.” Melati mencoba berdalih. Ia berharap mamanya bisa berubah pikiran.
Wanita cantik itu sudah membayangkan bagaimana dia harus berpergian bersama Arya ke tempat yang jauh.
“Oh My God! Ini pasti bakal jadi perjalanan paling membosankan, arrggg,” gerutu Melati, dalam hatinya.
“Jangan membanta ya! Pokoknya besok kamu siap-siap aja. Mama bakal pesan tiket pesawat kalian berdua ke Belanda, oke!” titah Kirana.
Ia memang selalu jadi yang terdepan untuk menyatukan keduanya. Ia pun langsung memesan tiket keduanya melalui pemesanan online miliknya. Tidak menunggu lama, ia memang tidak pernah bercanda soal apapun. Apalagi ia merasa khawatir dengan keadaan putri bungsunya yang kabur dari rumah.
“Arrrgg, selalu begitu. Mama selalu ingin menang sendiri, buat apa coba aku harus pergi bareng nih manusia. Emang penting gitu? Kan aku bisa pergi sendiri ke Belanda tanpa bareng cowok sombong itu. Mama ada ada aja deh kelakuannya,” gumam Melati, dalam hati. Seraya menatap tajam wajah Arya yang diam di depannya.
Arya juga sadar kalau Melati sedang menatapnya. Dia hanya memasang wajah santai dengan ekspresi datar. Ia juga tidak ingin ikut, apalagi harus menjaga wanita paling ribet sedunia seperti Melati.
Ia sudah membayangkan perjalanan mereka yang amat membosankan nanti. Mungkin saja, sepanjang perjalanan hanya akan ada perdebatan dan saling menyalahkan. Pria tampan itu sudah memikirkannya sejak tadi. Namun, ia pun tidak mungkin menolak keinginan Kirana. Apalagi nantinya, Kirana akan melaporkan kepada sang ibu.
“Baiklah. Aku terpaksa nurut. Nolak juga nggak bakal diterima,” ujar Melati, kesal.
“Bagus! Itu baru anak Mama yang paling cantik!” puji Kirana.
Sang Nenek tersenyum melihat Melati yang sedang kesal dan keberhasilan Kirana membujuk putrinya untuk ikut dengan Arya, rencana yang sangat sempurna.
“Giliran ada maunya aja muji-muji. Mama jahat!” gerutu Melati lagi, dalam hati. Ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada mamanya.
“Baiklah, Arya. Tolong isi ya!” pinta Kirana. Arya lalu mengambil ponsel tersebut dan mengisi biodatanya. Setelah selesai ia kembalikan lagi ponsel itu ke pemiliknya.
“Oke! Semua sudah beres. Ini tiket kalian sudah mama pesan. Besok kamu siap-siap ya. Jangan sampai telat. Oke!” tegas Melati seraya menunjukan tiket yang sudah ia pesan.
“Arrrrggggg! Ini hal terburuk dalam hidupku. Kapan ini berakhir. Ini semua gara-gara Mawar,” kesal Melati, dalam hati.
Ia sangat kesal karena ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga mau tidak mau ia harus menuruti permintaan mamanya.
“Iya udah. Karena semua udah beres. Omah mau ke dalam,” ucap sang Nenek. “Ikut aku, Kirana. Kita ngobrol di dalam, ada hal penting yang perlu kita bahas,” ajak sang Nenek. Mereka pun beranjak dan meninggalkan Arya dan Melati.
Beberapa saat dua sejoli itu terdiam membisu. Arya akhirnya membuka perbincangan.
“Sebenarnya ada apa? Kenapa harus ke Belanda?” tanya Arya.
“Emm...anuh...”
***
Anda Mungkin Juga Suka





